“Dasar ceroboh.”
Gadis berkerudung ungu muda itu menggerutu, duduk di tepi ranjang rumah sakit, tepat di samping Aira.
“Maaf,” ucap Aira lirih. Pandangannya jatuh ke lantai dingin, tangannya mengusap pergelangan, menyesali kebodohannya.
“Gara-gara kamu jatuh, lima suster langsung datang. Perawat laki-laki yang gendong kamu itu, kalau tahu kamu cuma pura-pura pingsan, pasti nyesel banget.” Bibir Eki manyun. Ada nada kecewa di balik suaranya, hatinya kembali mengeluh dalam diam—lagi-lagi sahabatnya berbohong.
“Sebenarnya... aku nggak niat pura-pura pingsan. Aku beneran mau ke toilet, tapi lupa kalau ada infus di tanganku,” Aira menarik napas dalam, menghempaskan tubuhnya di ranjang, tubuhnya yang masih lemah membuat setiap kata terasa seperti beban. “Harusnya kamu nggak buru-buru manggil perawat. Aku malu ketahuan jatuh, makanya... aku akting pingsan.”
“Tapi kamu juga pura-pura kebelet pipis kan?” selidik Eki tajam. Diam Aira menjawab semuanya. “Makanya, Ra, jangan suka bohong, apalagi ke orang tua. Sekali berbohong, akan lahir kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya,” ucap gadis berpostur subur tersebut.
“Iya, iya, maaf…” Aira mengangguk pelan. Pandangannya beralih ke Tasya, sang ketua kamar yang harusnya memarahi dirinya, bukannya Eki. Tapi malah asik bermain game di ponsel.
Tadi, setelah pengurus kesehatan menyelesaikan administrasi rumah sakit, Tasya diberi izin membawa ponsel—benda yang biasanya hanya boleh dibawa saat ujian atau kegiatan resmi. Tapi di sini, ponsel menjadi alat penting: untuk komunikasi dengan pondok, dan nanti, untuk penjemputan Aira.
“Tapi, Ra… gimana rasanya digendong perawat tadi?” Eki duduk di ranjang, bersisian dengan Aira, tak peduli sempit atau tidak, tak peduli harus berbagi tempat dengan Aira yang sedang tiduran.
Aira membuka mata. “Rasanya…,” ia mengulang pertanyaan itu sambil memandang langit-langit, berusaha mengingat.
“Iya, gimana? Jangan lemot, dong.”
“Rasanya… biasa aja.” jawab Aira santai. Kerudung segi empat gadis itu terpakai asal asalan di kepalanya yang sedang tiduran. Rambutnya banyak yang terlihat. Hendak memakai kerudung pad takut gadis itu justru kegerahan, tidak pakai kerudung takut dosa, entahlah.
“Ah gak mungkin gak ada rasanya, harusnya jantung deg-degan, atau ada desiran di perut. Aku aja yang lihat ikut lemas.”
“Tapi serius, Ki. Rasanya... ya kayak digendong ayahku aja.”
“Bodoh! Ayah sama cowok itu jelas beda. Kalau di gendong ayah rasanya pengen tidur, tapi kalau di gendong cowok malah gak bisa tidur. Apalagi yang gendong guanteng banget.” Eki mendekat, hendak tiduran di samping Aira, “Ra, gimana caranya biar aku bisa pingsan?”
“Jangan pingsan di depan dia, Ki. Kasihan, dia nggak kuat gendong kamu.” Aira tersenyum tipis. Senyum itu hilang saat tubuh Eki yang berbobot tujuh puluh kilogram mulai miring menyempil di sebelahnya.
“Ki, sempit nih. Tidur di bawah aja sama Tasya.” Aira menggerak-gerakkan tubuh, berusaha mencari celah di antara Eki dan pembatas ranjang.
“Aku tidur di sini aja ya, Ra. Biar ketularan sakit. Siapa tahu digendong juga.”
“Gila kamu, Ki.” Aira membuang muka, tak habis pikir. Sepertinya Eki lupa bagaimana sakit itu menyiksa.
“Andai bisa, aku mau tukeran. Biar aku yang sakit, asal bisa digendong dokter ganteng malam ini.”
“Tau dari mana malam ini ada dokter ganteng?” Aira mengernyit. Aira sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Eki.
“Aku dengar dari para perawat yang sedang jaga. Kata mereka, udah sebulan ini ada dokter jaga yang ganteng gak ketulungan.”
“Aku dengar dari para perawat. Katanya udah sebulan ini, dokter jaga malam itu… visualnya nggak ketulungan.”
“Oh, begitu…”
“Nanti malam kita tukeran tempat, ya. Aku tidur di ranjangmu, kamu di bawah.”
“Ganteng itu relatif, Ki. Menurut kamu ganteng, tapi belum tentu menurutku.”
“Terus, perawat tadi ganteng nggak?” selidik Eki.
“Biasa,” jawab Aira enteng.
Eki menggeleng tak percaya. “Yang kayak gitu kamu bilang biasa? Terus yang ganteng tuh kayak gimana?”
Aira terdiam. Tatapannya kosong, menggantung di langit-langit kamar. Entah kenapa, tak satu pun wajah pria terlintas di kepalanya. Tapi, wajah Isa tiba tiba melintas. ‘Nggak mungkin, nggak mungkin aku masih memikirkannya, aku sudah benci sama dia!’ Aira meyakinkan dirinya sendiri.
“Yang ganteng ya… Gus Isa lah! Ya kan, Ra?” Tiba-tiba suara Tasya terdengar dari balik layar gawainya.
Aira langsung memejamkan mata. Ia tahu, Tasya bisa membaca isi hatinya hanya dari sorot mata. Mulut bisa bohong, tapi mata... tidak. Tapi, benarkah aku masih menyukai Isa? Dia udah sakitin hatimu, Ra! Kamu harus benci dia.
“Apaan sih? Ngapain bahas dia?” Suara Aira bergetar. Luka dari Isa masih belum sembuh.
“Lupain Gus Isa, Ra. Jangan pikirin dia lagi. Enak banget dia, di pikirin sampe sakit, tapi dia mikirin cewek lain.” Eki duduk, melihat wajah Aira dengan seksama.
“Aku nggak mikirin dia.” Aira menghindari tatapan Eki. “Kebetulan aja aku sakit pas putus.” Elaknya.
“Oke, kamu sakit bukan karena Isa.” Eki menyerah. “Tapi sakitmu tambah parah karena dia kan? Tenang, Ra. Kamu masih punya aku.” Eki tersenyum tulus. “Entar kalau Gus Isa pulang, aku akan bully dia, enak aja nyakitin temenku, nggak minta maaf lagi.” Tukas nya.
“Kamu yakin bisa bully pemilik pondok?” tanya Tasya.
“Ya bisa lah. Aku akan acungin jempol terbalik, terus melet, terus pamerin hidung kayak babi.”
“Wkwk… bisa ditakzir nggak ya kalau ketahuan?” Tasya cekikikan.
“Demi Aira aku rela di takzir, hehe…” kekeh Eki sok jagoan. “Ra, ada permintaan lain? Kamu mau aku hukum Gus Isa model apa? Aku pasti lakuin buat kamu.”
“Udah, Ki. Jangan macam-macam. Dia udah balik ke pondok.”
Eki duduk bersila, wajahnya serius tapi kocak. “Tapi awas aja kalau dia pulang. Aku akan bikin dia malu! Gus Isa itu sok banget deh, dia pikir dia cowok paling ganteng hah? Buat apa tinggi, ganteng, punya alis tebal kayak pendekar, bibir yang selalu warna pink, kalau kopyah nya di lepas mirip banget oppa Korea…,”
“Lho, kamu ngejek atau muji?” potong Tasya.
“Aku ngomongin fakta, Sya! Emang bener dia ganteng kan?”
“Iya sih, tapi aku yakin, Gus Isa tuh sebenarnya punya jiwa Playboy yang tersembunyi, mubazir kali ya kalau gantengnya gak di manfaatin buat menjerat cewek cewek. Hari gini mana ada cowok yang mau di nikahin sama cewek yang nggak dia suka? Neng Andin tuh cantik makanya Gus Isa mau di nikahin sama dia.” ucap Tasya.
“Dan Gus Isa tuh udah kayak pemain pro, di rumah aja dia kelihatan kalem, sok tegas kalau ada anak ngelanggar peraturan, jaim, pura pura alim.” entah sejak kapan percakapan itu justru mengalir menjadi ghibah, hal yang paling terlarang di lakukan. Aira ingin menyela, ingin mengingatkan bahwa ini dosa. Tapi suaranya tertelan.
“Kalau di rumah gak jaim pasti di marahin Abah lah,” Tasya menyahut, pergosipan mereka semakin asik. “Ah, aku baru ingat, denger denger Gus Isa dulu tuh Deket banget sama Neng Andin. Mereka teman sejak kecil.”
Eki turun dari ranjang, kurang asik jika berbicara dengan jarak terlalu jauh, apalagi kini topik pembicaraan mereka terasa semakin menarik. Ia duduk mendekat pada Tasya, “Masa sih Gus Isa dan Neng Andin dulu pernah dekat? Info dari mana kamu, Sya? Jangan ngawur. Aku gak pernah dengar tuh.”
Tasya dan Eki duduk saling berhadapan.
“Mana mungkin aku ngawur, Ki. Aku tuh denger langsung dari para pengurus, mereka denger langsung dari mbak Tika, mbak Tika itu pengurus lawas yang sekarang udah keluar, dia dulu kebagian ngurus Gus Isa waktu masih kecil. Sekarang dia ngajar di MI, kamu tau dia kan?”
Eki mangut mangut.
Tasya lalu melanjutkan, “kata Mbak Tika, Neng Andin waktu kecil itu dekat banget sama Gus Isa. Kemana mana selalu berduaan, sering banget gandengan tangan, dan dulu mereka pernah main nikah nikahan loh.”
“What?” Ekspresi wajah Eki terkejut, refleks menoleh ke Aira yang juga terlihat tertegun. Eki menggeleng gelengkan kepala. “Wow wow wow…! ini plot twist banget!” Kedua tangan Eki memukul mukul udara gemas. “Jadi gimana nih sekarang? Yang salah sebenarnya siapa? Gus Isa yang cinta lama kembali bersemi? Neng Andin dengan kisah lamanya yang belum usai? Atau…, Aira yang jadi pelakor? Ngerebut Gus Isa dari Neng Andin?”
Dengan sekuat tenaga, Aira mengangkat tubuhnya sejenak. “Aku pelakor? Kalian tega banget ngatain aku gitu?” wajah cantik itu semakin terlihat pucat.
“Aku nggak bermaksud ngatain kamu, Ra. Aku hanya melihat kisah kalian dari sudut pandang orang lain yang nggak tau menahu cerita cinta mu dengan Gus Isa, baru tau kisah kalian setelah lihat Gus Isa lamaran sama Neng Andin. Mereka pikir kamu pasti pelakornya.” ucap Eki.
Aira menghempaskan kembali tubuhnya di kasur. “Iya iya aku penjahatnya.”
Eki lalu melanjutkan, “oke, karena kamu sudah tau gimana sikap Gus Isa, kemungkinan besar dia masih punya perasaan buat neng Andin. Sekarang kamu nggak boleh mikirin dia, karena kamu udah nggak ada di hatinya, udah nggak berarti lagi, jadi berhenti bersikap bodoh dengan terus memikirkan Gus Isa sampai sakit.”
“Kata siapa aku mikirin Gus Isa terus? Aku sakit gara gara sakit lambungku kambuh.” ucap Aira lemah. Tetap ingin membela diri dengan sisa tenaganya.
makan
“Dan sakit lambung mu jadi parah gara gara banyak pikiran. Ngelamun tiap hari sampai gak dengar ada orang lagi ngomong, di tambah lagi gak mau makan, sekarang kita yang repot, harus jagain kamu 24 jam di rumah sakit.” Eki akhirnya mengeluarkan uneg-uneg nya.
“Alah… tapi kalian senang kan di sini? Bisa lihat cowok ganteng, main hp sampe puas.”
“Hehe… iya juga sih. Maaf, ya?” Eki cengar cengir.
Tasya mengintip jam. “Udah Maghrib. Kami jamaah dulu ya, di mushola. Nggak jauh kok.”
“Terus aku sholat gimana?”
“Nanti setelah kami balik, kita bantu. Kamu istirahat dulu ya?”
Aira mengangguk. Perlahan ia memejamkan mata, berharap... nama itu tak lagi disebut.
—--
Krik Krik Krik…
Bunyi hewan malam bersahut pelan di balik balkon rumah sakit lantai satu.
Jam menunjuk angka 2 dini hari saat seorang gadis dengan baju warna hijau wardah membuka mata. Tatapan matanya kosong, melihat ke sekelilingnya yang sunyi senyap, hanya ada beberapa pasien dan bebeturunrapa penunggu yang juga sudah terlelap, begitupun dengan Tasya dan Eki, dua gadis itu berbaring di lantai beralas kambal spons tipis warna warni.
Srak…
Aira dari ranjang, jilbab segi empat tersampir di leher alakadarnya, mencabut jarum infusnya lalu berjalan pelan ke toilet.
Sesaat kemudian gemericik air terdengar lembut dari toilet. Tak lama, gadis itu keluar. Bukannya kembali ke ranjang, gadis bermata bulat dengan tatapan kosong itu justru keluar dari kamar, menyusuri lorong bangsal dan beberapa perawat yang sedang berjaga. Tak sadar jika yang melewati mereka adalah pasien, hanya menatapnya sekilas lalu kembali dengan kesibukannya.
Tatap mata Aira tetap kosong, memandang hampa jalan di depannya hingga menuju halaman rumah sakit, Aira terus berjalan, tak peduli dengan sisi halaman yang tak dapat penerangan.
Bruk…
Sebuah mobil yang melaju, tiba tiba menabrak Aira. Aira pun ambruk, tak sadarkan diri.
Brak…
Seorang pria dengan jas warna putih dan tubuh tinggi membanting pintu mobilnya. Keluar dengan sedikit berlari, menghampiri Aira, di balik temaram cahaya bulan pria itu memanggil Aira “Hei, bangun…” namun Aira tak merespons.
Dengan wajah panik, pria ber jas dokter tersebut membopong Aira. Berlari pelan menuju IGD rumah sakit.
“Cepat tolong dia.” ucap pria itu, ia meletakkan dengan hati hati tubuh Aira di salah satu ranjang IGD.
“Siapa ini, dokter Zaki?” Salah seorang petugas IGD menghampirinya, akhirnya beberapa orang pun ikut berkerumun di sekitar Aira.
“Entahlah, aku tidak tau,” jawabnya dengan tangan menggaruk rambut nya yang tersisir rapi ke samping. Berjalan mondar mandir, lalu berhenti menatap wajah Aira dengan penuh tanda tanya, masih bingung dengan apa yang barusan ia alami.
Bingung, kenapa ada gadis yang berdiri dalam kegelapan? Siapa dia? Mengapa dia disana? Sungguh, ini bukan salahnya, ia tidak melihat ada gadis di depannya. Sepertinya ia tadi terlalu percaya diri tidak ada orang di halaman rumah sakit hingga ia menginjak gas saat hendak memasuki lahan parkir.
Bersambung…