20

1542 Kata
Tubuh Aira seketika membeku saat melihat sosok pria berdiri di depan toilet wanita. Kaki panjang pria itu tampak gelisah, bergerak-gerak tak sabar. Tangannya bersedekap, sorot matanya tajam menyapu wajah-wajah yang keluar dari pintu, seolah mencari seseorang yang tak kunjung muncul. Sebagian perempuan yang lewat tersenyum genit padanya, melempar lirikan penuh makna, lalu berbisik dengan temannya. Tapi tidak dengan Aira. Ia tahu persis siapa yang sedang ditunggu pria itu. Dengan langkah panik, Aira berbalik menjauh, memilih arah sebaliknya. Namun baru satu langkah ia ambil, sebuah tangan dengan cepat menarik pergelangannya. Ia bahkan tak sempat berteriak. Tubuh mungilnya diseret ke sisi belakang toilet yang sepi, lalu didorong pelan ke dinding dingin. Aira terperangkap. Tak ada ruang untuk lari. Kedua tangan Zaki mengunci sisi kanan dan kiri, tubuhnya yang tinggi menjulang mengurung Aira seperti tembok kokoh tak tergoyahkan. “Mas Zaki… A—apa yang kamu lakukan?” suara Aira bergetar, nyaris tak terdengar. “Apa yang kamu lakukan dengan cowok itu di sini?” suara Zaki pelan, namun menyimpan bara. Ia berusaha keras menahan amarah yang menggelegak. Harusnya akulah yang bertanya, mengapa kamu ada di sini? Batin Aira, tapi suara itu tak bisa keluar, lidahnya terlalu kelu. “Aku… Dimas hanya mengantarku menemui dosen yang ada di sini.” “Kamu baru saja dapat hukuman berat setelah naik mobilku. Sekarang kamu berani naik motor pacarmu?” “Dia bukan pacarku!” Aira buru-buru membela diri. “Lalu?” Zaki membuang muka, tertawa sinis, lalu kembali memandang Aira, jarak wajahnya kini hanya satu jengkal. “Dimas cuman mengantarku, aku juga sudah izin sama keamanan.” “Bagaimana kalau kamu di apa apain? Cowok zaman sekarang sulit di percaya, Aira!” “Aku bisa jaga diri. Aku tahu kapan harus waspada. Jangan seperti ini, Mas….” Aira berusaha mendorong d**a Zaki, namun pria itu tetap diam di tempat, tak tergoyahkan. Zaki menunduk, wajahnya mendung. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya bertanya lirih, “Kamu tidak jaga jarak dengan cowok manapun, tapi kenapa jaga jarak dengan ku?” “Aku nggak mau ada yang lihat kita masih dekat. Biar semua orang tahu, antara aku dan kamu... tidak ada apa-apa. Tolong, Mas. Jangan seperti ini. Aku takut ada yang lihat. Keamanan putra bisa ada di mana-mana.” kamera pun setiap orang juga punya. Aira kembali mencoba melepaskan diri dari kuncian tangan Zaki. Tapi pria itu masih bergeming, seperti menolak melepas sesuatu yang nyaris hilang. Zaki menggeleng, “kamu nanti melarikan diri,” ucap Zaki pelan. “Setidaknya, sapa aku saat kita bertemu.” “Kenapa aku harus menyapamu? Kamu temanku? Guruku?” Aira balas bertanya, menatap penuh jarak. “Aku…” Zaki terdiam, seolah kehilangan definisi untuk hubungannya dengan Aira. “Kita saling mengenal. Itu wajar, kan?” Aira menggeleng tegas. “Aku nggak mau ambil risiko. Aku bahkan benci kamu. Untuk apa menyapa?” “Kenapa membenciku? Apa karena aku pernah mengajak mu masuk ke mobil dan mengantarmu sampai pondok?” “Bukan.” “Karena aku telat menolongmu?” “Bukan.” “Lalu apa salah ku?” Aira membuang muka, seolah tak siap dengan kata kata yang harus di ucapkan. Sedang Zaki frustasi menunggu. Aira kini menatap Zaki. “Dulu…, kamu pernah menyentuhku, aku benci.” “Aku dokter, wajar aku pasienku.” “Bukan itu.” “Hah?” Zaki tak mengerti maksud Aira, mencoba mengingat lagi, sentuhan mana lagi yang dulu pernah ia lakukan pada Aira? “Kamu pernah memelukku waktu di rumah makan. Ingat kan?” Zaki diam, hanya memandang dalam dalam netra bening Aira. “Apa itu bagian dari tugas dokter?” Tanya Aira dan Zaki lagi lagi hanya diam. “Plis tanganmu jangan gini, Mas. Aku takut ada yang lihat.” Aira mendorong sebelah tangan Zaki. Tangan itu akhirnya tak kuat menahan kekuatan Aira, atau ia sengaja mengendurkan pegangannya? “Aku kira waktu itu kamu mau jatuh. Makanya aku refleks menarikmu. Tapi kamu malah jatuh di pelukanku. Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu itu menyakitimu…” “Sudah basi!” “Tampar aku kalau itu bisa membuatmu lega.” Zaki merendahkan wajahnya, menyodorkan pipinya. “Aku nggak mau menyentuhmu.” Aira menyingkirkan wajah Zaki dengan tas, jijik dan marah bercampur jadi satu. Zaki menarik napas cepat. “Sekarang gak ada alasan lagi untuk membenciku. Jadi, tolong, sapa aku saat kita bertemu.” “Nggak mau.” wajah Aira memaling, matanya merah karena amarah dan pilu yang dipendam. “Kenapa? Apa aku masih bersalah?” “Aku tidak ingin lagi jadi bahan gosip,” kata Aira pelan. “Cukup, Mas. Kabar itu beredar seperti angin, dan saat sampai di telinga pengurus, selalu berubah rupa. Aku tidak mau lagi jadi bahan gunjingan. Nama ku sudah cukup buruk di mata anak anak dan pengurus.” “Jadi kita hanya dua orang asing sekarang?” suara Zaki serak, getirnya tak mampu disembunyikan. “Jangan pernah menyapa ku lagi. Jika aku lewat, anggap aku tidak ada. Kalau aku jatuh, jangan tolong. Jika kita tabrakan, langsung pergi seolah tak terjadi apa-apa.” Zaki mengangguk pelan. Perlahan, ia mundur. “Baiklah, jika itu yang kamu mau. Mulai sekarang, kita orang asing.” Ia melangkah pergi. Tap. Langkah Zaki terhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, “Aku pesankan ojek. Jangan minta bonceng cowok itu lagi.” Langkah kaki Zaki hampa menapak dinginnya lantai. Berjalan menjauh dari toilet. Tring tring tring… Zaki langsung mengambil ponselnya yang berteriak di saku celana. “Mama sudah selesai mengajar?” tanya Zaki, lalu diam sejenak. “Aku tunggu di tempat parkir sekarang. Aku belum pulang masih ada di kampus.” usai menutup telponnya kaki panjangnya melangkah menuju area parkir. Zaki tak menoleh sedikitpun ke arah toilet. Tak tau jika Aira belum juga keluar dari sana. Bruk… Tubuh Aira lemas, jatuh ke tanah tak berdaya. Ia lega Zaki akhirnya menjauh, tapi entah mengapa ada dinding di hatinya yang tiba tiba terasa hampa, dingin seketika menyelimutinya. Aira memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya dalam kaki kakinya, air matanya seketika tumpah. ‘Maafkan aku, Mas Zaki. Kita tidak punya pilihan selain menjauh.’ bahu Aira bergetar menahan tangisnya. ‘maaf, aku bahkan tidak pernah mengatakan terima kasih, padahal kamu sudah sangat baik, entah sudah berapa banyak perhatian dan pertolongan yang kamu berikan waktu di rumah sakit, kamu juga sudah menyelamatkan nama baik ku. Maafkan aku, maaf…’ dalam diam Aira menangis, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis nya yang ingin menjerit. --- “Tumben belum pulang,” ucap seorang wanita yang baru masuk ke mobil. Meski telah menginjak usia lima puluh, kecantikannya tetap terpancar anggun. “Ada sedikit urusan,” jawab Zaki datar, masih memandang lurus ke depan. “Kamu marah?” Santi, sang ibu, langsung menangkap nada aneh di suara putranya. “Nggak,” Seketika Zaki menggeleng, membuang muka, menatap apapun yang ada di sampingnya. Nafasnya berat, sial sekali, ibunya langsung memergoki situasi hatinya. “Kalau ada masalah, cerita sama mama atau papa. Jangan disimpan sendiri. Ingat, kamu nggak boleh kayak dulu lagi. Nyimpan masalah berat sampai depresi, kurus, sampai hampir pingsan waktu kerja gara gara kekurangan gizi. Mama nggak mau kamu nyimpen masalah besar kayak dulu waktu kamu masih di Jakarta.” Santi menatap serius putranya. Ia geleng geleng kepala saat mengingat putranya yang suka memendam masalah nya. “Iya iya, aku akan cerita kalau dapat masalah.” jawab Zaki sembari menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil meninggalkan tempat parkir. Dari kejauhan, matanya lalu menangkap Aira yang naik motor ojek wanita. Zaki memang memberi foto Aira yang ia dapat sewaktu Aira tidur di mobilnya. Memberi tugas pada si driver ojek agar menemukan Aira di sekitaran kantin kampus dan toilet, jika si driver mampu menemukan Aira dan berhasil mengantarnya ia akan memberi bonus untuk si driver. “Gimana perkembangan hubungan mu sama cewek incaranmu? Sejauh apa hubungan kalian?” Tanya Santi seraya membuka lilitan kerudung di leher. “Aku masih mengusahakan.” “Masih mengusahakan?” Santi menoleh cepat pada Zaki. “Ini sudah bertahun tahun Zaki, dan kamu masih bilang mengusahakan? Kamu selalu mengatakan ini sejak adikmu Sofia menikah dan sekarang sudah hamil, dari Raya adik bontotmu yang baru lulus kuliah dan sekarang udah lamaran, dan sekarang kamu masih bilang mengusahakan? Sebenarnya kamu udah punya calon belum?” Santi jadi ragu dengan perkataan putranya. Jangan jangan selama ini dirinya cuma dibohongi? “Sudah ada, Ma.” “Oh ya? Kalau begitu bawa dia ke rumah.” “Dia nggak akan mau.” “Kalau begitu bawa dia ke restoran, kita janjian di sana.” Zaki menggeleng, “dia juga nggak akan mau.” “Mama tau, kamu selama ini bohong kan kalau udah punya calon?” “Demi Allah, aku nggak bohong. Aku punya.” “Kalau begitu bawa dia menemui mama, entah itu dimanapun, di pinggir kali, di pinggir jalan, di taman, dimana ajalah, terserah, mama cuma pengen tau dia aja.” “Jangan sekarang. Dia nggak akan mau.” “Terus kapan mama bisa lihat dia? Tunggu, jangan jangan calon mu cewek nggak bener?” Zaki tertawa. “Santai, Ma. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang kemarin. Kali ini aku benar benar hati hati nyari calon istri.” “Sampai bertahun-tahun?” Zaki mengangguk. “Oke, mama tunggu calon mu menemui, Mama. Tapi jangan lama lama ya?” “Iya.” Zaki menghela nafasnya berat. Tidak yakin kapan ia bisa membawa gadis itu pada orang tuanya. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN