Bab 5

1148 Kata
Di dalam kamar Eon Goroses masih merasa kesal terhadap ulah Sharoon. Tapi pria itu cukup lelah menghadapi perjalanan dan sangat ingin mendengar suara Katie. Dia mengambil ponselnya dan, "Halo Katie apa kabar? Baru saja tiga jam aku meninggalkanmu tapi sudah rindu! bagaimana ini?" Katie yang berada di seberang telepon tertawa terbahak-bahak. "Apa benar kau rindu denganku Mas?" "Apa menurutmu aku berbohong! Ini cukup sulit Katie apalagi perjalanan ini dilakukan dengan kakakmu. Dia wanita yang angkuh sangat berbeda dengan dirimu." Katie tersenyum mendengar jawaban Eon Goroses karena hanya dia yang berpikir seperti itu menurutnya. "Dulu aku pernah dikerjain sama Sharoon. Dia meletakkan kecoa di dalam tasku! Aku juga tahu kelemahannya, dia takut dengan laba-laba. Tapi jujur saja aku tak pernah memiliki kesempatan untuk membalasnya Mas," Suara Katie terdengar lirih di telingaku Eon Goroses. "Jangan bersedih aku yakin akan ada seseorang yang akan membalaskannya untukmu nanti." "Siapa? Apakah sangat berterima kasih bila ada yang melakukannya untukku!" dia mengatakan itu sambil menutup bibirnya agar tawa tak lepas sampai diterima Eon Goroses. "Aku akan mengambil foto-fotonya ketika dia berteriak minta ampun karena sang laba-laba," "Waw aku sangat menanti hari itu!" "Aku tidak akan membuatmu menunggu lama Katie! Aku akan mewujudkannya dalam beberapa jam lagi? Bagaimana menurutmu." "Aku menunggumu Mas," Sharoon yang berada dalam kamar merasa sedikit gelisah! Untunglah ponselnya berbunyi dan mencetak nama sang papi di sana. Dengan buru-buru Sharoon mengangkat panggilan tersebut. "Halo papi apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Sharoon bertanya dengan ada sumringah. "Wah kelihatannya papi menelponmu di saat yang tepat! Kau terdengar sangat bahagia Sharoon, Tapi apa yang mengganggumu sehingga sangat menunggu telepon dari pria tua ini,?" "Papi selalu bisa membaca pikiranku! Aku sangat merasa nyaman di antara kalian berdua. Papi, Mami, Kapan kita akan pergi lMamiran bersama. Rasanya sudah sangat lama ya, Aku bahkan banyak mengingat bagaimana lMamiran terakhir kita!" "Papi akan usahakan secepatnya ya sayang, tapi syarat-syaratnya ada loh," "Jangan aneh-aneh dong Pi," Jawab Sharoon pada orangtuanya. "Kamu kenapa sebenarnya? Apa Katie bertingkah lagi?" Tuan Emos Barones langsung menembak ke intinya. Sharoon tersentak! "Tidak begitu Pi, Tenang saja semua dalam keadaan baik," "Hah," Terdengar dengan jelas suara Tuan Emos Barones menarik nafas dalam-dalam. "Jangan menyembunyikan apapun dari papi, Sharoon, papi tidak ingin kalian tidak menjalani hidup yang baik. Dulu papi sendirian, mami kalian juga. Kami berdua anak tunggal, rasanya sepi sekali. Sekarang kalian bertiga, apa tak bisa baik-baik saja. Papi tahu adalah suatu yang terjadi," Sharoon tidak ingin membicarakan ini! "Papi aku harus mempersiapkan diri untuk melihat proyek yang ada. Aku merasakan Eon Goroses sudah menunggu di luar." "Mengenai Eon Goroses kamu tak usah kuatir, papi menghargai perasaanmu jika kau tidak menginginkan apa yang kami katakan kemarin," "Terima kasih pi, Kalau persoalan itu Sharoon harap papi bisa membantu." Akhirnya wanita itu menutup panggilan telepon dan keluar dari kamar. Dari pintu tersebut, Sharoon bisa melihat Eon Goroses yang berdiri menghadap ke arah kebun teh. Tidak mungkin wanita itu bersikap cuek saat berada di sini. Dengan langkah perlahan ia bermaksud menyapa Eon Goroses. "Selamat malam Bos," Eon Goroses berbalik dengan sebuah laba-laba di tangannya. Seketika napas Sharoon merasa sesak! Dadanya naik turun dan seketika wanita itu ambruk. Eon Goroses yang melihat itu langsung terdiam! Dia membatu di tempatnya berdiri. Sedangkan Sharoon mengalami kejang-kejang di lantai. Di saat seorang pria mendekat dan mengangkat tubuh Sharoon dan pergi dari depan mata Eon Goroses yang masih membatu. Di saat Sharoon sudah tak nampak lagi barulah Eon Goroses menyadari apa yang terjadi. "Ah, Siapa yang membawanya tadi,?” Dia pun bergegas menuju pos satpam dan melihat kamera CCTV. “Aku dimana?” tanya Sharoon saat matanya sudah terbuka. Seorang pria tersenyum dengan tatapan terpesona. “Hanya Sharoon…” pria tersebut melambaikan tangannya.  ”Jors… apa yang kau lakukan di sini…?” wanita itu sangat terkejut dengan siapa yang dirinya lihat. “Kenapa berteriak begitu! Biasa saja, ini bukan negara yang hanya khusus untukmu, bukan?” “Ah aku rindu sekali…” ucapnya. Jors menarik napasnya dengan sangat dalam. “Aku tak percaya bisa bertemu denganmu… padahal ini sudah dua tahun ya…” Sharoon mengangguk! Jors adalah teman bermain Sharoon selama menempuh pendidikan di Amerika. “Kau seharusnya menghubungiku…” “Aku selalu menghubungi dirimu, tapi apa yang aku dapat? Kau pacaran dengan pria itu… hatiku hancur Sharoon…” “Bercanda saja terus…” wanita itu sangat terkejut dan senang! “Hah, hilang sakitku…” ucapnya lagi. “Aku tidak akan kembali ke amerika karena aku sudah bertemu denganmu… dan aku sangat senang jika kita bisa bekerjasama! Sesuai janjimu padaku! Bagaimana?” Sharoon mengerjapkan matanya! Dia tak percaya jika Jors menepati janjinya. Semasa kuliah mereka berdua sempat sepakat untuk mendirikan perusahaan di bidang ekspor-impor. Jors sebagai pemilik dan Sharoon yang akan memegang masalah keuangan di perusahaan itu. “Tapi aku bekerja dengan papi saat ini…” “Berhenti saja! Toh itu papimu sendiri… Kita sudah berjanji dan kau harus menepatinya. Ini sudah dua tahun dari yang aku janjikan! Sepertinya Tuhan sangat membela diri ini. Aku mendapatkan kabar jika kau dengannya sudah selesai, dan aku datang! Tanpa mencari kau pun muncul di hadapanku…” “Wah, pandai sekali tuan ini mengarang cerita…” “Aku hanya berusaha realistis saja! Aku bahkan baru saja memikirkan dirimu saat kita bertemu tadi! Tapi siapa pria yang berada di depanmu itu?” “Hm, itu sainganmu! Aku dan dia akan di jodohkan! Tapi sekarang tergantung denganmu…” “Sharoon, kau anggap aku ini apa? Jangan membuat aku galau karena ucapanmu…” “Kau itu teman yang tiba-tiba bilang cinta saat aku punya pacar! Dan kau juga yang datang saat aku akan di jodohkan! Kemana Jors yang aku kenal? Tampilkan dirimu di depan orangtuaku…” “Wah wah wah… kau sedang berorasi? Apa karena kau tak mau dengannya? Jelaskan padaku bagaimana detailnya.” “Jors! Apa kita bisa menjadi pasangan…? tingkah kita berdua jika bertemu sangat santai. Bahkan tak ada getaran di sini…” Sharoon memompa dadanya dengan kedua tangan membentuk tanda cinta. “Kau yang tidak bergetar, kalau aku setiap bertemu denganmu hampir tak bisa bernapas.” Jors terkekeh mengatakannya tapi dia tak berbohong dan Sharoon tahu itu. Mereka terlalu lama berteman hingga tak bisa mengakui perasaan masing-masing hingga semua berakhir dengan kata TEMAN. Jors mengetahui dirinya menyukai Sharoon saat mereka telah lulus dan kembali ke negara masing-masing. Sharoon ke Indonesia, dan Jors ke Singapura.  "Aku berharap kau bisa bicara dengan papimu dan bekerja di perusahaanku, silahkan ambil ini," Jors memberikan kartu namanya pada Sharoon. "Aku mohon padamu! demi cita-cita kita berdua! sukses tanpa bantuan orangtua! perusahaan ini pun aku buat denganuang jajanku selama di Amerika dan beberapa hutang yang aku buat di bank." "Kau terlalu berani Jors," ucap Sharoon yang sangat takjub dengan apa yang pria ini lakukan. "Apa kau tidak takut gagal?" "Bukankah kegagalan bagian dari semangat? aku akan selalu berusaha Sharoon,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN