“Bagaimana mungkin saya tidak menemuinya, Dok? Saya masih memiliki misi untuk memisahkannya dari adik saya yang hingga detik ini masih tergila-gila padanya meskipun adik saya itu sudah mengetahui kondisi Zia tidak suci lagi. Malah dia menyangsikan semua yang dikatakan oleh Zia yang menyampaikan kalau dia sudah tidur dengan laki-laki lain.”
Rein menyatakan keberatannya dijauhkan dari Zia. Dengan banyak alasan, lelaki itu tak mau dipisahkan dari wanita itu.
“Adik saya sungguh sangat terobsesi padanya dan saya harus memisahkan adik saya dari wanita itu selamanya. Saya harus memastikan itu sehingga mama saya tidak terus-terusan bersedih,” lanjut Rein lagi, masih terus-terusan berkilah.
Sejenak, dokter Fendi terdiam. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai macam spekulasi. Yang dokter Fendi tahu, ada empat orang yang bermasalah dengan psikologisnya, yaitu Zia, sang mama, sang adik dan juga Rein sendiri dan ini benar-benar rumit mengingat Fendi sudah mengetahui persis relasi Rein yang begitu luas.
Apa saja bisa pria dingin ini lakukan, terutama yang mengganggu kehidupan pribadinya. Itulah sebabnya, Fendi tidak mau mendesak ataupun memojokkan laki-laki ini. Ia harus mencari solusi yang tepat agar semuanya bisa berjalan lancar.
“Anda tetap bisa memantau nona Zia, tetapi dalam pengawasan seorang psikiater, Pak Rein.”
Alis mata Rein spontan mengernyit menatap dokter Fendi. “Maksud Anda?”
Dokter Fendi menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh Rein di mana laki-laki tegap, tampan, bertemperamen tinggi, serta memiliki sikap dingin dan arogan tersebut harus menjaga jarak dari Zia, bahkan dalam waktu dekat tidak boleh menampakkan sedikit pun wajahnya pada gadis itu karena akan memicu perbuatan nekatnya kembali.
“Jadi saya tak boleh sedikit pun menemuinya?” Rein semakin keberatan. Entah apa alasannya, tapi di hati kecilnya, Rein ingin melihat Zia, tak ingin jauh darinya.
“Untuk sementara ini tidak boleh, Pak. Anda boleh membayar seseorang untuk merawat nona Zia, dan memperhatikannya baik-baik, tapi Anda tidak boleh berkomunikasi langsung karena statusnya di sini Anda adalah pelaku dan nona Zia adalah korban.”
Wajah Rein terlihat marah saat Fendi mengatakan demikian, tapi dokter paruh baya itu nekat terus mengatakan apa yang sebaiknya Rein lakukan agar Zia tidak mengulangi perbuatan nekatnya.
“Maaf mengatakan ini, Pak. Namun, di mana pun kasusnya, seorang korban tidak akan mau bertemu dengan sang pelaku. Itu akan itu akan membuatnya tertekan. Jadi, jika Anda masih menginginkan nona Zia selamat, tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi, maka dengan sangat terpaksa saya mengatakan Anda tidak boleh berinteraksi langsung lagi dengan nona Zia."
***
Mata Zia mulai mengerjap dan pelan-pelan gadis itu bisa meraih kesadaran sepenuhnya. Harapannya, ia sudah berada di surga saat ini.
“Apa aku sudah mati?” batinnya sambil terus berusaha menggerakkan bola matanya lalu tak lama matanya pun terbuka.
Sekuat tenaga Zia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi tetap tidak bisa. Sampai akhirnya ia menyadari kalau kedua tangannya diikat di sebuah ranjang dan itu membuatnya menjerit histeris.
“Lepaskan aku! Jangan biarkan aku hidup lagi! Kalian semua jahat padaku.” Zia menangis terisak, meluapkan semua emosinya.
Sesekali ia memanggil orang-orang yang ada di sekitarnya untuk melepaskan kedua tangannya sehingga ia bisa melakukan percobaan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya lagi karena ia memang benar-benar tidak ingin hidup lagi.
Sampai akhirnya suara lembut seorang wanita menyapa pendengarannya, membuat tangis Zia terhenti.
