Malam itu, Aira merasa bahagia. Zaki akhirnya mengizinkannya pulang dari rumah sakit esok pagi.
Dan pagi pun datang. Aira telah bersiap, infus sudah dilepas, tas-tas telah dirapikan. Namun satu hal yang belum selesai: pesan Tasya kepada pengurus pondok tak kunjung dibalas. Mereka kini duduk bersila di trotoar rumah sakit, berteduh di bawah pohon kecil, diapit debu, suara kendaraan, dan terik mentari yang menyengat.
“Maaf ya, Ra... Aku ceroboh banget ngajak kamu buru-buru keluar,” ucap Tasya penuh penyesalan. Trotoar itu bukan tempat nyaman untuk gadis seusia mereka; panas, bising, dan tak ramah. Tasya ingin mengajak Aira kembali ke dalam, tapi melihat wajah Aira yang kelelahan membuat hatinya pilu. Jarak dari rumah sakit ke tempat mereka duduk tak seberapa jauh, namun cukup membuat napas Aira tersengal.
Tasya punya niat baik—jika mobil pondok tak kunjung datang, mereka bisa naik becak. Tapi ternyata, trotoar pagi itu sepi. Becak pun tak tampak satu pun.
“Aduh, gimana ini? Mobil pondok semua lagi dipakai,” Tasya menggaruk kepalanya.
“Kamu sih, Sya. Terlalu cepat ngajak keluar,” gerutu Eki.
“Iya, iya, salahku,” Tasya mengakui. “Tadi rencananya kalau chat-ku gak dibales, kalian naik becak, aku naik ojek.”
“Lho, kenapa kamu gak naik becak juga?” tanya Eki. Aira hanya diam, wajahnya semakin pucat, napasnya kembang-kempis, seolah udara panas itu mengaduk-aduk isi kepalanya.
“Becak mahal, Ki. Tapi lebih nyaman buat Aira. Kamu naik becak bareng Aira, bawa barang juga,” arah Tasya. “Ra, kamu tunggu sini ya. Aku cari becak dulu.”
“Aku ikut!” seru Eki.
“Terus siapa yang nemenin Aira?”
“Aku gak apa-apa sendiri,” ujar Aira sambil tersenyum kecil, menyembunyikan getir dalam hatinya. “Kalau kalian cari berdua, pasti lebih cepat nemu.”
Tasya masih ragu, namun akhirnya pergi juga, meninggalkan Aira sendiri, bersandar di pohon kecil, bersama tas-tas dan tubuhnya yang lelah.
Aira sebenarnya malu. Duduk sendirian di trotoar seperti gelandangan. Tatapan orang yang lewat menusuk-nusuk harga dirinya. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri, apalagi kembali ke rumah sakit. Kepalanya mulai berdenyut, matanya berkunang.
Tin… tin…
Suara klakson membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, dan jantungnya seperti berhenti sejenak. Zaki—dengan Land Cruiser hitamnya—turun dari mobil dan langsung menghampirinya. Dahi pria itu berkerut cemas, lalu duduk di hadapan Aira.
“Kok kamu masih di sini? Nggak pulang?” tanyanya panik. “Mana teman-temanmu?”
“Tasya sama Eki cari becak.”
“Becak?” Zaki menatap wajah Aira yang kini mulai memerah karena panas. “Pondok nggak jemput?”
“Mobilnya dipakai semua, baru ada jam satu siang,” jawab Aira lirih.
“Oh…” Zaki mengangguk pelan, tapi wajahnya tetap serius.
“Assalamualaikum, Dokter…” suara Tasya mengejutkan mereka. Zaki langsung berdiri.
“Kalian dari mana saja? Kenapa Aira ditinggal sendirian, kepanasan begini?”
“Aku enggak kepanasan kok, udah berteduh,” bela Aira cepat-cepat.
“Panasnya tetap nggak baik buat kamu.” Tatapan Zaki bergeser pada dua gadis itu, membuat mereka tertunduk.
“Maaf, Dok,” ucap Tasya, menyesal.
“Sudah dapat becak?”
Tasya menggeleng. “Nggak ada. Kita masuk ke rumah sakit aja ya, Ra. Istirahat sambil nunggu mobil pondok.”
“Tunggu sebentar,” ujar Zaki. Ia merogoh ponsel dari saku kaosnya, menelpon seseorang.
“Assalamualaikum, Tante? Ini ada anak pondok yang sakit, gak ada kendaraan jemput, boleh aku antar ke pondok? Yang sakit namanya... Aira.”
Seusai panggilan, Zaki tersenyum ke arah Aira. “Aku antar kalian.”
“Serius, Dok?!” seru Eki girang. Aira pun mengangguk lemah, tapi senyumnya merekah. Meskipun hatinya masih menyimpan keraguan pada Zaki, tubuhnya butuh istirahat. Jika ia harus menunggu lebih lama di trotoar, mungkin ia akan pingsan.
Zaki membuka pintu belakang mobil, dan ketiganya masuk tanpa pikir panjang.
“Dokter tadi telpon siapa?” tanya Eki penasaran.
“Bu Nyai kalian. Beliau tanteku.”
“Serius?!” sahut Tasya dan Eki bersamaan.
“Cek aja HP-ku kalau nggak percaya.”
Zaki menyerahkan ponselnya ke belakang. Eki menerimanya dengan semangat. Mereka terkekeh pelan saat tahu HP Zaki tanpa sandi.
“Jangan baca chat-ku!” seru Zaki.
“Siap, cuma mau pastikan aja,” kata Tasya, tapi justru semakin penasaran. Setelah memastikan nomor Bu Nyai benar, mereka mulai mengintip galeri dan chat Zaki.
“Dia nggak pernah selfie, isinya foto kerjaan,” gumam Eki. “Eh, ini… banyak cewek nge-chat, tapi dibiarin!”
“Yang ini dibalas… terus ditolak, terus diblok. Sadis juga…” Tasya cekikikan.
“Tuh kan, pasti kalian lihat yang enggak-enggak! Balikin!” Tangan Zaki terulur ke belakang.
“Bentar, Dok…” rengek Eki.
“Balikin! Nggak sopan!” Zaki tegas.
Aira tanpa pikir panjang merebut HP itu dan mengembalikannya pada Zaki.
“Yah…” Eki cemberut. “Diam-diam, dokter kita populer juga ya?”
“Jangan panggil aku ‘dok’ terus. Emangnya aku anjing?” keluh Zaki.
“‘Dok’ dari ‘dokter’, bukan ‘dog’ anjing, Mas,” sahut Eki.
“Panggil aja Zaki.”
“Oke, Mas Zaki.” Eki tertawa genit. “Tapi kok populer begini belum punya pacar?”
“Bocil pengen tahu urusan orang dewasa…”
“Eh aku udah sembilan belas tahun!” protes Eki.
“Aku dua puluh satu!” sahut Tasya.
“Iya, iya. Tapi buka HP orang tanpa izin itu tetap nggak sopan.”
“Maaf, Mas Zaki. Kami penasaran banget. Dokter setampan kamu kok masih sendiri?”
“Bukan nggak punya, belum ketemu yang cocok aja.”
“Kalau Aira gimana?” goda Eki. Aira mencubitnya keras.
“Aduh, Ra!”
“Jangan ngawur, Ki,” bisik Aira, wajahnya merah padam.
Zaki tertawa. “Aira? Sama aja kayak pasien lain.”
“Bohong! Kamu beda kalau lihat Aira!”
Zaki tertawa lagi. “Banyak kok yang cantik, masa harus aku suka semua?”
“Tapi tatapanmu beda ke Aira. Ada cinta yang membara!”
“Bener, bener!” Tasya mendukung. Aira makin malu. Wajahnya tenggelam di antara lututnya, tangannya menutup mata.
Cittt...
Mobil Zaki berhenti mendadak. Ia menoleh ke belakang.
“Aku udah bilang, aku perhatian sama Aira karena aku pernah nabrak dia. Tanggung jawab aja. Kalau aku cuek, bisa-bisa dia laporin aku ke polisi.”
“Tapi caramu itu loh... Lebih dari sekadar tanggung jawab.”
Zaki tertawa santai. “Kalian aja yang lebay. Aira biasa-biasa aja, iya kan, Ra?”
Aira buru buru mengangkat tubuhnya, kepalanya mengangguk cepat, “Benar. Aku juga biasa. Jangan baper, kalian.”
“Tapi kamu jengukin Aira tiap pagi. Padahal bisa sore pas kamu kerja.”
Uhuk… uhuk! Aira tiba-tiba batuk, mencoba menghentikan gempuran pertanyaan mereka.
“Minum, Ra.” Zaki menyodorkan air mineral.
“Nah, perhatian lagi! Ngaku deh, Mas!”
“Oke, oke, aku ngaku—tapi nanti. Sekarang kita makan dulu.” Zaki menunjuk rumah makan di samping mereka.
Eki langsung bersorak dan membuka pintu. Aira hanya bisa menghela napas panjang, tak tahu lagi harus sembunyi ke mana dari rasa malunya.
Bersambung…