Bab 4

1059 Kata
Karena sudah di kasih sekali, dia tidak akan bisa berhenti. Eon Goroses melumat dan memainkan ujung buah d**a Katie dengan lidahnya dan bergerak kecil. “Mas…” "Katie..." jawabnya yang kini semakin mendekat dan menunjukkan adik kecil pria itu telah bangun dan siap jika gadis di hadapannya menginginkan lebih. “Mas, jangan di sini… kita akan lebih melakukannya jika kau sudah pulang nanti…” gadis itu menggeliat karena semua tubuhnya merasa ngilu karena hisapan yang Eon Goroses lakukan merajai hingga bagian sensitifnya. Eon Goroses mengangguk! “Terimakasih karena sudah membuat hari-hariku bersemangat. Kau gadis pertama yang membuat aku ingin lebih menampilkan diri…” Katie tersenyum dan mendekat! Dia meraba d**a Eon Goroses dan menyusu padanya. “Lucu sekali…” ucapnya sambil mengusap bekas hisapan tersebut. “Kau sudah gila?” Sharoon berkata dengan ketus saat melihat Eon Goroses sumringah. “Kak Sharoon…” sapa dua orang gadis yang merupakan teman baik Katie. “Katie di atas…” “Terimakasih kak…” jawab mereka sambil berlalu. “Cantik banget ya, tinggi lagi! Kayak model, Katie mah kalah jauh…” Ya, inilah yang membuat Katie tak menyukai Sharoon. Mereka selalu di bandingkan dan berakhir dengan rasa benci yang mendalam. Katie akan mengambil semua yang Sharoon inginkan! Atau pun yang akan di berikan padanya. Kesal dan sakit hati! Itulah yang Sharoon rasakan sampai dia melihat Maminya selalu menangis karena pertengkaran antara dirinya dan Katie. Sejak saat itu Sharoon berjanji di dalam hati untuk tak lagi membuat kerMamitan, dan tak akan pernah membuat sang Mami khawatir. Di sinilah Sharoon sekarang! Dia yang seharusnya menikah satu tahun yang lalu akhirnya hanya bisa meminum segelas kopi hangat di taman rumah. “Hay Romeo…” “Oh adikku…” “Apa? Kenapa kau selalu mengejekku dan merasa kakak, hm? Aku yang lebih dulu lahir dan aku harap kau beri hormat padaku!” “Siap gerak!” “Hahahaa…. Kapan kau pulang! Ada pendatang baru di sini…?” “Eon Goroses…?” “Kau tahu dari siapa…?” “RUMPUT YANG BERGOYANG…” “Durudu duddu…. dururuduu ho oh…” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa sadar ada Katie di sana yang tengah cemburu melihat kedekatan mereka. “Kalian menertawakan apa? Kak Romeo! Apa kabar?” Dengan tebal muka dia menyapa kakak laki-lakinya itu. Wajah Romeo langsung berubah! Dia selalu berusaha menghadapi situasi ini. Apalagi sejak Katie dewasa dan banyak menyulitkan Sharoon. “Kamu apa kabar? Tambah cantik saja! Apa kamu diet lagi… nanti kamu sakit Katie…” Dia memegang wajahnya! “Kakak pingin aku jelek terus di kata-katain sama yang lain! Katie enggak mau jadi jelek ah…" "Lihat tuh kak Sharoon," Romeo terdiam sejenak karena menyadari apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Katie yang tahu apa yang sudah di katakan Romeo itu benar membuat hatinya kesal. Sharoon tak perlu apapun untuk membuat dirinya tetap cantik! sedangkan dirinya? dia harus tidak makan selama dua puluh tiga jam dan hanya makan satu jam setelahnya. Itu pun harus di atur. Dia harus rajin pergi ke salon dan ke tempat olahraga agar jerawat di wajah dan punggungnya tak merajalela. Bisa di bilang bernapas saja bisa menjadi lemak bagi Katie. Dan kusutnya semua itu adalah kebalikan dari Sharoon. Dengan kesal gadis itu pun melempar ponsel Sharoon ke dinding hingga hancur berantakan. "Katie," teriak Sharoon yang terkejut dengan sikap adiknya yang semakin kurang ajar. Kedua teman Katie hanya diam tak bisa membantu. "Kenapa mau marah? mau sok cantik hah,?" dia menantang Sharoon dengan tatapan membunuh. "Hah, kau benar-benar kelewatans semakin hari Katie," "Mau apa? suka-suka aku dong," jawabnya dengan menyyenggol bahu Sharoon. Kesal dan menumpuk! tidak ada Mami dan Papi. Emosi Sharoon seakan mau pecah! dia mengangkat tangan kanannya siap menampar wajah gadis itu." “Siap banget mau nampar aku? Kenapa? Karena mami dan papi enggak ada? Jangan sok kalau enggak mampu! Aku bukan kamu yang mudah mengadu… LICIK!” umpatnya pada Sharoon sambil berlalu pergi. Tidak masalah bagi Sharoon jika yang menghina dirinya adalah orang lain. Tapi Katie, kenapa dia bersikap seperti itu! Sharoon yakin Katie mendengar sesuatu hingga memberanikan diri untuk mendekati Eon Goroses. “Apa yang kamu lakukan Katie, apa aku lebih baik bicara sama Mami…?” Ternyata suara gumam Sharoon terdengar keluar hingga Eon Goroses yang tak senang pun menegur dirinya. “Apa yang mau kau lakukan hah? Kau dan aku tak selevel, jika Katie ingin denganku jangan coba-coba untuk menghasut kedua orangtua kita… kau dan aku hany sebatas rekan kerja saja. Jangan sibukan dirimu dengan angan-angan kosong.” Sharoon hanya menatap wajah Eon Goroses saja! “Apa kau sudah selesai? Apa kau berpikir dirimu layak untukku? Masih banyak pria lain yang mengantri untukku! Kau bukanlah orang yang pantas.” "Kau mengajak aku bertengkar?" "Menurutmu siapa yang lancang mencampuri urusan orang lain? Kau disini hanya tamu! aku harap kau bisa menjaga sikapmu. Selain itu Eon Goroses, aku tahu kau sedang dekat dengan adikku, tolong jaga sikapmu! Bila sesuatu terjadi kau lah yang lebih dulu aku salahkan." Pria itu terdiam sejenak setelah mendengar beberapa kata dari mulut Sharoon. "Kau," Eon Goroses masih ingin bicara tapi wanita tersebut sudah berlalu meninggalkannya. Saat ini Eon Goroses dan Sharoon sudah berada di dalam mobil. Mereka siap melakukan perjalanan bisnisnya. Tidak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara. hanya suara klakson mobil yang mengiringi langkah mereka sampai ke tempat tujuan. "Nyonya, Tuan, Sekarang kita sudah sampai di penginapan. Saya akan menurunkan barang anda dan kembali nanti malam setelah Nyonya dan Tuan beristirahat. "Baiklah pak terima kasih banyak," Jawab Sharoon sambil menunduk kepada sopir tersebut. "Apa-apaan kau? Kenapa bersikap begitu kepada seorang sopir. Jika kau melakukan ini di Paris, maka semua sopir akan melonjak angkuh." "Maaf Tuan Eon Goroses, itu hanya pendapatmu saja! aku harap kita bertahan dengan pemikiran masing-masing dan jangan saling mencampuri." "Siapa yang mau mencampuri urusanmu! sejujurnya aku sudah cukup muak dengan apa yang kau lakukan. Aneh saja bisa bersikap manis dengan orang lain tapi bersikap buruk pada saudara kandung sendiri." Romeo menatap tajam mata Eon Goroses, dia sedikit muak dengan pria yang sok tahu ini. "Kau pikir siapa dirimu? Tutup mulutmu dan jaga lisanmu! Bukan hanya kau yang hidup di dunia ini dan bukan hanya prinsipmu yang berjalan di kehidupan ini." Jawabnya sembari berlalu pergi meninggalkan pria tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN