13

979 Kata
Malam membentang lengang. Bulan purnama merajut cahaya di antara gumpalan awan yang malu-malu mengintip. Bintang-bintang berkelip, menjadi saksi bisu dari riuhnya pondok pesantren putri yang baru saja kembali dari sekolah malam. Kantin asrama kembali ramai. Para santriwati tumpah ruah, sebagian duduk santai menikmati es di depan televisi yang hanya menyala sejam, sebagian sibuk memilih camilan, dan sebagian lagi memesan nasi untuk mengganjal perut sebelum istirahat. Namun keramaian itu hanya sekejap. Ketika bel malam berdentang, televisi dimatikan, kantin, koperasi, perpustakaan, dan lab komputer segera ditutup. Rutinitas pun berakhir. Malam adalah milik istirahat. Jika teman-teman Aira memilih malam untuk bercengkerama, malam ini Aira lebih menyibukkan diri dengan mencuci pakaian. Setelahnya, ia menjemur lalu segera istirahat—menghadiahkan malam untuk dirinya sendiri. Seperti malam-malam sebelumnya, Aira kembali mengeluarkan tasbih hitam itu. Tasbih cinta, katanya. Hadiah dari Isa, pria yang kini hanya tinggal nama di hatinya. Dulu, Aira tak punya amalan sebelum tidur. Namun sejak Isa meninggalkannya, ia berniat membaca sholawat seribu kali setiap malam, sembari memohon agar Isa kembali padanya. Tapi, doa itu hanya bertahan setahun. Setelah sadar bahwa doanya bagai menumbuk langit yang tak bergema, Aira pun berhenti memohon. Ia sadar, Isa tak mungkin kembali. Cintanya pada Isa perlahan beralih menjadi pasrah. Kini, sholawat tetap ia lantunkan. Tapi tak lagi untuk cinta. Hanya untuk tenang. Malam itu, Aira termenung. Apakah semua ini kebetulan? Isa datang kembali setelah bertahun-tahun. Apakah kini doanya baru dikabulkan? Hatinya riang, namun pikirannya bimbang. Jika Isa sungguh kembali, bagaimana dengan Neng Andin? "Aku tak bersalah," gumam Aira pelan, "Andin sendiri yang memilih dinikahi pria yang sudah punya kekasih..." Malam kian merayap. Mata Aira perlahan terpejam, sebagaimana hatinya yang kini telah tertutup untuk rasa empati terhadap Andin. "Dulu, dia tak kasihan padaku. Lalu kenapa sekarang aku harus kasihan padanya?" --- Pagi pun menjelang, membawa hari Jumat yang lengang. Hari libur bagi para santriwati. Hari tanpa kelas, tanpa rutinitas pondok. Pagi itu, koperasi, perpustakaan, dan kantin menjadi tempat favorit untuk dituju. Begitu pula Aira. Sebagai pengurus bagian pendidikan, ia tengah sibuk membagikan buku-buku untuk santri baru. Setelah tugas selesai di pukul sepuluh, Aira melangkah ke kantin untuk sarapan. Deg! Jantungnya mencelos saat matanya menangkap sosok Andin di antara pengurus kantin. Gadis cantik dengan gamis hijau army nya terlihat tak cocok duduk di antara para mbak mbak pengurus kantin, parasnya yang anggun terlihat lebih menonjol, tidak canggung bercanda dan bertukar cerita, namun langsung terdiam saat melihat Aira. Lalu tersenyum. “Ada yang bisa saya ambilkan, Mbak Aira?” suara itu ringan, hangat, namun membuat Aira tercekat. Untuk pertama kalinya mereka saling menyapa. Aira nyaris tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunjuk nasi dengan lauk telur balado. Rencana sarapan santai di kantin pun berubah. Aira buru-buru keluar, memilih makan di kantor. Ia merasa banyak pasang mata kini mengarah padanya, membicarakannya dalam bisik-bisik. --- “Aku tak boleh kembali kepada Gus Isa,” batin Aira saat merenung sendiri. Andin ternyata tak seperti bayangan buruknya selama ini. Ia sederhana, mudah bergaul, bahkan tak segan membantu di kantin. Ia bukan tipe gadis sombong yang hanya berdiri di menara kemewahan sebagai putri seorang Kyai. Aira sadar—Isa telah menyia-nyiakan gadis berhati lembut itu. “Pria bodoh,” gumamnya lirih. Mengingat tatapan Andin pada Isa—tatapan penuh luka dan harap—membuat hati Aira sesak. “Maaf, Neng. Aku takkan merebut cinta yang kau genggam dengan doa. Isa untukmu.” Tapi beberapa hari kemudian, Aira membuka kembali buku diary pemberian Isa. Lembar demi lembar mengingatkannya pada suara, tawa, dan perhatian Isa dahulu. Rasa rindu menyelinap pelan. Mungkin ia harus sedikit egois. Mungkin ia juga berhak bahagia. Seminggu telah berlalu sejak Isa datang memohon untuk rujuk. Cinta lama yang katanya masih utuh. Siang itu, Aira baru pulang dari TK, saat melihat Isa berdiri di gerbang. Aneh. Tak ada getaran. Tak ada desir. “Sudah hilangkah cintaku padanya?” “Hai, Ra,” sapa Isa, melempar senyum yang dulu mampu melelehkan hatinya. Aira hanya membalas dengan anggukan ringan. Isa tersenyum kecut, tak puas dengan respon itu. “Makan yuk?” “Maaf, aku makan di pondok saja,” tolak Aira lembut. “Tunggu… Aku datang untuk bicara,” Isa menahan lengannya. “Apa jawabanmu?” “Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini, Gus.” “Kamu serius?” mata Isa menyipit, tak percaya. Aira mengangguk tegas. “Tak pantas rasanya menjalin cinta dengan pria beristri.” “Tapi hanya kamu yang aku cintai, Ra.” “Kamu seharusnya pikirkan itu sebelum menerima pernikahanmu. Sekarang sudah terlambat.” “Aku menikah karena Abah. Aku tak pernah cinta Andin, Ra. Kamu tahu itu, kan?” “Apa yang kurang dari Neng Andin? Dia baik, cantik, sabar…” “Sabar? Dia itu posesif. Suka marah-marah, suka ngatur. Bahkan waktu tidur pun, aku disuruh tetap nyalakan HP, cuma buat dilihat dia tidur. Gak masuk akal!” “Itu karena dia cinta sama kamu. Dan kamu… kamu mempermainkannya.” Aira mulai kesal. “Aira, tunggu!” “Apa lagi, Gus?” “Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.” “Jangan drama. Kamu bukan pemeran utama dalam film.” “Aku serius, Ra. Aku cinta kamu.” Dan entah kenapa, justru kalimat itu yang membuat Aira muak. “Aira, jangan pergi!” Isa kali ini nekat, menggenggam sebelah tangan Aira, meremasnya. “Ra, aku serius sama kamu. Seperti inikah balasan cintamu selama ini?” “Kita sudah selesai, Gus. Aku tidak mencintaimu lagi.” “Tidak mungkin. Kamu masih menyimpan tasbihku.” Aira seketika menyimpan sebelah tangannya. Tasbih itu terpasang di salah satu jarinya. “Kamu salah faham. Aku…,” sebenarnya mau buang tasbih ini, tapi sayang karena kelihatan mahal, sayang Aira tak bisa menyelesaikan kata katanya karena Isa menyela. “Kamu masih mencintaiku. Aku tahu itu. Kita menikah, ya?” Isa meraih kedua tangan Aira. Menahannya erat, terlalu erat. “Lepaskan, aw… sakit!” pekik Aira. “Lepaskan Aira!” Sebuah suara berat tiba-tiba menggelegar. Isa terperanjat. Tangannya terlepas. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN