9

1067 Kata
Ia yang berusia tujuh tahun ikut sang ibu. Adiknya belum lahir. Hanya sebulan sekali mereka berkumpul sebagai keluarga utuh. Zaki tumbuh bebas di desa. Hari-harinya diisi petualangan: menjelajah hutan, memanjat pohon, memberi makan ternak, bermain air di sungai, dan berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Setiap kakek-neneknya menanam semangka, di malam hari Zaki ikut berjaga di gubuk sawah, tidur dengan pemandangan bintang bintang yang indah, kakek dan neneknya berjaga agar buah tak dicuri tikus atau manusia. Semua terasa hangat, hidup, penuh makna. Hingga akhirnya, saat masuk SMP, ia dipaksa kembali ke kota, ke Surabaya, tempat orang tuanya tinggal. Ia menolak. Tapi amarah dan desakan membuatnya menyerah. Kini, semuanya tinggal kenangan. Kakek dan neneknya telah tiada. Tak ada lagi tempat untuk pulang selain ingatan. Itulah sebabnya Zaki begitu mencintai malam, karena malam adalah gerbang menuju masa kecilnya yang penuh kasih. --- “Ternyata kamu di sini, Zaki. Mama mencarimu ke mana-mana.” Suara lembut seorang wanita paruh baya membuat Zaki menoleh. Ia buru-buru duduk. “Mama? Kapan pulang?” tanyanya pelan. Ia tak mendengar suara mobil masuk. “Baru saja. Ayo masuk, Papa mencarimu. Jangan lupa kunci pintunya. Sudah hampir jam sebelas.” Zaki bangkit, mengikuti langkah ibunya ke ruang tengah. Di sana, ayah dan ibunya duduk berdampingan, belum berganti pakaian. Di atas meja tersusun hampers dari pesta pernikahan. Tatapan mereka membuat Zaki gugup. Ia pun menjatuhkan tubuh ke sofa. “Ada apa, Pa?” “Akhir-akhir ini kamu sibuk apa, Nak?” tanya sang ayah, Umar, dengan nada lembut namun sarat makna. “Kerja shift malam seperti biasa, ke rumah pasien kalau ada yang manggil, sudah tidak ada lagi.” Ke rumah sakit untuk menjenguk Aira tak perlu ia jelaskan kan? Toh itu cuma dua hari. “Calon?” “Calon?” Zaki membeo, pura pura tak tahu, padahal tahu betul apa maksud papanya. “Calon istri, sudah dapat?” suara papanya mulai tegas. Zaki menggeleng. “Cari istri tidak semudah cari sabun di toko, Pa. Itu sulit, harus hati hati, banyak pertimbangan, aku butuh waktu lama untuk mencarinya.” Zaki menghela nafasnya, baru satu Minggu orang tuanya menanyakan calon istri padanya, dan sekarang sudah menuntut hasil? Seandainya cari istri semudah cari barang di toko, ya Allah… “Kalau kamu kesulitan, Papa dan Mama bisa carikan. Teman papa punya anak gadis, dia cantik, baik, sopan, papa pernah ketemu, dia gadis yang solehah, dan dia kerja jadi perawat.” Zaki menggeleng cepat. “Aku cari sendiri aja, Pa.” Untuk masalah jodoh, Zaki bertekad akan mencarinya sendiri dengan instingnya. “Coba temui dia dulu, Nak. Siapa tau kalian cocok.” Santi memberi jalan tengah. “Nggak, Ma.” Lagi lagi Zaki menolak tegas. “Kamu nggak akan tau hasilnya kalau belum coba, Nak. Mama pernah ketemu Via, dia anaknya cantik, sopan, kalau bicara kalem nggak teriak teriak, pake kerudung. Mama yakin kamu bakalan suka kalau ketemu dia.” “Aku nggak mau, Ma!” Zaki tak suka basa basi mengenai hubungan. Ayahnya mulai meninggi, “Zaki, kamu sudah tiga puluh tahun! Sampai kapan kamu begini?” Zaki berdiri, “maaf, aku benar benar tidak bisa, Pa.” Ucap Zaki pelan, pertikaian itu membuat Zaki ingin berteriak, namun ia memilih untuk pergi ke kamarnya. Baru saja Zaki menghempaskan tubuhnya di ranjang, pintu sudah di ketuk dari luar, “Zaki mama masuk ya?” “Iya.” jawab Zaki malas. Ogah ogahan mengangkat tubuhnya, papa dan mamanya kini berada di kamarnya, duduk di sofa panjang kamarnya. Ada apa lagi ini? “Kalau kamu tidak punya calon, lalu apa ini?” Umar menaruh sebuah kerudung warna pink di meja. “Mama mu nemuin itu di dasbor mobil mu.” Mata Zaki terbelalak, nanar menatap kerudung Aira yang belum sempat ia kembalikan. Menyesal, mengapa ia tak langsung mengembalikan kerudung itu. Jadi jika sewaktu orang tuanya meminjam mobilnya seperti malam ini, mereka tidak akan curiga, tapi semua sudah terlambat. “Itu…, aku tidak tau kerudung siapa. Aku nemu di halaman rumah sakit. Karena sedang telpon, aku tidak sadar membawanya pulang.” Kaki Zaki bergerak gerak gelisah. “Benar kah?” Umar menaikkan sebelah alisnya yang tebal, tak percaya. “Aku tidak bohong, Pa.” Zaki berdiri, meraih kerudung itu, lalu melemparnya ke tempat sampah. Umar tersenyum tipis.“Ya sudah, ku kira kamu diam diam sudah punya calon.” Pak Umar berdiri. Ia dan istrinya lalu berjalan ke arah pintu. Santi berhenti, lalu menoleh pada putranya. “Zaki, ingat. Kamu harus cepat cari calon istri!” ujar Santi. “Iya, Ma. Aku ingat, doain aja biar cepat dapat.” “Mama selalu doain kamu, Sayang. Ya sudah cepat istirahat ya?” ucap Santi lalu segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup, bahu bidang Zaki yang sejak tadi tegang kini melorot lega. Untunglah orang tuanya tak memaksanya bertemu Via. Terus terang, ia tak bisa, tak bisa memilih sembarangan wanita hanya karena kata orang lain dia baik hati bak dewi. Ia akan mencari sendiri pendamping hidupnya, yang menemaninya hingga akhir hidupnya, memastikan dengan mata kepalanya sendiri, merasakannya dengan segenap jiwa sebaik apa wanita itu memperlakukan dirinya. Aira? Otak Zaki seolah tersadar, teringat kerudung Aira yang ia buang. Buru buru mengambil kembali kerudung itu, dan entah mengapa ia suka mencium baunya? Aroma Aira… Aira, gadis sederhana, seperti pasien-pasiennya yang lain. Tapi sejak kecelakaan kecil itu, segalanya berubah. Sejak awal sebenarnya gadis itu sudah mencuri perhatiannya, sebelum nya tidak pernah percaya dengan orang yang berjalan dalam tidur, namun ia melihat itu di Aira. Ia juga gadis yang aneh, tidak marah setelah ia tabrak, malah justru dialah yang meminta maaf. Semua memang sesuai dengan rencana Zaki, memperhatikan gadis itu seperti adiknya sendiri, tapi semua berubah sejak Aira punya rasa perhatian, kasih sayang yang besar untuk temannya, itu menunjukkan jika Aira adalah sosok wanita penyayang penuh perhatian, dan untungnya Aira tak melihat senyumnya. Senyum salah tingkah yang tidak bisa Zaki bendung, tidak bisa ia sembunyikan saat Aira mengambilkan nasi untuknya, sungguh, gadis kecil itu telah membuat hati bekunya kembali hangat. Tak ada yang pernah menyendokkan nasi untuknya sejak kakek-neneknya tiada. Dan ketika Aira bersandar padanya… jantungnya berdebar tak karuan. Bruk. Zaki ambruk di antara tumpukan bantal. Kakinya menghentak kasur, wajahnya ditutup bantal, membungkam namanya yang ingin diteriakkan: Aira. Masalahnya, ia sudah menutup kisah itu. Meyakinkan diri tak akan jatuh hati. Tapi apa ini? Aira, gadis yang tak tahu apa-apa, justru menjungkirbalikkan isi hatinya. Zaki harus menemukan cara. Ia harus bertemu gadis itu lagi, di balik jeruji suci yang kini menahannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN