Terik siang membakar aspal. Seorang pria menyalakan mesin mobil dan masuk ke dalamnya, menyerahkan dirinya pada sejuknya AC.
Zaki tak berniat berlama-lama di kampus. Ia hanya mengantar ibunya sebentar. Di pesantren sedang ada acara, dan kemungkinan terjadi kecelakaan lebih besar dari biasanya. Ia tak ingin lengah.
Saat mobilnya melaju, matanya menangkap sosok gadis yang tengah menangis di tepi jalan.
“Aira?” gumamnya, mengerutkan dahi, lalu menepikan mobilnya.
‘Kenapa dia menangis seperti itu? Apa ada yang melukainya? Atau… habis kecelakaan?’
Pikirannya terlempar pada pagi tadi—saat Aira tiba-tiba muncul di depan mobilnya. untunglah mobilnya berjalan pelan dan waktu menyadari ada Aira di depannya refleks mobil Zaki berhenti, tapi Aira justru menabarak mobilnya. Ada apa dengan gadis itu? Apa tubuhnya punya hobi tertabrak mobil?
Bruk!
Zaki menutup pintu mobil. Kaki panjangnya melangkah cepat menghampiri gadis itu.
Ia berjongkok di hadapan Aira, melihat wajah yang tersembunyi di balik tangis.
“Ada apa, Aira?” tanyanya, lembut namun cemas.
Hatinya mencelos saat melihat noda darah di tangan Aira. Wajah itu basah oleh air mata. Dan Zaki baru tau ada gadis yang semakin cantik saat menangis.
“Mas Zaki…” rintih Aira saat melihat Zaki, pelan, nyaris tak terdengar.
dan entah apa yang merasuki Aira, gadis itu tiba tiba menubruk tubuhnya, Zaki terjatuh, terduduk di atas trotoar dingin. Aira memeluknya erat. Tubuhnya bergetar. Tangisnya pecah di pelukan Zaki.
Zaki membeku. Ingin membalas pelukan itu, menepuk lembut punggung Aira agar tenang. Tapi ia ragu. Takut salah melangkah. Ia hanya bisa diam, membiarkan Aira menumpahkan luka yang tak terucap di ceruk lehernya.
“Apa yang terjadi, Aira?” bisiknya perlahan, di sela isak itu.
Srak…
Aira menarik diri. Menatap wajah Zaki dengan sorot terperangah. Bibirnya terbuka, seolah baru bangun dari tidur.
Bruk!
Aira mendorong tubuh Zaki hingga pria itu terjengkang.
“Maafkan aku, Mas… aku…” suaranya tercekat menahan tangis.
“Aku mengerti.” Zaki mencoba tetap tenang meski dadanya bergemuruh.
“Mas Zaki, tolong aku.” Aira menyeka air matanya, tangannya gemetar.
“Farel…, dia kesakitan…, dia jatuh, tadi lari-lari terus, aku sudah telpon ibunya tapi nggak di angkat, gara gara aku telfon, dia berdarah, dia…,”
“Cukup!” Zaki menyela dengan tegas namun lembut, walau keterangan Aira kacau, ia bisa menangkap maksud gadis itu, farel berdarah. “Mana Farel?”
Aira menoleh panik ke halaman, lalu menarik Farel ke hadapan Zaki. Dahinya berdarah, ditutup seadanya dengan kapas dan plester yang sudah lepas. Darah kental masih menetes perlahan.
“Sakit?” tanya Zaki sambil berjongkok.
Farel menggeleng. Tanpa menunggu izin Aira, Zaki mengangkat bocah itu, menggendongnya ke dalam mobil.
Aira diam, alisnya bertaut, memandang ragu mobil Zaki yang terbuka, Farel sudah duduk di dalam nya.
“Masuklah!” perintah Zaki, namun Aira menggeleng.
Aira teringat, trauma tiba tiba menghantuinya, gara gara mobil itu, ia terkena masalah besar. Lalu apa yang kau lakukan tadi, bodoh? Kamu baru saja memeluk Zaki, selamat Aira kau sudah menggali kuburmu sendiri.
“Oke-oke kita jalan saja.” Zaki menggendong Farel, lalu menutup pintu mobilnya.
“Jalan?” Aira membeo, kapan mereka tiba di klinik kalau sambil jalan? “Kamu sama farel naik mobil aja, aku…, naik angkot.” Tapi angkot sialan itu dari tadi tidak muncul.
“Kita jalan aja, tempat praktek papaku nggak jauh.”
Aira ragu sedekat apa tempat praktek sampai bisa jalan?
Baru saja belok, masuk ke perumahan elit, Zaki berkata, “kamu lihat rumah putih itu?” Zaki menunjuk sebuah rumah kecil warna putih, dindingnya berlapis keramik putih, jendela dan pintu berwarna abu abu, pagar putih terlihat terkunci rapat, “Itu tempat praktek papa ku, kadang aku juga menggantikan nya.”
Aira mengangguk, tersenyum lega. “Terima kasih, Mas.” Aira memandang Zaki sekilas, senang Zaki membalas senyumnya.
Di depan gerbang Zaki merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa kunci lalu membuka gerbang dengan salah satu kunci.
Hati Aira semakin lega saat Zaki membuka pintu klinik, di sampingnya tertulis jam buka dan tutup klinik di pagi dan sore hari aroma obat seketika menyergap hidung Aira.
Perasaan lega luar biasa menyelimuti hati Aira tatkala Zaki masuk ke sebuah kamar, menaruh Farel di ranjang lalu melakukan tos bersama. “Anak pintar.” Puji Zaki pada Farel dan anak itu tersenyum senang.
Aira mengecek ponselnya. Tak ada balasan dari orang tua Farel. Ia menghela nafas berat.
“Sini,” panggil Zaki.
“Alihkan perhatiannya. Aku akan menyuntik anestesi.”
Aira sigap membuka ponselnya. Video anak-anak muncul. Farel tersenyum kecil, perhatiannya teralihkan sempurna. Bahkan saat Zaki menyuntik, hingga menjahit luka, bocah itu tetap tenang. Aira menemaninya, sesekali bercanda agar suasana tetap hangat.
Perawatan Farel selesai dengan menempelkan plaster untuk menutup lukanya. Tepat saat Zaki merapikan plester, ponsel Aira berdering, ia pun keluar dari ruangan, kakinya tanpa sadar masuk semakin dalam. Lalu melihat sebuah pintu di bagian belakang. Ini pintu ke halaman belakang? Tebak Aira, ia akan mengangkat teleponnya di halaman belakang.
Klek!
Pintu itu ternyata tidak terkunci.
“Halo, Assalamualaikum…” Aira berjalan keluar halaman belakang.
Langkahnya terhenti. Mata Aira membelalak.
Ini bukan halaman belakang. Tapi… halaman utama sebuah rumah megah.
Rumah besar yang tersembunyi di balik pagar tinggi dan bangunan kecil yang tadi mereka masuki.
“Hallo Bu Aira. - Hallo? - Bu Aira? - Apa dia gak dengar ya? - Halo?” Suara itu akhirnya menyadarkan Aira,
“I-iya, mama Farel?”
“Maaf, saya baru jemput Farel, tadi antri beli sembako murah, dan hp saya tinggal di rumah soalnya masih di cas.” Jelasnya.
Aira lalu menjelaskan jika farel sedang di klinik, dahinya bocor karena terjatuh dari perosotan. Awalnya ibunya Farel terdengar syok, menanyakan bagaimana itu bisa terjadi? Aira pun meminta maaf, karena tak bisa sepenuhnya mengawasi Farel apalagi ia harus menelpon bolak balik agar ibu farel segera menjemput. Aira pikir akan lebih aman jika Farel sendirian tanpa teman. Tapi nyatanya ia salah.
“Mamanya Farel?” Zaki tiba-tiba muncul. Aira mengangguk.
“Dia nunggu Farel di sekolah,” ucap Aira pelan, menjauhkan ponsel dari bibirnya.
“Ya sudah kamu tunggu di sini, aku akan antar farel ke sekolah,” kata Zaki.
Sebelum Aira berkata ‘tidak perlu, aku bisa mengantarnya sendiri’ Zaki sudah masuk kembali ke klinik, menggendong farel keluar.
Aira lalu berkata, agar ibunya Farel tenang, karena luka Farel sudah di jahit, dan sekarang sedang di antar Zaki ke sekolah. Setelah berkata seperti itu, Aira menutup telpon. Sejenak matanya memandang rumah megah tersebut.Gosip jika Zaki kaya raya rupanya memang benar.
Aira bergegas masuk lagi ke klinik, rumah megah itu entah mengapa membuat dirinya seperti gembel, bagaimana jika orang di rumah itu melihat seseorang tak dikenal muncul? Gembel seperti dirinya pasti dikira pengemis atau…, pencuri?
Aira merapikan ruangan yang dipakai memeriksa pasien, membuang kapas dan perban bekas.
Bruk…
Terdengar pintu di depan di tutup, Zaki sudah kembali. Pikir Aira dan bergegas keluar menemui Zaki. Namun tubuhnya seketika mematung.
“Gus Isa?” suara itu keluar seperti bisikan ketakutan.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” gumamnya.
Isa tersenyum miring. Sebelah alisnya terangkat.
“Harusnya aku yang bertanya, Aira.”
Tubuh Aira mundur. Isa maju.
Bruk!
Punggung Aira menabrak dinding.
Kini ia merasa seperti tikus kecil yang terpojok, dan Isa—adalah kucing lapar yang siap memangsa.
Bersambung…