21

1177 Kata
Langit masih berselimut kabut tipis. Tumpukan kardus teronggok sembarangan di ruang tamu, menciptakan kesan rumah yang belum benar-benar jadi. Isa berdiri di tengahnya, tangan di pinggang, menatap ruangan yang masih kehilangan bentuk. Srak… Dengan tenaga sekenanya, Isa menyeret sofa, memojokkan semua sudut yang harusnya berbentuk L, lurus menempel di dinding. “Kok dipindah, Mas?” tanya Andin pelan, dahinya berkerut, memperhatikan suaminya yang kini sibuk menarik meja kecil dan meletakkannya di samping sofa. Andin ingin tertawa—ingin sekali. Tapi ya sudahlah. Harusnya meja itu di depan sofa, bukan di samping. Tamu yang duduk paling ujung pasti akan kesulitan menjangkau gelas minum. “Sofa jangan ditaruh deket jendela, nanti yang duduk bisa kepanasan kena matahari. Terus ini... bunga, taruh di luar aja. Bahaya kalau ada ulatnya.” Isa menunjuk tanaman di dekat meja, dan tanpa protes, Andin segera membawanya ke luar. “Tanaman bagusnya memang di luar. Nanti kita beli rak, bunga-bunga bisa disusun di situ, biar rapi.” Isa menambahkan saat Andin kembali masuk. “Gimana? Bagus, kan? Ruang tamu minimalis kita.” katanya bangga. Andin mengangguk pelan. “Tapi tengah-tengahnya kosong banget. Gimana kalau dikasih karpet?” usulnya. “Enggak usah. Nanti malah sempit. Bahaya kalau ada anak kecil lari, bisa kepleset.” Mata Andin langsung berbinar. “Kamu berencana punya anak?” “Siapa bilang anak kita? Maksudku anak tetangga. Atau anak-anak TK Aira. Rumah kita kan deket dari sekolahnya. Siapa tau mereka mau main ke sini. Nanti aku beli bandulan, perosotan biar mereka mau main ke sini.” Andin tersenyum kecut. Nama Aira, seakan selalu mengintai dari balik setiap ucapan Isa. “Beli juga trampolin, Mas. Lumayan buat olahraga.” Isa terkekeh. “Masuk… Pinter kamu, Ndin.” Sepanjang pagi, Andin menuruti semua arahan Isa—meja, rak, tirai, susunan bantal, semua harus sesuai selera suaminya. Selera yang… yah, bisa dibilang unik. Warna-warni tabrakan, tapi Isa tetap yakin ruang tamunya paling oke. --- “Perfect. Ruang tamu dan ruang keluarga kita udah kayak apartemen Jepang,” ucap Isa bangga. “Iya, Mas. Jepang… bagian provinsi Jawa Timur,” sahut Andin sambil menahan tawa. “Kamu ngejek desainku? Aku ini dulu selalu jadi pendesain kamar pondok, dan kamar ku selalu menang lomba keindahan kamar. Mending aku daripada kamu cuma bisa berdiri dan gak ngerti cara menata barang.” “Siapa yang ngejek? Aku bangga, Mas.” Andin tahu, untuk tinggal di sisi Isa, ia harus pandai membelai egonya. Dan saat ada waktu yang tepat, ia akan memperlihatkan desain ruang tamu minimalis yang sesungguhnya. --- Malam pun turun, lembut dan syahdu. Sekuntum bunga mekar di hati Andin saat Isa untuk pertama kalinya menjadi imam salat Isya. Dan saat usai salat, Isa menyodorkan tangan—Andin mencium tangan itu, membaliknya, menciumnya lagi. Tapi saat wajahnya mendekat ke wajah Isa… “Ngapain kamu?” Isa melongo. “Dahi kamu kenapa deket banget sama bibirku?” “Aku udah cium tanganmu. Harusnya kamu cium dahiku, kan?” “Ngga mau! Parfummu nggak enak.” Isa langsung membalik badan. Andin hanya tersenyum sambil melipat mukena. Ada baiknya juga Abah mengusir Isa dari pesantren. Kini pria itu mulai terbiasa dengannya. Meskipun belum mencintai, setidaknya tidak lagi memusuhi. Ya Rabb… mungkinkah doa-doa panjang yang selalu ia titipkan di sepertiga malam itu mulai mengetuk langit? --- “Mau tidur di sini, Mas?” Andin terkejut melihat Isa menaruh bantal di atas karpet bekas tempat salat. “Kalau nggak di sini, aku tidur di mana?” “Di ranjang.” “Terus kamu?” “Kita tidur sama-sama.” Isa menarik napas panjang, lalu merebahkan diri. “Kamu bukan tipeku.” Andin tersenyum tipis. “Ya udah, aku juga tidur di sini.” “Terserah.” Isa membelakangi. Dengan hati yang digigiti kecewa, Andin pun merebahkan diri. Dan sebelum memejamkan mata, ia kembali menyebut nama Isa dalam doanya—nama yang selalu ia bisikkan dalam wirid panjang penuh harap. --- Pagi ini cerah, secerah harapan Andin yang kian bermekaran. Dan ia mulai terbiasa membuat sarapan sederhana untuk dirinya dan Isa, dan saat mencuci piring ia keheranan melihat Isa yang sudah berpakaian rapi. Jika mengajar di sekolah pesantren ia harusnya memakai kemeja dan celana formal, namun ia memakai outfit hangout. Celana beige dan kaos oblong warna putih dengan jaket warna navy siap menggoda mata wanita manapun, termasuk Andin yang diam diam berdecak kagum dalam hati. Sejenak ia lupa jika makhluk mengagumkan itu sangat menjengkelkan. Dan pria keren itu miliknya. “Mau ke mana, Mas?” tanya Andin. “Haruskah aku melapor semua urusanku?” Isa merapikan rambutnya di depan lemari kaca. “Gimana kalau Abah atau umi telpon nanyain kamu?” Isa menghela nafas jengkel. “Bilang aja aku ke rumah Mas Zaki. Mau tanya di mana rumahnya?” Isa bisa membaca isi kepala Andin. Dan Andin hanya mengangguk. “Rumah nya gak jauh dari sini. Tinggal nyabrang jalan, rumahnya ada di perumahan sebelah.” Sebelum Andin bertanya ada urusan apa ke sana? Isa sudah keluar, mengeluarkan motor Kawasaki ninjanya. Buru buru Andin mengejarnya, ia ingat sekolah TK Aira di tepi jalan, tepat di samping perumahan yang disebut Zaki. Benarkah ia pergi ke rumah Zaki? Untuk apa? Bukankah hubungan keduanya kini sedang memburuk? Jangan bilang pria itu sebenarnya mau ke sekolah TK Aira. “Mau apa kamu ke rumah Mas Zaki?” Andin memberanikan diri bertanya sesuatu yang lebih pribadi. Tak peduli jika ia melewati batas. “Ada urusan, udah kamu nggak perlu tau.” Isa menaiki motornya, menghidupkan mesin. Perlahan Andin memegang jari kelingking Isa, menggenggamnya lembut. “Plis… jangan pergi ke tempat Aira.” “Kamu mulai melarang larang ku?” Tatapan Isa jengkel. “Kamu harus hati-hati. Jangan sampai orang-orang lihat kamu mendekati Aira. Cepat atau lambat warga sini pasti tau kita sudah nikah apalagi kamu putra pemilik pesantren Nurul Ilmu” “Kenapa? Sekarang kamu mulai membatasi aku? Jangan bikin aku muak, Andin.” Andin menggigit bibirnya. Menahan air yang sudah berdesakan di pelupuk matanya. “Kalau gak mau sakit hati jangan pernah tanya urusan ku. Mending kamu siap siap ngajar. Urusi sendiri urusan mu.” ucap Isa dingin, bersiap naik motor. Grep… Tiba-tiba Andin memeluk tubuh Isa dari belakang. “Katakan padaku, apa yang kurang dariku? Aku harus bagaimana? Harus seperti apa?” Suaranya gemetar, pelan, namun menghujam: “Katakan… apa yang kurang dariku? Aku harus bagaimana? Harus jadi seperti apa?” Isa mencoba melepaskan diri, tapi Andin mengunci tubuhnya. “Aku bisa memberikan apa yang tak bisa Aira berikan.” “Sekarang?” Tanya Isa. Andin mengangguk. Tangan itu kini mengendur. Membiarkan Isa berputar, berdiri saling berhadapan. “Apa yang bisa kamu berikan?” Tanya Isa. “Apapun yang kamu minta.” Pikiran Andin membuncah, tentu saja ia akan memberikan tubuhnya. Kata kata yang belum pernah ia ungkapkan untuk Isa. “Menghilangkan dari pandangan ku!” Isa mengibaskan tangannya di depan wajah. Dan Andin pun seketika membeku. “Nggak faham maksudku? Pergilah dari hidupku, Andin. Bisa?” Sebelah bibir Isa terangkat, teratawa sinis. Ia lalu mendekatkan wajahnya, berbisik. “Jangan membuat janji yang tidak bisa kamu tepati.” Gumam Isa. Lalu melesat pergi dengan motor kesayangannya. --- Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN