Rein menjerit histeris melihat Zia kembali tak sadarkan diri, terutama saat melihat darah segar yang mengalir dari tangan gadis itu.
“Dokter, tolong Zia!” pekik Rein menahan diri agar tidak melepaskan Zia dari pelukannya, akibat terlalu lemas.
Bagaimana tidak, darah yang keluar dari pergelangan tangan Zia tak main-main banyaknya. Yang ada di dalam benak Rein, Zia akan keburu meninggal kehabisan darah kalau tak segera ditangani.
“Astaga, Pak Rein! Apa yang terjadi?” Dokter Fendi, yang sejak awal menangani Zia segera meminta para asistennya untuk memindahkan Zia ke brankar untuk segera dibawa ke ruang operasi.
“Apa dia masih bisa diselamatkan, Dok?” tanya Rein menekan rasa takutnya.
“Semoga saja. Saya tinggal dulu, Pak Rein. Saya akan segera mengoperasi nona Zia secepatnya.”
Dokter dan para asistennya bergegas menuju ruang operasi, meninggalkan Rein yang langsung terduduk lemas, masih sangat syok melihat nekatnya tindakan Zia tadi. Tak pernah ia duga, gadis cantik itu memutuskan untuk pergi dari dunia karena perbuatannya.
Rein tahu, ia telah melakukan sebuah kesalahan besar dengan menodai wanita suci. Andai Rein tahu kalau Zia masih perawan dan tidak terhasut oleh ucapan sang mama dan mengira Zia adalah perempuan jalang, tentu ia tak akan melakukan hal hina yang tak pernah ia lakukan pada wanita mana pun sebelumnya.
Pria tampan itu menyesal telah menuruti emosinya membela sang mama sehingga gelap mata membuat rencana keji demi sebuah video yang bisa digunakan untuk memisahkan Zia dan Rey selama-lamanya.
“Apa yang telah kulakukan?” batin Rein frustrasi.
Pria itu menyugar rambutnya kasar, tak tahu harus bagaimana menangani masalah Zia. Apalagi, ia tahu sang adik akan terus mengejar gadis itu. Sempat terpikir untuk mengurung Zia di apartemennya yang lokasinya tidak diketahui baik oleh adik maupun mamanya. Tapi dengan kondisi seperti sekarang, ia tak yakin bisa mewujudkannya.
Dari mata Zia tadi, terpancar kebencian yang teramat dalam padanya. Mustahil kalau ia bisa menjaga emosi jika harus terlibat dengan Zia yang pastinya akan selalu memberontak padanya. Kemungkinan, Rein akan selalu tersulut emosi yang membuatnya terus berlaku kasar, sedangkan Zia bisa saja terus melakukan perbuatan nekat ini sewaktu-waktu.
“Aarrgghhh, sial!” jerit Rein mengacak-acak rambutnya. Kepala Rein serasa mau pecah, begitu pusing memikirkan jalan keluar dari semua permasalahannya.
Tiada terasa, satu jam lebih Rein menghabiskan waktunya untuk berpikir keras. Pada akhirnya, kegelisahannya tadi perlahan sirna saat ia melihat dokter dan para asistennya beserta Zia yang berada di sebuah brankar telah kembali ke dalam ruangan.
“Bagaimana keadaan Zia, Dok?” Rein langsung mendekati dokter, tak sabar menanyakan keadaan gadis yang membuatnya pusing kepala.
“Syukurnya nona Zia masih bisa diselamatkan, Pak Rein. Mohon ikut ke ruangan saya sebentar! Kita biarkan nona Zia beristirahat. Ada hal penting yang harus saya bicarakan soal percobaan bunuh diri yang dilakukan nona Zia.”
Rein mengangguk. Bersama dengan dokter Fendi, lelaki tampan itu melangkah ke ruangan yang berada di dekat ruangan rawat Zia.
“Sebelumnya saya minta maaf karena harus menanyakan ini pada Anda, Pak Rein. Saya berani bertanya karena saya sudah lama menjadi dokter pribadi Anda dan keluarga Anda.” Dokter Fendi mulai bertanya setibanya ia dan Rein di ruangannya sesaat setelah mempersilakan CEO tampan itu duduk di depan mejanya.
Rein menghela napas panjang, tahu persis apa yang akan ditanyakan oleh dokter Fendi karena lelaki berkacamata itu sudah mengenalnya cukup lama, bahkan sejak remaja.
“Tanyakan saja, Dok! Tidak masalah. Kita juga bukan baru kenal. Sudah cukup lama kita bekerja sama dan sudah saling memahami karakter masing-masing,” ucap Rein dingin.
“Iya, Pak Rein. Saya ingin membahas soal nona Zia yang tampaknya akan melakukan percobaan demi percobaan bunuh diri ke depannya nanti,” tegas dokter Fendi menginformasikan.
Alis pria itu mengerut. Spontan, Rein bertanya pada dokter pribadinya. “Maksud, Dokter?”
“Nona Zia berpotensi akan melakukan hal yang sama berulang-ulang, Pak. Karena itu saya ingin bertanya pada Anda, apa hubungan Anda dengan nona Zia? Saya ingin mengetahui apakah apa yang sebenarnya terjadi pada nona Zia. Apakah dia mengalami kekerasan atau mengalami perundungan yang membuatnya tidak ingin melanjutkan hidup lagi?”
Rein tahu apa yang diinginkan oleh dokter Fendi. Namun, ia tidak mau orang lain tahu yang sebenarnya karena memang tidak ada satu pun yang tahu apa yang sudah ia lakukan pada Zia, termasuk sekretarisnya sendiri.
Rein menyimpan semuanya rapat-rapat, tidak melibatkan anak buahnya sama sekali dalam aksinya melakukan hal b***t itu pada Zia yang saat ini sungguh ia sesali.
“Kenapa Anda menanyakan itu pada saya, Dok?”
“Karena saya tahu persis Anda tidak pernah terlibat wanita mana pun sebelumnya dan fakta bahwa Anda menyelamatkan wanita itu yang adalah karyawan Anda sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda dengan berenang menghadang ombak, sudah menunjukkan kalau Anda memiliki hubungan khusus dengan wanita yang sedang saya rawat tersebut.”
Dokter Fendi menjeda ucapannya, menakar emosi Rein yang bisa saja meledak-ledak karena terlalu didesak. Pelan-pelan dokter paruh baya itu meyakinkan Rein karena sedikit banyak, Fendi sudah bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi.
“Anda bisa mempercayai saya, Pak. Saya tidak akan mungkin membongkar rahasia Anda. Saya hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada nona Zia karena percobaan bunuh diri itu tidak akan mungkin terjadi sekali ataupun dua kali saja, tapi akan berlangsung terus-menerus sampai dia benar-benar bisa mengakhiri nyawanya.”
“Tidak mungkin ... tidak mungkin itu terjadi.” Rein menggeleng pelan.
“Karena itu saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada nona Zia, Pak. Anda bisa menceritakannya pada saya dan saya akan tutup mulut bahkan akan mencarikan solusi agar kejadian ini tidak terulang lagi,” sambung Fendi lagi.
Rein terdiam, menimbang apakah ia harus memberitahukan perbuatan jahatnya pada dokter berkacamata itu atau berdiam diri saja. Namun, mendengar dokter Fendi mengatakan bahwa Zia akan mengulangi percobaan bunuh diri itu di masa depan, Rein merasa ngeri.
Tidak pernah ia merasa setakut ini sebelumnya. Karena selama ini ia tidak memedulikan siapa pun, kecuali sang mama dan adiknya. Untuk pertama kalinya, Rein begitu khawatir pada seseorang yang terus berenang di pikirannya sejak lama. Khususnya beberapa hari ini di mana nama itu meresap di dalam hatinya, membuatnya gelisah juga cemas.
“Apa Anda tidak bisa memberikan masukan pada saya agar kejadian ini tidak terulang lagi?” Rein masih mencoba bernegosiasi tanpa harus membongkar rahasianya.
Fendi menggeleng. “Maaf, tidak bisa, Pak. Permasalahan yang dihadapi oleh nona Zia itu adalah permasalahan psikologis yang kita harus cari tahu penyebabnya sehingga saya dengan tim dokter, terutama psikiater bisa memberikan obat yang tepat, serta memberikan terapi yang cocok supaya nona Zia kembali memiliki semangat hidup. Untuk itu kita harus mengetahui dulu masalah yang sebenarnya.”
“Tidak bisakah Anda dan tim Anda mencari tahu sendiri?” tanya Rein lagi.
“Tidak, Pak. Kalaupun kami mencari tahu, tidak akan mungkin nona Zia mau memberitahunya karena saat ini yang ada di pikirannya hanya mati,” pungkas Fendi.
“Separah itu, Dok?” Rein tak menyangka.
“Separah itu, Pak. Nona Zia sudah melakukan percobaan bunuh diri yaitu masuk ke dalam air, berniat tenggelam di pantai sana, ingin mengakhiri hidupnya dan ia melakukannya kedua kali di depan Anda. Saya sudah memiliki gambaran soal kasus nona Zia, tapi saya ingin mendengarkan dari mulut Anda sendiri sehingga saya bisa menentukan treatment apa yang tepat untuk nona Zia.”
Rein tercenung. Sepertinya ia tak bisa mengelak lagi. Tidak ada gunanya menyimpan semuanya kalau itu akan memperburuk keadaan. Pelan-pelan, Rein mulai menceritakan semua yang ia lakukan pada Zia hingga tadi pagi di mana ia nyaris melakukan hal yang sama setelah adiknya sendiri akan melakukan hal serupa pada Zia untuk memiliki wanita itu.
“Setelah saya menceritakan semua ini, tolong jangan menghakimi saya!” tegas Rein mengantisipasi omelan yang kemungkinan akan meluncur dari bibir dokter pribadinya tersebut.
Dokter berkaca mata itu menatap serius pada Rein lalu berkata. “Saya tidak akan menghakimi Anda karena Anda juga memiliki alasan, Pak. Hanya saja, kasus yang nona Zia alami, bukanlah kasus yang mudah dan sebaiknya Anda tidak menemui nona Zia dalam kurun waktu yang lama.”
Bersambung ...