3

1333 Kata
Langit sore membentang bagai permadani emas. Cahaya senja menjelma syair sunyi yang meneduhkan hati. Hari itu begitu damai—tak ada jeritan, tak ada deru kendaraan yang berlalu-lalang, hanya bisik lirih dari bangsal rumah sakit yang menggema di antara dinding putih dan aroma obat. Aira tak sendiri. Di ruang kelas tiga itu, lima pasien terbaring dalam sunyi yang tertahan. Masing-masing ditemani keluarga. Kecuali dirinya—yang hanya ditemani dua sahabat pesantren. Baru tadi siang masuk rumah sakit. “Ibu… aku mau boyong dari pondok… Aku nggak kerasan di sini,” rengek Aira dalam telepon. Suaranya lirih, nyaris seperti anak kecil yang kehilangan arah. Wajahnya lesu, matanya bening memantulkan semburat langit jingga dari balik kaca jendela. “Kenapa mendadak minta boyong, Nak? Kamu stres karena Ibu nggak bisa nungguin di rumah sakit? Maaf ya… Tapi gimana keadaanmu? Kepalamu masih pusing? Sudah minum teh hangat?” Suara Ibu mengalun cemas, bagai aliran sungai yang menenangkan. “Sudah… Tadi Eki udah beliin aku teh hangat. Ibu, kapan ke sini? Aku udah nggak betah…” Rengek itu hanya sebuah rengekan manja dengan mata berkaca karena menahan air mata yang terasa sesak di d**a, tak sampai hati jika ia merengek sambil menangis sesenggukan. Membuat orang tuanya khawatir karena dirinya sakit sudah membuat Aira tak enak, jangan sampai mereka semakin panik karena dirinya menangis meraung. Tangisan hanya akan menambah beban di hati orang tuanya. “Iya, Nak… Ibu pasti datang. Tapi sebentar ya? Ibu sama Ayah masih nunggu bongkar muatan sayur di pasar. Setelah selesai, Ibu langsung ngurus tiket pesawat.” Aira tercekat. “Terus… sayur Ibu gimana? Kalau nggak dijual, bisa busuk.” “Nggak usah dipikir, Sayang. Sayur itu nanti Ibu titipkan ke tetangga. Biar mereka yang bantu jual. Tapi kamu harus janji… waktu Ibu dan Ayah pulang nanti, kamu nggak boleh ikut.” “Ikut…” “Nah, kan? Gini lagi.” Terdengar desah napas dari seberang. “Ayah… ngomong sama Aira deh. Jelasin, dia nggak boleh boyong. Baru juga masuk kuliah, bayarnya juga dbaru lunas semua… Masa mau keluar?” Aira menggenggam erat ujung baju pink-nya. Ada gugup dan getir yang menyelinap, rasa bersalah yang tak bisa ditepis. Tapi egonya terlalu besar. Terlalu sakit untuk tetap tinggal di tempat yang mengingatkannya pada luka, pada Isa, pada Bu Nyai, pada Abah Yai. “Aira… masalahmu apa sampai pengen boyong?” suara Ayah terdengar dari seberang. Tenang. Hangat. Suara yang selalu jadi pelindung sejak dulu. “Aira… sakit terus, Yah. Udah seminggu, tapi nggak sembuh-sembuh. Takutnya… ada penyakit serius yang belum ketahuan,” katanya mengada-ada. Dan ia tak sadar kedua temannya saling melirik, lalu sama-sama mengangkat kedua bahu -terserah. “Alasan…” Terdengar suara menggoda, menahan tawa dari balik telepon. “Kamu pasti punya masalah lain, kan? Ayah hafal kamu, Ra. Dari kecil kamu selalu begini. Ada masalah, minta pindah. Ada masalah lagi minta pindah lagi. Cerita ke Ayah, jangan dipendam.” Aira menggigit bibir bawahnya, ayahnya ternyata masih ingat kejadian waktu dirinya masih SD, dan rupanya ini jadi awal mula kebiasaan buruk Aira. Dulu ada guru yang memarahinya, sebenarnya Aira lah yang bersalah karena mematahkan sapu kelas yang baru, saat itu ia sedang bermain dengan teman temannya, Aira khilaf, menggetokkan sapu ke meja hingga patah. Dan gurunya yang memang pemarah, memarahinya habis habisan, tidak hanya sekali, berhari hari guru itu mengungkit kesalahan Aira terus menerus di depan kelas, di depan teman temannya, Aira yang tak sanggup lagi menahan malu minta pindah sekolah. Di sekolah barunya, Aira ternyata berbuat kesalahan lagi, saat sedang antri di kamar mandi, Aira tak kuat menahan diri, alhasil ia terkencing di celananya, ia pun malu dan minta pindah sekolah. Saat itulah orang tuanya sadar jika dirinya sering kali melarikan diri dari masalah. Tak hanya itu, saat SMP pun ia juga pernah sekali minta pindah sekolah karena ada masalah, namun orang tua nya tak lagi mengindahkan permintaan Aira, mereka lebih memilih menyelesaikan masalah Aira di sekolah lalu mendorongnya sekuat tenaga agar semangat sekolah lagi. Tapi masalahnya sekarang berbeda, ini terlalu memalukan, bagaimana bisa ia cerita bahwa ia baru saja putus dengan putra Abah yai. Padahal ia datang ke pesantren demi ilmu, demi agama, tentu saja sangat riskan dan tercela jika ia ternyata malah pacaran, jangan sampai keluarganya malu karena tingkahnya. “Apa yang terjadi, Ra? Kenapa sekarang kamu seperti santri baru mondok?” “Nggak ada apa-apa… cuma lagi sakit, dan pengen ditemani Ayah sama Ibu,” elaknya. “Baiklah. Kalau begitu, Ayah dan Ibu berangkat ke Jombang. Mau dibawakan apa?” “Aku… nggak pengen apa-apa. Cuma pengen sakitnya di rumah.” “Baiklah, kita bicarakan itu nanti. Intinya kamu pengen waktu sakit di tunggu ayah sama ibu kan?” suara itu menenangkan Aira. “Ayah dan Ibu akan nungguin kamu sampai sembuh.” “Sungguh?” suara Aira tiba-tiba cerah. “Iya.” “Terus… Raka gimana? Dia kan harus sekolah.” Raka adalah adik Aira, masih kelas tiga SD. “Raka ikut ayah dan Ibu, sekolahnya izin dulu, dia bisa ikut kelas online. Kalau terlalu lama di jombang dia bisa pindah sekolah sekalian. “Pindah sekolah?” Aira membeo. “Ayah dan Ibu nggak usah terlalu lama di sini, aku yang akan ikut kalian pulang.” jelasnya. “Nggak Aira. Ayah dan ibu yang akan ke sana, lama juga nggak papa asal kamu nggak pindah.” Tapi…,” “Tapi apa lagi, Ra? Kuliah itu mahal, ayah sudah jual dua sapi buat biaya masuk kuliah mu.” “Tapi…,” Gimana kalau ayahnya terlalu lama di sini justru tau skandalnya dengan Gus Isa? Terus, kalau di sini mau tinggal di mana? Rumah nenek? Nggak mungkin, rumah nenek sudah jadi pesantren tempatnya mondok, rumah bu nyai? Oh tidak… Terus gimana sama kerja nya? Mau kerja apa di sini? Aku kan butuh uang. “Kalau ayah di sini mau kerja apa?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aira, terus terang biaya kuliahnya terlampau mahal, bagaimana kalau ayahnya tidak sanggup memenuhi? Dan yang lebih mengkhawatirkan ketika membayangkan orang tuanya tinggal di Ndalem, dulu saat pertama kali orang tuanya mengantar dirinya mondok, ayah dan ibunya tidur di Ndalem berhari hari. “Ayah bisa kerja apa aja, jangan pikirkan itu, yang penting kamu nggak boleh keluar, hanya karena ada masalah kecil.” Masalah kecil? Tidak, Ayah. Ini aib. Jika terbuka, wajah keluarga bisa tercoreng. “A-ayah nggak usah ke sini deh. Aku…, sudah agak baikan kok. Mungkin besok sudah bisa pulang.” “Kamu yakin, Ra?” suara itu menggantung. Ragu. Tadi rengek, sekarang sembuh? “Iya, Ayah. Aku yakin udah baikan, nggak tau kenapa tiba tiba ngerasa enakan. Mungkin obatnya baru merasuk.” Aira ngeles. Nggak mungkin kan, ia cerita kalau ayahnya terlalu lama disini itu terlalu beresiko untuk Aira, kartu merahnya bisa terbongkar kapan saja. “Ya sudah. Tapi jangan lupa, Ra… apapun masalahmu, Ayah akan selalu di pihakmu. Kesalahanmu tetap bisa dimaafkan.” Benarkah? batin Aira bergema. Kalau Ayah tahu segalanya… apakah tetap bisa membela? “Iya, Ayah. Udah ya… aku kebelet pipis.” “Iya, iya. Cepat ke kamar mandi. Tapi ingat kalau ada masalah apapun cerita sama ayah.” “Iya, Ayah. Assalamualaikum…” “Wa alaikum salam.” Tut— Aira langsung menutup telponnya. Dan ia hampir melompat saat melihat Eki dan Tasya memandang dirinya, mata mereka seolah ingin mengulitinya hidup hidup, seolah mereka tau jika dirinya sedang pura pura kebelet pipis, dan dua orang itu pasti sudah mendengar semua kebohongannya, bilang tujuh hari sudah sakit padahal baru tiga hari, ingin boyong karena takut sakitnya semakin parah. “Aku… kebelet pipis.” ucap Aira sambil nyengir, gugup karena dua temannya masih saja menatapnya, seolah menghakiminya, mengapa ia berbuat dosa? Bohong itu dosa, Aira. Hup… Aira turun dari ranjang, lupa jika tubuhnya masih lemah, ia bahkan tak peduli kakinya sempoyongan melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Bruk! Aira jatuh. “Aira…!!!” teriak Eki dan Tasya serempak. Tubuh Aira terkapar. Jarum infus yang masih tertancap terseret dan terlepas. Darah menetes dari tangannya. Gadis itu tergeletak dengan mata terpejam. “Suster! Tolong! Pasien jatuh…!” Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN