14

1344 Kata
“Isa! Lepaskan Aira!” Suara berat itu membelah udara, menggema di halaman sekolah yang sepi. Seketika, genggaman tangan Isa mengendur. Srak! Zaki menarik tangan Aira, menyembunyikan tubuh mungil itu di balik dirinya yang tinggi tegap. Hatinya bergemuruh, tapi wajahnya tetap tenang. Syukurlah, sekolah TK telah lengang. Aira memang pulang paling akhir. “Jangan ikut campur urusanku, Mas! Aira, ke sini!” bentak Isa, nadanya menggurat kemarahan. Namun Aira beringsut makin jauh, bersembunyi di balik punggung Zaki. Jemari lentiknya menggenggam ujung kemeja pria itu tiap kali ia hendak menjauh. Zaki berdiri seperti tembok, tak tergoyahkan. “Jangan paksa dia lagi, Is. Aira sudah tak menginginkanmu.” “Ini bukan urusanmu!” “Jadi urusanku saat kau menyakitinya!” “Dia pacarku! Kami tak pernah putus. Dan sebentar lagi dia akan jadi istriku.” “Lalu Andin mau kau taruh di mana?” Suara Zaki makin mantap, matanya tajam menatap Isa. “Kalau kamu mau, ambil saja!” “Gila kamu!” desis Zaki. “Pulanglah! Cuci pikiranmu. Sudah dewasa, punya istri, tapi masih terpenjara nafsu. Untuk apa semua tahunmu mondok kalau menahan diri saja tak mampu?” “Ini antara aku dan Aira! Dia mau ku jadikan istri ke dua.” Isa kembali melangkah, mencoba meraih Aira. “Aku nggak mau nikah sama kamu! Jangan ngarang seenaknya, Gus!” Aira menjerit. “Aira, kenapa kamu tiba tiba berubah pikiran? Apa karena mas Zaki?” “Pergi kamu, Is!” Zaki kali ini mendorong Isa kasar. Isa menggeram “Ngapain kamu nyuruh aku pergi? Kamu suka Aira? Kamu selingkuhan dia?” Isa maju, menantang Zaki. “Kamu yang pengen selingkuh tapi nuduh Aira selingkuh!” Suara Zaki makin keras “Pergi atau aku telpon abahmu sekarang?!” “Isa terdiam. Mulutnya mengatup, matanya gelap. “Aira, ini belum selesai. Jangan kira kamu bisa kabur dariku. Selamanya kamu milikku.” Tanpa menunggu jawaban, Isa berbalik. Langkahnya cepat dan kasar. Ia mengayuh motornya, mengebut ugal-ugalan di jalanan basah. Aira terpaku, matanya mengikuti kepergian Isa. Cemas. Bruk. Ia jatuh terduduk, wajahnya menunduk, lalu menangis tersedu. Hatinya remuk. Campur aduk antara takut, marah, dan sesal. Ada getir yang menyayat setiap napasnya. Isa, pria yang dulu ia cintai, kini menjelma menjadi sosok yang menakutkan. Zaki hanya berdiri. Hening. Langkahnya mondar-mandir, mencoba mencari celah untuk menyentuh luka Aira, namun tak tahu harus mulai dari mana. Ia memilih menunggu. Tatapan-tatapan dari pejalan kaki menambah beban. Orang-orang menyangka ia penyebab tangisan Aira. Zaki menggaruk kepala, ingin menjelaskan, namun tak ada yang bertanya. Ia ingin mengajak Aira masuk mobil, tapi tubuh gadis itu terkulai, seperti kehilangan semangat hidup. Ia khawatir. Bagaimana jika gadis mungil itu tak terlihat oleh orang lain? “Aira... tenang, ya?” ucap Zaki pelan. Tak ada jawaban. Tangis Aira masih menggema, menggema lebih keras dari hujan yang mulai turun. Bressss... Langit akhirnya menumpahkan tangisnya sendiri. Zaki refleks melepas jasnya, menyelimutkannya ke tubuh Aira, lalu memegang lengannya dengan lembut. “Ra, yuk masuk mobil. Hujannya deras sekali.” Aira sempat terkejut, tapi akhirnya menurut. Tak ada tempat berteduh selain mobil Zaki. Gedung sekolah sudah terkunci. Bruk. Pintu mobil tertutup. Zaki masuk, menggibas jasnya yang basah, lalu menggelarnya di kursi belakang. Aira diam. Menunduk. Sesekali tersedu. “Kamu beneran mau nikah sama Isa?” tanya Zaki hati-hati. Aira menggeleng. “Gus Isa salah paham. Dia mengira diamku sebagai jawaban ‘iya’.” “Oh begitu.” Zaki mengangguk pelan. “Setelah empat tahun tidak bertemu, kita malah di pertemukan dalam keadaan seperti ini. Maafkan Isa, Ra. Aku tidak tau kalau dia punya sifat sekeras ini.” Zaki menarik nafasnya dalam. “Aira, lain kali kalau nggak suka... jangan biarkan dia berharap.” “Aku nggak pernah kasih harapan! Dia saja yang terlalu percaya diri. Dia kira aku masih suka sama dia hanya karena aku menyimpan tasbih ini...” Aira memutar tasbih digitalnya. Zaki menatap benda itu. Hitam berkilau. Kristal kecil menghiasinya. Mewah dan maskulin. Wush! Tasbih itu tiba-tiba dilempar keluar jendela oleh Aira. Ia memutuskan: segala yang berasal dari Isa harus dibuang. Isa yang dulu menyakitinya, kini menyakiti wanita lain. Siapa yang tahu siapa lagi nanti? Brak. Zaki mendadak keluar, menerobos hujan deras, berjalan ke tengah jalan demi... “Mas! Kenapa kamu ambil tasbihku?” tanya Aira terperanjat saat Zaki kembali dengan tasbih itu. Zaki tak menjawab panjang. Ia hanya menyelipkan tasbih itu ke tangan Aira. “Jangan dibuang,” ucapnya singkat. “Tapi… itu penyebab semua salah paham…” Zaki menggeleng. “Gunakan saja di dalam pondok. Jangan biarkan Isa melihatnya.” “Kenapa?” “Karena... itu sangat mahal. Limited edition. Aku…, eh, aku pernah memilikinya. Nilainya seharga motor.” Aira menutup mulut, terkejut. “Yang lain boleh kau buang. Tapi bukan ini.” Aira diam. Lirih dalam pikirannya, betapa bodohnya ia menyimpan kenangan dari masa lalu yang menyakitkan. Ia melirik Zaki, pria itu masih menatapnya… namun saat mata mereka bertemu, Zaki justru memalingkan wajah. “Kenapa buka klinik di pondok?” Aira bertanya, mencoba membaca hati pria itu. “Karena ditawari Abahnya Isa. Tapi, kenapa kamu nggak pernah datang?” “Aku menghindarimu.” Zaki mengangguk, tersenyum tipis. “Kamu kan dari keluarga berada. Kenapa kerja di tempat yang sepi pasien?” “Aku cuma cari uang.” “Ah, nggak mungkin. Pasti ada alasan lain…” Aira menggumam pelan, nyaris tak terdengar. Tapi Zaki menangkapnya. “Aku cuma cari uang, Ra. Apa kamu berharap aku punya maksud lain?” Aira diam. Cemberut. Pandangannya berpaling ke jendela, menghindari sorot mata Zaki yang terasa terlalu dalam. Hujan yang merintik lembut, udara yang lembab, dan suara mesin mobil yang stabil membuat Aira terlelap. Kepalanya tertunduk, napasnya teratur. --- Dalam ketenangan nya, entah mengapa Aira tiba tiba di kejar seekor ular besar hingga terjatuh, dan saat ular itu hendak memakannya jantung Aira serasa mau copot, menutup matanya rapat-rapat, namun saat membuka matanya ia sadar semua itu hanya mimpi, bukan ular besar yang ada di hadapannya melainkan wajah tampan Zaki yang kini tengah menatapnya, senyumnya membuat Aira seketika salah tingkah. “Sudah bangun? Kita sudah di pondok.” ucap Zaki, dengan bibir tersenyum, wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari Aira. Kenapa dia senyum terus? Batin Aira, apa sedang menertawakan aku? Apa aku meneteskan liur? Aira memalingkan muka, huh! Sejak kapan aku jadi menghadap dia sih? Tangan Aira cepat menyeka mulutnya, ah untunglah mulutnya kering. Tunggu, ini… di depan gerbang pondok! Mata Aira terbelalak, hujan telah reda. Sejak kapan Zaki mengendarai mobil dan ia tidak sadar sama sekali? Dasar tukang tidur! Aira memaki dirinya sendiri. Aira menggigit bibirnya sendiri. Harusnya tidak begini, ia tidak boleh datang ke pondok dengan di antar pria yang bukan mahram nya. Cctv pasti melihat ia turun dari mobil pria. Lalu apa bedanya dengan santriwati yang habis di takzir karena nekat turun dari motor pacarnya? Dia habis pulang, lalu yang mengantarnya kembali ke pondok adalah pacarnya. “Kenapa kamu nggak bilang bilang kalau mau ngantar aku sampai pondok, Mas?” mata Aira terlihat cemas. “Memangnya kenapa?” “Gimana kalau aku di takzir gara gara ketahuan naik mobil laki laki? Kalau aku hanya santri masih pantas dapat hukuman, masalahnya sekarang aku adalah pengurus, gimana dong ini?” “Oke-oke aku mengerti maksudmu.” Zaki mengangkat kedua tangan nya, Aku bawa kamu ke tempat agak jauh ya? Entar kamu jalan dari situ.” Aira mengangguk. Ada sebersit harapan tenang di hatinya. Semoga tak ada yang menyadarinya karena turun dari mobil pria, secara teknis ia memang melanggar, tapi sebenarnya tidak kan? Zaki bukan apa apanya. Mobil pun akhirnya berputar agar menjauh dari pondok, dan Aira turun dari sana. “Ra, bawa ini, kamu belum makan kan?” Zaki menyodorkan kotak persegi panjang, aroma sedap menguar membelai hidung Aira. “Kebab ini…, buat aku?” pintu mobil sudah terbuka namun ia masih duduk. “Bukan, buat Eki!” Aira seketika cemberut. “Buat kamu, Ra.” Aira menerima kebab itu, “terima kasih.” “Hati hati.” ucap Zaki saat Aira sudah ada di luar, menutup pintu mobil. Gadis itu mengangguk, lalu melambaikan tangan nya. Dan Aira tak sadar, ada seseorang di dalam warung, berada di seberang jalan sedang mengawasinya. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN