18

2084 Kata
Dor! “Hayo, lagi ngapain?” Tasya tiba-tiba menepuk bahu Eki dari belakang. “Lagi pacaran sama cowok paling ganteng sedunia! Mas Zaki lewat, Gus Isa minggir!” sahut Eki spontan. Bibirnya nyerocos tanpa kendali seperti biasa saat terkejut. Dan seperti biasa pula, setiap latah, Eki tak pernah bohong. Begitu sadar telah keceplosan, Eki buru-buru menutup mulutnya, sementara kedua matanya melotot panik. Tasya malah tergelak puas—senang sekali bisa menjahili temannya yang latah. Ia lalu duduk di samping Eki, mendekat penasaran karena Eki buru-buru menyembunyikan ponselnya. Jam menunjukkan pukul satu siang. Waktu istirahat untuk para santri setelah dzuhur berjamaah di masjid pesantren. Berbeda dengan santri reguler, para mahasiswa seperti Aira dan Eki mendapat waktu khusus memegang ponsel. Mereka paham bahwa jadwal kuliah seringkali tak menentu. Tapi saat adzan maghrib berkumandang, seluruh ponsel wajib dititipkan ke biro humas. “Kamu kenapa sih, Ki, senyam-senyum sendiri dari tadi sambil lihat HP?” Tasya menyodokkan tubuhnya ingin mengintip. “Hayo…, lagi lihat apa? Mantap-mantap ya?” godanya sambil menunjuk wajah Eki. "Ngawur, sok tau! " Jawab Eki, ponselnya kini aman, menjauh dari jangkauan Tasya. Tapi Tasya belum menyerah, ia mengejar ponsel Eki, "kalau nggak lihat yang aneh aneh ngapain kamu sembunyiin? " Sruk… Eki tanpa rasa berdosa menelusupkan ponselnya ke balik bantal salah seorang pengurus pesantren yang sedang tidur di sampingnya. “Aira tidur?” tanya Tasya, agak khawatir. “Sepertinya sih iya. Beberapa hari ini, kalau nggak ada kegiatan, dia pasti langsung rebahan terus tidur.” Eki berbisik. “Masih ada masalah?” tanya Tasya, kini ikut menurunkan suara. Eki menggeleng pelan. “Kayaknya sih udah nggak. Tapi aneh aja, dia masih sering diam.” “Mungkin... kangen sama Gus Isa?” tebak Eki sembarang. “Hush! Ngaco!” Tasya menegur cepat. “Justru Gus Isa itu sumber masalah buat Aira.” “Kalau gitu… jangan-jangan dia lagi kepikiran Mas Zaki?” Eki senyum-senyum sendiri. “Nah, itu baru masuk akal. Aira kayaknya benar-benar menyimpan rasa ke Mas Zaki,” sahut Tasya setuju. “Lebih tepat nya dia lagi galau, mas Zaki kayak nya cinta banget sama dia ya, tapi anehnya dia nggak pernah bilang suka, makanya dia galau, pengen maju duluan takut di kira gampangan, nunggu terus tapi nggak tau sampai kapan.” “Eki, aku dengar semua!” Aira tiba tiba berbalik. Ternyata gadis itu dari tadi hanya pura pura tidur. “Kamu dengar apa Aira?” Eki tiba tiba mendekat, lalu mengambil ponselnya yang berada di bawah bantal Aira. “Kamu ngarang tentang aku yang galau sama mas Zaki.” Eki tersenyum miring. “Kamu salah dengar, Ra. Aku tadi ngomong kalau aku lagi galau sama cowok, namanya Ferdian.” “Oh, Ferdian?” Tasya langsung pasang tampang penasaran. “Kenal di mana? Teman kuliah? Teman rumah? Atau… nemu di angkot?” "Nemu-nemu! Emangnya dia kucing? Aku ketemu dia dating apps!" Eki memelankan suaranya. Tasya membelalak. “Ya ampun! Di pondok kamu main dating apps?! Gila kamu, Ki!” “Nggak gila dong. Kalau nggak begini, aku nggak ketemu jodohku. Kamu mah udah dilamar, Aira banyak yang suka. Aku? Masih nyari-nyari…” "Ya ya, aku faham keinginanmu." Tasya menganggukkan kepalanya. Tatapannya kali ini beralih pada Aira yang duduk sambil memeluk kedua kakinya. "Kamu kenapa, Ra? " "Aku lagi gak mood aja. Masalah kemarin rasanya menyedot tenagaku sampai habis." Jawab Aira pelan. "Uh kasihan teman ku." Ucap Eki sembari mendekat ke Aira, memeluknya, begitu juga dengan Tasya ia juga memeluk Aira, menepuk nepuk lembut punggungnya. "Sekarang semua sudah berlalu, Ra." Ucap Tasya dan Aira mengangguk pelan. "Semangat... !" Tasya tiba tiba berteriak, Aira dan Eki pun tertawa. “Ki, aku jadi penasaran, cowok mu di dating apps kayak gimana sih? Bikin penasaran.” Aira melongok pada ponsel Eki. Eki awalnya ragu, ingin menyembunyikan ponselnya, namun Tasya justru memelototinya, memberi isyarat agar ia memberikan ponselnya untuk Aira, hanya sekedar untuk menghibur sahabat mereka agar ceria lagi. Namun Eki punya taktik licik. Ia sembunyikan HP-nya di balik rok dan menindihnya dengan kakinya. “Kalau jijik, pasti kalian mundur,” batinnya. Tapi sayang, strategi gagal total. Tasya langsung menindihkan tubuh Eki ke lantai dan berseru, “Ra! Ambil HP-nya sekarang!” Aira tanpa ragu membuka lipatan rok Eki dan mengambil HP-nya. “Jangan, Ra! Jangan—!” Eki menjerit, tapi semuanya sudah terlambat. Layar ponselnya menyala, menampilkan gambar… seekor kambing. “Serius, Ki? Ini cowok incaran kamu?” Aira menahan tawa. “Ya Allah, Ki. Kalau cuma nyari kambing ngapain sampe nyari di aplikasi dating aps? Tuh di kandang Abah yai banyak banget, tinggal milih yang hitam manis, ganteng putih kayak cowo Korea? Atau yang rambutnya blonde kayak cowok eropa? Mau yang mana semua ada.” “Ya elah, siapa yang ngincar kambingnya? Aku ngincar yang bawa kambing lah. Lihat tuh mukanya ganteng kan?” Eki membela diri. Aira dan Eki seketika menggeser geser layar ponsel Eki, namun raut wajah keduanya langsung kecewa saat menemukan wajah pria yang semuanya hanya sebagian. Tidak ada yang menampilkan wajah pria itu secara menyeluruh. “Wajah gak jelas gini masih kamu incar, Ki? Aku mending ngincar kambingnya, lumayan bisa di jual.” Tasya merasa menyesal penasaran dengan foto yang mati matian di sembunyikan Eki. “Aku sih nggak masalah, karena aku sendiri juga pasang foto foto palsu.” Eki menunjukkan foto foto nya di aplikasi. Bukan foto Eki yang terpasang tapi foto gadis antah berantah, yang Eki sendiripun tak tahu siapa gadis itu. Ia mencomotnya dari internet. “Kalian emang sama sama gendut, tapi ini sih masih cantikan kamu, Ki.” itu pendapat Aira. “Hehe aku emang sengaja.” Eki nyengir. “Kalau dia nerima cewek jelek gendut kayak gini. Ferdian pasti juga nerima aku. Iya kan?” “Iya juga sih.” Tasya setuju. Tapi pandangan Aira mendadak serius. Ia mengenali kandang kambing itu. “Eh bentar, ini kandang kambing di pesantren kita, kan?” Aira memperhatikan latar foto. Aira menunjukkan layar ponsel Eki ke teman temannya. “Masa sih, Ra?” Eki dan Tasya kini memperhatikan baik baik kandang yang hanya terlihat sedikit tersebut. Wajar jika Tasya dan Eki tak tahu, karena kandang itu berada di area asrama santri putra. Dan Aira pernah masuk kesana beberapa kali saat liburan pondok. “Nah, ini juga, ini juga. Ini di belakang pondok kan?” Aira menunjukkan area perkebunan yang di tumbuhi rumput rumput yang setinggi manusia, mirip tanaman tebu. “Eh iya iya. Ini di belakang pondok.” Tasya akhirnya bisa mengenali tempat tersebut. Santriwati memang jarang dan hampir tidak pernah masuk ke area itu. Ngapain coba? “Eki, jangan-jangan jodohmu itu… ada di balik kamar mu?” “Ih, yang bener…,” Eki memukul mukul centil bahu Tasya. “Iya, Ki. Aku yakin dia santri sini.” sahut Tasya yakin. “Ciee… nyari jodoh sampai ke langit, ujung-ujungnya dapet tetangga sendiri!” Aira menggoda. Eki guling guling kesengsem sedangkan Aira dan Tasya tertawa melihat tingkah Eki. Tak peduli dengan pengurus lain yang melihat mereka dengan pandangan aneh, tidak bisakah menjaga sikap? Image pengurus bisa rusak kalau mereka bercanda keterlaluan. “Eki! Udah hampir jam dua! Hari ini kita harus ke kampus.” Aira tersentak saat menatap jam dinding. “Oh iya, aku lupa.” Eki menepok jidatnya sendiri. Eki dan Aira pun buru buru cuci muka, ganti baju, pakai make up alakadarnya lalu segera berangkat. Mereka tak perlu mandi, karena sudah mandi saat sebelum Sholat dhuhur. Di pesantren mandi tidak bisa sembarangan, banyak nya santri membuat ketersediaan air terbatas, perlu waktu untuk mengisi bak mandi agar penuh kembali. “Kamu mau ikut ngampus juga?” tanya Eki keheranan pada Tasya yang ikut turun, lalu memakai sandal. “Cuma mau ikut ngantar kalian sampai gerbang aja.” jawab Tasya santai. Eki dan Aira merasa aneh namun akhirnya membiarkan Tasya berjalan di antara mereka. Menggandeng kedua temannya hingga keluar dari asrama, berjalan di halaman pesantren Nurul Ilmu yang luas. “Eh, Ra. Ada Mas Zaki.” Tasya menyikut sebelah tangan Aira, namun gadis itu hanya diam, tak merespons sama sekali, hanya melirik sejenak setelah itu pura pura tak melihatnya. “Assalamualaikum, Mas.” Tasya dengar centilnya menyapa Zaki yang sudah ada di dalam land cruisernya. Hendak pulang. “Wa Alaikum salam…” Zaki memang menjawab salam Tasya namun matanya tertuju pada Aira yang sama sekali tak menoleh padanya. “Kamu udah mau pulang, Mas?” Eki bertanya basa basi, jelas ini sudah jam pulang Zaki, masih saja bertanya. “Iya.” “Mau kemana, Ra?” Zaki kali ini melontarkan pertanyaan untuk Aira. Namun Aira justru membungkuk, pura pura membenarkan letak sepatu flat nya. Pura pura tak mendengar kata kata Zaki. Gadis itu tiba tiba mengangkat telponnya yang tak berdering. “Iya? Ada apa?” Aira lalu berjalan menjauh, menuju gerbang. “Ehm…, kami ada pertemuan persiapan wisuda.” jawab Eki mewakili Aira. “Oh…, udah mulai wisuda ya?” “Iya.” “Semoga urusan kalian lancar. Mau aku antar?” Zaki memang menawarkan itu pada Eki, tapi matanya terpaku pada Aira yang berada di dekat gerbang, sedang menerima telpon? Bibirnya tersenyum tipis. “Terima kasih, tapi sepertinya Aira nggak mau. Jadi kami naik angkot aja.” Eki menolak halus ajakan Zaki. “Ya sudah, aku duluan ya, hati hati dan…, tolong jaga Aira.” “Kenapa harus jaga Aira, Mas?” Tasya tiba tiba bertanya, membuat Zaki urung tancap gas. “Aku… khawatir aja, dia habis dapat masalah besar gara gara aku, masalahnya aku tidak langsung membantunya, aku tidak kalau dia waktu itu dalam masalah besar.” “Ck ck… Mas Zaki - mas Zaki.” Tasya berdecak. “Sana minta maaf langsung sama Aira.” Zaki tersenyum getir, “Iya, itu rencanaku, tapi Aira…, kalian bisa lihat sendirikan?” Zaki mengangkat bahunya pasrah. Ia menghela nafasnya berat. “Ya sudah, aku duluan.” Zaki akhirnya tancap gas. Dan menoleh sejenak ke arah Aira saat melewati gadis itu, namun Aira justru membelakangi mobil Zaki. “Ngapain sih kamu menghindari, Mas Zaki terus?” Tasya dan Eki kini berada di samping Aira, mengintrogasi nya. “Kemarin waktu kamu berangkat ke TK juga gini, Mas Zaki nyapa, tapi kamu malah melengos, pura pura nggak dengar. Kamu kenapa sih, Ra? Kasihan Mas Zaki tuh. Emang boleh mas Zaki di rebut Tasya?” “Kok aku?” Tasya protes. “Siapa coba yang keganjenan keluar dari asrama cuma untuk ngantar kita sampai gerbang? Kamu pasti pengen nyari perhatian mas Zaki kan?” “Kamu itu, kalau komen yang masuk akal. Tak selepet baru minta ampun.” Tasya mencekik leher Eki menggunakan lengannya. Eki yang mudah geli sontak meronta ronta sambil tertawa, berusaha melepaskan diri dari Tasya. Untunglah Tasya segera melepasnya, jadi perutnya tidak kram karena terlalu lama tertawa. “Terus ngapain kamu caper sama Mas Zaki?” Tanya Eki. Tiga orang itu kini berada di tepi jalan, sedang menunggu angkot datang. “Aku nggak caper lah, cuma pengen tau aja gimana reaksi mas Zaki di jauhi Aira, sejak dulu dia nggak pernah ngaku cinta tapi bahasa tubuhnya keliahatan banget suka Aira, selalu merhatiin, matanya..., beh! Nggak pernah kedip waktu lihat Aira, dan Aira kita yang bodoh ini nggak peduli sama perhatian yang diberikan Mas Zaki. Dan rezeki ku banget, kita beneran ketemu Mas Zaki kan?” “Udah ah jangan bahas Mas Zaki terus.” Aira tiba tiba berseloroh. “Ra, kenapa sih kamu ngejauhin mas Zaki? Dia ganteng loh, semua santri di sini juga ngidolain dia. Udah ganteng, punya mobil, tajir, masa depan cerah, nggak tebar pesona, kelihatan banget tipe tipe setia.” Eki tak mengerti apa alasan Aira menjauhi Zaki. Dan Tasya mengangguk setuju jika Aira tak masuk akal sama sekali, menjauhi Zaki yang hampir sempurna. “Teman - teman, aku harus gimana? Kalian tau kan? Masalahku kemarin karena Mas Zaki. Aku harus menghindarinya biar gak dapat masalah lagi.” “Oh…” Eki dan Tasya kini mengerti apa alasan Aira menjauh dan cuek pada Zaki. “Tapi, Ra. Mas Zaki itu guanteng bwanget loh, kamu nggak takut kalau di luaran sana banyak cewek cantik yang ngincar dia? Cowok spek mas Zaki itu langka loh, rugi kalau kamu sia siain dia.” Tasya masih saja membela Zaki. “Biarin aja, lagian dia juga bukan apa apa ku. Eh ada angkot. Naik…!!!” Aira melambai lambaikan tangannya sambil berteriak pada pengemudi angkot. Memberi isyarat agar angkot yang masih berada di kejauhan berhenti di depan mereka. “Ya udah aku berangkat dulu, Sya.” ucap Aira saat Angkot semakin mendekat dan memelankan kecepatannya. Tasya pun mengangguk, lalu melambaikan tangannya saat Eki dan Aira masuk ke dalam angkot jenis mobil elf. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN