22

1295 Kata
Pagi itu, suasana Pesantren Nurul Ilmu terasa lebih semarak dari biasanya. Aira melangkah pelan, sepatu flat salemnya menyusuri kerumunan para santriwati yang berebut jalan menuju halaman utama. Riuh suara tawa dan sorak para santri menyambutnya, seolah pagi itu menyimpan cerita yang belum usai. Tak hanya para santri dari sekolah formal, seluruh penghuni pesantren—baik putra, putri, hingga para pengurus—diwajibkan hadir dalam kegiatan penyuluhan daur ulang limbah menjadi aneka produk bermanfaat. Diselingi permainan seru dan bazar makanan, halaman pesantren menjelma jadi pasar tawa dan canda. Namun Aira hanya menepi sebentar. Jadwal mengajarnya di TK bertabrakan dengan kegiatan penyuluhan. Ia menatap sejenak suasana yang ramai, lalu matanya tertumbuk pada bangunan kecil di pojok kanan: klinik pesantren. “Hayo… ketahuan… nyari mas Zaki kan?” Tasya tiba tiba menepuk bahu Aira dari belakang. Tawanya jadi terpingkal pingkal saat mata Aira melotot, kaget sekaligus malu “Ih, siapa yang nyari Mas Zaki.” Aira memutar matanya sebal. “Alah…, gaya mu ini loh, Ra. Bikin aku gemes. Udah jelas kamu suka sama Mas Zaki tapi masih nggak mau ngaku, pake blokir nomer Mas Zaki pula.” Tasya melingkarkan tangannya di pundak Aira, menahan Aira sejenak. “Nggak nggak nggak…! Aku nggak suka sama dia, Tasya!” sangkal Aira. “Kalau nggak suka ngapain suka lirik lirik klinik? Jangan bilang kamu nyari Mas Deri yang bantu bantu di klinik.” “Kenal juga nggak... ngapain dicari?” “Nah…, iya kan? Yang kamu kenal kan Mas Zaki, itu artinya yang kamu cari mas Zaki. Ada apa sih sama kalian? Sama saling suka tapi jaga jarak? Greget banget pengen jadi Mak comblang kalian deh. Entar siang, habis kegiatan tak kasih tau mas Zaki kalau kamu nungguin cintanya.” usai berkata seperti itu Tasya berlari, menyelinap lincah di antara para santri, Aira berbalik hendak mengejarnya namun urung ia lakukan saat melihat jam di tangannya. Sebentar lagi jam masuk sekolah TK segera dimulai. Namun saat ia berbalik, tubuhnya menabrak sesuatu. Jantungnya nyaris meloncat keluar— ia menabrak mobil. Dan di balik kemudi, Zaki menatapnya dengan tatapan khawatir. Zaki segera keluar, menghampirinya, “Ada yang terluka?” Tangannya cepat menarik Aira menjauh dari mobil. Namun Aira hanya diam, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Wajahnya datar, lalu ia melangkah pergi. Zaki berdiri mematung. Bibirnya berdecak pelan, menyesali perasaan yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Mereka pernah saling mengenal—sekarang seolah tak pernah ada. Beberapa santri yang tahu cerita mereka mulai berbisik-bisik. Bahkan tokoh penting di pesantren juga memperhatikan mereka. Aira menunduk, hatinya makin riuh oleh yang tak bisa ia ucapkan. — Tenggelam dalam kesibukan, larut dalam perannya sebagai guru TK, sejenak membuat Aira melupakan Zaki. Selama ini Aira sebenarnya sadar pesona Zaki. Tapi ia yang terlalu rapuh dengan cintanya untuk Isa, membuatnya tak peduli dengan Zaki. Ia bahkan mengerti diam diam Zaki sejak dulu memperhatikannya, yang tidak ia mengerti bagaimana perasaan Zaki padanya? Untuk apa hanya memperhatikannya? Hanya ingin saling bertegur sapa? Namun ia juga sadar diri, pria setinggi Zaki tidak akan mungkin menyukainya. Kaya raya, dari keluarga terhormat, pekerjaan nya bermartabat, bahkan fisiknya jauh melampaui rata rata, tampan, tinggi, dan badannya yang kekar membuat wanita manapun menyukainya. Dan Aira yang tau diri segera menjauh, mengucilkan rasanya, biar saja menjadi kerdil dan perlahan menghilang. “Bu Ai…, Farel nakal, teman teman gak boleh gantian naik bandulan.” Salah satu murid Aira mengadu ke kantor. Menoleh sejenak ke arah guru guru lain. Dan dari sorot mata mereka mengatakan, kamu atasi sendiri ya Aira, kamu kan yang dapat aduan. Aira mau tak mau segera bangkit, dan mengikuti jalan muridnya. Nafasnya menghela tiap kali dapat aduan tentang farel. Anak itu sudah setengah tahun masuk sekolah tapi masih belum bisa bicara, selama ini memang ada perkembangan tapi itu sangat sedikit, hanya kata ibu, ayah, Bu guru, dan ia juga biasa menirukan kata kata sederhana yang di ucapkan teman temannya. Sebenarnya Farel tidak nakal, ia bahkan jarang menangis, hanya belum mengerti cara bersosialisasi dengan temannya, dan cara bersikapnya yang egois justru membuat teman temannya merespon nya, sehingga membuat Farel tanpa sadar terus membuat masalah agar teman temannya merespon dirinya. Dan hari itu, Aira mendadak jadi babysitter untuk farel dan anak anak yang lain, memberi mereka pengertian bagaimana seharusnya saling berteman, ia bahkan harus menggendong farel agar tak membuat rusuh. Kring… Bel sekolah berbunyi. Pelajaran kedua segera dimulai. Aira bernafas lega. Akhirnya selesai juga drama anak TK yang ia hadapi. Jam pelajaran kedua berjalan lancar, walau ada saja tingkah anak yang tak bisa diam seperti halnya farel. Selalu berlari lari, diam diam menyelinap keluar dari pintu kelas dan membuat gaduh kelas sebelah. Kelas sebelah yang mengadu seketika membuat Aira menyusul Farel dan menggendongnya, lalu membawanya ke kelas. Tak ada pilihan lain selain memangku anak itu hingga jam pelajaran usai. Aira pikir semua kesibukannya hari ini akan usai setelah sekolah usai. Ia salah, nyatanya para guru sudah pulang semua karena sibuk dengan berbagai alasan membuat Aira harus pulang paling akhir. Baru bisa pulang setelah semua anak anak pulang. Sepuluh menit berlalu, tinggal beberapa murid yang belum di jemput, tiga puluh menitpun berjalan, tapi Aira masih terpenjara di sekolah, hatinya ketar ketir karena tinggal dirinya dan si super aktif yang tak banyak bicara, buru buru ia mengunci pintu gerbang, anak itu bisa hilang tanpa suara. Dan akan percuma jika ia panggil panggil saat mencarinya. Karena Farel tak pernah menyahut jika seseorang memanggilnya seolah tak mendengar. Entah sudah berapa kali Aira menelpon ibunya Farel tapi selalu tak di jawab, telponnya bahkan selalu dalam mode memanggil sejak tadi, dan Aira tak tahu harus sampai kapan menjaga Farel di sekolah. Ingin mengantarnya tapi apalah daya ia tak punya kendaraan. Mengantarnya sambil jalan kaki? Tidak mungkin, Farel seolah datang dari planet lain yang tak mengerti bahasa manusia bumi, hanya memperhatikan saat orang bicara setelah itu ia asik dengan kegiatannya sendiri. Aira frustasi. Dan lalu… Gedebug! Tiba tiba suara debum keras sesuatu terjatuh di tangga terdengar di halaman sekolah. Buru buru Aira berlari ke halaman, pikirannya semakin tak karuan saat melihat Farel berada di bawah anak tangga perosotan. Perosotan itu tak tinggi tapi cukup membuat siapapun khawatir jika ada yang terjatuh dari sana. “Farel, kamu kenapa nak? Mana yang sakit?” tanya Aira dengan berlinang air mata, takut sesuatu yang buruk terjadi pada farel, dan ia tak kuasa menahan air matanya tatkala melihat pelipis anak itu mngucurkan darah segar. Tunggu di sini ya? Jangan kemana mana. Ibu ambil kapas dulu.” Ucap Aira panik, air mata tak henti mengalir dari netra beningnya, suaranya bergetar tiap kali bicara. Aira pun bergegas masuk ke kantor, tangannya gemetar mengaduk aduk kotak p3k, mencari kapas dan obat luka. Setelah mendapatkan ia segera ke arah Farel yang terlihat santai. Anak itu bahkan tak menangis sama sekali, justru kini berjalan ke kursi putar. Hendak memutar, namun Aira menghentikannya, menyeka darahnya. Memberinya obat, namun semua usahanya sia sia, darah terus mengucur, bahkan baju farel kini belepotan dengan darahnya. Aira panik, darah farel yang terus merembes, mengalir mengotori wajah, leher hingga bajunya. Aira takut bagaimana jika pendarahan itu lebih dalam dari yang ia pikir? Ia harus segera membawa Farel ke dokter, tapi ia bingung, harus minta tolong pada siapa? Kendaraan pun tak punya, teman sudah tak ada. Setelah mengunci kantor, Aira segera ke tepi jalan, berdiri sambil memegangi tangan Farel, air mata tak henti mengalir, berusaha berbicara tenang pada Farel dengan suaranya yang bergetar. Menit yang berlalu terasa lambat bagi Aira, angkot yang ia tunggu tak kunjung ada yang lewat, bahkan farel yang kehilangan kesabaran berlari kembali ke halaman sekolah, bermain seolah tak tau jika pelipisnya berdarah darah Dan Aira—yang sejak pagi menahan segalanya—akhirnya duduk lemas di trotoar. Tangisnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya. Tak peduli pada siapa pun yang melihat. “Ada apa, Aira?” Suara lembut seorang pria menghampirinya. Aira mendongak. Tangisnya seketika terhenti. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN