Aku segera berlari menuju ke kamar mandi, Erlanda benar benar membuatku malu seharusnya ia sejak awal memberitahuku tapi ia malah mengejekku. Sesampainya di kamar mandi aku melihat ada sebuah cermin yang terpajang di sudut kamar mandi, kenapa tadi malam aku tidak melihatnya. Aku berdiri memperhatikan wajahku tak ada iler seperti yang dikatakan oleh Erlanda, Erlanda berbohong ia sengaja mencari bahan untuk menertawakanku. Kemudian mataku memperhatikan luka lebam yang ada, cukup parah tapi ini jauh lebih baik untung saja Erlanda dating tepat waktu, kedatangan Erlanda bagaikan secercah harapan bagi hidupku, aku kira taka da siapapun yang akan menolongku tapi ternyata tuhan masih mengabulkan doaku. Jika mengingat kejadian semalam membuatku masih merasakan perasaan takut yang luar biasa, tapi

