Keputusasaan Zia

1252 Kata
“Ibu ... ayah ... maafkan aku! Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hidupku lagi.” Zia sudah tak bisa menahan beban di hatinya. Ia putus asa. Setelah kejadian tadi pagi, Zia tahu hidupnya tak akan tenteram lagi. Dua beradik itu akan terus mengusik dan menekannya. Keduanya pun memiliki watak yang sedikit banyak sama, yaitu suka memaksakan kehendak. Sejak diantar iblis itu tadi, Zia bertahan di toilet perusahaan dan memutuskan tak ingin bekerja. Wanita itu mengendap-endap, turun ke parkiran dan bersembunyi di sana, menunggu mobilnya diantar oleh orang suruhan Rein. Ketika ia melihat mobilnya telah tiba, dengan cepat ia langsung meminta kuncinya dari anak buah Rein lalu mengelabuinya, mengatakan akan menggunakan mobil jam 09.00 nanti dan setelah orang itu pergi, Zia langsung mengemudikan mobilnya secepat mungkin ke arah pantai yang berada tak jauh dari perusahaan. Ia berniat ingin menenangkan diri di sana. Setelah memarkirkan mobil di sekitar pantai, wanita itu lalu mengeluarkan ponselnya, merasa bimbang apa ia harus menghubungi ibunya atau tidak. Pada akhirnya, tangisnya pun pecah. Alih-alih menelepon sang ibu, Zia malah merekam suaranya, meninggalkan pesan untuk orang tuanya. “Maafkan aku karena tidak bisa membahagiakan ibu dan ayah. Aku sungguh tidak mampu melanjutkan hidup lagi. Aku ingin menghilang dari dunia ini,” isak Zia tersedu-sedu. Air matanya tak tidak terbendung lagi dan mengalir begitu deras. Sungguh Zia merasa tidak memiliki pegangan lagi. Ini terlalu berat baginya. Terkadang, ia terpikir untuk menceritakan apa yang ia alami pada ibu dan ayahnya. Namun, Zia juga tidak ingin ibu dan ayahnya bersedih karenanya. “Ibu ... ayah ... aku sungguh merindukan kalian. Aku tidak sanggup melihat wajah kalian sekarang karena aku benar-benar sudah tidak berharga lagi. Aku tidak memiliki masa depan lagi. Lelaki itu sudah menodaiku dan mengancamku dengan video yang dia rekam saat memaksaku agar aku tidak menikah dengan adiknya. Itulah alasannya kenapa aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini, Bu. Maafkan aku ... maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri. Maafkan juga sikap kerasku yang bersikukuh ingin belajar hidup mandiri!” Zia terus meraung, mencurahkan semua sesak di d**a. Tak ia pedulikan lagi orang yang berlalu lalang di sekitar pantai. Pikirannya tertutup. Yang ia inginkan hanya pergi dari dunia ini walaupun ia tak tega harus meninggalkan keluarganya. “Kalau aku tahu harga diriku bakal dicabik-cabik seperti ini, aku tidak akan mungkin mau keluar dari rumah ibu dan ayah. Aku tetap akan bertahan sampai aku menikah sehingga lelaki iblis itu tak bisa memperdayaiku. Aku sungguh menyesal tidak mendengarkan larangan ibu. Aku menyesal, Bu,” ratap Zia pilu. Tangisan itu begitu memilukan, menyiratkan betapa putus asanya Zia saat ini. Gadis itu terus meracau, mengeluarkan semua unek-uneknya dan kesedihannya pada orang tuanya sampai akhirnya ia lelah. Dengan pikiran yang kalut dan berkabut, Zia mematikan ponselnya, kemudian melemparkannya ke kursi belakang. Pikirannya benar-benar kacau hingga ia tak tahu lagi apa yang ia lakukan. Yang ia mau hanya mencuci tubuh kotornya di pantai sana. Ia terus melangkahkan kakinya ke arah pantai, menatap pemandangan pantai yang begitu indah membentang luas, memberikan perasaan yang tak bisa ia deskripsikan. Sampai akhirnya kaki wanita itu pun terus melangkah ke tengah-tengah hingga air membasahi area perutnya. Tangan Zia pun spontan memainkan riak air dengan pikirannya yang benar-benar kosong. Zia membasahi tubuhnya dengan air laut, berharap bisa mencuci semua perasaan kotor yang ia rasakan lalu pelan-pelan terus melangkah ke tengah-tengah. Sampai akhirnya ia melihat ombak yang begitu besar mengarah dan menghantam tubuhnya. Saat itu, ia memasrahkan semuanya, berharap di kehidupan berikutnya ia tidak akan merasakan kepedihan dan kesedihan lagi. Pelan, tapi pasti tubuh Zia pun digulung ombak. “Selamat tinggal ibu, ayah, Daffa. Maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku,” lirih Zia sebelum akhirnya menutup mata. “Zia ... apa yang kamu lakukan, hah?” jerit Rein, tiba-tiba saja sudah ada di dekat Zia. Sekuat tenaga, Rein mengejarnya dan syukurnya, ia masih bisa meraih tangan wanita cantik itu lalu membawanya ke tepian. Rein lalu membaringkan Zia di hamparan pasir. “Bos, apa Anda dan nona Zia baik-baik saja?” Ben mendekati Rein yang terlihat sangat panik. CEO dingin itu menoleh pada Ben lalu memarahinya. “Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak segera menyelamatkan Zia?” sembur Rein emosi. “Saya sudah berusaha, Bos. Tapi Nona sudah keburu digulung ombak dan saya tidak berani menerjang ombak itu.” Dengan takut, Ben menjelaskan situasinya. “Dasar bodoh! Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, kamu akan tahu akibatnya, Ben. Sekarang pergi dan siapkan mobil! Aku akan mengeluarkan air dari tubuhnya dulu, baru membawanya ke rumah sakit.” “Siap, Bos.” Tak mau dimarahi lebih dari ini, Ben segera berlari ke arah mobil, bersiap menyalakan mesin dan menunggu sang atasan membawa Zia. Rein panik melihat wajah pucat Zia. Di satu sisi, ia benar-benar bersyukur bisa datang tepat waktu di mana ia mengemudi mobil secara ugal-ugalan sehingga tiba di lokasi sekitar kurang lebih sepuluh menit. Kebetulan pantai itu tidak begitu jauh dari perusahaan sehingga dengan kecepatan tinggi ia bisa tiba dengan cepat. Dari kejauhan, ia melihat anak buahnya berusaha untuk berenang mengejar Zia, tapi kemudian terlihat ragu karena ombak di depan sana memang begitu besar. Tapi herannya, Rein tanpa berpikir panjang malah berlari menuju ke pantai dan tanpa memedulikan keselamatannya lagi, ia langsung berenang mengejar Zia yang nyaris tenggelam. Syukurnya di detik terakhir, Rein masih bisa meraih tangan Zia sebelum wanita itu digulung ombak berikutnya. “Bangun, Zia! Buka matamu!” jerit Rein menepuk kedua pipi Zia. Tak lupa, ia memberikan nafas buatan pada wanita cantik yang membuat jantungnya nyaris terlepas dari tubuhnya. Bagaimana tidak, melihat Zia yang hampir tenggelam, membuat tubuhnya lemas. Sekuat tenaga Rein berusaha mengabaikan rasa paniknya, berusaha memanggil kewarasannya kembali dan memprioritaskan keselamatan wanita itu hingga akhirnya bisa berhasil mengejarnya dan mendapatkan wanita itu sebelum tenggelam. Tidak bisa dibayangkan jika itu sampai terjadi. Tentu, Rein akan sangat sulit menemukan tubuh Zia yang hanyut dibawa ombak. Kemarahan yang menggelegak di hati Rein karena insiden tadi pagi berganti rasa panik. Sungguh ia takut wanita ini kehilangan nafasnya. Beberapa kali, Rein berusaha menekan d**a Zia, melakukan tindakan CPR yang ia pernah pelajari untuk mengeluarkan air di tubuh gadis itu, tapi tetap tidak berhasil. Hingga pada akhirnya, usahanya untuk menolong Zia pun berhasil ketika ia memberikan nafas buatan untuk kelima kali di mana gadis cantik berambut panjang itu mulai terbatuk lalu memuntahkan air dari mulutnya. Namun, tak cukup sampai di sana kepanikan yang dirasakan oleh Rein karena Zia kembali pingsan setelah berhasil mengeluarkan air dari mulutnya. Tanpa pikir panjang, Rein segera menggendong Zia menuju ke mobil anak buahnya lalu meminta Ben untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terdekat. Rein menatap cemas wajah pucat pasi Zia yang ia baringkan di pangkuannya di kursi belakang mobil lalu mengomel geram. “Jangan mati! Kenapa kamu melakukan hal bodoh, hah? Apa kamu pikir semuanya akan selesai kalau kamu mati? Apa kamu pikir bisa langsung masuk surga?” Sempat-sempatnya Rein memarahi Zia yang sedang terpejam meskipun di hati kecilnya bergelayut rasa bersalah yang teramat sangat. Wanita ini pasti sangat putus asa hingga melakukan hal nekat, yaitu mengakhiri nyawanya sendiri. Rein tahu persis wanita cantik yang ada di pangkuannya ini tidak bersalah sama sekali. Dia hanya korban di sini. Namun, Rein tak menyangka kalau Zia bisa berpikiran singkat begini. Dibelainya rambut Zia yang basah sambil menatap wajah cantiknya yang akhir-akhir ini selalu mengusiknya, tepatnya setelah ia menodainya. Sejak saat itu, wanita ini selalu mengganggu pikiran dan emosinya yang hingga kini Rein tak mengerti kenapa. Rein menghela napas lelah lalu menatap lekat Zia sambil berbisik lirih. “Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Jangan pernah berpikir untuk melakukan ini lagi, Zia!” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN