Tylisia benar benar gelisah dirinya tak tahu apa yang kini harus ia lakukan. Satu satunya yang ia pikirkan adalah keadaan Shiden. Ia kini merasa menyesal mengapa tadi ia tak mengaangkat telfon Shiden, jika terjadi apa apa kepada Shiden ia pasti akan menyesal. “Tenang Tyl” ujarnya menenangkan diri agar dirinya bisa berpikir jernih. Mungkin jika ia bercermin wajahnya pasti pucat, karena begitu khawatir dengan keadaan Shiden. Tylisia kemudian berjalan dengan sekuat tenaga menuju dapur, saat sampai di dapur sontak semuanya terkejut dengan wajah Tylisia, yang begitu pucat ia tampak menahan tangis. “Nak kamu kenapa?” Bu Hana berdiri lalu menghampiri Tylisia yang tampak berdiri dengan tatapan kosong. Mendengar pertanyaan Bu Hana sontak semuanya melihat ke arah Tylisia, tak terkecuali Erl

