Kaburnya Zia

1447 Kata
Sepanjang perjalanan menuju ke perusahaan, tak hati-hatinya Rein menoleh ke arah wanita cantik yang sudah mulai mengacaukan hidupnya. Sejak awal ia mengenal wanita ini ketika sang adik memperkenalkannya sebagai kekasih, sejak saat itu pula nama wanita ini terus-terusan mengganggu pikirannya. Bukan karena tertarik, tapi karena ia kesal dan marah padanya. Bagaimana tidak marah kalau sang mama tiada hentinya meracuninya, membuatnya menganggap wanita ini wanita nakal penggoda nan materialistis yang akan memoroti harta Rey. Belum lagi sang mama selalu saja menangis memohon padanya untuk membantu memisahkan Rey selamanya dari perempuan yang tampaknya memiliki keahlian memikat lelaki di sekitarnya. “Kenapa dia terus-terusan mengusik pikiranku?” gumam Rein tak mengerti. Yang ia rasakan kali ini bukan hanya perasaan marah, kesal, dan geram saja. Ada hal baru yang tidak bisa ia deskripsikan dan itu benar-benar mengganggunya. Wanita cantik itu saat ini sedang berpaling, menoleh ke arah jendela mobil, sepertinya masih begitu syok akan apa yang terjadi tadi pagi di mana baik adiknya maupun dirinya nyaris saja melakukan kekerasan kepadanya. Rein juga tidak menyangka kenapa bisa melakukan hal impulsif tadi hanya karena kesal dan geram serta panas hati melihat Rey nyaris melakukan apa yang pernah ia lakukan dulu pada wanita ini. Setengah mati, Rein berusaha menepis semua pikirannya tentang Zia dan kembali memfokuskan diri untuk bekerja sebaik-baiknya di perusahaan dan akan terus membuat jarak yang begitu lebar agar sang adik tidak bisa mendekati wanita yang berada di sampingnya ini lagi. “Kita sudah sampai. Buruan turun! Aku tidak mau terlihat sedang bersamamu di depan para staf. Ke depannya aku akan membiarkan kamu menyetir mobil kamu sendiri. Jangan pergi satu mobil lagi dengan manajer Rafli!” Kata-kata berisi larangan itu meluncur begitu saja di bibir Rein dan ia tak bisa menariknya lagi. Itu sukses membuat membelalak tidak percaya. Bagaimana mungkin iblis tersebut melarangnya pergi dengan manajer Rafli dengan satu mobil kalau meeting-nya ada di tempat yang sama. “Itu tidak masuk akal, Rein. Bagaimana mungkin aku pergi sendirian tanpa manajerku, sedangkan meeting kami ada di restoran yang sama?” Zia tak bisa tidak memprotes atasan gilanya itu. Mata Rein spontan melotot tajam pada Zia. Dari bibirnya langsung meluncur kata-kata kasar. “Aku yang CEO apa kamu, hah? Apa kamu mau manajer Rafli kupecat sekalian?” Zia menggeleng keras lalu memohon pada Rein agar tidak memecat manajernya. “Jangan lakukan itu, kumohon!” “Karena itu jangan membantahku! Aku akan meminta seseorang untuk mengambil mobilmu dan membawanya ke sini. Ingat, meeting nanti kamu harus pergi sendiri tanpa manajer Rafli!” tegas Rein lantang. Zia tak habis pikir dengan tingkah Rein. Apa yang akan ia katakan pada manajer Rafli nanti ketika lelaki tampan itu mengajaknya untuk meeting di restoran ataupun di kafe dengan para klien? Akan sangat tidak sopan untuk menolak ajakannya dan menyetir sendiri. Apa ia berterus terang saja kalau lelaki sinting ini yang melarangnya untuk pergi bersama. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. “Apa yang harus kukatakan pada manajer Rafli, Rein? Aku tidak punya alasan untuk menolak ajakannya.” Rein menatap Zia dengan tatapan garang. “Aku tidak mau tahu. Pikirkan saja alasannya sendiri! Yang jelas aku tidak mengizinkan kamu pergi berdua saja dengan manajer Rafli. Sudah cukup kamu menggoda laki-laki. Aku tidak mau kamu mempengaruhi semua staf laki-lakiku di sini.” Zia tercengang. Tanpa sadar mulutnya mencaci lelaki laknat itu. “Sinting! Kamu memang benar-benar sinting, Rein.” Rein naik darah. Kembali ia mencengkeram dagu Zia dengan kasar. “Jaga mulut kamu! Jangan buat aku emosi, ya! Masa depanmu ada di tanganku, ingat itu!” Zia tertawa getir. “Apa aku masih memiliki masa depan? Semuanya sudah hancur karena kamu.” “Diam!?” bentak Rein geram. “Turun sekarang! Jangan membuatku terus-terusan naik darah! Ingat, aku akan memperhatikanmu! Jangan sampai aku melihat kamu naik ke mobil manajer Raffi, paham!” Zia tak mau lagi berdebat. Ia lelah. Hatinya sakit. Gadis itu bergegas turun dari mobil Rein sebelum mobil itu mencapai perusahaan. Sambil berlari kecil, Zia melangkahkan kakinya menuju gedung yang masih cukup jauh di ujung sana. Ia menahan nangisnya, tak ingin kesedihannya dilihat oleh orang lain, terutama staf perusahaan. Sekuat tenaga, ia menahan rasa getir di hatinya atas semua nasib buruk yang menimpanya. Zia terus mengutuki dirinya, kenapa ia bisa mendapatkan kesulitan dan takdir yang buruk seperti ini. Apa sebenarnya kesalahannya di masa lalu? Seingatnya, orang tuanya tidak memiliki masalah. Orang tuanya tidak pernah menzalimi seseorang. Ibu dan ayahnya adalah keluarga harmonis, panutan semua orang. Bahkan, Zia sendiri berpikir ingin mendapatkan rumah tangga yang harmonis dan romantis seperti orang tuanya. Tapi kenapa takdir keji ini menimpanya di saat ia hampir menikah dengan laki-laki yang sangat ia cintai? Kenapa ia harus mengalami kenyataan pahit dinodai oleh calon kakak ipar sendiri? Parahnya, kini baik calon kakak ipar maupun mantan tunangannya benar-benar menganggapnya hina. Begitu mudahnya mereka berdua berniat menyentuhnya, seolah dirinya adalah barang murahan, bukan manusia. Pikiran Zia kalut. Gadis itu terus melangkah masuk langsung menuju ke lantai di mana dirinya harus bekerja bersama manajer Rafli. “Tidak ... aku tak sanggup bertemu manajer Rafli sekarang,” batin Zia lalu memutar arah menuju toilet, kemudian mengunci pintu lalu menangis sepuas-puasnya di sana. Zia butuh menenangkan dirinya terlebih dahulu agar ia bisa kembali kuat menjalani semuanya. *** “Kita berangkat sekarang, Pak?” Juna bertanya pada Rein yang baru saja beranjak dari mejanya. Rein menoleh sekilas pada sekretarisnya sambil membenahi jasnya agar tampak rapi kembali lalu menjawab pertanyaannya. “Tunggu sebentar! Aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.” “Ada masalah apa, Pak?” tanya Juna ingin tahu. Namun, bukan jawaban yang pria berpenampilan kelimis itu dapatkan, melainkan bentakan. “Tidak usah ikut campur! Kamu langsung ke mobil saja sana!” Juna menghela napas panjang lalu menunduk hormat sebelum meninggalkan atasannya “Baik, Pak.” Rein sejak tadi benar-benar gelisah. Ia takut Zia benar-benar naik mobil manajer Rafli. Entah kenapa ia sangat risau. Tak mau gelisah berkepanjangan, akhirnya Rein melangkah ke ruangan manajernya, ingin memastikan sendiri sebelum berangkat meeting. Jadwal meeting manajer Rafli dan Zia pun sudah diketahui olehnya, yaitu di jam yang sama, hanya berbeda restoran saja karena itulah Rein membiarkan sekretarisnya turun menyiapkan mobil terlebih dahulu. Namun, betapa terkejutnya Rein ketika mendapati manajer Rafli terlihat sendirian dan wajahnya tampak begitu cemas, sementara Zia tidak terlihat di mana pun dan itu membuat Rein sontak mendekati manajernya. “Selamat pagi, Pak Rein. Apa Bapak perlu sesuatu?” Rafli langsung menunduk dan menyapa Rein dengan hormat. CEO gagah nan tampan itu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Zia, tapi tetap tak bisa menemukannya. “Mana asisten Anda, Manajer Rafli?” “Saya juga kurang tahu, Pak,” sahut Rafli tampak kebingungan. Rein mengernyitkan kedua alisnya. “Maksud kamu?” “Sejak pagi dia tidak ada di sini, Pak. Sepertinya dia tidak datang, tapi Zia juga tidak memberikan kabar.” Rein mulai merasa cemas. Apa yang terjadi pada Zia? Kenapa dia tidak bekerja? Seingatnya, ia menurunkan wanita itu di dekat perusahaan. Rein juga melihat sendiri wanita itu masuk ke dalam perusahaannya. “Dia tidak masuk, tapi tidak memberi kabar, Pak. Saya sudah berusaha menghubungi nomornya, tapi tidak aktif,” lanjut Rafli lagi. “Apa kamu yakin dia memang tidak datang sama sekali?” Rein berusaha memastikan. “Saya tidak melihatnya dari pagi, Pak.” “Terus meeting-nya?” “Saya akan pergi sendiri. Maaf, saya harus pamit. Saya takut terlambat menemui klien kita.” Rein hanya bisa mengangguk lalu membiarkan manajer Rafli pergi meninggalkannya. Sementara perasaan gundah, cemas, dan resah pun mulai menggelayuti jiwanya. Apa yang terjadi pada gadis itu sebenarnya? Kenapa dia tidak bekerja? Rein tahu persis wanita itu masuk ke dalam perusahaannya. Sayangnya, ia memang terlalu sibuk sehingga tidak sempat memperhatikan wanita itu apakah sudah sampai ke ruangannya atau belum. Sedang sibuk memikirkan apa yang terjadi pada Zia, tiba-tiba suara ponselnya berdering dan itu dari anak buahnya. Buru-buru, Rein menerima panggilan tersebut. “Kenapa, Ben?” “Gawat, Bos!” “Kenapa?” tanya Rein panik. “Nona Zia, Bos.” “Di mana dia?” tanya Rein lagi. “Dia ada di pantai. Saat ini ia sedang berjalan menuju ke tengah-tengah.” “Apa!?” Rein terkejut mendengar informasi dari anak buahnya. “Saya akan berusaha menyelamatkannya—” Suara Ben pun tak terdengar lagi. “Halo ... halo, Ben.” Panggilan pun terputus menyisakan kepanikan di hati Rein. Rasa takut menyergap jiwanya. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju ke parkiran, ingin menyusul ke lokasi di mana Zia berada. Tak lupa, Rein meminta Juna yang sudah menanti di parkiran untuk menemui klien. Sementara, ia segera mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan, berharap segera tiba di pantai sambil membatin resah. “Tidak ... tidak mungkin kamu melakukan hal bodoh ‘kan? Tidak akan aku biarkan kamu melakukan hal bodoh, Zia.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN