5

1610 Kata
Tap tap tap… Suara langkah kaki berlari menggema di halaman rumah sakit yang lengang jam dua dini hari. Seorang pria berjas putih—seorang dokter—berlari tergesa, napasnya memburu, kedua tangannya menggendong seorang gadis yang tampak tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, diselimuti kepanikan. Langkahnya berat, tapi tak terhenti. Lantai yang licin tak mampu menyurutkan jejaknya. Derap langkahnya bercampur dengan detak jantung yang menggelegar di telinga. "Tolong... tahan sebentar... jangan kenapa-kenapa..." gumamnya lirih, hampir menyerupai doa. Gadis itu—yang tadi tak sengaja ia tabrak—terkulai lemah dalam pelukannya. Matanya terpejam. Tak ada jawaban. “Siapa dia, Dok?” Seorang perawat menyambut kedatangan Zaki, lalu cekatan menarik ranjang dari sudut ruangan. Beberapa perawat lain menghampiri. “Aku tidak tahu. Hati-hati, kaki dan tangannya berdarah,” jawab Zaki, meletakkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati. “Aku yakin, waktu mobilku mau jalan, dia nggak ada. Tapi… ah, sial! Kenapa dia tiba-tiba muncul di depan mobil?” Zaki mondar-mandir di ruang IGD. Sesekali ia menghampiri gadis itu, lalu menjauh lagi, gelisah. “Dok, dia kami periksa, atau Anda sendiri?” ucap salah satu perawat. Yang lain kembali ke pos masing-masing setelah tahu gadis itu adalah korban tabrakan Zaki. “Periksa saja... otakku blank. Nggak bisa mikir,” jawabnya lesu, duduk di salah satu kursi, kakinya bergerak tak tenang. Kesialan apa lagi ini? Baru semalam ia habis rapat persiapan operasi, lalu mendapat kritik pedas dari salah satu dokter senior—hanya karena suaranya terdengar kurang jelas dari balik masker. Bahkan, wajahnya pun jadi sasaran komentar: katanya Zaki hanya mengandalkan ketampanan demi karier. Akibatnya, ia harus menghadap atasan, tak bisa langsung pulang, dan harus mengulang berkas yang sudah ia siapkan. Dan kini... sial lain datang. Di depan mobil, tak ada siapa pun. Tapi begitu pedal diinjak, gadis itu tiba-tiba muncul entah dari mana. Apa dia penipu? Sekarang banyak modus berpura-pura tertabrak demi kompensasi. Zaki menatap gadis yang kini terbaring tak berdaya. Wajahnya cantik. Busananya sopan—tunik merah muda dan rok broken white menutupi sebagian kakinya yang terluka. Untung hanya luka luar: goresan dan lebam. Kulitnya putih bersih, rambut hitamnya terurai panjang karena kerudungnya entah jatuh di mana. Zaki mengernyit. Apa kerudung itu masih di halaman? Persetan dengan kerudung itu! Mata Zaki masih terpaku pada wajah gadis yang baru ia tabrak. Gadis itu cantik dan manis dengan ukiran bibir yang sempurna tampak pucat, kulitnya bersih tanpa cela. Penampilan yang berbanding terbalik dengan para penjahat dan penipu yang berkeliaran di jalan. Tapi siapa yang tahu isi hatinya? Zaki berjanji tidak akan bertanggung jawab jika gadis itu terbukti sengaja menabrakan diri di mobilnya. Malam ini ia seolah tersandera di rumah sakit. Tapi ia tak akan membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Siapa dia? Kenapa muncul tiba-tiba? Sampai kapan dia akan pura-pura tidur? Setelah dokter menyatakan bahwa gadis itu hanya mengalami luka luar, ruangan kembali tenang. Zaki masih duduk, matanya tak lepas dari ranjang yang tertutup tirai sebagian. Firasatnya benar. Gadis itu membuka mata. Ia duduk, menoleh kanan-kiri, wajahnya kebingungan. Hup. Ia turun dari ranjang, menoleh lagi ke segala arah. Langkahnya lemah, tanpa alas kaki. Bibirnya meringis tiap kali rasa sakit menjalar dari telapak ke betis. Namun ia terus melangkah, menuju pintu samping yang mengarah ke gedung utama. Tak ada yang menyadari... kecuali Zaki. “Mau ke mana dia?” gumamnya sambil berdiri dan mengikuti dari belakang. Hatinya terenyuh saat mendengar erangan lirih gadis itu. Wajahnya pucat, langkahnya ragu, dan ia tampak kebingungan di tiap persimpangan lorong. Zaki akhirnya menyusul. “Mau ke mana kamu?” Gadis itu terkejut, lalu tersenyum cerah. “Dokter…” katanya lembut. “Saya bingung, ini di mana ya?” “Kamu di rumah sakit.” Apa lagi drama gadis ini? “Iya, saya tahu ini rumah sakit. Tapi… saya tadi tidur di kamar saya. Bangun-bangun sudah di ruangan lain. Teman-teman saya ke mana ya?”gadis itu sesekali mengusap rambut hitamnya yang panjang, terurai lembut hingga pinggang, tapi, wajahnya memerah malu, dan Zaki faham bagaimana perasaan wanita yang selalu memakai kerudung ketika rambutnya justru terlihat di tempat umum, seolah ia tidak memakai baju lengkap, seolah ia tak memakai celananya. “Kamu sakit?” selidik Zaki, gadis itu terlihat lemah, matanya lelah, dan nafasnya agak tersengal tiap kali selesai bicara. Gadis itu mengangguk pelan. “Sakit apa?” tanya Zaki lagi. “Sakit lambung.” ‘Lambung?’ Tadi sore hingga malam dirinya berjaga di sana. Karena sibuk, tugas memeriksa pasien sore yang seharusnya ia lakukan di ganti dokter lain, jadi ia hanya memeriksa saat jam delapan malam saja. Ia ingat, ada gadis yang sakit dan tidak di tunggu anggota keluarga, melainkan teman temannya dari pesantren, gadis inikah? Gadis itu sedang tidur saat dirinya datang memeriksa. “Kamu dari pesantren?” tebaknya “Iya.” “Terus apa yang kamu lakukan di halaman tadi?” Dan ia tadi sempat bertanya pada teman teman gadis itu jika mereka berasal dari pesantren Darul Ilmu, itu adalah pesantren milik pamannya, dan Isa adalah sepupu nya. “Aku…, di halaman?” Gadis itu tiba tiba terlihat syok. “A-aku tidak ke halaman kok, Dok.” Kepalanya menggeleng kuat, seolah takut kena marah. “Permisi. Saya mau kembali ke kamar.” Gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Zaki. Berjalan tertatih dengan kakinya yang di perban. Kepala Zaki menggeleng, gadis itu salah jalan, berbelok ke lorong yang semakin menjauh dari ruangan tempat dia dirawat. Dia benar benar sedang kesulitan. Tak peduli dengan kakinya yang sakit, menyeret tubuhnya di lorong rumah sakit yang hanya di terangi lampu. Zaki mengejarnya. “Kamu salah jalan, kamar kamu ke sana.” “Terima kasih, Dokter.” Suaranya lirih, wajahnya kelelahan. Zaki berjongkok di hadapannya. “Mau kugendong? Aku akan mengantarmu.” Ada perasaan bersalah menyelinap di hatinya, dirinyalah yang menyebabkan luka di kaki gadis itu, dan anehnya gadis itu seolah tak sadar kalau habis ditabrak, apa yang sebenarnya terjadi? Gadis itu mundur. “Aku bisa jalan sendiri, Dok.” Zaki menghela napas. Ia mengikuti dari belakang, langkah demi langkah. Senyum tersungging di bibir Zaki saat melihat ada dua orang gadis menyambut gadis itu di depan ruangan, dan beberapa perawat ikut menyambutnya. Zaki tak sadar kakinya terus melangkah mengikuti gadis itu hingga ke ruangan tempatnya tidur, hanya mengangguk saat para perawat menyapanya, dua orang perawat mengikutinya masuk ke ruangan gadis itu, menghampirinya dan ia membaca label id pasien di ranjang. Khumaira Diana, begitulah namanya, usianya sembilan belas tahun. “Bagaimana keadaanmu, Khumaira?” “Baik. Terima kasih sudah menunjukkan ruangan saya.” Ucapnya tulus. Zaki mendekat, memegang kaki Aira menyentuh lukanya yang sudah di perban, masih bingung dengan kejadian tadi. “Kenapa kamu tadi ada di halaman?” “Saya tidak ada di halaman, Dok. Dari tadi saya tidur di sini, bangun bangun sudah ada di ruangan lain.” Jelas Aira. “Tapi, aku jelas melihatmu di halaman.” Zaki masih belum mengerti dengan kejadian ini. “Bentar bentar, jadi dokter menemukan Aira di halaman?” Tasya memotong. Zaki mengangguk sambil memperhatikan wajah cantik Aira yang tiba tiba berubah semakin pucat, dahi Zaki berkerut. “Aira, kamu tadi berjalan waktu tidur?” Eki terbelalak. Aira hanya diam menunduk, percuma ia mengelak, sepertinya memang itulah yang sedang terjadi. “Ya Allah, Ra. Kita tadi heboh nyariin kamu tau, sampai perawat juga bingung. Ternyata kamu nggak sadar keliling rumah sakit.” Tasya menghembuskan nafasnya panjang. “Sudah kuduga! dia hilang gara gara gangguan tidur nya kambuh, kenapa aku lupa bisa kalau dia sakit sering berjalan sambil tidur,” sahut Eki. “Maaf, saya kira tadi yang keluar salah satu dari kalian,” ucap perawat. “Oh jadi begitu. Kamu berjalan dalam tidur.” Zaki tersenyum, merasa lucu, baru kali ini ia benar benar melihat orang yang berjalan saat tidur. “Aira, kamu tadi berjalan sampai ke halaman, waktu itu aku ada di mobil mau pulang, dan aku tak sempat menghindar waktu kamu tiba tiba muncul di depan ku.” “Maaf, Dok.” Tiba tiba Aira memotong. “Saya benar benar tidak sadar berjalan sampai ke sana.” wajah cantik itu terlihat semakin pucat pasi. “Aku juga minta maaf, tidak sengaja menabrakmu.” “Itu salah saya, Dok… Maaf jadi merepotkan.” “Gimana kakimu?” Zaki memperhatikan lukanya. “Hanya… sedikit sakit. InsyaAllah cepat sembuh kalau banyak istirahat.” “Maaf, permisi ya?” Zaki memegang kaki Aira, memegang agak kuat bagian yang terluka. “Gimana rasanya? Sakit banget?” Zaki berharap tak ada yang patah “Sedikit.” “Syukurlah.” Zaki tersenyum, lalu menoleh pada Eki dan Tasya. “Kalian harus ikat kaki dan tangan Aira di ranjang, bahaya kalau dia lepas lagi.” Zaki lalu memasang kembali infus di tangan Aira. “Jadi kamu juga nggak sadar mencabut infusmu?” “Iya…” jawab Aira pelan, wajahnya tertunduk malu. Malu, mengapa semakin banyak orang yang tau kebiasaan buruknya. “Besok aku periksa lagi lukamu. Kalau sakit, bilang ya?” “Iya, Dok. Terima kasih.” Zaki keluar ruangan. Awalnya ia ingin mengintimidasi Aira, mengira bahwa gadis itu akan memerasnya atas insiden dirinya telah menubruk Aira, walau gadis itu menangis ia tak akan bertanggung jawab. Tapi apa ini? Setelah melihat gadis itu sama sekali tak menyalahkan dirinya, justru menyalahkan dirinya sendiri, Zaki jadi berubah haluan, ia ingin bertanggung jawab untuk luka Aira, merawat dan memastikan luka itu sampai sembuh. Zaki kini telah berada di halaman rumah sakit, hendak pulang dengan mobilnya. Kakinya terhenti. Tap. Sebuah kain pink tergeletak. Ia pungut, menciumnya. Wangi lembut bercampur peluh menyergap indra penciumannya. Aroma yang sama seperti tubuh Aira. Tring tring tring… Ponselnya berdering. Ia mengangkat. “Waalaikum salam, Ma?” Zaki membuka pintu mobil, masuk, dan tanpa sadar menyelipkan kerudung Aira ke dalam dasbor. “Iya, aku sudah di mobil. Mau pulang.” Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN