Wajah cantik yang biasanya dihiasi senyuman manis, dan kata-kata lucu yang sering tiba-tiba meluncur dari bibir Aira, hari itu tak lagi terlihat.
Berhari-hari gadis itu tampak murung. Ia lebih sering tiduran sendiri di sudut kamar. Di sekolah pun, waktu istirahatnya selalu ia habiskan dengan tidur, seolah begadang semalaman. Tubuh mungilnya yang hanya setinggi 155 cm itu bagai patung—diam tak bergerak di kursi saat pelajaran dimulai. Tatapan matanya kosong, menatap lurus ke papan tulis.
Perubahan itu membuat teman-temannya cemas. Namun setiap ajakan yang mereka lontarkan selalu dijawab Aira dengan gelengan kepala. Hingga akhirnya, mereka menyerah. Sudah lima hari Aira seperti itu.
Yang dikhawatirkan pun terjadi. Aira jatuh sakit. Sakit perutnya kambuh, mungkin karena stres yang menumpuk. Setelah reda dengan bantuan obat, demam tinggi justru menyerangnya. Tubuhnya melemah karena tak mau makan.
"Eki, gimana? Kamu sudah lapor ke kantor? Aira harus dibawa ke rumah sakit sekarang. Kamu juga sudah bilangkan, walau kemarin sudah dibawa ke dokter, kondisinya belum membaik?" tanya Tasya, sang ketua kamar.
Ia duduk di lantai, di samping ranjang Aira yang sedang terbaring lemah. Sesekali, Aira bergumam tak jelas. Kening Tasya berkerut khawatir tiap kali mendengarnya.
Jika dibangunkan saat tengah bergumam, Aira hanya membuka mata sebentar. Ia minum sedikit saat temannya memberinya air—hanya sebagai bentuk penghargaan atas perhatian mereka. Setelah itu, ia kembali memejamkan mata, jika ada yang mengajak nya bicara atau bertanya sesuatu, ia hanya menjawab dengan singkat: “Iya… hmm…”
Bruk!
Terdengar suara tubuh subur Eki yang berbobot tujuh puluh kilogram jatuh terduduk di sisi ranjang. Nafasnya tersengal, dadanya naik-turun karena berlari terlalu tergesa. Baru saja ia kembali dari kantor asrama.
"Aku sudah lapor ke kepala asrama," katanya sambil menarik nafas cepat. "Bu Sofi lagi urus mobil buat antar Aira."
"Alhamdulillah..." Tasya mengangguk lega. Tapi wajahnya tetap tegang. "Terus, siapa yang akan jagain Aira di rumah sakit?"
"Bu Sofi bilang terserah, yang penting dua orang. Kamu sama aku aja, ya?"
Tasya menggeleng cepat. "Aku gak bisa, Ki. Aku penanggung jawab kamar. Gimana teman-teman kalau aku ikut? Kamu aja sama Mbak Mita, dia bagian kesehatan."
"Aku juga nggak bisa."
Suara itu datang dari arah pintu. Mita baru masuk, wajahnya lelah. "Staf kesehatan tinggal tiga. Yang lain pulang, sakit, dan kuliah. Lagian kenapa kalau anak anak kamarmu di tinggal? Mereka udah besar, punya tangan, punya mulut, jadi bisa ngurus dirinya sendiri. Lagian Aira pasti lebih nyaman di urus teman temannya
daripada di urus sama pengurus."
Srak…
Kursi berderik di atas lantai saat Mita menarik kursi plastik, mendekat ke ranjang Aira dan duduk perlahan. Tangannya menyentuh lengan kurus itu dengan lembut. "Aira, ayo makan dulu. Ini sudah jam sembilan. Udah hampir siang nih."
Aira membuka matanya. Pandangannya kabur, wajah cantiknya pucat dan kehilangan sinarnya. Ia pelan menarik tubuhnya duduk, dan Eki segera menyelipkan bantal di punggungnya.
“Makan dulu ya, habis ini kamu ke rumah sakit. Aku suapin ya?” Mita menyodorkan makanan yang baru saja ia ambil dari dapur, sepiring nasi hangat dan tumis buncis. Tadi pagi, sebenarnya dia sudah memberikan sarapan untuk Aira, termasuk juga lima santri yang sedang di rawat di kamar khusus untuk santri yang sedang sakit. Tapi Aira hanya menyentuh sedikit sarapan nya, dua suap saja setelah itu menaruh piring nya di atas nakas samping dipan.
"Aku…, harus ke rumah sakit?" tanyanya lirih, seperti bergumam pada dirinya sendiri.
“Iya, kamu harus ke rumah sakit, demam kamu dari kemarin malam gak turun turun, Ra.” Eki menyahut tak sabar. “Aku takut kamu kenapa napa.” gadis itu lalu mengambil alih piring, menyendokkan nasi ke arah bibir Aira. Tak sabar melihat gelagat sahabatnya yang lemot. “Ayo makan yang banyak, kumpulin tenagamu buat jalan ke mobil. Rumah sakit luas, Ra. Aku nggak sanggup gendong kamu.” Kata kata Eki sedikit sarkas tapi Aira tidak akan sadar jika memang butuh banyak tenaga untuk jalan ke rumah sakit. “Atau kamu mau di gendong santri putra?”
Buru buru Aira menggeleng, lalu membuka mulutnya, menyuap perlahan. Tapi baru satu suap. Tangannya menahan piring itu, lalu menggeleng.
"Aku gak usah ke rumah sakit. Aku cuma demam sedikit. Dua hari lagi juga sembuh..."
Suara itu nyaris tak terdengar, lebih seperti harapan kosong yang ia paksa jadi kenyataan.
"Gimana bisa sembuh kalau kamu gak makan?" Mita mengerutkan alis. “Kalau mau cepet sembuh itu makan yang banyak,” lanjutnya.
Mendengar kata kata Mita Aira akhirnya membuka mulutnya lagi, melahap perlahan nasi yang di sodorkan Eki. “Udah, Ki. Perutku rasanya gak enak, pengen muntah.” lagi lagi Aira menggeleng, perutnya serasa di aduk aduk tiap kali ada makanan yang masuk.
“Ayolah, Ra. Makan agak banyakan. Biar kamu punya tenaga.” Eki tak sabar. "Jangan sakiti tubuhmu sendiri gara-gara Gus Isa."
Aira mengangkat wajah. "Ka–kata siapa aku sakit gara-gara Gus Isa?"
Ia menunduk cepat. Tak ingin wajahnya terbaca. Tapi hatinya tak bisa dibohongi.
Sudah tujuh hari sejak kabar itu datang—perjodohan Gus Isa dengan Neng Andin. Tak ada penjelasan. Tak ada salam. Bahkan surat pun tak ia terima, seperti dulu saat pria itu menyatakan cinta.
Begitu tak berharganyakah aku di matamu, Mas?
Anak penjual sayur, tak punya pondok, hanya rumah sederhana tempat anak-anak belajar mengaji.
Begitu mudahkah kau membuangku?
Andai bisa, Aira ingin menerobos ndalem, menarik Gus Isa keluar, mengguncangnya, meneriakinya, bahkan menjambak rambutnya jika perlu, berteriak seperti orang gila di hadapannya, bertanya mengapa pria itu tega melakukan ini padanya? Apa tidak punya mulut untuk menolak perjodohan itu di depan para tamu? Apa sudah tidak cinta aku? Tapi itu hanya mimpi. Ia hanya santri. Akan dicap gila. Akan dibenci.
Aira frustasi, tapi ia juga merindukan Gus Isa. Mungkin saja dirinya akan langsung meleleh jika Gus Isa mengatakan minta maaf dan tidak jadi menikah dengan neng andin. Tapi mungkinkah itu? Mimpi, nyatanya selama tujuh hari ini ia hanya terus memimpikan Gus Isa membatalkan perjodohan itu. Maka ia memilih diam… dan merindukannya dalam sepi.
Huek—
Aira menutup mulutnya, lalu berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya, yang hanya cairan dan sisa luka di dalam d**a.
Saat ia keluar, tubuhnya limbung. Tapi matanya membelalak saat melihat sosok yang menunggunya—bukan hanya Eki, Tasya, dan Mita.
Bu Nyai.
Wajah lembut itu penuh cemas. Tangannya langsung meraih Aira, menuntunnya kembali ke ranjang.
"Ya Allah, Aira... Kenapa kamu jadi selemah ini, sayang? Ini salah Ibu dan Abah. Maafkan kami." -seperti itulah para santri memanggil ibu nyai dan Abah yai, ‘Abah dan ibu’. Wanita itu membelai sayang wajah Aira, menyingkirkan helai rambut kecil yang lengket di wajah nya. “Ke rumah sakit sekarang ya? Kang Aji sudah menunggu kamu di depan asrama” ucapnya penuh perhatian. Kang Aji adalah salah satu santri yang bertugas membawa mobil di pesantren.
“Saya tidak perlu ke rumah sakit, Bu. Di rawat sendiri di kamar ini juga pasti sebentar lagi sembuh.” Lagi lagi Aira mengelak. Tubuhnya duduk semakin melesak di kasur.
“Nggak, kamu harus ke rumah sakit sekarang. Katanya nggak ada makanan yang bisa masuk ke perutmu, periksa mu ke dokter Laili kemarin juga gak ada gunanya, kamu tetap gak sembuh.” Bu nyai mengambil kerudung Aira yang tersampir di sisi lain dipan, dengan telaten memakaikannya di kepala Aira, dan tanpa persetujuan nya, ia menarik tubuh Aira agar berdiri, lalu menuntunnya keluar dari ruang kamar kesehatan. Eki, Tasya, dan Mita mengikutinya dari belakang.
"Sudah ya, jangan pikirin Isa terus."
"Sa–saya tidak memikirkan Gus Isa..." gumam Aira, nyaris tak terdengar.
“Aku mau menjelaskan semua ini sama kamu, Ra. Tapi masih menunggu waktu yang tepat. Nunggu Isa kembali ke pondok, setelah itu aku sama Abah langsung menjelaskannya sama kamu.”
Aira diam. Tak ada lagi bantahan. Tak ada daya. Hanya sunyi yang menggantung di matanya.
"Umi, ada apa? Aku mau…, " Seseorang tiba tiba menghampiri Bu nyai yang sedang menuntun Aira ke mobil, dan entah mengapa suara itu seketika terdengar membeku.
Cermin? Dimana cermin? Aku harus bercermin, mukanya pasti sangat jelek, tak tersentuh facial wash kesayangannya selama berhari-hari, ia bahkan tidak sempat berdandan, bagaimana kalau Gus Isa melihat dirinya versi yang terjelek? Pria itu pasti jadi semakin ilfeel, semakin bangga telah meninggalkan gadis kucel seperti dirinya.
Isa terdiam, tak bisa berkata kata, tak jadi melanjutkan pertanyaannya mengapa Umi nya bergerombol bersama para santriwati, bahkan tidak biasanya ia memapah santriwati. Matanya melebar saat menangkap sosok gadis yang akrab di otaknya, tak berkedip, memandangi gadis yang dituntun Uminya masuk ke mobil. Gadis itu menunduk, menghindari tatapannya, duduk diapit kedua temannya. Lalu pintu mobil tertutup. Mobil itu melaju, dan Isa tetap berdiri, diterpa angin yang tiba-tiba menjadi dingin.
Ra, kamu sakit... karena aku?
Maafkan aku, Aira.
Puk puk.
Uminya menepuk bahu Isa pelan. "Aira nggak apa-apa, hanya butuh infus dan istirahat. Jangan terlalu dipikirkan."
Tangannya menarik lengan putranya, membimbingnya ke mobil lain yang siap membawa Isa kembali ke pondok.
"Kamu jadi kembali, kan? Jangan terlambat, nanti kena takzir. Soal Aira, biar Umi yang urus. Percayakan pada Umi dan Abah, ya?"
Isa hanya mengangguk pelan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Uminya tersenyum, menata kopyah Isa, membelai rambutnya.
"Semangat, ya? Belajar yang sungguh-sungguh di sana."
Tanpa suara, Isa mencium tangan Umi. Pipinya dicium lembut, lalu ia masuk ke mobil. Jendela tertutup. Jalanan menghampar panjang di hadapannya.
Dan ia hanya diam, mengantar bayangan Aira yang terus terbawa di hatinya.