Seminggu telah berlalu pasca kejadian tragis di mana Zia nyaris mengakhiri hidupnya dua kali berturut-turut dalam satu hari. Dalam satu minggu itu pula, Rein uring-uringan, membuat Juna pusing karena semua yang ia lakukan tidak ada yang benar di mata Rein.
Imbasnya, para staf pun jadi bulan-bulanan sang CEO. Juna sudah mengetahui persis apa yang terjadi pada atasannya melalui penyelidikan anak buahnya. Pria itu telah mengetahui sebuah rahasia besar, rahasia kelam yang tidak pernah dilakukan oleh Rein seumur hidupnya, yaitu menodai seorang wanita yang ternyata adalah Zia yang nyaris melakukan upaya bunuh diri sebanyak dua kali di depan Rein.
Kini, Juna tahu dan bisa memahami kondisi Zia. Namun, yang ia tak habis pikir, kenapa Rein jadi ikut stres setelah dokter Fendi menyarankannya untuk tidak menemui Zia lagi. Sementara, wanita cantik itu sudah mulai bekerja kembali dan sudah mendapatkan semangat hidup melalui bantuan psikiater.
“Sial, dasar sial!” geram Rein membanting semua benda yang ada di dalam ruangannya.
Hatinya tak juga tenang karena tak bisa melihat wajah Zia. Sejak diminta dr. Fendi untuk menjauh dari Zia, sejak saat itu pula moodnya memburuk. Padahal, harusnya ia lega karena sang adik tak dapat menemukan Zia karena ia telah memindahkan wanita itu ke apartemen lain.
“Katakan pada saya apa yang mengganggu Anda, Pak?” tanya Juna mencoba memancing kejujuran sang atasan.
Rein menoleh sengit lalu mengarahkan tangannya ke arah pintu, kemudian mendesis tajam.
“Keluar kamu!? Aku tidak butuh siapa-siapa. Biarkan aku sendiri!”
“Tapi Anda sudah membuat situasi menjadi kacau, Pak. Kurang lebih satu minggu ini, mood Anda benar-benar buruk dan itu mempengaruhi kinerja Anda. Staf kita juga jadi ketakutan dan tegang karena tak henti-hentinya Anda marahi meski mereka tak melakukan kesalahan apa pun.” Dengan nekat, Juna mengatakan semua yang mengganggu pikirannya.
Mata Rein melotot tajam. Bersamaan dengan itu, bentakan demi bentakan terlontar dari bibirnya.
“Diam kamu! Tidak usah mengaturku. Ini perusahaanku. Aku mau marah kek, mau memecat siapa kek, terserah aku.”
“Apa Anda sebaiknya tidak jujur saja pada saya, Pak? Masalah apa yang sedang Anda hadapi? Ceritakan pada saya, siapa tahu saya bisa meringankan beban Anda!”
Juna kembali berusaha memancing sang atasan untuk terbuka padanya walaupun ia sudah tahu persis apa yang terjadi. Setidaknya, Juna masih ingin menghargai atasannya tersebut.
“Jangan ikut campur urusanku!?” hardik Rein berapi-api.
Lagi-lagi, Juna hanya bisa menghela napas panjang. Setelah menyodorkan dokumen yang harus ditandatangani, Juna pamit meninggalkan ruangan sang atasan, berniat membiarkan laki-laki itu berkutat dengan permasalahannya sendiri dan menanggung beban yang begitu berat sendirian.
Bukan salahnya lagi, ia sudah berusaha membuka jalan agar sang atasan bisa berterus terang. Tapi ternyata, Rein tetap pada pendiriannya. Juna akan memantau sebatas mana Rein bisa menahan semuanya.
Rein mengepalkan tangannya, merasa geram setengah mati. Satu minggu ini, ia hanya bisa mengintip Zia dari kejauhan, memperhatikan wanita cantik yang terus saja mengganggu pikirannya. Satu minggu penuh tidak berjumpa, dalam satu minggu itu juga ia stres, tidak tahu kenapa.
“Sebenarnya kenapa denganku? Harusnya aku senang tidak bertemu dengannya?”
Rein tak habis pikir dengan kelakuannya sendiri. Wanita itu sudah dalam penanganan psikiater sekarang, bahkan tempat tinggalnya pun sudah dipindahkan dekat dengan apartemen psikiaternya dan itu semua menggunakan uangnya. Itu tidak masalah baginya. Yang menjadi masalah adalah ia tidak bisa menemui wanita itu karena dokter terus-terusan melarangnya.
Dokter Fendi mengatakan Zia sudah pulih kembali. Kalau permasalahannya hanya ingin memisahkan Rey dari Zia, maka semuanya gampang karena Rey tak akan bisa menemukan Zia. Bahkan Rey tidak mengetahui kalau Zia bekerja di perusahaan miliknya. Lagi pula ponsel Zia tidak tahu di mana berada sehingga Rey tidak bisa melacak keberadaan Zia kembali.
Artinya wanita itu bisa bekerja di perusahaannya selama dua tahun tanpa gangguan adiknya sama sekali. Harusnya ia senang akan hal itu karena tanpa ia harus turun tangan secara langsung, adiknya tidak akan pernah bisa menemukan Zia lagi. Tapi entah kenapa ia jadi kesal dibuatnya.
Tanpa bisa ditahan, akhirnya Rein melangkahkan kaki keluar ruangan, berniat mengintip Zia dari kejauhan. Hari ini wanita cantik itu mulai bekerja kembali bersama manajer Rafli. Sudah bisa dibayangkan, betapa kesal dan panasnya hatinya melihat Zia berakrab ria dengan laki-laki yang merupakan manajer di perusahaannya tersebut.
Benar saja, setibanya Rein di lantai lima belas di mana ruangan manajer Rafli berada, ia sudah disuguhi pemandangan yang begitu membuat hatinya terbakar. Bagaimana tidak, Zia terlihat begitu ceria tertawa dan bercanda bersama manajer Rafli di ruangannya. Dari kejauhan, Rein memperhatikan sambil mengepalkan tangan dan mengumpat di dalam hatinya.
“Kalau begini caranya, Rafli akan semakin jatuh cinta pada wanita itu. Zia juga pasti akan membuka hati padanya karena mendapatkan sebuah sandaran. Bagaimana caranya supaya aku bisa mendekati Zia lagi dan mencegahnya akrab dengan Rafli? Kapan aku bisa mendekati Zia dan memperingatkannya agar tidak menggoda para pria?” gumam Rein kesal.
Dada Rein sesak melihat derai tawa lepas Zia di ujung sana, sebuah tawa yang indah yang tak pernah ia lihat dari gadis itu saat berinteraksi dengannya. Rein tak sanggup lagi. Lelaki tegap itu mulai melangkah, bersiap ingin menemui Zia dan bicara empat mata padanya. Namun, saat ia ingat lagi bagaimana menyeramkannya Zia mengiris pergelangan tangannya sendiri di depan matanya, membuat Rein sontak berhenti melangkah.
Spontan, Rein berbalik badan menahan rasa kesal di hatinya serta meredam sesuatu yang tidak bisa ia deskripsikan, yaitu keinginan bertemu dan melihat Zia dari dekat. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya lalu mengomeli dirinya sendiri.
“Sudah, Rein! Jangan hiraukan wanita itu lagi! Biarkan dia bekerja di sini selama dua tahun tanpa gangguan dari Rey dan siapa pun itu!”
Rein berusaha menepis perasaan-perasaan yang tidak ia mengerti sampai akhirnya ia mendengar percakapan Zia dan Rafli dari kejauhan yang menyulut bara api di hatinya.
“Nanti malam aku antar kamu pulang, ya! Kita mampir dinner terlebih dahulu. Aku rela kok mengantar jemput kamu setiap hari sampai kontrak kamu habis.”
Kata-kata yang meluncur dari bibir Rafli itu terdengar sayup-sayup di telinga Rein dan itu membuatnya kesal setengah mati. Laki-laki itu sudah berani berniat menjemput dan juga mengantar Zia setiap hari. Sialan!
Itu artinya laki-laki itu akan semakin akrab dengan gadis sialan itu dan Rein tidak suka itu. Tapi bagaimana caranya menjauhkan Zia dan Rafli kalau dirinya sama sekali tidak boleh bertemu muka dengan wanita itu?
“Bagaimana caranya aku memisahkan Zia dari Rafli kalau begini caranya?”
Bersambung ...