“Bagaimana ini bisa terjadi, Pak? Kenapa asisten Zia bisa berniat bunuh diri?”
Pertanyaan Juna membuat Rein mendelik kesal. Ia yang sejak tadi berada di ruang rawat inap Zia, sudah cukup pusing memikirkan kegilaan Zia yang nekat mengakhiri nyawanya dan juga akan semakin pusing memikirkan apa yang akan ia lakukan pada gadis yang mulai membuat hidupnya tak tenang ke depannya nanti.
Herannya, Rein tak bisa mengabaikan Zia begitu saja, sedangkan ia butuh koordinasi dengan sekretaris dan anak buahnya untuk membantunya menjaga reputasi perusahaan. Terlibat dengan Zia, berpotensi akan mengacaukan bisnisnya. Namun, balik lagi ke permasalahan utama, Rein benar-benar tak bisa membiarkan Zia.
“Jangan berisik! Ini rumah sakit. Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang cemas menunggu dia bangun. Daripada rewel, mending urus saja video CCTV hotel dan urus kalau-kalau ada wartawan yang merekam aksiku menyelamatkan wanita ini tadi!”
Juna menghela napas panjang, sebelum akhirnya menanyakan sesuatu yang pastinya akan membuat sang atasan semakin marah padanya. Namun, ia sungguh penasaran, sebenarnya apa hubungan sang atasan dengan wanita yang bernama Zia tersebut.
Bekerja sebagai sekretaris CEO sebuah perusahaan terkenal, tidak serta merta membuatnya mengetahui apa saja yang terjadi dalam kehidupan Rein. CEO-nya itu adalah tipikal atasan yang dingin dan tidak berperasaan, kasar juga kejam. Para staf, terutama jika staf tersebut membuat kesalahan akan Rein pecat hari itu juga. Atasannya itu tak akan memberi kesempatan hingga dua kali jika ia menemukan suatu masalah di dalam perusahaannya. Tak heran kalau perusahaan Rein sungguh maju karena sistem yang ia terapkan di perusahaan memang sangat disiplin.
CEO-nya tersebut juga tidak pernah mengekspos tentang keluarganya. Orang hanya akan mengetahui siapa anggota keluarganya, tapi tidak akan pernah mengetahui cerita di balik keluarganya tersebut karena Rein sangat menjaga privasi selama ini. Sebenarnya, Juna juga tidak terlalu memusingkan hal itu, tapi sepertinya kali ini ia harus turun tangan terkait masalah yang baru-baru ini terjadi karena ia memiliki kecurigaan bahwasanya ada sesuatu yang terjadi antara Zia dan Rein.
Sang atasan selama ini tidak pernah peduli dengan yang namanya wanita. CEO tampan rupawan, kaya raya, serta memiliki temperamen tinggi, dingin, dan terkesan sombong tersebut tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun. Tapi kenapa seorang Rein hari ini bisa mempertaruhkan hidupnya, berenang dan rela menghadang ombak demi seorang wanita?
“Kalau boleh saya tahu, apa hubungan Anda dengan asisten Zia supaya saya bisa menangkis rumor buruk yang akan beredar antara kalian berdua, Pak?”
Rein menoleh lalu menatap Juna dengan tatapan dingin. “Sejak kapan aku mau memberitahukan urusan pribadiku padamu, Jun?”
“Tapi ini terkait reputasi perusahaan Anda, Pak. Setidaknya kalau saya mengetahui infonya, saya bisa menjadi tameng bagi Anda,” ucap Juna berusaha membujuk Rein agar jujur padanya.
Rein menatap sekretarisnya dengan tatapan garang. Sedetik kemudian, ultimatum tajam pun terlontar dari bibirnya.
“Jangan mengaturku! Ikuti saja perintahku! Aku tahu apa yang terbaik bagi perusahaan. Tidak usah terlalu dalam mencampuri urusan pribadiku. Kamu tahu aku, kan? Kapan saja aku bisa memecatmu kalau aku sudah merasa tidak nyaman. Jadi berhentilah melakukan hal-hal bodoh yang akan membuat karirmu tamat!”
Mendengar ancaman dari Rein barusan, tentu Juna merasa sedikit gentar. Namun, laki-laki berpenampilan kelimis itu tidak akan menyerah. Ia sudah lama menjadi sekretaris Rein. Sekasar-kasarnya mulut lelaki itu, tidak mungkin pria tersebut bisa memecatnya begitu saja karena kelangsungan perusahaan juga bergantung padanya karena dirinya adalah tangan kanan Rein sejak lama.
Sepertinya, tak ada yang bisa dilakukan oleh Juna selain menyelidiki sendiri soal Rein melalui koneksinya karena sepertinya hubungan CEO-nya itu dengan Zia adalah hubungan yang sangat serius dan hubungan antara keduanya diyakini oleh Juna bisa menggoyah perusahaan. Karena itu ia akan segera turun tangan.
“Maaf, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
“Urus juga semua meeting kita! Aku tidak akan keluar dari rumah sakit ini sebelum memastikan keadaan wanita ini baik-baik saja,” titah Rein lagi.
“Siap, Pak.” Tanpa membantah lagi, Juna segera meninggalkan sang atasan yang kembali menatap Zia dengan sorot penuh kecemasan.
Dari sana saja, Juna tahu persis ada hubungan spesial yang terjadi antara mereka berdua dan ia akan segera menyelidikinya sebentar lagi.
“Kenapa kamu begitu bodoh? Apa kamu pikir dengan mengakhiri hidupmu, maka semua masalah akan beres? Kenapa kamu harus bunuh diri? Apa aku terlalu keras padamu?”
Rein menatap wajah cantik Zia yang saat ini sudah berganti pakaian khas rumah sakit. Tak ada lagi air pantai di dalam tubuh Zia, tapi wanita itu belum juga sadar dari pingsannya. Dokter mengatakan ada masalah psikis juga yang mendorong wanita tersebut sehingga belum mau sadar dari pingsannya dan Rein tahu apa yang menjadi beban pikiran Zia.
“Kamu pasti pusing memikirkan Rey yang akan terus datang mengejarmu, kan?” Rein kembali menggumam walaupun dia tahu, Zia tidak akan bisa menjawab pertanyaannya karena masih belum sadarkan diri.
“Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Kenapa aku jadi ikutan peduli sama kamu? Apa ini semua karena mama selalu menyugesti otakku soal keburukanmu sehingga alam bawah sadarku menyimpan namamu dan membuatku selalu terusik,” batin Rein merasa heran dengan tingkahnya sendiri.
Lamunan Rein seketika buyar ketika ia melihat Zia mulai mengerjapkan matanya. Rasa senang langsung menghampiri jiwanya. Perasaannya begitu lega karena wanita yang ia selamatkan tadi bisa kembali sadar, sehat tanpa kekurangan apa pun.
“Kamu sudah sadar?” tanya Rein sambil menyentuh lengan Zia.
Kata-kata yang meluncur dari bibir Rein dan sentuhan pria itu di lengannya, spontan membuat Zia gemetar dan reaksi yang ditunjukkan oleh Zia di mana wanita itu segera menarik diri, menjauhkan tubuhnya dari Rein, sungguh membuat pria itu tersinggung.
“Kamu itu baru sadar, jangan membuatku marah, ya!” omel Rein menahan diri untuk tidak membentak Zia.
“Pergi!? Jangan dekati aku lagi!” jerit Zia histeris sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. Tubuhnya terlihat gemetaran.
Rein naik darah. Tak ia hiraukan lagi di mana ia berada sekarang. Pria itu langsung meninggikan suaranya.
“Dasar tidak tahu terima kasih! Harusnya kamu berterima kasih padaku karena aku yang menyelamatkan kamu dari gulungan ombak. Kalau aku tak datang, mungkin sampai sekarang tubuhmu belum bisa ditemukan di pantai sana.”
“Kenapa kamu repot menyelamatkanku, padahal aku sudah susah payah masuk ke dalam air, berharap semuanya berakhir? Kenapa kamu datang? Kamu memang benar-benar jahat? Bahkan kamu tak membiarkan aku mengakhiri penderitaanku,” jerit Zia histeris. Batinnya kacau dan tertekan. Ia tak peduli soal hidup lagi saat ini.
“Heh, kamu seharusnya berterima kasih, bukan malah menyalahkanku,” bentak Rein emosi.
“Untuk apa aku hidup? Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi. Semuanya sudah kamu rampas. Baik kamu juga adikmu bukannya memberikanku ketenangan, tapi malah membuatku menderita. Kalian iblis. Aku hanya ingin pergi jauh dari hidup kalian. Kenapa kamu membawaku kembali?” pekik Zia tak bisa membendung amarah dan rasa sesak yang ia alami lagi.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kamu itu karyawanku. Kamu terikat kontrak kerja denganku selama dua tahun, jadi kamu tidak bisa menghilang begitu saja.” Rein yang semakin tersulut emosi, terus meninggikan suaranya sambil memelototi Zia.
“Maka itu aku ingin mengakhiri semuanya dengan nyawaku ...” jerit Zia lagi. Air matanya kembali tumpah. Betapa putus asanya ia sekarang.
Wanita itu menatap nyalang sekitarnya lalu tak sengaja melihat ke arah sebuah meja di samping ranjang. Dalam perasaan kalut dan putus asa, Zia melihat sebuah gelas di sana. Tanpa pikir panjang, gadis itu meraih gelas tersebut lalu memecahkannya dan tanpa aba-aba ia menggoreskannya ke pergelangan tangan dan itu sukses membuat Rein memekik histeris lalu menghambur ke arah Zia.
“Apa yang kamu lakukan, hah?” bentak Rein panik. “Kenapa kamu terus saja melakukan hal bodoh?”
Zia mengarahkan tangannya ke arah Rein, meminta laki-laki itu agar jangan mendekatinya.
“Pergi!? Biarkan aku mati agar aku bisa lepas dari semua rasa sakit ini!”
Rein tak memedulikan ucapan Zia lagi. Ia langsung mendekati Zia yang masih memegang pecahan gelas lalu merebut pecahan gelas tersebut dari tangannya, kemudian melemparnya jauh-jauh. Tangan satunya memegangi pergelangan tangan Zia yang sudah berlumuran darah.
Dengan panik, Rein menekan tombol yang ada di belakang ranjang untuk memanggil dokter agar segera datang supaya bisa menyelamatkan wanita yang terus membuatnya panik setengah mati.
“Jangan pernah melakukan hal ini lagi, Zia!” ucap Rein memperingatkan sambil menahan debaran jantungnya yang menggila karena dirundung kecemasan.
Zia yang tangannya terus mengeluarkan darah, lama-lama mulai merasa lemas. Perlahan, pandangan matanya pun menggelap dan sebelum ia kehilangan kesadaran sepenuhnya, Zia melontarkan kata-kata yang mungkin akan menjadi kata-kata terakhirnya.
“Jangan selamatkan aku lagi! Aku ingin pergi dari dunia ini, melepaskan semua kepedihan akibat perbuatanmu yang tidak akan pernah kulupakan hingga aku mati. Lepaskan aku, Rein! Biarkan aku terbebas dari dari penderitaan ini!”
Bersambung ...