17

1463 Kata
Malam terasa panjang. Seolah waktu enggan beranjak dari tempatnya. Siang pun seperti membeku, ketika Aira duduk sendiri di kantor pusat — ruang yang bagi santri lebih menakutkan dari ruang manapun di pesantren. Tempat itu bak palu hukum; siapa pun yang duduk di sana, pasti telah dianggap berdosa besar. Dan hari ini adalah kali ketiga dalam seminggu Aira harus menapaki lantai dingin ruangan itu. Interogasi dilakukan oleh pengurus pusat, ditemani biro keamanan yang selalu bermuka masam. Terkadang juga harus memanggil keamanan putra yang tentu dua kali lebih mengerikan saat membolak balik kata dengan suara meninggi, saat bertanya tangannya menggebrak apa saja menggunakan tongkat dari penjalin, bukan untuk memukul, hanya untuk menakut nakuti — membuat jantung Aira nyaris terlepas dari dadanya. Ia hanya bisa menunduk, terpojok oleh tuduhan yang dilontarkan bertubi-tubi. Satu foto menjadi bukti yang terlalu telak. Dan Aira tak bisa menjawab. Ia benar-benar tidak tahu… kapan Zaki melakukan hal itu padanya? Gambar itu jelas — terlalu jelas untuk disangkal. Dari sudut depan mobil, tampak Aira duduk dengan kepala Zaki yang menutupi wajahnya. Seolah sedang mencium. Dan dari satu bidikan, timbul ribuan asumsi. Bola panas itu menggelinding liar, membakar nama baik Aira dengan tuduhan-tuduhan nista. Bahkan, ada yang menuduh ia telah melakukan hal yang lebih hina dari sekadar ciuman. Siapa yang tahu apa yang terjadi dalam mobil yang diselimuti kabut hujan deras? Apa yang mereka lakukan saat dunia di luar tak bisa melihat? Aira menggigit bibir. Tangisnya jatuh bersama ketidakberdayaan. Ia hanya bisa terisak saat suara bentakan menyentak gendang telinganya. Ayahnya yang paling tegas sekalipun tak pernah membentaknya seperti itu. Penolakan dan pembelaan Aira hanya dianggap kebohongan. Bukti bicara lebih lantang dari air mata. Ancaman terbesar bukan hanya dikeluarkan dari pondok. Tapi kecewanya orang tua — dan lebih dari itu, ketakutan Aira bila ayahnya, yang memiliki riwayat penyakit jantung, mendengar kabar ini dari orang lain. Mungkin dari keluarga ndalem, atau mungkin dari kerabat jauh. Fitnah selalu punya sayap, dan kabar buruk selalu berlari lebih cepat dari kebenaran. Seandainya Aira tak tahu bahwa dalang semua ini adalah Isa, mungkin ia akan mengira pria itu datang sebagai penyelamat. Pilihannya sederhana: menikah atau dikeluarkan. “Bagaimana, Ra? Sudah kamu pikirkan tawaran pernikahan kita? Atau kamu lebih memilih keluar, dengan risiko ayahmu patah hati karena anaknya melakukan pelanggaran memalukan?” Isa menyunggingkan senyum miring, serupa racun yang dikemas dalam madu. Aira menunduk, menahan tangis. Ingin rasanya menampar wajah angkuh itu, namun ia tak berani, sebab semua pengurus kini menjadi saksi gerak-geriknya. “Kau pilih menikah… atau keluar dari pesantren, Ra?” tekan Isa lagi, menyilangkan tangan, seolah menggenggam seluruh semesta. Senyumnya tipis — tapi pongahnya menekan langit-langit ruangan. “Kau tahu kan, Ra? Aku satu-satunya pertolonganmu.” Menikah dengan Isa tentu akan membersihkan namanya, orang tuanya tidak akan tau jika ia hampir saja di keluarkan dari pondok. Dan Isa percaya orang tua Aira akan merestui pernikahan mereka, memangnya siapa yang bisa menolak Isa? Selain tampan, kaya, dirinya juga anak pemilik pesantren, sembilan puluh persen santri tidak berani membantah perintah dari ndalem. Aira menggenggam ujung bajunya erat, menahan tangan yang ingin melayang. Ingin berteriak, tapi untuk apa? Siapa yang mau mendengar suara yang kalah oleh sebuah foto? Lalu… Di tengah ketegangan itu, tiba tiba terdengar suara terompah kayu berderap di paving blok halaman asrama. Langkah kaki kemudian terdengar mendekat, Bu masuk dari pintu utama. Para pengurus sontak berdiri. Isa menoleh. Wajah percaya dirinya mendadak membeku. “Abah…” Di ambang pintu, berdiri sosok yang memancarkan keteduhan sekaligus wibawa. Sorban putih melingkar di pundaknya. Tongkat kayu tua ia genggam dengan mantap. Langkahnya lambat, tapi membawa badai. “Jangan main-main dengan nama baik pondok, Isa.” Suara itu dalam dan bergemuruh. Tak perlu bentakan untuk menggetarkan isi ruangan. Isa menelan ludah. “Kita cuma ingin menyelamatkan nama baik, Bah. Daripada Aira—” “Lalu kau jadikan dia tumbal?” potong Abah. “Kau pikir pondok ini tempat mencuci bersih kesalahanmu sendiri?” “Ingat!” Mata Abah menajam. “Mulai sekarang, selain pengurus inti, tak seorang pun boleh ikut interogasi. Termasuk anakku!” Tatapannya menghantam Isa yang kini menunduk. “Semua keputusan harus kalian rapatkan, lalu sampaikan padaku. Jangan ada pengaruh dari siapa pun. Mengerti?” “Mengerti, Abah.” “Dan tentang Aira,” suara Abah meninggi, “Aku belum pernah memutuskan bahwa dia harus keluar. Jangan seenaknya memutuskan hanya karena Isa berkata begitu. Pemimpin kalian masih aku, bukan dia!” Hening. “Aku putuskan, Aira tidak dikeluarkan dari pondok.” Semua mata membelalak. “Tadi malam Zaki datang menemuiku. Dia bersaksi tidak pernah menyentuh Aira. Dan mobilnya dilengkapi CCTV. Aku sudah menontonnya.” Abah meletakkan sebuah flashdisk di atas meja. “Dalam rekaman itu, Zaki hanya memasangkan sabuk pengaman pada Aira yang sedang tertidur.” Pengurus diam, kepala mereka menunduk dalam-dalam. Abah melirik Aira. “Ikut aku, Ra.” Mereka keluar dari ruangan. Di depan pintu, Abah berhenti. “Maafkan Isa. Aku tak menyangka dia ikut campur. Anak bodoh itu membuatku malu…” “Tidak apa apa, Abah. Yang penting… saya tidak terbukti bersalah.” “Kamu anak yang baik, Aira,” ucap Abah sambil tersenyum — dan Aira membalasnya, ringan, lega. “Oh ya, karena kamu susah dihubungi, Zaki titip pesan. Akhir akhir ini dia sibuk, sampai sampai dia jarang buka hp nya, makanya chat mu tenggelam. Dia baru lihat chat mu setelah perawat di klinik bilang kalau kamu mencarinya. Untung saja ada bukti CCTV di mobilnya. Kalau tidak, dia pasti merasa bersalah. Zaki juga minta maaf, gara gara dia kamu kena masalah.” Aira mengangguk pelan. Senyumnya merekah. Doanya terkabul. Mungkin… Zaki adalah pahlawan sebenarnya. Atau lebih dari itu? Abah melangkah masuk kembali. “Isa! Ikut aku!” Isa berdiri. Sebelum pergi, ia menatap Aira. Tak ada sesal. Hanya sorot mata yang berkata: Urusan kita belum selesai, Aira. Aira segera memalingkan wajah. Ia tak sudi menatap lelaki itu lebih lama. --- “Apa yang kamu pikirkan sampai mengajak Aira menikah, Isa? Kamu kan sudah punya Andin?” “Aku tidak mencintai Andin, Bah.” “Tidak mencintai? Padahal dia baik, cantik, sholihah. Apa kurangnya dia dibanding Aira?” “Tapi hati ini milik Aira…” Suara Abah meninggi. Tak kalem lagi seolah sulit membendung amarahnya. “Aku hafal sifat mu yang keras kepala ini, Isa. Makanya kamu tidak ku beri bagian mengurus pesantren ini. Biar mas mu yang pertama yang jadi penerusku.” Bibir Isa menggerutu. Faro sejak dulu memang paling suka belajar, pintar mengatur hawa nafsunya, bahkan ia juga bijak dan tenang seperti abahnya. “Isa, Lebih baik kamu segera keluar dari pesantren, tinggal di villa saja yang ada di gunung!” “Aku tidak mau, mau kerja apa aku di sana? Nyangkul? Aku tidak bisa, Abah!” “Terserah kamu mau tinggal di mana, yang penting jangan di sini. Kamu hanya akan memperburuk suasana pondok, Isa.” “Oke kalau Umi sama Abah mengusirku, aku akan pergi, tapi maaf aku tidak mau tinggal di gunung, aku mau beli perumahan sendiri.” Mata Abah seketika melirik putranya, bibirnya mencibir. “Memang kamu punya uang buat beli rumah?” “Uang ku cukup banyak dari kantin dan bengkel yang kumiliki depan pesantren. Kalau masih kurang, Andin juga punya toko emas.” “Kalau begitu cepat pindah. Dan lupakan Aira!” Tidak bisa Abah, hati ku tidak bisa di bohongi.” “Kalau begitu jangan beli rumah pakai uang Andin!” “Itu resiko Andin karena mencintai ku.” “Jangan Gila, Isa!” Mata abah kali ini melotot lebih lebar. “Kalau tak bisa menerima Andin, kembalikan dia ke orang tuanya!” “Boleh begitu?” “Langkahi mayatku dulu!” Isa memutar bola mata, mendesah berat. Sudah ia duga Abah takkan berubah. “Abah tak pernah mengerti hatiku. Aira itu cinta pertamaku. Kalau dia mau, aku akan jadikan dia istri kedua. Aku tak akan menceraikan Andin.” “Hush!” Ibunya ikut bersuara. “Jangan menyakiti hati Andin. Kalau dia dengar—” “Dia sudah tahu. Aku masih cinta Aira.” “Tahan perasaanmu, Isa. Jangan sakiti istrimu. Bahagiamu tak layak dibangun di atas luka orang lain.” “Tapi aku juga berhak bahagia.” “Belajarlah mencintai Andin. Kadang, yang tak kita miliki terlihat paling indah. Tapi setelah dimiliki, semuanya terasa biasa.” “Aku tetap ingin menikahi Aira…” “Aira nggak bisa kamu nikahi!” suara Abah meninggi. “Kenapa?! Aku tahu dia masih mencintaiku!” “Karena dia sudah diinden orang!” jawab Abah tajam. “Sudah ada yang lebih dulu meminta.” “Siapa?” desak Isa. Abah tak menjawab. Ia berbalik masuk ke dalam rumah, bahunya tegang, berusaha menahan diri agar tak hilang kewarasan nya, nafasnya yang selalu tertahan seolah terkekang oleh sikap keras kepala putranya, menyesal mengapa dulu ia terlalu memanjakan anak bungsunya. Dan ia tak peduli dengan tatap mata Isa yang kebingungan — dan kekalahan. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN