Lagi-lagi Aira duduk sendirian. Namun kali ini, ia berada di sebuah rumah makan yang cukup luas dengan beberapa pilihan tempat duduk sesuai selera konsumen. Eki adalah yang paling antusias saat Zaki mengajak mereka makan. Bahkan, ia yang memilih duduk di salah satu gazebo. Tempat itu cukup menarik, dikelilingi bunga dan tanaman hias. Sebuah kolam berisi ikan koi memperindah sisi lain gazebo.
Setelah memilih tempat, Eki justru malah jalan-jalan, berkeliling dan melihat-lihat area rumah makan. Sementara itu, Zaki pergi untuk memesan makanan. Padahal, pelayan sempat datang ke gazebo mereka. Namun karena Eki dan Tasya bingung memilih menu dan terlalu lama menentukan pilihan, Zaki akhirnya menyuruh pelayan pergi dan memutuskan untuk memesan sendiri.
Bruk...
Zaki duduk di seberang meja. Pria itu, seperti biasa, tampak berwibawa dan tenang di balik kaus polonya. Berbanding terbalik dengan Aira yang justru salah tingkah saat ia datang. Wajahnya terus memerah. Bukan karena kasmaran seperti remaja pada umumnya. Ia hanya merasa tak enak dan bingung harus bersikap bagaimana jika Zaki benar-benar mengungkapkan isi hatinya.
Mas Zaki tidak mungkin mencintaiku, batin Aira mencoba meyakinkan dirinya. Dia sudah bilang berkali-kali bahwa dia tidak suka. Tapi kenapa sekarang malah mengajakku dan teman-temanku makan? Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Makin dipikirkan, Aira justru makin frustasi. Ia menghela napas panjang.
"Tenang, Aira," ucap Zaki sambil menyodorkan sebotol air mineral. "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
Zaki seolah mengerti kegelisahan yang tengah dirasakan Aira, seolah tahu gadis itu sedang harap-harap cemas menunggu dirinya mengungkapkan cinta.
"A-aku nggak membayangkan apa-apa," ucap Aira cepat. Sial, wajahnya makin memerah. Zaki justru tersenyum melihat reaksi itu, menikmati kepanikan Aira.
"Sebelum kamu ngomong ke teman-temanku, aku mau bilang dulu kalau aku juga nggak suka sama kamu."
Aira buru-buru menegaskan. Ia tak ingin Zaki salah paham dengan sikapnya. Ia salah tingkah bukan karena suka, melainkan karena takut Zaki benar-benar menyatakan cinta. Ia tidak ingin Zaki menanggung malu karena harus ditolak. Jadi, sebelum Zaki sempat berkata apa-apa, lebih baik ia yang lebih dulu menolak. Setidaknya, ia sudah menyelamatkan harga diri pria itu.
"Silakan..."
Seorang pelayan pria datang, meletakkan beberapa minuman di atas meja. Dua gelas jus alpukat, satu lemon tea hangat untuk Aira, dan kopi s**u untuk Zaki.
"Maaf, makanannya masih belum siap. Masih dimasak."
"Nggak apa-apa," jawab Zaki tenang.
"Wow! Sudah datang!"
Eki memekik gembira sambil buru-buru naik ke gazebo. Bruk! Karena terlalu terburu-buru, ia menginjak roknya sendiri dan langsung terjerembab di depan Aira. Zaki tertawa, sementara Tasya tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
Namun tidak dengan Aira. Ia segera bangkit dan membantu sahabatnya.
"Hati-hati, Ki," ucapnya sambil memapah Eki duduk di sampingnya. "Mana yang sakit?" Aira memeriksa tangan dan kaki Eki.
"Santai, Ra. Nggak parah kok," sahut Tasya sambil menahan tawa, lalu duduk di sisi lain Eki. "Paling juga hatimu yang sakit karena malu. Tuh, lihat, orang-orang pada ngeliatin kamu."
Tasya melihat ke sekeliling. Beberapa pengunjung memang terlihat tertawa dan berbisik.
"Makanya, Ki. Kalau jalan, lihat jalannya, jangan makanannya," lanjut Tasya, masih menggoda.
Eki manyun.
"Udah, nggak papa. Minum, Ki." Zaki menyodorkan jus alpukat pada Eki.
"Terima kasih," ucap Eki, lalu membaca basmalah dan menyeruput minumannya.
"Gimana, Mas Zaki? Katanya tadi mau jawab pertanyaan kita?"
“Gak ada yang berubah. Aku dan Aira masih seperti kemarin. Aku dokter, dan Aira pasienku.”
“Lalu, jadi istriku.” sahut Tasya, menggoda.
"Cie..." Eki menyoraki sambil menunjuk-nunjuk Aira dan Zaki.
"Apaan sih kalian? Aku dan Mas Zaki nggak ada apa-apa!" Aira membantah dengan tegas. Sekeras apa pun mereka berusaha menjodohkan dirinya dengan Zaki, pria itu tetap tidak menarik baginya.
“Kamu emang nggak ngerasa apa-apa, tapi belum tentu Mas Zaki juga begitu,” kata Eki, menggoda Zaki. Tapi pria itu hanya tersenyum santai, seperti biasa.
“Sok tahu. Berapa kali harus aku bilang, aku cuma tanggung jawab sama Aira.” ucap Zaki tenang.
“Nggak percaya!” seru Tasya.
“Terserah. Yang jelas, ini adalah pertemuan terakhir kita. Semoga Aira senang dan cepat sembuh setelah makan di sini.”
"Yah... nggak seru, dong..." Eki kecewa.
Tasya menimpali, “Tapi Mas, bukannya kamu berlebihan tiap pagi nyempetin jenguk Aira? Aku yakin Aira pasti juga sempat mikir kalau kamu suka sama dia.”
"Aku nggak pernah bilang begitu!" Aira cepat membantah.
“Aku setiap pagi kalau ada waktu memang ngantar ibu ke kampus. Karena kampusnya dekat rumah sakit, ya sekalian jenguk Aira. Bukan karena suka, tapi karena kasihan. Nggak ada dari kalian yang jenguk dia. Kalian senang kan waktu aku bawain makanan?”
“Eki senang banget,” jawab Tasya cepat, membuat Eki salah tingkah. Zaki hanya tersenyum.
“Faham sekarang?” tanya Zaki.
“Iya-iya, maaf ya, Mas. Udah nuduh-nuduh.” Tasya merasa bersalah.
“Penonton kecewa deh,” seloroh Eki.
“Tuh, makanannya datang!” ujar Zaki sambil menunjuk karyawan rumah makan yang membawa troli penuh makanan.
Mata Eki berbinar melihat nasi putih mengepul, gurami bakar, gurami asam manis, sayur kangkung, ayam bakar, dan jamur krispi. Ia langsung hendak mengambil jamur krispi yang menggoda.
Plak!
Zaki memukulkan menu ke tangan Eki.
“Habis jatuh, cuci tangan lagi!” perintahnya.
Meski manyun, Eki menurut dan menarik Tasya untuk menemaninya cuci tangan.
Setelah keduanya pergi, Zaki menatap Aira yang sedang menyendok nasi. Awalnya biasa saja, tapi matanya terbelalak saat melihat piring itu penuh nasi hingga menggunung.
“Kamu makan sebanyak itu?” tanyanya tak percaya.
Aira tersenyum, menggeleng. “Ini untuk Eki.”
“Eki makan sebanyak itu?” Zaki kembali tak percaya, tapi akhirnya mengangguk paham. Ia teringat betapa suburnya tubuh Eki.
“Porsi dia sebenarnya segini. Tapi kalau ada kamu, dia pasti malu ngambil sebanyak ini,” ucap Aira sambil mengambil satu piring lagi untuk diisi nasi ukuran normal. “Ini buat Tasya.”
“Kamu mau aku ambilkan juga?” tanya Aira dengan senyum ramah.
Zaki sebenarnya tidak terbiasa diambilkan nasi oleh siapa pun. Tapi entah kenapa, kali ini ia merasa seperti sapi yang sudah dikalungi tali di hidungnya. Ia mengangguk. Aira pun dengan senang hati mengambilkan nasi untuk Zaki.
Hari itu terasa menyenangkan. Mereka berempat makan sambil tertawa, saling menggoda, dan bertukar cerita.
“Mas Zaki, kasih Aira saran dong. Jangan suka mikirin cowok! Gara-gara kebanyakan mikir, dia jadi sakit,” ujar Tasya. Piring-piring mereka kini hanya menyisakan tulang dan minuman.
“Aira suka sama cowok?”
“Nggak! Mereka ngawur, Mas. Jangan dengerin mereka.”
“Aira yang bohong, Dok. Kamu tahu Gus Isa kan? Dia itu pacarnya Aira. Tapi kemarin Gus Isa dijodohkan sama cewek lain. Makanya Aira sakit, gara-gara kebanyakan mikir.”
“Aira, kalau mondok nggak boleh pacaran.”
“Siapa yang pacaran? Kami cuma omong-omongan!”
“Omong-omongan tapi pakai perasaan?”
“Iya iya, aku berdosa. Nggak akan kuulangi lagi.”
“Pinter.”
“Sudah selesai semua?”
“Selesai. Terima kasih ya, Mas.”
“Iya.”
Zaki turun dari gazebo lebih dulu, diikuti Eki, lalu Tasya, dan Aira paling akhir.
“Hati-hati, Ra,” ucap Zaki saat Aira hendak turun. Tangannya terulur, menjaga Aira agar tidak jatuh. Saat satu kaki Aira menapak, tubuhnya terdorong ke depan. Zaki yang mengira Aira akan jatuh langsung refleks menarik tangannya. Tanpa sengaja, kepala Aira menabrak d**a bidang Zaki. Ia terdiam, masih bersandar di d**a pria itu.
“Haram haram… bukan muhrim...”
Suara Eki menyadarkan Aira. Ia buru-buru menjauh dari Zaki. Dahinya berkerut, menatap wajah pria itu yang entah kenapa tampak bersemu merah. Namun sebelum sempat menatap lebih lama, Zaki berbalik dan berjalan keluar rumah makan.