Bayangan senja mulai bergeser, menyisakan aroma tanah basah yang masih tertinggal. Langit telah mereda, hanya mendung tipis yang menggantung malu-malu. Tapi tak seperti langit, hati Aira masih kelabu.
Langkahnya menyusuri jalan setapak menuju gerbang samping pondok, langkah yang ia jaga agar tak mengundang tanya. Sesekali ia menunduk, menghindari tatapan siapa pun yang lewat. Ia tahu, satu celah saja cukup membuat berita menyebar seperti api di ladang kering.
Namun tanpa ia tahu, seseorang memperhatikan setiap geraknya. Dari balik tirai warung yang remang, sepasang mata mengintai tajam. Wajahnya tersembunyi, namun sorot matanya menyimpan banyak rahasia. Jemari tangannya mengetuk meja pelan, penuh perhitungan. Seperti sedang menanti waktu yang tepat.
---
Di dalam pondok, suasana belum benar-benar tenang. Beberapa santriwati baru saja pulang dari ruang kegiatan. Di antara mereka, Eki tampak sibuk menyusun catatan laporan, namun matanya tak henti-henti melirik ke arah pintu.
Tak lama kemudian, Aira muncul. Wajahnya sedikit pucat, baju ujungnya basah terkena air tanah, dan tangan kirinya menggenggam kotak makanan.
“Ra!” Eki langsung menghampirinya. “Kamu dari mana aja? Aku panik tahu! Ini udah jam tiga sore loh, jatah kamu keluar udah habis!” gumamnya pelan.
Aira tersenyum lelah. “Maaf… aku… tadi kehujanan.”
Eki memperhatikan wajah sahabatnya yang sedikit murung. Matanya membaca diam Aira seperti lembaran buku yang tak terbuka. Lalu tiba-tiba ia mencium aroma kebab dari kotak yang dibawa Aira.
“Wuih, dapet dari mana? Wangi banget!”
Aira menyerahkan kotak itu. “Dari Zaki. Katanya buat kamu.”
Eki mengerutkan dahi. “Buat aku?”
Lalu tersenyum geli. “Atau… maksudnya buat kamu, tapi kamu mau berbagi?”
Aira hanya diam. Hatinya sedang tak bisa diajak bercanda. Matanya kosong menatap dinding kamar, lalu ia duduk, melepaskan hijab dan mengelus rambutnya yang masih lembap.
Eki menoleh. “Ra… ada apa sebenarnya?”
Butuh waktu beberapa detik sebelum Aira menjawab. “Gus Isa muncul lagi di TK. Marah-marah. Terus mas Zaki datang… nyelamatin aku.” Suaranya lirih.
“Cie cie…di selametin Mas Zaki nih. Dia beneran kayak Hero mu, Ra. Nyelametin kamu dari…, Gus Isa?”
Aira mengangguk.
“Dia marah kenapa? Kamu dekat sama Mas Zaki?” Tebak Eki.
“Marah gara gara aku nolak dia.”
“Kenapa dia marah-marah? Semua cewek juga kalau di ajak nikah sama suami orang ya gak mau lah, mikir gak sih dia? Sebel banget deh, coba kalau dia yang di ajak nikah atau pacaran sama istri orang…,”
“Ssstt…” pelanin suara mu, Ki. Nanti mbak mbak yang lain dengar.” Aira menempel kan jari telunjuk di bibir. Pondok mulai berdengung saat kedatangan Isa dan Andin, semua pasti makin heboh kalau tau Isa sedang mengejar dirinya.
Wajar sih para santri banyak bergunjing, ini adalah pertama kali bagi Zaki dan Andin bersama setelah mereka menikah selama empat tahun. Menurut kabar Zaki dan Andin hanya bertemu saat mereka liburan, itupun di rumah Andin, setelah itu Zaki pulang ke rumahnya sendiri.
Eki tercekat. “Ya Allah… kenapa sih sama Gus Isa, tiba tiba aja jadi kayak gini. Tapi untunglah ada mas Zaki, dia ngapain aja, Ra?”
“Dia... melindungi aku.” Aira menatap lantai. “Kayak… pelindung yang muncul di waktu paling genting. Tapi anehnya, setelah itu... dia menjauh lagi. Kayak... ada sesuatu yang dia tahan dalam dirinya.”
Eki terdiam, mencoba mencerna. “Kamu suka Zaki?”
Aira tersentak. “Apa?”
“Aku lihat cara kamu mandang dia. Beda.”
Aira menggeleng cepat. “Enggak, Ki. Aku… aku cuma bingung. Dia selalu muncul saat aku butuh, tapi juga seperti membatasi diri. Aku enggak ngerti dia…”
Eki tersenyum penuh arti. “Kadang… yang terlalu baik memang suka bikin bingung. Tapi hati nggak pernah bohong, Ra. Kalau dia bikin kamu tenang… mungkin itu jawabannya.”
Aira tak menjawab. Matanya menerawang ke arah jendela. Langit benar-benar gelap kini. Tapi anehnya, hujan yang tadi mengguyur tubuhnya… justru kini menghangatkan hatinya.
---
Hari itu, udara pondok terasa berbeda. Awan yang kemarin mengguyur bumi masih menyisakan sisa embun di dedaunan. Tapi bukan itu yang membuat hati Aira gelisah. Ada yang lain. Ada yang mengendap di antara lorong-lorong pondok. Ada bisik-bisik yang terdengar lirih namun menusuk.
“Aku lihat sendiri, dia turun dari mobil. Mobil cowok.”
“Yakin itu cowok?”
“Iya. Ganteng banget, tinggi. Bukan orang tua, bukan wali murid.”
“Hm, katanya sih dokter klinik, ya?”
“Dokter? Tapi kenapa nganterin mbak Aira? Mereka berduaan, nggak mungkin nggak ngapa ngapain.”
“Tapi kalau dokter Zaki sama mbak Aira sih nggak papa, mereka cocok, ganteng dan cantik.”
Aira mendengarnya. Dari balik pintu kamar mandi, ia mendengar suara-suara itu—seperti jarum yang ditusukkan perlahan ke jantungnya.
Setelah keluar, semua mendadak hening. Tapi tatapan mereka tak bisa berbohong. Ada mata-mata yang menilai, mengukur, dan… menghakimi.
---
Di kamar pengurus, suasana tak lebih baik.
Tasya, teman sekamarnya, yang biasanya ceria, kini jadi irit bicara. Ia lebih banyak sibuk dengan buku mutaba’ah santri dan laporan ke pengasuhan.
Aira tahu ada yang berbeda. Ia tak tahan lagi.
“Tasya… kamu denger sesuatu tentang aku, ya?” tanyanya pelan.
Tasya mendongak, sedikit kaget. “Apa?”
“Kamu diam. Teman-teman juga. Aku tahu, ada yang mereka bicarakan di belakangku.”
Tasya menutup bukunya. Menatap Aira lama.
“Aku nggak mau menambah bebanmu, Ra. Tapi iya… beberapa santri mulai ngomongin soal kamu. Ada yang bilang kamu keluar dari mobil Mas Zaki. Katanya nggak adil kalau kamu nggak di hukum.”
Aira tertunduk.
“Tapi aku nggak melakukan hal yang salah, Tasya. Aku kehujanan, dan mas Zaki menolongku. Aku nggak sengaja menumpang mobilnya.”
“Aku percaya kamu. Tapi kamu tahu, pondok kita ketat. Jadi pengurus itu bukan cuma soal tanggung jawab, tapi juga teladan. Santri bukan lihat benar atau salahnya dulu, tapi penampilannya. Sekali mereka curiga… habis sudah.”
Aira menggigit bibirnya. Ingin menangis, tapi air matanya tertahan. Ia harus kuat.
“Lalu… kamu percaya aku, kan?”
Tasya tersenyum. “Aku percaya. Tapi kamu harus jaga jarak sekarang. Jangan terlalu dekat dengan mas Zaki. Jangan beri celah. Bahkan meski kamu yakin tidak salah… kamu akan tetap diadili oleh yang tak tahu apa-apa.”
---
Keesokan harinya, Aira dipanggil ke kantor pusat. Ia melangkah dengan napas berat. Di depan pintu, kakinya terasa berat masuk.
Di dalam, ada Ustazah Rahma—sang kepala pengurus pusat putri. Tatapannya tajam, senyumnya selalu tipis, tapi hatinya dikenal bijak.
“Assalamu’alaikum, Ustazah…”
“Wa’alaikumussalam, Aira. Duduklah.”
Ustazah menatapnya dengan lembut, tapi ada ketegasan di dalam matanya.
“Aira, kamu tahu kenapa kamu dipanggil?”
Aira mengangguk pelan. “Karena… ada yang melihat saya turun dari mobil laki-laki.”
Ustazah menyandarkan tubuhnya. “Iya. Dan sayangnya, kamu bukan hanya santri biasa. Kamu pengurus. Kami dapat laporan dari beberapa santri, bahkan ada yang sampai membuat surat tertulis.”
Aira terdiam. Tertunduk.
“Ustazah… saya tidak berniat melanggar. Hujan deras, saya kehujanan, dan tidak ada tempat berteduh. Pintu sekolah sudah dikunci. Saya hanya… ditolong.”
“Siapa nama laki-laki itu?”
“Zaki, dokter klinik pondok.”
Ustazah mengangguk. “Saya tahu Zaki. Orang baik. Tapi, Aira… kamu tahu, kadang niat baik bisa jadi buruk bila tak dijaga cara dan waktu. Kamu harus belajar dari ini. Kita hidup di tempat di mana satu langkah bisa menjadi bahan pergunjingan.”
“Lalu… apa yang harus saya lakukan, Ustazah?”
“Kamu tidak akan diturunkan dari jabatan. Tapi kamu akan diberi pembinaan. Satu minggu kamu tidak memimpin kegiatan. Fokus evaluasi diri. Dan tolong… jaga jarak dengan Zaki, untuk sementara.”
Aira mengangguk, walau hatinya tercekat. Ia tidak merasa bersalah, tapi tetap harus menerima konsekuensi.
Tangannya mengepal di atas pangkuan.
Ia tahu, terkadang yang benar bisa kalah oleh tafsir yang keliru.
“Aira, ini adalah pertama dan terakhir teguran buat kamu, kalau kamu ketahuan lagi masuk mobil laki laki atau motor laki laki kami akan menghukummu, entah itu hukuman fisik atau sanksi kamu diberhentikan jadi pengurus. Pikirkan baik baik ini. Jangan sampai reputasi mu sebagai pengurus rusak.”
Aira mengangguk kecil, tak menyangka apa yang di lakukan Isa justru dirinya lah yang menanggung akibatnya.
Tapi Aira juga tahu, diamnya hari ini akan menjadi pembuktian besarnya kelak.
Bersambung…