Jumat pagi itu, di salah satu kamar pondok, terdengar lebih riuh dari biasanya. Tawa lepas meledak setelah sebuah cerita dilontarkan, mengisi udara dengan kebahagiaan remaja putri.
Di kamar B-10, tempat Aira, Eki, Tasya dan teman temannya berada. Kini tengah ramai, sorak sorai para santriwati membuat kamar menjadi paling gaduh pagi ini. Mereka tertawa keras saat Tasya dan Eki bercerita, ada juga yang cekikikan sambil menatap layar ponsel milik Tasya, sementara Aira dengan panik berusaha merebut ponsel itu—ponsel yang dibawa saat Aira berada di rumah sakit. dan di dalam sana ada beberapa foto Zaki yang terlihat memperlakukan Aira dengan manis. Jika teman temannya banyak yang bicara ah… romantisnya, ah… gak kuat sama tatapan mata Zaki, ah… andai aku jadi Aira, tapi tidak dengan Aira, gadis itu justru teriak teriak, aa…jangan di lihat, aa… jangan berikan hpnya sama dia. Kamar benar benar heboh hanya karena ponsel yang boleh di bawa santri saat hari Jumat sampai jam dua belas siang.
Tok tok tok!
Suara ketukan keras dari tongkat bambu panjang memukul mukul sisi balkon kamar B-10 yang berada di lantai dua. Seketika, suara gaduh itu terhenti. Tasya buru-buru mengintip ke bawah, lalu meringis ketika melihat Kepala Asrama berdiri dengan tatapan tajam menembus ke atas.
“Pelankan suara kalian! Nggak sopan!” seru Mbak Sofi dengan lantang sang kepala asrama.
“Baik, Mbak!” sahut Tasya cepat, mengangguk sopan. Ia kembali masuk ke kamar, menempelkan telunjuk ke bibir. “Sstt… diam! Mbak Sofi marah!”
“Semua gara-gara kamu, Sya,” ujar Eki menyalahkan Tasya.
“Katanya mau lihat foto dokter Zaki, ya aku tunjukin lah. Mana salahku? Yang heboh ‘kan kalian sendiri. Terutama kamu, Ki—ketawamu paling keras sekamar!”
“Bukan sekamar, tapi sepondok!” sahut Rifa, disambut tawa. Eki mencibir kecil, tapi akhirnya tergelak kembali saat melihat Aira lah yang paling cemberut, wajahnya merah padam.
“Kalian ngebully aku!” teriak Aira, kali ini ia berhasil merampas ponsel Tasya dari tangan temannya. Namun matanya langsung melebar saat melihat foto Zaki sedang berlutut di hadapannya di trotoar. Ternyata Tasya diam-diam mengabadikan momen itu!
Ia buru-buru menghapusnya. Tapi tak berhenti di situ. Matanya kembali membelalak saat melihat gambar dirinya bersandar di d**a Zaki—sebuah momen tak disengaja, namun terekam jelas.
Apa-apaan ini?!
Aira langsung menghapus foto itu dengan wajah memerah, malu bercampur marah berkecamuk di hatinya. Merasa dirinya najis karena melakukan dosa besar. Bagaimana bisa seorang santriwati berpelukan dengan pria yang bukan mahram nya. Secara teknis, dirinya memang tidak memeluk Zaki, hanya tangan pria itu yang menempel padanya, satu menggenggam tangannya dan yang satu memegang belakang kepala nya agar menempel di d**a Zaki.
Dia kemarin bilang kalau gak cinta sama aku? Tapi apa ini? Kenapa menarik nya sampai meluk? Nafas Aira mendengkus. Dokter itu ternyata murahan juga, sok alim, sok jual mahal, padahal isinya pria m***m. Dan Aira menyalahkan dirinya yang lemot. Harusnya saat itu ia langsung menampar Zaki.
---
“Aira?”
Suara seorang gadis terdengar dari arah pintu. Hadijah, salah satu pengurus, muncul.
“Ya?” Aira segera bangkit.
“Kamu dipanggil ke ndalem.”
“Kenapa?” Aira mengerutkan kening.
“Aku nggak tau.” Jawabnya dengan mengangkat kedua bahu sekilas. “Cepat ke sana ya?” Usai berkata seperti itu hadija pergi, menyisakan tanya untuk Aira.
Aira pun melangkah dengan hati dipenuhi tanda tanya. Apa mereka akan menjelaskan alasan Isa menikah dengan Neng Andin?
---
Di ruang keluarga ndalem…
“Bagaimana keadaanmu, Aira?”
“Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik.”
“Alhamdulillah…” sahut Bu Nyai dan Abah Yai bersamaan, tersenyum.
“Aku memanggilmu untuk menjelaskan soal pertunangan Isa dan Andin,” ujar Abah Yai, tenang namun tegas.
Aira menunduk, mengangguk. Hatinya remuk hanya mendengar nama itu.
Kenapa hanya mendengar namanya saja sudah membuatmu begitu lemah, Ra?
“Sebenarnya, Isa dan Andin sudah kami jodohkan sejak kecil. Kamu tahu pondok Darul Jannah, kan?” tanya Abah Yai.
Aira mengangguk pelan.
“Ayah Andin itu teman lamaku di pondok. Seorang alim, senior yang sangat ku hormati. Sejak muda, ia sudah terlihat memiliki aura kyai. Puasa Daud tak pernah putus, tahajudnya rutin. Ilmu dan akhlaknya luar biasa. Kini, pondok warisan ayahnya berkembang pesat, santrinya puluhan ribu. Bahkan dia pernah ceramah sampai ke Istana.”
Bu Nyai menimpali, “Kami percaya, anak keturunan orang seperti itu akan mewarisi keberkahan, hatinya lembut, mudah menerima ilmu, dan mudah diarahkan.”
Tidak seperti diriku, batin Aira. Anak penjual sayur, tirakat pun tak kuat ayah lakukan.
“Kita ini kadang berharap punya anak saleh, padahal doanya saja jarang. Anak saleh itu hasil dari tirakat dan perjuangan sejak dalam kandungan,” lanjut Abah Yai. “Kamu pernah dengar istilah doa nya orang alim?” Abah Yai bertanya.
Aira mengangguk.
“Empat puluh doa orang awam setara satu doa orang alim…” jawabnya pelan.
“Betul.” Abah Yai mengacungkan jempol. “Minum dulu, Ra. Makan juga jajannya.”
Aira meneguk sedikit sirup buah, sekadar menghormati.
“Maafkan kami, Aira. Kami tahu hubunganmu dengan Isa, tapi kami tidak bisa merestui meski kalian tak pernah melanggar batas,” ucap Bu Nyai dengan lembut.
“Tidak apa-apa, saya mengerti,” jawab Aira, menunduk.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.
“Terima kasih atas pengertianmu. Semoga kelak kamu mendapat suami yang lebih baik.”
Bu Nyai memeluk Aira, membelai kepalanya penuh kasih.
“Sekarang kembalilah ke asrama. Ini jajannya dibawa, ya.”
“Terima kasih…” ucap Aira, lalu berdiri.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam… jaga kesehatanmu, Ra.”
Aira mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan dua sosok yang kini saling menatap di ruang ndalem.
“Apakah aku terlalu keras, Mi?” tanya Abah Yai.
Bu Nyai menggeleng. “Tidak, Bah. Kamu hanya jujur. Kita memang menjodohkan Isa dengan putri seorang kyai besar.”
“Tapi kita tak menceritakan alasan sebenarnya menolak Aira…”
Tidak semua harus kita jelaskan, Bah.” Bu nyai menarik nafas dalam dalam. “tidak mungkin kan kita cerita kalau menolak gara gara ada anggota keluarga Aira yang di Kalimantan tidak seiman sama kita?”
“Iya, nenek, kakek dan bibinya tidak seiman dengan kita, Mi. Kalau Isa dan Aira menikah terlalu beresiko. Takutnya kalau ada santri atau ada orang luar yang tau, mereka justru meremehkan kita, ngajarin keluarga saja tidak bisa, masak ngajarin anak orang?” Abah yai menggelengkan kepala nya. Tak sanggup membayangkan jika Aira dan Isa benar benar menikah.
“Semoga Aira baik baik saja.” ungkap Bu nyai prihatin dengan kesehatan Aira.
“Amin…”
---
Tak satu pun yang tahu, Aira menyelinap masuk ke salah satu kamar mandi, menyendiri di antara gegap gempita asrama yang sedang ramai di hari libur. Menumpahkan air mata yang sejak tadi di tahan, entah sampai kapan hatinya akan hancur setiap kali mendengar nama Isa. Mengapa bukan dirinya yang berdiri di samping Isa?
Tak ada yang memahami hatinya dan Isa selain Allah. Dan Aira berharap, selalu berdoa, agar Isa selalu memikirkan nya, segera berubah pikiran dan dengan gagah berani mengakui cintanya pada Aira di depan abah. Entah itu sekarang, esok, sebulan lagi, setahun kemudian, bahkan bertahun tahun pun ia akan terus mendoakan agar Isa kembali padanya.
Dengan tangan gemetar, Aira mengeluarkan tasbih digital dari sakunya—warna hitam metalik, dihiasi kristal di kedua sisinya. Tasbih penuh kenangan, yang dulu Isa berikan.
Tasbih yang akan menyimpan namanya dalam setiap dzikir.
Agar cinta itu kembali. Agar takdir berpihak.
Bersambung…