“Kapan kamu pulang, Zia?”
Suara sang ibu Zia terdengar begitu merdu di telinga pagi itu lewat panggilan telepon saat gadis cantik itu bersiap akan berangkat bekerja.
Rasa cemas langsung menyelimuti hati gadis itu karena merasa takut menjelaskan soal batalnya pernikahannya dengan Rey. Bukan apa-apa, ibunya sudah benar-benar berharap ia menikah sehingga tak akan merasa cemas lagi melepasnya tinggal di kontrakan sendirian.
Namun, tampaknya Zia harus berterus terang sekarang karena tak mungkin lagi dirinya bisa berbohong. Yang harus Zia lakukan adalah bersikap tenang seolah tegar dan ikhlas menerima kenyataan.
“Aku baru pindahan, Bu. Aku dapat kerjaan yang lebih bagus sehingga memutuskan tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerjaan.”
“Apa itu nggak akan mengganggu pernikahan kamu, Zia? Satu bulan itu nggak lama loh. Lagi pula, kenapa calon suami kamu mengizinkanmu pindah dari perusahaannya?”
Inilah saatnya, Zia berterus terang soal batalnya pernikahannya dan Rey. “Pernikahanku batal, Bu.”
“Apa, jangan bercanda, Zia!”
“Aku nggak bercanda, Bu. Anggota keluarga kita belum dihubungi, kan?” Zia mengonfirmasi ibunya.
“Memang belum, tapi mereka selalu sedikit banyak sudah tahu kalau kamu akan menikah.”
“Yang penting undangan dari pihak kita belum disebar, itu sudah cukup, Bu,” ucap Zia sedikit tenang.
“Kenapa, Zia? Ada masalah apa kamu sama Rey?”
“Masalah prinsip, Bu. Kayaknya aku tidak sanggup hidup bersamanya.” Zia tak mungkin memberitahukan penderitaan yang ia alami pada sang ibu. Akan ia bawa rahasia pahit dalam hidupnya sampai ia mati.
“Jangan katakan kalau ini soal mamanya Rey?”
“Iya, Bu. Itu juga menjadi pertimbangan besar bagiku untuk melanjutkan hubungan ini. Ibu dan ayah tahu sendiri kalau mamanya Rey sama sekali tidak menyetujuiku.” Zia berusaha meyakinkan sang ibu kalau pernikahannya dan Rey memang tak mungkin bisa terjadi.
“Iya, Ibu tahu. Ibu dan ayah juga sejak awal tidak menyetujuinya. Namun, karena Rey begitu gigih memperjuangkan kamu, makanya Ibu dan ayah mengizinkan dan percaya restu itu akan menyusul.”
“Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin pernah terjadi, Bu. Selamanya mama Rey akan membenciku. Entah apa dosaku di masa lalu sampai yang bisa dibenci sedemikian rupa?” ucap Zia menghela napas lelah.
“Status kita, Zia. Status kita yang membuatnya jadi begini.”
“Iya, Bu. Karena itu aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan, mumpung persiapannya juga baru sekitar dua puluh persen. Rey juga tidak akan begitu rugi.”
“Jadi, itu alasan kamu pindah ke perusahaan, ya?”
“Iya, Bu. Berumah tangga itu bukan hanya satu hingga dua hari saja, tapi aku akan menghabiskan waktuku bersamanya. Tidak bisa kubayangkan aku harus menderita mencari perhatian mama mertua yang sama sekali tidak pernah menyukaiku.” Zia memaparkan apa yang akan ia alami jika memaksakan pernikahan.
“Kamu benar. Akan sangat menyedihkan bagimu jika memaksakan itu. Tapi apa kamu baik-baik saja, Zia? Bukankah kamu begitu mencintainya?”
Zia menghela napas panjang. Cinta, tentu saja Zia masih sangat mencintai Rey. Namun, tubuhnya terlalu kotor untuk meneruskan rasa yang begitu menggebu-gebu di hatinya untuk pria tampan tersebut.
Zia merasa tak berharga lagi menjadi seorang wanita. Tak akan ada lagi lelaki baik yang mau menerimanya. Tak akan ada lagi lelaki yang akan memperjuangkannya karena ia tak lebih dari seorang wanita hina.
“Lama-lama cinta itu akan pudar dengan sendirinya, Bu. Daripada aku hidup menderita, lebih baik aku mundur. Doa mertuaku terhadapku juga pasti tidak ada yang baik. Apa itu akan menjamin kehidupanku bahagia jika aku memaksakan kehendak menikahi anak kesayangannya, sedangkan calon mama mertuaku itu tidak pernah ikhlas melepaskan anaknya untukku?”
“Mengapa ujian kamu begitu berat, Zia?”
“Aku pasti bisa melalui ini, Bu. Oh, ya, aku belum bisa pulang dalam waktu dekat karena aku baru bekerja di perusahaan ini sehingga aku memiliki banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,” jelas Zia
“Iya, Ibu mengerti.”
Zia akhirnya berniat mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu karena waktu sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi.
“Aku berangkat kerja dulu, ya, Bu. Salam buat Ayah sama Daffa dan juga Dika kalau dia mampir.”
“Sepupu kamu itu pasti akan mencari kamu di kontrakan lama, Zia. Sejak kecil dia akrab banget sama kamu dan Daffa.”
“Biarin, Bu. Nanti akan ketemu juga saat aku pulang nanti. Aku akan menghubungi Dika biar bisa kumpul-kumpul bareng. Kalau sekarang aku belum ingin diganggu, Bu,” ujar Zia lagi.
“Baiklah, hati-hati menyetirnya! Ibu tunggu kamu menginap di rumah.”
“Iya, Bu.”
Panggilan pun berakhir. Zia segera meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja rias, berniat ingin sarapan di mobil saja karena waktunya sudah cukup tersita melayani sang ibu berbicara barusan. Akan sangat terlambat kalau ia sarapan terlebih dahulu.
Zia juga ingin datang ke perusahaan jauh lebih awal supaya tidak berpapasan dengan laki-laki iblis itu.
Zia buru-buru melangkah ke dapur, mengambil roti yang ia beli dari atas meja, kemudian membawanya ke mobil dan akan menikmatinya di jalan. Namun, betapa terkejutnya Zia ketika membuka pintu di mana ia menemukan sang mantan tunangan sedang berdiri dengan kelopak mata yang menghitam. Sudah dipastikan Rey tidak tidur semalaman, bahkan mungkin mabuk-mabukan.
“Kenapa kamu bisa tahu apartemenku?” tanya Zia heran.
Apa artinya, Rey mengintai dan melacak keberadaannya? Kalau sampai ini diketahui oleh Rein, bisa semakin hancur hidupnya.
“Zia, aku tidak bisa melupakan kamu. Mau kamu tidur sama laki-laki lain, mau kamu melakukan hal buruk pun, aku tidak bisa melupakan kamu. Meskipun hatiku sakit karena telah kamu duakan, tapi aku tetap tidak bisa melupakan kamu.”
Zia mendesis kesal. Kehadiran Rey akan memperburuk perlakuan Rein padanya. Ia harus segera mengusir Rey dari rumahnya.
“Kamu sinting jika masih mengharapkan wanita yang sudah tidur dengan lelaki lain. Aku tidak akan mungkin bisa bersatu denganmu lagi. Selain aku sudah dimiliki oleh laki-laki lain, aku juga ingin membina hubungan serius dengan laki-laki itu.”
“Kalau begitu biarkan aku tetap berada di sisimu. Aku akan berjuang mendapatkan cintamu kembali. Aku yakin, jauh lebih besar cintaku padamu dibanding perasaan yang lelaki itu rasakan padamu.”
“Pergilah! Sepertinya kamu mabuk, Rey. Aku mau bekerja sekarang.” Zia meminta Rey untuk menyingkir dari hadapannya.
“Kenapa kamu berhenti bekerja? Aku hanya tidak masuk dua hari, tapi kamu sudah resign dari perusahaan.”
“Mana mungkin aku bekerja di tempat mantan tunanganku sendiri. Pacarku akan marah karenanya, Rey,” seru Zia kesal.
Rey tiba-tiba mendorong Zia masuk ke apartemen lalu mendesaknya ke dinding dan mengunci tubuhnya hingga tak bisa berkutik.
“Apa yang kamu lakukan, Rey?” jerit Zia panik.
“Aku ingin bersaing sehat dengan pacarmu itu.”
“Kamu benar-benar sudah gila,” desis Zia tak habis pikir.
“Iya, aku gila karena kamu dan aku tidak akan membiarkan kamu lepas dari genggamanku. Aku yakin kamu hanya merekayasa tanda merah di lehermu itu untuk mendorongku pergi. Semua ini pasti hanya soal mama.” Rey merapatkan tubuhnya di tubuh Zia.
“Kamu gila. Lepaskan aku, Rey! Aku akan teriak kalau kamu berani macam-macam.”
“Aku tak akan membiarkan kamu berteriak. Hari ini aku akan membuktikan kalau kamu belum tidur dengan siapa-siapa. Sepertinya aku harus melakukan ini padamu agar kamu terikat selamanya denganku.”
Rey mengangkat tangan Zia, menguncinya ke atas lalu ia mulai mendekatkan wajahnya, hendak mencium Zia.
Wanita cantik itu ketakutan. Demi Tuhan, jangan sampai Rey ikut menidurinya. Hidupnya akan semakin hancur dinikmati dua orang lelaki yang masih memiliki pertalian darah. Sekuat tenaga, Zia berusaha berontak, tapi tetap tidak bisa.
Sementara bibir Rey sedikit lagi menyentuh bibirnya. Namun, tiba-tiba pegangan Rey terlepas begitu saja dan saat Zia bisa mencerna semuanya, ia melihat Rein memegangi kerah baju Rey sambil mendesis tajam.
“Apa kamu sudah gila?”
Bersambung ...