“Menangislah, Nona! Keluarkan semuanya. Menangislah sejadi-jadinya, setelah itu bicara pada saya.”
“Anda siapa?” tanya Zia pelan.
“Saya adalah psikiater yang akan merawat Anda.”
“Saya tidak gila. Saya tidak butuh perawatan Anda,” jerit Zia emosi.
“Saya akan memberi terapi pada Anda, Nona. Kehidupan Anda masih sangat panjang. Anda masih sangat muda dan Anda memiliki keluarga yang menanti Anda di rumah. Apakah Anda tidak memikirkan canda tawa orang tua Anda? Keluarga Anda akan berduka jika mengetahui Anda telah tiada.” Dokter Mila mencoba membuka logika Zia.
Zia menangis begitu pilu, membayangkan ibu, ayah, adik, dan sepupu yang begitu sayang padanya dan baik padanya yang pastinya akan bersedih karena kehilangannya.
Ia tahu ia salah karena berniat mengakhiri hidup supaya bisa menghilangkan kesedihan di hatinya. Zia juga tahu kalau kepergiannya pasti akan membuat keluarganya kecewa. Namun, ia juga sudah tidak sanggup menjalani hidup ini.
“Saya lagi sudah tidak sanggup lagi menjadi hidup ini, Dokter. Tubuh saya sudah kotor. Saya tidak memiliki masa depan lagi. Semua impian saya kandas. Orang yang menodai saya akan terus meneror saya agar saya tidak berhubungan lagi dengan adiknya. Bahkan adiknya, yaitu mantan tunangan saya nyaris melakukan hal yang sama pada saya. Untuk apa saya bertahan hidup kalau ujung-ujungnya akan terus menderita?” raung Zia histeris.
“Nona, semua itu bisa diselesaikan baik-baik. Saya sudah mengetahui masalah Anda. Pak Rein sudah menceritakan semuanya.”
“Kenapa Dokter mau membantunya? Kenapa tak kalian biarkan saja aku pergi dari dunia ini?” jerit Zia lagi.
“Anda tidak boleh memutus kehidupan Anda, Nona. Masalah seperti yang Anda alami, juga dialami oleh berapa juta orang di dunia ini dan mereka nyatanya bisa hidup bahagia, bisa berkeluarga, bisa—”
“Saya tidak akan mungkin bisa memiliki keluarga. Siapa yang mau menikahi wanita kotor dan hina seperti saya,” potong Zia putus asa.
“Kamu tidak kotor. Kamu hanyalah korban. Korban juga bisa berbahagia jika mau berdamai dengan masa lalu. Nona, hidup Anda itu sangat berharga. Setidaknya, Anda harus mengingat senyuman ibu dan ayah Anda yang menanti Anda pulang dan menginginkan senyuman dari Anda.”
“Saya tak yakin bisa tersenyum lagi, Dokter. Kebahagiaan saya sudah dirampas lelaki itu,” seru Zia penuh emosi.
“Masih bisa, Nona. Pelan-pelan Saya akan membantu Anda untuk keluar dari trauma yang Anda alami untuk melanjutkan hidup yang indah ini. Tenangkan diri Anda! Semuanya akan baik-baik saja. Pak Rein tak akan mengganggu Anda lagi. Anda akan terbebas dari ancaman lelaki itu.”
“Mustahil,” pekik Zia tak percaya.
“Saya serius, Nona. Pak Rein tak akan menemui Anda lagi, jadi Anda bisa meneruskan hidup Anda tanpa tekanan. Dia telah diminta dokter Fendi untuk menjauh dan memantau Anda secara tak langsung sehingga Anda bisa bernapas lega dan menjalani hari-hari Anda tanpa kecaman darinya.”
Dokter Mila menatap mata sembab Zia lalu tersenyum padanya. “Percayai saya, Nona! Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, saya akan melepaskan ikatan tangan Anda. Namun, berjanjilah untuk tidak akan menyakiti diri Anda lagi!”
“Saya—” Kata-kata Zia tercekat di tenggorokan, merenungi semua yang dikatakan oleh dokter cantik yang sedang menatapnya dengan tatapan lembut.
Apakah benar ia masih memiliki masa depan? Apa benar, ia bisa hidup dengan tenang tanpa ancaman dari Rein lagi?
Bersambung ...