Hari terus berganti, bulan bergulir, tahun pun berlalu. Gadis-gadis lugu kini menjelma menjadi perempuan dewasa—begitu pula Aira. Empat tahun terakhir membentuknya menjadi sosok yang tak hanya anggun, namun juga matang dalam sikap.
Siang itu mentari terasa menyengat, namun Aira tetap melangkah ke sebuah warung makan sederhana di sekitar sekolah TK. Di tangannya, laptop tak pernah lepas. Ia tengah mengejar target menyelesaikan laporan kegiatan selama tiga bulan terakhir.
Sudah tiga bulan sejak ia menuntaskan skripsi. Tanpa rencana, ia direkrut menjadi guru TK pengganti. Guru sebelumnya adalah santri senior yang sudah waktunya ‘boyong’. Tugas operasional sekolah pun turut diwariskan kepadanya. Dan sejak saat itu, Aira bekerja seolah tak kenal lelah—seperti kuda penarik gerobak.
“Makan dulu, Ra.” Eki menyodorkan semangkuk nasi bersiram kuah soto hangat. Ia yang masih kuliah—karena kampusnya tak jauh dari sekolah TK—sering mampir sekadar bertemu sahabatnya.
Warung itu cukup ramai. Bangunannya kekinian, harganya ramah di kantong. Tak heran, mahasiswa dan pelajar sering memadati tempat itu.
Eki memilih mi ayam, sementara Aira memesan soto lengkap dengan nasi. Saat Eki larut menyantap makanannya, jari Aira justru sibuk menari di atas tuts laptop. Hanya sesekali sendoknya menyentuh mangkuk.
“Kamu nggak makan, Ra?” tanya Eki, heran melihat Aira lebih banyak meminum air mineral daripada menyentuh makanannya.
“Sebentar, Ki. Lagi kejar deadline.” jawab Aira sambil tetap mengetik.
Eki menyerah. Ia habiskan makanannya hingga tak bersisa.
“Ra, kamu nggak habis?” entah sejak kapan ada tangan lain di mangkuk Aira, menyendok soto nya, lalu melahapnya.
“Aku juga mau makan, Ki. Tapi bentar lagi, nanggung…” ucap Aira sambil mengetik cepat, matanya melirik sotonya yang makin surut.
“Kalau belum kenyang, pesen lagi, Ki.” tambahnya santai.
“Nggak ah, aku lagi diet.”
“Diet tapi nambah punyaku?”
“Dikit doang, Ra. Hehe…”
---
“Akhirnya selesai…” Aira menghela napas lega. Ia merenggangkan otot, menutup laptop lalu memasukkannya ke dalam ransel. Namun matanya membelalak saat melihat sotonya sudah habis, dan Eki entah ke mana.
Tak lama, Eki kembali dengan mangkuk baru.
“Maaf, Ra. Tadi kuhabisin, takut keburu benyek. Nih, ganti yang baru ya.” Eki nyengir.
“Katanya diet?”
“Dietnya libur hari ini.” jawab Eki tanpa rasa bersalah.
Aira tertawa kecil. Ia lalu duduk kembali dan menyantap soto baru yang masih hangat, tak lupa mengajak Eki join makan bersamanya, ia tersenyum Eki tak menolaknya
“Ra, tadi aku lihat Gus Isa pulang bareng Neng Andin,” ucap Eki tiba-tiba.
“Ya wajar. Pondok kan rumahnya.” Aira menjawab biasa, tapi dadanya terasa sesak.
“Biasanya kan dia nggak pulang bareng Neng Andin. Kayaknya mereka makin romantis ya?”
“Entahlah.” Aira menaruh sendoknya. Tiba-tiba ia merasa kenyang meski baru makan separuh.
“Kamu cemburu?” tanya Eki penuh selidik.
“Enggak. Aku cuma nggak suka kamu bahas dia terus. Kamu tahu sendiri hatiku bisa rapuh.”
“Aku ngerti. Tapi aku juga nggak bisa diam kalau lihat kelakuan Gus Isa.”
Eki menenggak air mineral milik Aira, lalu berkata, “Ra, dia udah tiga tahun nikah, tapi Neng Andin belum hamil juga ya?”
“Peraturan pondok jelas, santri nggak boleh hamil sebelum lulus.”
“Enak juga ya pacaran halal. Aku juga pengen, Ra.”
“Nikah aja sama Kang Ardi. Cocok kalian.”
“Maksudmu sama-sama gendut?” Eki cemberut.
“Enggak… maksudku ya cocok aja.” Aira nyengir.
“Tapi tipeku tuh kayak Gus Isa: ganteng, tinggi, sholeh.”
“Tapi hobi nyakitin hati.” sahut Aira.
Eki menggeleng, “Gus Isa - Gus Isa. Dulu padahal ngomongnya cinta matinya sama kamu, tapi pacaran nya malah sama Neng Andin, dasar cowok, dimana mana sama aja.”
“Tapi Neng Andin emang cantik banget, Ki. Cowok mana yang nggak suka sama dia?” Aira menghela nafas berat.
“Dokter Zaki.”
Aira berdecak. “Cowok semua sama aja, Ki. Cuma kebetulan aja Neng Andin ‘dikasih’ ke Gus Isa. Coba kalau dikasih ke dokter Zaki…”
“Nggak mungkin!” Eki menggeleng yakin. “Dokter Zaki nggak mungkin suka sama neng Andin.”
“Masa?!”
“Karena dia sukanya sama kamu.”
“Nggak lucu, Ki.” Aira mendorong mangkuknya ke tengah meja, mangkuknya telah di bersihkan Eki.
“Siapa juga yang ngelucu? Jadi cewek itu yang peka dong, Ra. Dokter Zaki rela pagi nya cari kerja sampingan di klinik pondok kita gara gara pengen dekat sama kamu.”
“Dia nyari kerja buat cari duit, ngapain salahin aku?”
“Hello… dokter Zaki itu kaya raya, Ra. Papanya punya rumah sakit swasta yang terkenal sama kualitasnya. Belum lagi beberapa SPBU yang dia punya. Kamu masih ngatain kalau dia nyari kerja sampingan?”
“Kita nggak tau kan apa yang terjadi di keluarganya?
“Yang ku tahu dia berusaha deketin kamu, Ra.”
“Udah ah, Ki. Ngapain kita berdebat soal dokter Zaki. Ayo pulang! “ Aira berdiri lalu segera keluar dari warung makan. Sedang Eki mengikutinya.
Aira dan Eki kini tengah duduk di angkutan umum, pulang kembali ke pesantren.
---
Dalam angkot menuju pondok, Aira bertanya, “Ki, kalau aku ketemu Gus Isa, mending senyum atau pura-pura nggak lihat?”
“Kalau aku jadi kamu cuekin aja lah, lagian kamu udah gak ada hubungan apa apa sama dia. Keputusan mu nggak tinggal di ndalem lagi waktu liburan pondok udah betul, Ra. Mending di asrama sama teman teman. Apalagi kamu sekarang udah jadi pengurus, waktunya ngurus pondok, bukan leha leha di ndalem.”
“Lagian sejak Gus Isa nikah, aku jadi canggung sama Abah dan Ibu. Aku tau waktu mereka ngomong agar aku tetap tinggal di ndalem pas liburan cuma basa basi.”
“Lebih aneh kalau kamu masih tinggal di ndalem, sedang Gus Isa sudah ada istri di sampingnya.”
“Kalau aku tinggal di ndalem pasti udah kayak pelakor.”
Eki tiba tiba mengubah arah duduknya, menghadap Aira. “Biar kamu nggak di anggap pelakor, penghalang antara Gus Isa dan Neng Andin mending kamu buru buru nikah, Ra.” Mata Eki serius menatap Aira.
“Nikahnya gampang, dapet suami yang baik itu loh yang susah!”
“Siapa bilang susah? Dokter Zaki tuh udah antri paling depan.”
“Ngaco kamu.”
“Ra, kamu nggak sadar ya, sejak kamu sembuh dari rumah sakit, nggak lama langsung dibangun klinik, dan dokternya… Zaki.”
“Terus?”
“Setiap kamu keluar pondok, entah kuliah atau ngajar TK, dia selalu duduk di depan klinik, ngelihatin kamu.”
“Serius? Tapi aku nggak pernah ngerasa.”
“Karena kamu bego. Sibuk mikirin Gus Isa, sampai lupa ada yang lebih tulus.”
Cit…
Mobil angkot berhenti di gerbang pondok. Aira dan Eki turun.
“Ra, kamu harus berhenti mikirin Gus Isa dan mulai perhatiin dokter Zaki. Ingat sekarang kamu udah tua, waktunya nikah.”
Aira menghela napas berat. “Ki, bisa nggak sih kamu berhenti promosiin dokter Zaki? Kalau emang dia suka sama aku, kenapa nggak pernah usaha?”
“Tanya langsung aja sama orangnya.” Eki berbisik, “Ra… itu Gus Isa.”
Aira refleks menoleh. Isa keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Andin. Gadis itu bergelayut manja di lengannya. Aira menggigit bibir, perihnya seperti baru disayat.
Srak—
Isa yang sadar akan kehadiran Aira langsung melepas gandengan tangan Andin. Tatapannya mengunci Aira, tatapan yang penuh getir.
“Ra, ada mobil Abah yai di gerbang, cepat masuk!” Bisik Eki, lalu secepat kilat berlari meninggalkan Aira. Aira pun ikut panik, buru buru ia berlari mngikuti Eki, jangan sampai Abah tau dirinya dan Isa bertemu dan… tatapan mata Andin? Tatapan penuh kesedihan melihat ke arah Isa, kecewa, patah hati, frustasi, khawatir jika kapalnya kandas sebelum berlayar. Tatapan mata itu sama seperti matanya empat tahun yang lalu…
Bruk—
Bruk…
Di persimpangan halaman yang sangat luas Aira menubruk tubuh tegap seseorang, tinggi, kokoh dan tak bergeser sama sekali walau di tubruk Aira, justru gadis itu yang jatuh tersungkur.
“Aira?” suara itu mengalun terkejut sama terkejutnya dengan Aira saat mendongak.
“Mas Zaki?”
“Ngapain kamu lari lari kayak anak kecil?” Pria itu berjongkok di depan Aira yang masih saja duduk di atas sebuah jeruji besi berbentuk persegi, di bawahnya mengalir selokan.
“Aku…, aku…,” Aira bingung hendak berkata jujur, ah Eki sialan. Semakin tak nyaman bicara karena tatapan Zaki seakan menembus kepalanya, membaca isi otaknya. Dari cara pria itu tersenyum, menyimpulkan ‘Aira sedang salah tingkah’. “Ha pe ku…, di bawa lari sama Eki, makanya aku ngejar dia.” apa ini? Kenapa kaki ku sulit di cabut? Aira berusaha menarik kakinya tapi tak bisa. Rupanya kakinya terjepit di antara celah jeruji besi.
“Oh ya?” Zaki semakin mendekat, Aira menunduk, wajahnya memerah.
Bersambung….