"Dita, Papa boleh bicara sebentar nggak?" Aditama keluar dari dari ruangan kerjanya dengan membawa secangkir kopi pahit buatan Sarah. Sang Nyonya rumah menagih janji yang keluar dari mulut suaminya, tentu saja dengan sogokan si kopi hitam tadi. “Egh, Papa. Tumben mau bicara sama Dita. Bicara aja, Pa. Dita dengerin kok,” sahut Andita menurunkan dua kakinya. “Kok kakinya diturunin? Udah di atas aja kayak tadi biar nyaman mangku laptopnya, lagi sibuk buat CV lamaran pekerjaan ya? Kok kata kepala personalia di kantor Papa, nama kamu nggak ada di sana? Bukannya Papa udah nyuruh Mama buat bilang ke kamu kalau kantor lagi butuh beberapa staf finance? Atau kamu mau Papa jadikan Manager finance-nya aja langsung? Papa yakin kamu—” “Maaf, Pa. Tapi siang tadi Dita sudah diterima kerja. Mama

