Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun mentari telah menyengat, menyusup lewat jendela-jendela lebar berlapis kaca bening di bangsal RSUD—tempat Aira menghabiskan tiga hari terakhir.
Teriknya membuat tubuh Aira basah oleh peluh. Ia belum sempat bersentuhan dengan air selama beberapa hari, membuat kulitnya lengket dan gerah. Ia pun menyeret langkah ke toilet, sekadar membasuh wajah dan menyegarkan tubuh. Berharap agar tubuhnya terasa ringan. Meski kepalanya masih agak berat.
Sementara itu, Tasya dan Eki memilih keluar ruangan, mencari udara di sekitar taman rumah sakit. Berlama-lama di kamar hanya membuat tubuh mereka mendidih tersengat mentari. Saat mereka kembali, Aira pun baru saja selesai mandi. Kerudung segi empat warna mint yang kemarin diantarkan dari pondok disampirkan asal-asalan di kepalanya. Ia melangkah pelan menuju ranjang, dan buru-buru Eki serta Tasya menyambut, menuntunnya hingga gadis itu berhasil naik dan istirahat di ranjang.
“Hari ini dokter Zaki jenguk kamu lagi nggak ya, Ra?” tanya Eki sambil duduk di atas kambal, bersyukur karena posisi duduknya kini tak lagi terkena sinar matahari yang menyusup dari jendela.
“Kenapa? Kamu ngarep makanan gratis lagi?” sela Tasya, menoleh geli ke arah Eki. Duduk di samping nya.
“Bukan gitu maksudku, Sya. Aku cuma heran aja. Kemarin pagi kan udah nggak tugas. Tapi jam sepuluh pagi bela belain datang ke rumah sakit lagi cuma buat jenguk Aira, mana buah buahan yang dia bawa banyak banget, ada nasi padanya pula.”
“Dan kamu yang ngabisin jatah nasi Padang Aira, masih bisa bilang aneh? Masih bisa sok bingung kenapa dokter Zaki datang?” Tasya menimpali cepat. “Ngaku aja, kamu senang dia datang, dan kamu berharap hari ini dia datang lagi. Iya kan?”
Kemarin, saat jam makan siang tiba, nasi Padang Aira sama sekali tidak tersentuh, gadis itu justru makan menu rumah sakit, sedang Nasi Padang pemberian Zaki ia diamkan. Dengan alasan nasi Padang Aira keburu basi, Eki pun melahap nasi Padang itu.
“Hehe… iya sih,” Eki nyengir. “Tapi, tetep aja aneh. Dokter Zaki itu beda. Terlalu perhatian. Padahal dia udah tahu kondisi Aira semalam. Tapi pagi-pagi balik lagi. Itu mah… bukan tanggung jawab doang, itu cinta.”
“Enggak mungkin,” Aira menyela cepat. “Dokter Zaki cuma merasa bersalah. Makanya dia bersikap begitu.” Ucapnya sembari membersihkan beberapa helai rambut yang melilit di ikat rambutnya
“Kamu nggak ngerasa kalau perhatian yang berlebihan lama-lama bisa berubah jadi cinta?” sahut Tasya. “Sejak semalam, dia jadi overprotective. Nyuruh kita jagain kamu, nyuapin kamu kalau kamu nggak mau makan. Ke toilet pun kamu nggak boleh sendiri.”
Eki menurunkan suaranya, nyaris berbisik. “Aku yakin, ada alasan kenapa dokter Zaki sendiri yang rawat lukamu. Yang biasanya ngelakuin itu kan perawat.”
“Iya, iya. Aku juga yakin dia punya maksud lain,” Tasya ikut menatap Aira serius. “Dia pasti pengen pegang-pegang kamu, Ra. Kamu kan cantik, kulitmu putih bersih, nggak kayak kaki Eki yang penuh bekas koreng. Laki laki normal pasti suka sama kamu, Ra” Tasya tersenyum simpul, sementara Eki langsung manyun, protes tanpa kata. Tapi tetap tak bisa menyangkal kenyataan itu.
Aira terdiam. Kata-kata Tasya, meski terdengar bercanda, ada benarnya juga. Jangan-jangan… dokter itu memang punya niat tersembunyi? Tapi… entahlah.
“Semoga aja nggak gitu.” Ia mengangkat bahu ringan dan mulai mengikat rambutnya.
“Kalau aku jadi kamu, nggak masalah sih,” ujar Eki santai.
Aira melirik tajam. “Karena dia ganteng?” tebaknya. Eki pun tertawa malu-malu. Aira memutar bola matanya. Sudah bisa ditebak. Temannya itu memang lemah terhadap pria tampan.
“Sya, kalau dokter Zaki nyatain cinta ke kamu, kamu terima nggak?” tanya Eki penasaran.
“Langsung aku terima dong! Cowok kaya, dewasa, perhatian, ganteng pula. Mana bisa nolak?” jawab Tasya mantap.
“Nah, itu dia. Kita ini cewek normal. Hanya cewek nggak normal yang nggak suka sama dokter Zaki. Apalagi dia udah ‘matang’. Cewek mana yang nggak suka cowok dewasa?”
“Oke, aku memang nggak normal.” Aira mengambil segelas air dan meneguknya. “Omong omong kenapa sih kita bahas dia terus? Gak ada gunanya berdebat tentang sesuatu yang gak jelas.”
“Yaelah, Ra… semua orang bakal salah paham kalau ada cowok terlalu baik sama kita. Kecuali kamu udah suka cowok lain,” Tasya mengerling. “Makanya pesona dokter Zaki nggak mempan buat kamu.”
Aira diam, meresapi sejenak hatinya, di bibir ia bisa saja mengatakan jika sudah membenci Isa, tapi mimpi itu selalu datang tanpa ia inginkan, wajah Isa terus muncul dalam mimpi mimpinya, seolah menertawakan hatinya yang tak berdaya.
“Lupakan Gus Isa, Ra.” Eki, seolah membaca isi hatinya, mendekat lalu duduk di kursi samping ranjang. Ia menggenggam tangan Aira, menatapnya penuh simpati. “Andaikan kalian benar benar menikah aku gak jamin kamu bahagia, Ra. Kamu dan Gus Isa sebaya, kebanyakan pasangan sebaya itu ego nya sama, gimana kalau kamu dan Gus Isa suatu saat sama sama nggak mau ngalah? Apalagi Gus Isa itu tipe cowok manja, apa apa harus menang, apa apa harus di turuti, harus selalu jadi yang nomer satu, dia itu perfectionist. Nikah itu nggak sama kayak pacaran, Ra. Pegangan tangan aja udah menyelesaikan semua masalah kalian.”
“Aku nggak pernah pegangan tangan sama Gus Isa,” Aira membantah cepat. “Dia tahu batas.” Hanya ada tatapan penuh kasih, cinta dalam diam, dan doa-doa yang diam-diam saling mereka kirimkan. Itu sudah cukup baginya.
“Aku percaya. Tapi buat urusan rumah tangga, dokter Zaki lebih siap. Dia dewasa.”
“Tapi aku nggak suka sama dia, Ki. Lagi pula… aku nggak ada rencana nikah apalagi sama dia.” Potong Aira cepat. Wajahnya jelas-jelas tak nyaman.
“Kalau dia nyatain cinta, kamu harus terima, Ra. Siapa tahu dia bisa sembuhin luka kamu. Yang penting bukan siapa yang kita cintai, tapi siapa yang lebih mencintai kita.”
“Dia nggak cinta aku. Dia cuma merasa bersalah. Kalian salah paham.” Entah berapa kali ia harus menegaskan itu.
Tiba-tiba Tasya mendekat, berbisik, “Ra, lihat… siapa yang datang.!” 76oTasya tiba tiba mendekat, berbisik sambil melihat seseorang yang berjalan ke arah mereka. Eki dan Aira pun serempak menoleh. Seorang pria terlihat tak asing, tinggi, memakai kaos polo putih, kaki panjangnya yang berbalut celana warna moka berjalan ke arah ranjang Aira yang berada di sudut ruangan. .
Wajahnya yang sebagian tertutup oleh masker putih tetap tidak bisa menyembunyikan ketampanannya, rambutnya tersisir rapi ke samping, sebagian menjuntai ke depan karena tersapu angin. Menyita perhatian orang orang yang berada di ruangan. Termasuk Aira, Eki dan Tasya. Namun Aira buru buru membuang mukanya, sadar siapa pria itu. Sebelah tangannya membawa kantong kresek hitam putih.
Srak…
Pria itu menaruh kresek hitam putih di samping Aira. “Gimana keadaan mu, Aira?” Suara berat itu sudah familiar. Aira dan teman temannya tahu walau pria itu belum membuka maskernya. Dokter Zaki.
“Alhamdulillah, sudah lebih baik, Dok.” Aira menatap nanar kresek yang di buka Zaki, berisi berbagai cemilan, sebuah s**u uht satu liter dan tiga bungkus nasi. Plis, jangan terlalu baik, Dok. Teman teman ku jadi suudzon gara gara kamu. Batinnya. Dan Aira hanya diam, pasrah saat pria itu menempelkan punggung tangannya di dahi Aira.
“Syukurlah, kamu semakin sehat.” Pria itu mengangguk angguk, sebelah tangannya melepas masker yang menutupi wajahnya. “Jangan lupa, camilannya di makan ya? Makan yang banyak biar cepat sembuh.” nasehatnya.
“Dokter… nggak usah repot-repot datang terus. Saya baik-baik saja.”
“Siapa bilang repot? Kebetulan aja lewat depan Rumah Sakit, jadi mampir.”Masa sih? Kemarin kebetulan sekarang juga kebetulan? Aira menyimpan rasa curiga itu dalam hati. “Tapi saya jadi tidak enak sama dokter.” bukan nggak enak tapi nggak nyaman, yang peka dong!
“Kenapa merasa nggak enak? Aku kan sudah bilang, aku akan tanggung jawab sampai kamu sembuh.” Zaki memperhatikan Aira yang tak tertarik pada kresek hitam putih yang telah di buka. Gadis itu bahkan hanya melirik, tak memegangnya sama sekali apalagi melihat isinya. “Kamu nggak suka aku bawain camilan seperti ini? Mau ku belikan yang lain? Buah?”
“Nggak perlu Dok. Ini saja sudah kebanyakan. Kalau beli lagi nanti malah tidak habis, yang kemarin saja belum ha…,bis.” mata Aira terbelalak, nakas kosong. Buah-buahan yang sebelumnya memenuhi meja, kini hanya menyisakan satu buah pisang.
“Jangan sungkan, Ra. Aku belikan buah lagi ya?” ucap Zaki sembari menali kresek isi Snack di samping Aira, mengambilnya, menaruh di atas meja.
Aira tiba tiba meraih kresek dari tangan Zaki, menaruhnya lagi di atas ranjang. “Tidak perlu beli lagi, ini sudah cukup kok,” bisa berabe kalau pria itu beli lagi, Snack saja sudah membuatnya tak nyaman, apalagi ditambah buah. Ia yakin, tidak ada yang gratis di dunia ini. Walau Zaki mengatakan berulang kali bahwa ini merupakan tanggung jawabnya, Aira tetap tidak percaya sepenuhnya. Makin sedikit barang yang di berikan untuknya makin sedikit resiko yang ia tanggung.
“Dok kapan saya boleh pulang?” Aira sengaja mengubah topik pembicaraan.
“Kata dokter jaga pagi, gimana?”
“Belum boleh pulang,” jawabnya pelan dengan kepala menggeleng, matanya melihat kemana saja, hanya sesekali melihat ke arah Zaki, dan ia tak suka, cara melihat pria itu padanya.
“Rasanya tubuhmu sekarang gimana?” Zaki bertanya kembali.
“Kalau istirahat dan tiduran seperti ini biasa saja, tapi pas di buat jalan ke kamar mandi masih agak pusing.
“Kalau mau cepat pulang makan yang banyak, istirahat cukup, obatnya diminum terus. Nanti malam semoga sudah bisa pulang.” ucap Zaki, matanya tak pernah beralih dari wajah cantik Aira.
“Ya sudah aku pulang dulu. Cepat sehat ya?” Dokter Zaki melempar senyum untuk Aira, lalu mengangguk pada Eki dan Tasya untuk pamitan. Setelah memakai maskernya kembali, pria itu keluar ruangan.
Suit… suit…
Eki pura pura membuat suara siulan menggoda. Namun Aira segera berbaring, memejamkan matanya lalu membelakangi mereka, ia tak ingin meladeni candaan teman temannya, sungguh ia tak nyaman dengan perhatian Zaki yang berlebihan.
Tak bisakah dia bersikap layaknya dokter pada umumnya? Tidak bisa, Ra. Karena dia sudah menabrakmu. Dan dia merasa harus menebusnya.
Dan Aira merasa seolah ada tali yang di ikat oleh Zaki, membuat dirinya tak bisa berkutik.
Bersambung…