Hari-hari berlalu seperti kelopak bunga yang luruh satu per satu, dimakan waktu dan ditiup angin. Daun-daun beterbangan, membawa pergi luka-luka lama dari hati Aira. Perlahan, senyum gadis itu kembali mekar seperti dulu. Ia kembali ceria, menenggelamkan diri dalam kesibukan kampus bersama sahabat-sahabatnya, bersiap menyambut hari wisuda.
Hari itu lumayan sibuk bagi Aira. Setelah pulang dari TK, ia bergegas pergi ke kampus. Namun takdir hari itu tak begitu ramah. Dialah yang mengusulkan Pak Ari sebagai perwakilan dosen untuk memberikan sambutan, tapi justru ia yang ditunjuk menyampaikan undangan secara langsung kepada dosen killer itu. Meski dikenal bijak dan penuh motivasi, Pak Ari jarang mengajar di kampus Aira—kampus utama beliau berada di Elvara Nusantara. Menyampaikan undangan hanya lewat pesan terasa kurang sopan. Maka dengan berat hati, Aira menerima amanah menyampaikan undangan untuk pak Ari sebagai pembawa sambutan.
Siang itu, Aira mondar-mandir gelisah di trotoar depan kampus. Hasna, yang sedianya akan mengantarnya ke kampus Elvara Nusantara dengan motor, tak kunjung datang. Telepon pun tak diangkat.
“Kemana sih Hasna? Panas banget nih…” gerutunya sambil menggulir layar ponsel.
Tring… Tring…
Ponsel Aira berdering. Nama Hasna muncul. Segera ia menjawab.
“Hasna, kamu di mana? Udah siang banget!”
“Maaf, Ra… Motor aku tiba tiba mogok. Aku lagi dorong motor dari aula ke gerbang nih, capek banget. Tau sendiri jauhnya, kan?”
“Lima belas menit?”
“Lebih. Kalau jalan kaki, bisa setengah jam. Gimana dong?”
“Coba hubungi yang lain, Has. Minta yang lain buat anterin aku.”
“Oke, aku tulis di grup, ya?”
Pesan Hasna pun muncul di grup. Tapi komentar yang datang hanya berisi permintaan maaf—semua keburu pulang. Ada yang menyarankan agar Aira minta tolong panitia, tapi Aira tak dekat dengan mereka. Canggung rasanya minta tolong pada adik tingkat.
“Huh, nyebelin. Aku kan gak deket sama mereka…” gumam Aira pelan.
“Aira, aku bisa nganterin kamu.”
Aira mendongak. Dimas. Teman seangkatannya. Mereka pernah satu kelompok KKN, dan nanti juga akan wisuda bersama. Tapi tetap saja…
“Maaf, aku nggak boleh boncengan sama cowok, Dim.” Aira tersenyum kaku, menolak sehalus mungkin.
“Tapi waktu kamu udah mepet. Bisa atur ulang jadwal sama Pak Ari?”
Dimas ada benarnya. Janji telah dibuat. Membatalkannya bisa berarti kehilangan kesempatan. Ia tak ingin terlihat tak profesional.
“Sebentar, aku izin dulu.” Aira menelepon pengurus keamanan pesantren.
Beruntung, pengurus itu temannya sendiri. Izin diberikan, dengan syarat menjaga nama baik pesantren. Tak boleh macam-macam.
“Sip, kamu diizinin?” tanya Dimas begitu Aira menutup telepon.
“Iya. Tapi awas ya, jangan macem-macem.”
“Macem-macem gimana?” Dimas menaikkan alis.
“Misal… tiba-tiba ngerem.” Aira menunduk malu. Siapa pun tahu kalau rem mendadak bisa bikin penumpang terdorong ke depan…
Dimas tergelak. “Baik, Bu Ustadzah. Saya insyaAllah sopan.”
Pipi Aira langsung merah padam. “Duh, kenapa juga aku ngomong gitu…”
Tak berapa lama, motor dimas sudah melaju, membelah jalanan kota Jombang, kota dengan wajah seribu santri. Butuh waktu tiga puluh menit bagi motor Dimas untuk mencapai kampus Elvara Nusantara
Saat Aira kesulitan melepas helm, Dimas dengan sigap membantu.
“Makasih…” ucap Aira pelan.
“Jangan sungkan, Bu Ustadzah,” goda Dimas. Ia tampaknya menikmati menyebut Aira begitu.
Namun senyum Aira lenyap seketika saat mobil hitam di dekat mereka menurunkan kaca. Land Cruiser. Jantung Aira mencelos.
Dia? Kenapa dia ada di sini?
Zaki. Dan mata pria itu menyala dingin, memaku pandangannya pada Aira… dan Dimas.
Tanpa banyak bicara, Zaki turun dari mobil. Namun sebelum ia sempat mendekat, Aira buru-buru pergi, entah ke mana. Ia tak mengenal kampus ini, tapi berada di dekat Zaki membuat napasnya berat.
Dimas segera menyusul. “Ra, kamu kenal orang yang ada di mobil itu?”
“Enggak.” Jawaban singkat. Tapi nadanya gemetar.
“Serius? Tapi tatapannya ke aku… kayak pengen ngelabrak.”
“Udahlah, yuk cari ruang dosen. Pak Ari ada di Fakultas Sastra.” Aira melangkah cepat, tak menoleh. Tapi ia bisa merasakan tatapan Zaki masih membekas di punggungnya—panas, membakar.
—
Jam menunjukkan pukul satu siang. Aira keluar dari ruang dosen dengan wajah lelah namun lega. Pak Ari bersedia memberikan sambutan. Bahagianya tak bisa disembunyikan. Namun di balik senyumnya, ada kegelisahan yang mengendap. Ia masih memikirkan Zaki. Apa yang dia lakukan di sini?
Dimas mengajaknya makan siang. Tanpa banyak bicara, Aira mengikutinya ke kantin.
Setelah membeli makanan, mereka mencari tempat duduk kosong. Dimas lebih dulu duduk, namun saat Aira hendak duduk, seseorang lebih dulu menempati kursinya.
Zaki.
Aira refleks mundur dan berbalik. Dimas bingung, tapi mengikuti Aira tanpa tanya lebih lanjut.
“Ra, siapa dia?” tanya Dimas setelah mereka duduk di sudut kantin.
“Udah, gak usah dipikirin.”
“Oke. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa manfaatin aku.”
“Maksudnya?”
“Aku tahu dia suka kamu, tapi kamu nggak suka dia, kan? Manfaatin aku—biar dia cemburu.”
“Caranya?”
“Kalau aku duduk di dekatmu, pria itu pasti cemburu.”
Aira menggeleng cepat. Bukan Zaki yang cemburu. Justru aku yang bisa dapat masalah. Ia tak mau ada "kasus Aira jilid dua".
Selesai makan, Dimas menyulut rokoknya, sementara Aira pamit ke toilet. Di sana, ia merapikan diri—bedak tipis, liptint, sedikit menyegarkan penampilan.
Namun saat membuka pintu toilet, sosok Zaki sudah berdiri di depan.
Tatapannya tajam, gelisah, seperti menahan sesuatu yang membara.
Srak…
Tanpa peringatan, tangan Zaki menarik pergelangan tangannya. Membawanya ke balik tembok sepi di belakang toilet.
Bruk…
Tubuh Aira terdesak. Tak bisa melarikan diri. Tangan Zaki mengunci di kanan kirinya. Tubuh jangkung itu mengungkung tubuh mungilnya.
“Mas Zaki… A—apa yang kamu lakukan?” suara Aira nyaris tak terdengar.
Bersambung…