"Ai, sadarlah," terdengar suara lembut Bunda di telinga sebelah kananku. Bunda terdengar begitu mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku sendiri tak tahu dan tak sadar bagaimana keadaanku saat ini. Yang aku tahu, aku terbujur kaku di atas tempat tidur dan mataku terbuka. Mengerikan, memang aku sendiri merasa bahwa kondisiku saat ini begitu mengerikan dan mengkhawatirkan. Berulang kali aku mendengar suara Bunda memanggil namaku agar aku sadar dan bereaksi dengan semua perkataan Bunda, tapi entah kenapa aku sama sekali tak dapat bereaksi atas semuanya. "Bagaimana, Yah?" tersengar suara Bunda bertanya pada Ayah. Ayah tak mengatakan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Bunda. Ayah hanya melangkahkan kakinya dan memegang pundak Bunda dengan begitu lembut. Aku memang tak bereaksi, tapi bukan berarti

