Rasa Aneh di Hati

1493 Kata
Meeting dengan investor Korea berhasil dengan baik di mana Rein berhasil melobi klien kakap tersebut untuk bekerja sama dengannya di bidang pembangunan resort mewah yang terintegrasi dengan taman bermain di mana danau buatan akan dibangun sebagai pusat rekreasi yang menyediakan aneka tempat menginap juga spot kuliner yang pastinya akan sangat menjanjikan. Setelah menyelesaikan meeting, pak Jung Won dari Korea Selatan pun segera pamit. Sementara Rein dan Juna masih berada di meja, berniat menghabiskan kopi mereka sebelum akhirnya pulang. “Kita harus membuat proyek ini sukses. Jangan sampai ada kendala! Kita harus meyakinkan pak Jung Won kalau kita mampu menyukseskan proyek ini sehingga ke depannya jika dia memiliki proyek baru, kita akan dilibatkan di dalamnya,” ucap Rein. “Iya, Pak. Saya dan para staf akan berkoordinasi untuk menyukseskan proyek ini. Anda mau langsung pulang atau kembali ke kantor?” tanya Juna pelan. “Kamu saja yang kembali ke kantor. Masih ada sisa tiga jam lagi untuk kamu bekerja. Aku akan langsung pulang ke rumah untuk menyelesaikan masalah keluarga.” Juna mengangguk. Mereka berdua lalu menghabiskan kopi mereka, baru kemudian melangkah meninggalkan restoran. Setibanya di parkiran, Rein meminta Juna untuk naik taksi saja karena mereka tadi pergi meeting dengan satu mobil. “Kamu naik taksi saja kembali ke perusahaan. Aku akan mengemudi sendiri ke rumah mama,” ucap Rein memberi perintah pada sang sekretaris. “Iya, Pak.” Rein langsung masuk ke dalam mobilnya, kemudian mengemudi dengan tenang meninggalkan parkiran. Namun, ketenangan yang ia rasakan serta kegembiraan atas berhasilnya ia mendapatkan seorang klien besar, tiba-tiba musnah tatkala di ujung parkiran sana, terlihat manajer Rafli sedang membukakan pintu mobilnya untuk Zia. Itu artinya Rafli dan Zia juga mengadakan meeting di restoran yang sama dengannya. “Berengsek! Kenapa dia begitu perhatian pada wanita itu dan kenapa wanita itu juga kelewat gatal menggoda laki-laki asing yang baru dikenalnya beberapa jam lalu?” batin Rein kesal. Tak dapat dipungkiri, hati Rein terasa panas, saking panasnya tak sadar ia mencengkeram kemudi dengan keras lalu secepat kilat ia mengendarai mobilnya melintasi mobil milik manajer Rafli, saking geramnya. Pria tampan itu tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Yang ia tahu ia kesal melihat wanita itu, terutama ketika melihat senyumnya yang diobral ke mana-mana. Kenapa wanita itu begitu mudah menggoda seorang pria? Dalam hitungan jam saja, manajer Rafli sudah sangat tergila-gila padanya dan itu membuatnya geram. “Sebenarnya kamu kenapa, Rein? Kenapa sejak tadi kamu begitu uring-uringan?” gumam Rein mengomeli dirinya sendiri sambil terus mengemudi. Pria itu berusaha menenangkan dirinya. Sekuat tenaga, ia menepis bayangan ketika Zia diperhatikan oleh manajer Rafli lalu ia memfokuskan pikirannya pada sang adik yang saat ini sedang mabuk-mabukan. “Benar, yang harus aku urus adalah keluargaku, tidak ada yang lain,” gumam Rein lagi lalu ia menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil secepat mungkin agar sampai ke rumah sang mama. Benar saja, ketika tiba di rumah, sang mama langsung menyambutnya dengan cerita serta keluhan terhadap adiknya. Rein heran, kenapa mamanya begitu sayang pada adiknya tersebut dan begitu gelisah memikirkannya, padahal adiknya sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. “Rein, tolongin adik kamu, dong! Mama pusing lihat dia mabuk-mabukan gitu.” Rein menghela napas lelah lalu menggandeng tangan sang mama. “Aku baru sampai, Ma. Kasih anak Mama ini kopi dulu, kek, baru ngurusin Rey.” Rina cemberut. “Kamu nggak tahu aja betapa cemasnya Mama, Rein. Adik kamu itu nggak mau makan, maunya minum alkohol mulu. Kalau dia sakit, gimana?” Rein geleng kepala melihat sang mama yang masih memperlakukan Rey bak anak kecil. “Sakit tinggal bawa berobat, Ma. Lagian Rey itu bukan anak kecil lagi, Ma. Kalau lapar, dia bisa makan sendiri. Mama nggak usah terlalu cemas gitu.” “Tapi Mama benar-benar takut melihatnya, Rein. Sejak semalam dia selalu memanggil-manggil nama wanita jalang itu. Jangan-jangan wanita pake pelet. Bisa-bisanya adik kamu tergila-gila sama dia, padahal dia sudah dengar sendiri dari mulut jalang itu kalau dia baru saja tidur dengan pacar barunya. Tapi kenapa adik kamu masih saja cinta sama dia.” Rina menggerutu kesal. Hati Rein kesal sang Mama terus-terusan menghina Zia. Ia yang tahu betapa murninya gadis itu, tentu tak terima dengan tuduhan sang mama. “Mama apa-apaan, sih? Di zaman modern begini, bisa-bisanya Mama ngomong kayak gitu.” “Habisnya Rey sudah tahu kalau wanita itu binal, suka tidur dengan segala lelaki, tapi adik kamu itu bisa-bisanya masih meraung-raung memanggil namanya. Gimana Mama nggak kesal, coba? Kenapa adik kamu nggak sadar-sadar kalau yang dia cintai itu w************n?” “Aku akan bicara padanya dan menyadarkannya, Ma,” ucap Rein memutus perbincangan yang membuatnya tak nyaman. “Sekalian bilang sama adik kamu untuk menerima tawaran Mama, Rein.” “Tawaran apa, Ma?” “Mama bilang tidak usah membatalkan pernikahan. Tetap lanjutkan saja pernikahan tersebut, tapi pengantinnya akan Mama ganti. Mama sudah mendapatkan wanita yang cantik dan juga terpelajar, tapi Rey nggak mau. Dia bilang sulit untuk melupakan wanita itu. Gimana Mama enggak kesal dibuatnya.” Rein menghela napas lalu membatin dalam hati. “Memang sulit melupakan wanita itu, Ma, karena dia memiliki sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan aku saja terkadang memikirkannya, nggak tahu mengapa. Dia bahkan sudah memikat manajer Rafli dalam waktu beberapa jam saja. Wajar saja kalau Rey susah move on darinya.” Rein dengan sabar terus mendengarkan keluhan sang mama agar terpuaskan batinnya. Begitulah yang selama ini ia lakukan, yaitu selalu menjadi seorang pendengar yang baik bagi sang mama. Sementara, Rey tidak pernah menyenangkan sang mama karena dia seorang anak manja. Adiknya itu baru mulai bekerja keras untuk masa depannya semenjak jatuh cinta pada Zia. Sebenarnya, itu membawa sebuah perubahan bagi anak manja tersebut di mana Rey bisa memimpin perusahaan sendiri karena termotivasi untuk menikahi wanita yang selalu dilabel murahan oleh sang mama sampai ia pun ikut terhasut. Rein tahu persis Zia bukan wanita murah. Dia mahal, tapi tergolong wanita genit yang mudah sekali menggoda pria di sekitarnya. Sayangnya, sang mama tak pernah suka padanya hingga Rein terpaksa harus melakukan hal nekat untuk memutus tali kasih antara adiknya dan wanita itu. “Rein, kamu dengar dengerin Mama nggak, sih?” omel Rina kesal menatap putranya yang sedang melamun. Rein tersentak lalu kembali fokus pada sang mama. “Aku denger, Ma. Kapan aku nggak pernah dengerin Mama? Sudah, Mama jangan khawatir! Aku akan bicara pada Rey sekarang.” “Baiklah, Mama tunggu di meja makan. Mama akan siapkan kamu secangkir kopi dan aneka camilan seperti biasa.” “Makasih, Ma. Aku kamar Rey dulu.” Rein mengecup kening sang mama lalu membiarkan mamanya meninggalkannya menuju dapur, sementara ia mulai melangkahkan kaki ke kamar adiknya. Matanya membelalak lebar saat melihat sang adik sedang menenggak minuman keras dari botolnya. Hati Rein geram, membuatnya langsung berlari ke arah Rey lalu merebut botol minuman dari tangannya, kemudian membantingnya ke lantai. “Apa kamu mau mati?” “Jangan ganggu aku, Kak! Aku tidak mau hidup lagi.” Rey yang setengah mabuk menjerit kesal karena minumannya dipecahkan begitu saja oleh sang kakak. “Kenapa kamu tidak mau hidup lagi, hah?” bentak Rein menarik kerah kemeja adiknya. Rey memegangi pergelangan tangan sang kakak lalu mengadu padanya. “Wanita yang aku cintai sudah tidur dengan lelaki lain, Kak.” “Terus kenapa? Apa hubungannya dengan kematian kamu?” bentak Rein kesal. Kenapa begitu susah memupus perasaan cinta sang adik pada wanita itu? Sudah mengaku murahan pun sepertinya Zia tak berhasil membuat Rey membencinya. Rein akui, Zia memang hebat dalam menaklukkan pria. “Aku tidak sanggup, Kak. Aku begitu mencintainya. Setiap aku memejamkan mata, aku teringat dia. Hatiku sakit, Kak. Membayangkan dia sudah disentuh laki-laki, hatiku perih,” adu Rey lagi. “Bodoh kalau kamu mau mati, sedangkan dia bersenang-senang dengan laki-laki lain. Harusnya kamu membalasnya. Kamu cari wanita, menikah dan hidup bahagia. Itu baru pembalasan telak.” Rein menekan rasa bersalahnya. Dengan sangat terpaksa ia ikut menjelek-jelekkan Zia agar adiknya bisa melupakan wanita itu. “Aku nggak bisa, Kak. Aku sudah berusaha untuk membencinya semalam, tapi tetap tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Apa aku maafkan saja dia dan mengejar cintanya kembali?” seru Rey menepis tangan sang kakak dari kerahnya bajunya. Rein kembali mendekati Rey yang sempoyongan lalu memegangi kedua bahunya. “Percuma kamu mau mengejarnya. Dia tidak akan mungkin lagi mau sama kamu. Dia sudah bilang sendiri ‘kan kalau dia sudah memiliki kekasih? Kamu akan menjadi seorang pengganggu nanti.” “Aku jadi tak yakin, Kak,” ujar Rey memutar bola matanya, terlihat sedang berpikir keras. “Apanya, Rey? Apa yang membuatmu tak yakin?” tanya Rein ingin tahu. “Aku nggak yakin dia tidur dengan seorang lelaki, Kak. Aku harus mengonfirmasi padanya kembali. Bisa jadi dia hanya membuat warna merah itu di lehernya hanya untuk mengelabuiku karena dia sudah tidak sanggup melihat pertikaianku dengan mama.” Rein tak sanggup lagi melihat kegilaan adiknya. Sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu sang adik, Rein mengultimatum Rey. “Sadar, Rey! Wanita yang sekali sudah murah, akan tetap jadi murahan. Jadi, jangan pernah berpikir untuk mengejar wanita itu lagi atau kamu akan tahu akibatnya!” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN