“Sial! Kenapa Rey mengarah ke kediaman Zia?”
Rein mengumpat kesal saat melihat layar ponselnya, posisi sang adik sedang menuju ke kediaman Zia. Semenjak ia bertekad memisahkan Zia dan Rey atas permintaan mamanya, lelaki dingin itu telah mengintai keduanya.
CEO tampan itu mengikuti Zia melalui pantauan anak buahnya dan memasang aplikasi pengintai di ponsel adiknya. Pagi ini, betapa terkejutnya Rein saat mendapati Rey tengah menuju apartemen yang baru disewa Zia. Tanpa buang waktu, pria gagah itu segera meraih kunci mobilnya, segera melesat ke kediaman Zia.
“Rey sialan! Kenapa dia begitu sulit melupakan Zia? Apa perlu, aku mengirim wanita itu ke luar negeri agar adikku itu berhenti mengejarnya?” gumam Rein kesal.
Setelah memberi wejangan pada adiknya semalam dengan cara menjelek-jelekkan Zia, Rein heran kenapa sang adik masih berniat mengejar gadis itu. Tak akan Rein biarkan Rey menggila. Ia harus mengancam sang adik agar berhenti mengharapkan Zia.
Setibanya di apartemen Zia, Rein dibuat meradang. Bagaimana tidak, lelaki dingin dan kasar itu disuguhi pemandangan yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Dari tempatnya berdiri, Rein menyaksikan dengan jelas, sang adik ingin memaksa Zia.
Tanpa bisa dicegah, Rein berlari sekencang-kencangnya dan segera menarik tangan Rey sebelum adiknya itu sempat mencium bibir Zia.
“Apa kamu sudah gila?” bentak Rein menahan emosi yang sedang meletup-letup di dadanya. Hati Rein panas melihat Rey nyaris melumat bibir Zia.
“Lepaskan aku, Kak! Aku harus membuktikan kalau Zia belum tersentuh pria mana pun. Dia pasti berbohong soal tanda merah itu. Itu pasti dibuat agar aku membencinya. Tapi nyatanya aku tak bisa jauh dari Zia. Aku harus memilikinya detik ini juga, Kak. Hanya itulah caranya agar Zia tak bisa lepas dariku lagi,” jerit Rey menjelaskan niatnya.
Penuturan Rey tadi sontak membuat Rein naik darah. Ia menoleh ke arah Zia yang saat ini terduduk di lantai sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. Artinya, beberapa waktu lalu Rein berniat menodai Zia hingga gadis itu sangat ketakutan seperti itu.
Namun, yang membuat Rein dua kali lebih kesal adalah kepasrahan wanita itu, seolah benar-benar ingin merasakan permainan Rey di tubuhnya. Rasa kesal itu begitu menggunung hingga akhirnya ia memutuskan akan memberi pelajaran pada Zia setelah selesai mengurus adiknya.
“Apa kamu sudah gila? Kamu akan melakukan kejahatan kalau begitu namanya. Dia sudah tidur dengan pria lain. Apa kamu bodoh mau menyentuh wanita kotor itu?” desis Rein meluapkan kemarahannya, baik pada adiknya, maupun pada Zia yang terbilang sangat gatal, selalu menggoda pria di sekitarnya.
Mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Rein, hati Zia perih. Dirinya bukanlah wanita kotor seperti yang dituduhkan. Justru Rein-lah yang menghancurkan harga dirinya. Rein yang jahat dan laknat telah merusak masa depannya.
Hati Zia teriris. Hidupnya serasa tiada berguna. Kenapa baik Rey maupun Rein sama-sama jahat padanya? Itu membuatnya tertekan. Sempat Zia terpikir untuk pergi sejauh-jauhnya agar tak bisa ditemukan oleh dua beradik itu lagi karena percuma rasanya ia pergi meninggalkan kontrakan lama dan menyewa apartemen tersembunyi kalau pada akhirnya ia juga masih bisa ditemukan oleh dua orang itu.
Bagaimana ia bisa tenang? Sepertinya ia harus pergi ke luar kota agar tidak bertemu lagi dengan dua orang yang menyengsarakannya karena cinta. Cinta mama mertuanya pada Rey, membuat Rein yang sangat mencintai mamanya jadi tega menodai dan merusaknya. Tangis Zia pun pecah, tak terbendung lagi.
Melihat Zia mulai menangis, Rey berniat mendekati wanita yang ia cintai tersebut. “Zia, jangan menangis! Maafkan aku, ya!”
Namun sayang, Rein tidak mengizinkannya mendekati Zia. Sang kakak terus mencengkeram bajunya, menghalangi untuk menghambur mendekati Zia.
“Lepaskan aku, Kak! Zia menangis. Aku ingin memeluknya,” jerit Rey berontak.
Rein naik pitam. Ia menyeret sang adik menjauh dari gadis yang mengacaukan ketenteraman keluarganya.
“Berisik! Semuanya karena kamu, tahu nggak? Sekarang juga kamu pulang. Jangan lagi datang menemuinya!”
Mata Rey memancarkan kemarahan. Ia tak ragu memelototi kakaknya. “Aku tetap akan datang, Kak. Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Kalau dia tidak menjadi milikku, maka dia tidak boleh menjadi milik pria lain.”
Rein gelap mata mendengar ucapan sang adik. Hatinya menggelegak panas saat dengan lantangnya Rey mengatakan akan memperjuangkan Zia dan membuat tak satu pun pria memiliki gadis itu.
Seketika dan tanpa bisa mencegah apa yang akan ia lakukan, tangan Rein tiba-tiba sudah melayang di udara dan tak ragu meninju wajah adiknya sendiri diiringi makian kasar yang terlontar dari bibirnya.
“b******k!?”
Rey tidak menyangka kalau sang kakak bisa melayangkan tinju di wajahnya. Seumur hidup, sang kakak belum pernah menyakitinya. Tapi kenapa hari ini kakaknya terlihat begitu emosional.
“Kenapa Kakak memukulku, Kak?” seru Rey memegangi salah satu pipinya yang sakit.
Rein menatap sang adik dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh lalu memarahi sang adik dengan nada kasar.
“Karena hanya dengan cara itulah, aku bisa membuatmu sadar kalau dia tidak bisa lagi kamu miliki. Dia sudah tidur dengan laki-laki lain dan tak akan aku biarkan kamu menyentuh perempuan murahan seperti dia. Sekarang juga, pulang!?”
“Aku tidak mau pulang, Kak. Kakak tidak bisa melarangku.” Rey bersikukuh tak mau pergi dari kediaman Zia.
“Oke, kalau kamu tidak mau pulang dan terus-terusan membuat sedih mama, maka jangan salahkan aku kalau aku akan merebut perusahaan yang diwariskan oleh papamu untukmu. Aku sudah jengah melihat kamu seperti ini, jadi kalau kamu ingin mempertahankan perusahaan kamu dan menjadi CEO serta pemiliknya, maka jangan ganggu Zia lagi. Jika kamu berani mengganggunya lagi, maka jangan salahkan aku, kakakmu ini akan merebut perusahaan itu menjadi milikku sehingga kamu akan menjadi gelandangan di luar sana.”
“Kak, apa Kakak sudah gila?” pekik Rey tak habis pikir mendengar ancaman sang kakak.
“Sekarang juga, pergi!? Jangan sampai aku berpikir untuk melakukan kejahatan yang cukup besar, yaitu menyabotase semua bisnis kamu hingga perusahaanmu pailit dan jatuh ke tanganku,” geram Rein emosi. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak memukul adiknya lagi.
“Kak, aku—”
“Pergi ...!? Aku bilang pergi!?” hardik Rein garang.
Dengan sangat terpaksa, Rey mundur sejenak. Ia tahu tidak bisa melawan kekuasaan sang kakak yang memang jauh lebih handal dibanding dirinya karena sang kakak sudah menjalankan bisnis jauh sebelum dirinya. Rey mulai terjun ke dunia bisnis hanya karena ingin menikahi Zia sehingga dirinya berubah menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab, bukan seorang anak mama yang manja seperti biasa.
Setelah memastikan sang adik pergi, Rein buru-buru menyeret tangan Zia masuk dalam apartemen lalu mengunci pintu, kemudian merebahkan Zia di sofa ruang tamu.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” jerit Zia ketakutan.
Rein menyeringai jahat. Saat ini hatinya panas membara sehingga ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Dasar perempuan gatal! Kamu sepertinya sengaja membiarkan adikku menyentuh tubuhmu tadi. Apa kamu memang ingin tidur dengan adikku, hah? Apa kamu ingin merasakan permainan kami berdua sekaligus?”
Zia mendesis emosi sambil berusaha beranjak duduk. Namun, tidak bisa. Rein telah berada di atas tubuhnya, menguncinya sedemikian rupa.
“Kamu tahu kalau itu tidak benar. Mana mungkin aku mau diperlakukan demikian.”
“Alah, jangan munafik kamu! Kalau memang kamu tidak gatal, harusnya kamu bisa mendorong ataupun menendang Rey agar tidak sampai melakukan perbuatan seperti tadi.”
Entah kenapa Rein kesal melihat kepasrahan Zia saat hampir dinodai adiknya tadi. “Kamu memang seorang wanita nakal. Baru satu hari saja kamu bekerja di perusahaanku, kamu sudah menggoda manajer Rafli. Tampaknya kamu harus diberi pelajaran lagi supaya kamu berhenti menggoda laki-laki di sekitarmu.”
Rein kalap. Ia segera mendaratkan bibirnya di bibir Zia dan melumatnya penuh emosi. Hampir saja bibir dan tubuh ini dinikmati adiknya. Entah kenapa ia tak rela. Hatinya diliputi kemarahan yang ia sendiri tak mengerti apa sebabnya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah menguasai wanita ini hingga wanita ini ketakutan dan tidak akan pernah mau membuka diri kepada laki-laki mana pun lagi.
Rein sungguh kesal melihat wanita yang begitu mudahnya menarik perhatian para lelaki. Zia memang benar-benar harus diberi pelajaran.
Zia berteriak, tepat saat Rey melepaskan tautannya dan mulai menyesap lehernya. “Lepaskan aku! Jangan lakukan itu lagi, aku mohon!”
Namun, Rein tak peduli. Ia tak akan berhenti sebelum memberi teguran keras pada Zia agar gadis itu bisa menjaga sikap ke depannya nanti.
“Bunuh saja aku, Rein! Habisi nyawaku supaya aku tak mengusik adik dan mamamu lagi,” rintih Zia terisak.
Rein tersentak saat mendengar permintaan Zia sesaat tadi. Ia segera menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah sayu Zia yang sedang terpejam, penuh dengan air mata. Seketika rasa iba menggelayuti hatinya. Rein bangkit dari tubuh Zia lalu menyugar rambutnya kasar.
“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku berniat menodainya lagi? Aku benar-benar sudah gila.” Rein mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Tak mau terlihat jahat, Rein akhirnya menarik tangan Zia agar berdiri lalu ia menarik gadis itu keluar apartemen.
“Hapus air matamu! Mulai sekarang aku akan memperhatikan kamu setiap saat, jadi berhati-hatilah menjaga sikap kamu untuk tidak menggoda orang-orang di sekitarmu sebelum aku melakukan hal seperti tadi, bahkan lebih. Mengerti!?”
Bersambung ...