Ngapain kamu lari-lari kayak anak kecil, Ra?”
Zaki berjongkok di depan Aira yang masih terduduk di atas jeruji besi. Di bawahnya mengalir selokan sempit yang cukup dalam.
“Aku… aku…” Aira gugup. Ingin berkata jujur, tapi lidahnya kelu. Dasar Eki sialan!
Tatapan Zaki seolah menelanjangi pikirannya, menebak segalanya hanya dari sorot mata. Dan senyuman di bibirnya, seakan menegaskan, ‘Aira sedang salah tingkah.’
“Ha-pe-ku… dibawa lari Eki. Makanya aku kejar dia.”
Aira mencoba menjelaskan, tapi ujung-ujungnya malah jadi gugup sendiri. Saat hendak berdiri, ia tersentak. Kenapa kakiku susah dicabut?
Ternyata kakinya terjepit di celah jeruji besi.
“Oh ya?”
Zaki mendekat, semakin dekat. Aira menunduk, wajahnya mulai memerah.
Apaan sih? Ngapain dia deket-deket?
Aira melengos, menghindari wajah pria itu. Tapi sebelum sempat bicara, tangan Zaki tiba-tiba menyentuh pergelangan kakinya.
“Hei…!” Aira kaget. Tapi Zaki tetap tenang, mencoba membantu melepaskan kaki Aira yang terjepit.
Plung!
Satu sepatu warna kopi s**u kesayangan Aira jatuh ke dalam selokan.
Airnya sedikit, tapi keruh dan menjijikkan. Aira hanya bisa menatap sepatu itu dengan ekspresi campur aduk antara sedih dan muak.
Kini ia menatap Zaki dengan wajah kesal. Jarak mereka hanya sejengkal.
Brugh!
Aira mendorong d**a Zaki dengan kesal, membuat pria itu sedikit terjengkang. Ia bangkit cepat-cepat, menatap sepatu yang kini kotor, lalu menatap Zaki lagi dengan bibir cemberut.
Coba tadi aku tarik sendiri, sepatuku nggak akan kecebur!
“Mas Zaki… sepatuku kecebur gara-gara kamu,” rajuknya.
Zaki mengangkat alis, lalu kembali jongkok. “Ya udah, biar aku ambil, ya?”
“Gak usah!” Suara Aira meninggi.
Percuma. Sepatunya memang bisa diambil, tapi ia sudah jijik. Tapi sayang juga... itu sepatu baru.
Menjengkelkan banget!
Aira menggerutu dalam hati sambil melangkah pergi. Dengan satu sepatu, ia berjalan terpincang-pincang. Kesal bukan main.
Buat apa punya sepatu kalau cuma satu?!
Dengan dongkol, ia menghentakkan sepatunya hingga terlepas, lalu meninggalkannya begitu saja.
Zaki yang melihat tingkah kekanakan itu hanya bisa tersenyum kecil. Ia memungut sepatu Aira, lalu memandangi punggung gadis itu yang semakin menjauh ke arah asrama.
Dari kejauhan, seseorang mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Isa. Ia melihat semuanya.
---
Pagi itu berjalan seperti biasa.
Usai salat subuh, Aira sibuk menyimak hafalan para santriwati. Setelah membunyikan bel tanda keberangkatan ke sekolah, ia bergegas ke TK tempatnya mengajar. Kadang ia harus mampir ke kampus untuk mengurus tugas-tugas kuliah yang harus rampung sebelum hari wisuda, enam bulan lagi.
Saat istirahat, seorang murid kecil menghampirinya.
“Bu Ai, kitiran aku nggak mau terbang. Gimana cara maininnya?”
Tangan mungil gadis itu menyodorkan baling-baling warna kuning.
Aira meraih mainan itu, memperhatikannya sambil sesekali memainkan nya, mencari di mana kesalahan kitiran itu. Rupanya pendorongnya yang bermasalah, terpasang terbalik, makanya tidak bisa bergerak naik. Setelah membenarkan letak pendorong nya Aira berhasil menerbangkan baling-balingnya.
“Yeay…!”
Gadis kecil itu melompat kegirangan. Matanya berbinar saat Aira mengembalikan mainannya. Ia langsung menyambarnya, antusias.
“Bilang gimana?” tanya Aira pada muridnya, tapi gadis itu tak memperhatikan, justru memainkan baling balingnya yang bisa naik dan turun dengan mudah.
“Bilang terima?” Aira menuntun agar muridnya terbiasa mengucapkan terima kasih untuk menghormati seseorang yang sudah menolongnya.
“Kasih…” jawab gadis itu sambil berlari meninggalkan Aira, lalu menerbangkan baling-baling kitirannya, terbang tinggi ke atas.
Aira menggeleng pelan. Semoga aja nggak nyangkut di genteng atau tiang listrik. Bisa-bisa aku jadi Spiderman demi mainan itu.
Menjadi guru TK memang melelahkan. Gaji kecil, kerjaan segunung. Tapi Aira tidak pernah mengeluh. Ia bahagia.
Tingkah anak-anak menjadi hiburan tersendiri. Bahkan hanya duduk diam memperhatikan mereka bermain pun bisa membuatnya tersenyum. Kadang ia harus menjadi pahlawan dadakan—siaga menolong mereka yang jatuh atau berkelahi.
Bagi Aira jadi guru TK memang sangat merepotkan, gaji tak seberapa tapi pekerjaan segunung, apalagi dirinya masih baru, hanya mengandalkan uang ratusan ribu dari yayasan untuk gajinya.
Tapi ada senangnya juga menjadi guru TK, selain dapat pengalaman, ia juga terhibur dengan tingkah anak anak, saat ini mereka lah hiburan nya yang terbesar, duduk sambil menonton mereka main sudah membuatnya tersenyum senyum, kalau tak beruntung ia harus jadi pahlawan dadakan, sigap memberi pertolongan pada mereka.
Setelah istirahat selesai, Aira yang kebagian membantu mengajar di kelas TK - A di sibukkan seperti biasanya. Kadang harus mengejar ngejar anak yang tak mau menulis, kadang harus mengajari anak menulis tapi mereka justru berlari lari. Kadang juga harus jadi Mak Lampir untuk anak anak yang sulit di atur. Namun semua di jalani Aira tanpa mengeluh, ia senang dan menikmati hari harinya mengajar berbagai macam sifat anak.
Jam pulang akhirnya tiba, Aira yang sudah tak punya tanggungan pekerjaan segera berkemas kembali ke pesantren.
“Aira!” Seseorang tiba tiba memanggil nya saat Aira baru saja keluar dari gerbang sekolah.
Gus Isa? Refleks Aira berhenti, karena Aira hanya diam, Isa pun menarik tangan Aira menyingkir dari gerbang.
Apa apaan dia? Kenapa pegang pegang? Aira menarik tangannya. “Ada apa, Gus?” Bukannya kita sudah tidak ada hubungan?”
“Kamu panggil aku ‘gus’? Sejak kapan kamu berubah Aira?” bibir Isa menggerutu tak senang.
“Sejak kamu nikah sama Neng Andin!” Aira mengangkat wajahnya, berusaha menunjukkan keteguhannya. Bahwa ia baik baik saja tanpa Isa.
“Lahirku memang nikah sama Andin, tapi hatiku masih milikmu, Ra.” Isa menatap dalam manik mata Aira.
“Gila kamu!” Aira pergi meninggalkan Isa, bingung mengapa Isa tiba tiba mendatangi nya lalu mengungkit cinta mereka seolah mereka masih bersama.
“Kita belum selesai, Ra.” Isa menahan lengan Aira, menahannya, memaksa Aira berputar menghadap nya.
“Apaan lagi sih?” Aira menepis tangan Isa.
“Begini sikap mu setelah kita lama nggak ketemu?” kedua tangan Isa memegangi bahu Aira, menunjukkan kuasanya, bahwa Aira masih di bawah kendalinya.
Aira bergerak gerak, berusaha melepas cengkraman Isa. “Kita sudah berpisah, nggak ada yang perlu di jaga.”
“Kata siapa kita berpisah?” Isa semakin erat menahan Aira.
“Kamu udah nikah, jadi kita udah selesai! Lepasin tanganmu, mas!” tanpa sadar Aira memanggil Isa dengan ‘mas’, sebutan yang selalu Aira gunakan untuk memanggil Isa sebelum menikahi Andin.
“Tapi aku masih sayang kamu, Ra.” sebutan itu membuat Isa terbang, merasa mendapat angin segar dengan hubungan mereka.
“Gila!” Aira berusaha berbalik, namun gagal, Isa menggenggam bahunya terlalu erat, tak akan membebaskan Aira.
“Lepasin. Entar ada yang lihat.”
“Biarin aja, ini memang tujuanku, aku ingin semua orang tau kalau kita masih ada hubungan.”
“Lepasin, kamu sudah gila!” Aira berusaha melepas tangan Isa, namun gagal.
Dahi Isa berkerut sedih, menatap Aira putus asa. “Hanya sedalam inikah cintamu? Kenapa kamu tidak bisa bertahan dengan ujian kita, Ra?”
“Ujian?” Aira tersenyum getir. “Ini akhir cerita kita, bukan ujian.” Aira mundur, berharap cengkraman Isa lepas, tapi Isa justru ikut maju.
Isa menggeleng, “Nggak, Ra. Bagiku ini ujian, percayalah perjuangan kita dikit lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Selama kamu mencintaiku, Andin tidak akan hamil. Setelah kamu wisuda kita akan menikah, lihat saja sampai kapan Andin akan bertahan.”
Aira membeku. Tatapannya kosong. Hatinyapun kacau.
Sedang Aira tak sadar, ada seseorang yang memperhatikannya, tangannya erat mencengkram setir mobil.
Bersambung…