Hanya butuh satu percikan kecil untuk membakar hutan kepercayaan.
Dan Isa—yang tak gentar menyalakan api demi memenuhi ambisi egoisnya—mengangkat obor itu tinggi-tinggi, seolah ingin menyulut langit sekalipun.
“Biar kubantu mereka membuka mata… agar tahu siapa Aira sebenarnya,” ucap Isa di hadapan Nasir, mantan santri yang kini menjelma petugas keamanan luar pondok—dan sekutu lamanya dalam diam.
Mereka duduk di warung tua yang terletak tak jauh dari gerbang pesantren. Aroma kopi dan tembakau mengambang di udara. Isa tersenyum miring, licik dan penuh siasat. Ia mengangkat ponselnya, lalu memperlihatkan potret diam-diam yang diambil Nasir—Aira, tengah turun dari mobil Zaki, berselimut jas hujan. Kabur dan remang, namun cukup untuk mengundang badai prasangka.
“Sebar ini di grup santri. Gunakan akun bayangan. Tambahi narasi begini: ‘Pengurus pondok diturunkan karena keluar bersama pria.’”
Nasir melongo, terkekeh kagum.
“Ini fitnah luar biasa, Gus. Enggak nyangka kamu makin licin aja sekarang.”
Ia angkat jempolnya penuh decak.
“Ini bukan fitnah,” Isa menyahut datar. “Ini percepatan takdir. Aira akan jadi milikku. Dan dia harus sadar, perlindungan seorang suami lebih baik daripada terus menciptakan badai di pesantren.”
“Betul, betul, betul,” Nasir mengangguk, semangat. “Sebagai senior yang dulu pernah naksir Aira, aku dukung kamu. Sayangnya, waktu itu abah menolak karena Aira masih kecil. Coba sekarang—saingannya kamu dan dokter. Hah, aku sih nyerah.”
“Kamu kurang nekat,” Isa mencibir. “Belum mencoba, sudah menyerah.”
“Aku jadi pendukungmu aja, Gus. Siap ngasih saran sampai Aira jadi milik mu. Gara gara Aira, sekarang aku masih belum laku, aku terus menjomblo, gak bisa nyari istri sebelum Aira laku. Sulit banget nyari cewek spek Aira. Udah cantik bodinya juga bagus bonusnya dia Sholehah.”
“Nah ini dia yang membuatku susah move on dari Aira, Andin emang cantik, tapi dia gak seindah Aira.”
“Kamu masih belum bisa move on karena dia pernah nolong kamu, kan?”
“Bukannya kamu ga bisa move on gara gara Aira dulu pernah menolongmu?”
“Itu juga salah satunya.”
“Jangan lepasin dia, Gus. Apapun harus kamu lakukan demi Aira.”
Isa mengangguk anggukkan kepalannya, seolah mengamini sumpah sunyi itu.
---
Beberapa jam kemudian...
Gambar itu mulai menjalar. Dari satu akun gelap di w******p, ke status-status santri, lalu menyusup ke ruang obrolan larut malam.
Tak ada yang tahu siapa penyebarnya, tapi semua bicara tentangnya.
“Astaghfirullah… ini mbak Aira, kan?”
“Kok bisa pengurus kayak gitu, ya?”
“Pantas saja akhir-akhir ini dia dipanggil ke kantor pusat…”
Aira baru tahu saat adik kelasnya datang membawa wajah penuh duka.
“Mbak… kuatkan diri ya…” katanya.
Aira bingung. “Kenapa?”
“Kamu viral di grup dan status-status anak asrama. Katanya ada foto Kakak turun dari mobil cowok.”
Darah Aira terasa mengalir turun ke kakinya. Napasnya terputus. Dunia berputar pelan, dan langit seakan runtuh di kakinya.
---
Sore itu...
Aira kembali dipanggil ke ruang kantor pusat. Kali ini, udara di dalamnya terasa berat, seperti langit menjatuhkan semua beban ke atas pundaknya.
Di sana telah duduk tiga sosok yang ia kenal: Ustazah Rahma, Ustazah Hanim, dan… Isa.
Tak perlu firasat tajam untuk tahu—ini bukan lagi sesi pembinaan.
“Aira, kami tidak akan langsung percaya pada foto yang beredar,” suara Ustazah Rahma terdengar tegas, “tapi kami juga tak bisa menutup mata. Kami butuh klarifikasi.”
Isa angkat bicara, menyisipkan nada prihatin yang palsu.
“Ustazah… saya hanya ingin menyelamatkan Aira. Dia santri yang baik, saya tahu betul. Tapi sekarang… banyak yang menilainya buruk. Daripada terus difitnah, lebih baik saya menikahinya. Itu solusi paling bijak.”
Aira membeku. Matanya kabur, hatinya seperti terhempas ke jurang.
Ini… jebakan. Dan Isa berdiri sebagai ‘pahlawan’ yang merancang aibnya sendiri.
“Kami tak akan memaksa,” kata Ustazah Hanim lembut, “tapi jika ini menyangkut nama baik pesantren, kami harus segera mengambil langkah.”
Isa menatap Aira dengan pandangan pura-pura suci.
“Jangan takut, Ra. Menikah denganku akan menghapus semua tuduhan.”
Aira menggigit bibirnya. Detak jantungnya kencang, bukan karena cinta, tapi karena ketakutan. Ketakutan terjerat dalam ikatan yang dibangun dari dusta dan tipu daya.
---
Malam itu…
Aira bersujud dalam tangis panjang. Tangis yang tak bisa lagi ditahan oleh bantal, tak bisa lagi disembunyikan di balik selimut.
Ia merasa seperti daun kering di tengah badai. Tak ada tempat berpegang, tak ada pelindung.
Namun jauh di dalam hatinya, bisikan sunyi mulai terdengar:
Di luar jendela, langit mendung kembali menggulung. Namun di hatinya, satu suara mulai membisik:
Jika semua jalan menuntun ke arah pernikahan dengan orang yang salah… sanggup kah dirinya membuka jalan untuk dirinya sendiri?
---
Bresss...
Langit seakan menumpahkan semua isinya. Hujan mencabik malam, menyusup lewat celah jendela, membasahi sudut kamar.
Udara pengap yang terjadi sebelum hujan membuat seorang pria melepas bajunya, lalu tiduran di sebuah sofa yang berada di bawah jendela. Membiarkan dirinya berselimut angin malam yang segar dari jendela. Hingga ia akhirnya pulas.
Bruk…
Andin menutup jendela kamar yang masih terbuka lebar. Ia heran, bagaimana bisa Isa masih tertidur nyenyak dengan tubuh yang terkena percikan air hujan, tubuhnya yang setengah telanjang tak terpengaruh hawa dingin yang mulai menusuk.
Andin duduk termenung di tepi ranjang. Dulu saat dirinya dan Isa masih sama sama di pesantren, hanya bertemu saat liburan itupun dirinya yang meminta, Isa masih mau bicara dan bercanda, ia pikir semua pasti baik baik, semakin mesra saat pendidikan selesai.
Tapi kenyataan tak sesuai harapan, setelah Andin wisuda, Isa yang memilih pulang ke rumahnya justru menjadi asing dengannya, jangankan bercanda, Isa bahkan tak sudi bertatap mata dengannya, ia bahkan terlihat jijik saat di sampingnya, Isa memilih tidur di sofa atau pergi ke pesantren, seolah ranjang rumah mereka tak layak menjadi tempatnya.
Tangan Andin ragu saat menarik selimut. Tak tega melihat Isa yang berguling ke kanan dan kiri, tak nyaman dengan sofa yang sempit. Mungkin juga sedang kedinginan.
Srak…
Andin akhirnya memberanikan diri menyelimuti Isa. Entah ide gila mana yang membuat tangannya perlahan membelai rambut tebal Isa, rambut itu berantakan sama seperti sikap Isa yang tak bisa di atur. Perlahan jari jarinya turun, menyusuri hidung mancungnya, dan tangannya bergetar saat menyentuh bibir Isa.
Andin tak peduli, tak mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya, yang ia tau ia begitu jatuh cinta dengan mahluk liar ini. Perlahan Andin menunduk, semakin dalam, semakin dekat, tinggal satu senti, namun matanya langsung terbuka lebar saat Isa tiba tiba membuka matanya. Buru buru Andin menarik tubuhnya.
Srak…
Sebelah tangan Isa menahan leher Andin, menariknya mendekat.
“Kalau mau aku menciummu, berdoa saja yang banyak.” bisik Isa, lalu mendorong tubuh Andin hingga terjatuh di lantai.
Isa merapatkan selimutnya, berganti posisi memunggungi Andin, tak peduli dengan istrinya yang terisak pelan.
Bersambung…