bc

Tasbih Cinta Aira

book_age18+
44
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
love after marriage
friends to lovers
drama
sweet
lighthearted
city
like
intro-logo
Uraian

Tak ada yang lebih membingungkan dari cinta yang tumbuh diam-diam…

Aira mengira cintanya kepada Gus Isa, putra pemilik pesantren, hanyalah mimpi yang tak layak diperjuangkan. Terlalu tinggi, terlalu mustahil.

Tapi nyatanya, Isa justru mengiriminya surat cinta.

Namun firasat Aira tak pernah salah, Isa memang seperti bulan: indah, tapi jauh dari genggaman. Di balik harapan yang sempat tumbuh, kenyataan menghantam. Isa justru dijodohkan dengan gadis lain pilihan orang tuanya.

Bodohnya, Aira justru tak menyadari perhatian seorang dokter yang selalu melindunginya dalam diam.

chap-preview
Pratinjau gratis
1.
Tak pernah terlintas dalam benak Aira bahwa hari yang biasa saja bisa berubah menjadi awal dari takdir yang mengejutkan—takdir yang datang dalam bisik lembut seorang wanita dan senyum laki-laki yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya. — “Aira, tumben kamu ikut kerja di ndalem Bu Nyai?” ucap seorang gadis keheranan, Aira biasanya selalu sibuk bersama teman temannya, belajar, hafalan, musyawarah, murojaah, begitulah kesibukan santri sehari hari di pondok pesantren. “Aku juga heran. Nggak biasanya Mbak Laila yang biasa ngurus keperluan ndalem ngajak aku.” Aira mengedikkan bahu, membuat kerudung cokelatnya bergerak pelan. Gadis berkulit putih bersih itu lalu melangkah cepat menuju dapur, ditemani Eki, temannya. Di dapur, mereka cekatan menata beberapa gelas diatas nampan, lalu mengisinya dengan teh hangat yang mengepul lembut, menguar aroma melati. “Mungkin karena ndalem lagi ada acara keluarga besar-besaran, makanya Mbak Laila ajak aku,” ucap Aira sembari menuang teh ke salah satu gelas. Selain Aira, beberapa santriwati juga ikut jadi petugas dadakan, ada juga santri putra yang bertugas angkat angkat barang berat, sedang santri putri mengurus makanan. “Bukannya karena Bu Nyai pengen lihat calon mantunya?” goda Eki tiba-tiba, suaranya meninggi. “Ciee… yang di cintai Gus Isa… bentar lagi jadi mantu ndalem nih, ye…” Wajah Aira langsung memerah. “Nggak mungkin… ngawur kamu, Ki.” Ia tersenyum malu-malu. “Aku masih sembilan belas, Gus Isa juga baru dua puluh. Masa anak-anak main rumah-rumahan?” Aira mengangkat nampan berisi gelas-gelas teh hangat dengan hati-hati. “Kuno kamu, Ra,” sahut Eki sambil nyengir. “Di pondok Gus Isa itu, nikah muda lagi ngetren, lho. Syaratnya cuma boleh ketemu seminggu sekali dan nggak boleh langsung hamil. Rasanya kayak nano-nano, kan? Nikah tapi kayak pacaran. Hehe…” Eki lalu mendekat, berbisik nakal di dekat telinga Aira, “Gimana? Mau coba?” godanya. “Gila kamu!” sahut Aira. Wajahnya semerah tomat. Ia pura-pura tak peduli, berlalu meninggalkan Eki yang terkekeh sendirian, menuju ruang tengah ndalem yang luas, kini telah dipenuhi para tamu reuni keluarga Bu Nyai. Ada yang berbeda dari reuni kali ini. Biasanya reuni hanya dihadiri keluarga inti Bu Nyai—kakak dan adiknya—sementara kedua orang tuanya sudah lama tiada. Tapi kali ini, Bu Nyai mengundang seluruh keluarga besar: dari garis nenek, hingga anak cucu yang entah dari mana datangnya. Jika seluruh keluarga besar diundang, kenapa keluarganya—yang jelas masih berhubungan darah—tak disebut? Nenek Aira adalah adik dari nenek Bu Nyai. Karena ikatan itulah keluarganya di Kalimantan Barat menitipkan Aira di sini. Jarak yang membentang ribuan kilometer, ditambah keterbatasan ekonomi, membuat Aira hanya bisa pulang tiga tahun sekali. Dan setiap liburan pondok, ia tinggal di ndalem Bu Nyai. Bahkan ketika keluarga ndalem bepergian, Aira selalu diajak. Kedekatan itu pula yang mendekatkannya dengan Gus Isa. Hubungan mereka tak lebih dari teman akrab—begitu yang selalu Aira yakini. Tapi waktu rupanya menumbuhkan benih rasa yang lain. Perlahan namun pasti. Dan entah sejak kapan, keluarga ndalem pun menyadarinya. Aira tak pernah tahu bagaimana pandangan Bu Nyai atau Abah Yai terhadap hubungan itu. Mereka selalu bersikap biasa saja. Tak menunjukkan keberatan, tapi juga tak memberi restu. Aira bingung. Jika mereka setuju, mengapa tak pernah menanyakan apa pun padanya? Tapi jika tak setuju, mengapa tak menjauh? “Ra? Kamu disuruh Bu Nyai ganti baju. Katanya kamu harus ikut acara keluarga,” suara Mbak Laila membuyarkan lamunan Aira. Ia sedang mengulurkan gelas kepada para tamu saat dipanggil. “Aku disuruh ikut?” Aira mengerutkan dahi. Seperti tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. “Iya. Sana, cepat ganti baju!” Laila menunjuk pintu belakang ndalem dengan ujung dagunya, menyuruh Aira keluar melalui sana. “Baik,” jawab Aira penuh semangat. Ia segera menyelesaikan tugasnya, lalu bergegas ke belakang. Mandi, mengenakan busana terbaik yang ia miliki, membubuhkan sedikit rias pada wajahnya—sekadar memberi rona segar—lalu kembali ke ndalem, bergabung dengan para tamu yang tadi sempat ia sapa. Sebagian dari mereka memang dikenalnya. Aira yakin, keluarga ndalem tak mengundang keluarganya bukan karena lupa, tapi karena tak ingin merepotkan keluarga Aira yang tinggal jauh di seberang pulau. Maka, mungkin inilah alasan mereka menyuruhnya hadir—bukan hanya sebagai santri, tapi bagian dari keluarga. “Ikut aku, Ra.” Belum sempat langkahnya mencapai serambi ndalem, sebuah suara lembut menyapa telinganya. Pelan, namun begitu akrab. Suara yang selama ini hanya hadir dalam rindu dan doa. Sudah setengah tahun ia tak berjumpa dengan pemilik suara itu—suara yang membuat jantungnya berdegup riuh, dan kali ini memompa deras aliran darahnya. --- “Apa?! Kita dijodohkan?!” Saking kagetnya, Aira tak sadar bahwa suaranya melambung terlalu tinggi. “Jangan teriak, Ra. Nanti ada yang dengar.” Gus Isa menoleh ke sekeliling. Di halaman belakang ndalem itu memang tak ada siapa pun. Pintu masuk tertutup rapat, menjauhkan mereka dari pandangan para tamu. “Kamu bikin aku kaget, sih!” “Makanya, aku kasih bocoran dulu, biar nanti kamu nggak syok.” Gus Isa tersenyum—senyum itu, senyum yang sejak lama telah mengisi ruang-ruang rahasia di hati Aira. “Sudah, ya? Aku mau mandi dan siap-siap. Baru pulang dari pondok,” ucapnya sambil berdiri. Sebelum melangkah pergi, ia lemparkan satu senyum terakhir—senyum yang mampu membuat Aira mabuk oleh rasa yang tak sempat ia beri nama. —-- Menit-menit berjalan terasa cepat di kepala Aira. Hatinya tak pernah berhenti berdebar tak karuan saat satu per satu rangkaian acara berlalu—tahlil, sambutan, hingga ceramah dari Abah Yai pun akhirnya usai. Namun, saat pembawa acara menyebut nama Gus Isa agar segera maju ke depan, d**a Aira seakan ditarik paksa oleh kegelisahan yang tak bisa ia pahami. Para tamu undangan pun tampak saling menoleh, bisik-bisik heran. “Acara apa lagi ini?” tanya beberapa di antara mereka. “Kenapa Gus Isa maju ke depan?” Tak satu pun yang tahu jawabannya. “Ning Andina Khairun Nisa binti Kyai Amirullah dan Ibu Nyai Muzayyanah, pemilik pesantren besar Darul Jannah di Kota Kudus, silakan maju ke depan menemani Gus Isa,” ucap pembawa acara dengan tenang. Seketika, sorot mata Aira tertuju pada gadis cantik berserba putih yang berdiri dengan anggun dan senyum manis. Warna pakaiannya senada dengan Gus Isa. Aira tak perlu menunggu penjelasan apa pun. Dengan naluri wanita, ia tahu. Ia mengerti. Bukan dirinya yang dipilih Bu Nyai. Tapi Ning Andin—putri seorang Kyai terpandang dari Kudus. — Di tengah gemuruh suara tamu yang mulai berspekulasi, tatapan Gus Isa menyapu hadirin. Matanya sempat berhenti sejenak—menemukan sosok Aira di antara kerumunan. Gadis itu menunduk, namun Gus Isa tahu, tatapan itu menyimpan ribuan pertanyaan yang belum sempat terucap. Langkah Ning Andin mantap menuju panggung. Senyumnya tetap mengembang, anggun dan percaya diri. Ia berdiri di sisi Gus Isa, seperti sudah terbiasa berdampingan. Sementara itu, bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara para tamu: "Lamaran, ya?" "Anaknya Bu Nyai mau dijodohin ternyata..." "Kenapa nggak ada yang tahu sebelumnya?" Aira masih terpaku di tempatnya. Dunia seolah mendadak sepi. Suara orang-orang, lantunan doa, bahkan pengumuman pembawa acara berikutnya, hanya terdengar seperti gema di kepalanya. Gus Isa mencoba tersenyum, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ini bukan senyuman bahagia. Lebih tepatnya, senyum pasrah. Ia tahu, keputusan ini bukan miliknya sepenuhnya. Ia adalah anak seorang kyai, dan hidupnya—termasuk perasaannya—kadang bukan milik pribadinya. Tatapan matanya kembali mencari Aira. Namun gadis itu telah menunduk dalam, mungkin mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menggenang. Gadis itu berdiri lalu meninggalkan tempat acara reuni dengan hati hancur. "Maafkan aku, Aira," bisik hati Gus Isa. Tapi lidahnya kelu, dan dunia di depannya terus berjalan seolah tak ada luka yang baru saja tercipta. Bersambung…

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.4K
bc

TERNODA

read
198.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
59.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook