Terusik

1520 Kata
“Pak, liftnya macet.” Sekretaris Juna menyampaikan informasi terkait lift yang tiba-tiba mati mendadak di lantai delapan sambil menghubungi stafnya untuk membukakan pintu secara darurat. Rein mengepalkan tangannya kesal. Ada-ada saja yang mengganggu bisnisnya. “Sial! Kenapa bisa mati begini? Kita ini akan menemui klien penting siang ini, Jun.” “Sepertinya ada gangguan teknis, Pak. Saya akan segera menghubungi staf terkait untuk memperbaiki lift ini. Dengan terpaksa kita turun di sini dan lanjut naik lift karyawan,” ucap Juna segera mempersilakan sang atasan keluar lift saat para staf berhasil membukakan pintu secara paksa untuk mereka. Rein melangkah keluar, menatap arlojinya sambil menggerutu kesal dalam hati. Ia paling benci naik lift karyawan yang selalu saja padat. Namun, ia terpaksa dan tak ada pilihan lain. Karena jika terlambat sedikit saja, klien kakap yang akan ia dan Juna lobi bisa terlepas dari genggaman. Dengan wajah ditekuk, Rein melangkah menuju lift karyawan diiringi sang sekretaris. “Kita harus cepat, Jun. Klien kita yang dari Korea itu akan pergi jika kita terlambat. Kita bahkan harus datang lebih awal untuk menunjukkan dedikasi serta kedisiplinan yang akan membawa nama baik perusahaan.” Juna mengangguk sambil menekan tombol lift. “Jangan khawatir, Pak! Kita tak akan terlambat. Saya akan menyetir secepat mungkin menuju restoran.” Pintu lift pun terbuka dan pemandangan yang mengesalkan pun menyapa penglihatan CEO dingin itu. Bagaimana tidak, dengan santainya manajer Rafli mengunci tubuh wanita yang dibenci oleh mamanya ke dinding serapat itu. Apa manajer Rafli tak punya moral melakukan hal bersifat intim itu dalam lift di hadapan orang seramai ini? Tangan Rein mengepal menahan geram, terutama saat melihat wanita itu tersenyum sambil berbincang-bincang dengan Rafli dalam jarak yang begitu dekat. Entah kenapa itu benar-benar mengusiknya. Hatinya panas dan gusar. Namun, akal warasnya masih mendominasi. Dipikir-pikir, untuk apa ia ikut campur urusan itu. Rein bahkan tak habis pikir dirinya sempat membahas moral tadi, padahal sejatinya dirinya sendiri bukanlah pria bermoral. “Mari kita masuk, Pak! Liftnya agak sedikit penuh.” Tanpa menjawab sepatah kata pun, Rein segera masuk ke dalam lift yang berdesakan itu dengan hati kesal. Bukan hanya kesal karena liftnya padat, tapi juga jengah melihat Rafli yang terus-terusan menggoda Zia di tengah keramaian. Tanpa bisa dikendalikan, Rein yang tadi sempat menyugesti otaknya agar tidak terlibat apa pun dengan Zia, membiarkan wanita itu bekerja di perusahaannya tanpa ikut campur urusannya lagi, tiba-tiba melakukan hal impulsif yang tidak ia rencanakan karena terlalu gerah melihat Zia yang tampak begitu nyaman dalam kungkungan sang manajer yang memiliki paras tampan tersebut. Tanpa bisa ditahan, Rein berbalik badan menatap Zia dengan tajam, kemudian memberikan perintah pada Rafli yang tidak pernah ia sangka akan meluncur dari bibirnya. “Manajer Rafli, Anda harus turun sekarang. Liftnya terlalu penuh. Naik lift berikutnya saja karena saya sedang buru-buru.” Zia tercengang, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kenapa dari sebanyak karyawan yang ada di sini, harus manajer Rafli yang dikeluarkan dari lift, apalagi liftnya belum over loaded sama sekali. Wanita berparas cantik itu tidak mau satu lift dengan laki-laki jahat itu. Ia juga tak mau dipisahkan dari Rafli yang sudah ia anggap sebagai seorang pelindung. Ya, manajer Rafli akan dijadikan pelindung oleh Zia dari kezoliman sang CEO berhati iblis itu. Sorot tidak rela di mata Zia itu terbaca oleh Rafli sehingga ia langsung menurunkan kedua tangannya yang dipergunakan untuk melindungi Zia agar tidak bersentuhan dengan aneka laki-laki lalu nekat menggenggam tangannya. Tanpa buang waktu Rafli menarik tangan Zia keluar dari lift setelah sebelumnya menunduk hormat pada CEO Rein dan juga sekretaris Juna sebelum pintu lift tertutup. “Saya turun bersama asisten Zia, ya, Pak. Saya masih harus berbincang terkait meeting kami nanti.” Pintu lift pun tertutup. Hati Rein seketika meradang. Namun, laki-laki itu tidak bisa melakukan apa pun karena semua yang dilakukan oleh manajer Rafli tidak ada yang salah. Sambil mengepalkan tangannya, laki-laki itu memaki-maki kesal dalam hatinya. Bagaimana tidak, belum satu hari, alias baru setengah hari bekerja, Zia sudah berani menggoda laki-laki lain. Apa wanita itu sejenis w*************a yang suka mengobral tubuhnya pada sembarang pria seperti yang selalu dikatakan oleh sang mama? “Dasar berengsek!” Makian itu hanya bisa terlontar dalam hati. Sedetik kemudian, hati Rein menyanggah pendapatnya sendiri. Semua yang ia keluhkan tadi tidak benar karena ia sudah merasakan kemurnian dari seorang Zia di mana wanita itu benar-benar menjaga kehormatannya sampai akhirnya ia mencabik-cabik kehormatan wanita itu tanpa belas kasih. Itu pun Rein agak sulit melakukannya. Namun, karena desakan sang mama yang terus-terusan mengadu padanya, membuatnya dengan tega memerawani Zia, meluapkan kebenciannya. Apalah daya, Rein sudah termakan ucapan sang mama yang bahkan tak ragu menunjukkan foto-foto di mana Zia berada bersama dengan seorang laki-laki di dalam kontrakannya. Itu membuatnya percaya kalau Zia adalah w************n. Itulah sebabnya kenapa ia menodainya waktu itu. Tujuannya adalah satu untuk mengambil video dan mengancam wanita itu agar putus dari adiknya. Tidak pernah ia sangka kalau Zia ternyata masih perawan. Dirinyalah laki-laki pertama yang menyentuh wanita itu dan menikmati sensasi yang begitu memabukkan. Sempat terbesit rasa bersalah di hati ini Rein karena sudah melakukan kekerasan pada seorang wanita murni. Namun, kecintaannya pada sang mama, membuatnya mengabaikan semua perasaan itu. Malah ia harus memastikan wanita itu menjauh dari adiknya. Tapi entah kenapa hari ini ia begitu kesal melihat tingkah wanita yang menurutnya terlalu cepat menggoda laki-laki. Baru kurang lebih empat jam Zia bertemu dengan Rafli, bisa-bisanya Zia membuat manajernya itu tertarik padanya. Bukannya Rein tak tahu sorot mata manajer Rafli menunjukkan ketertarikan yang sangat besar pada wanita itu. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa semua pria begitu cepat mendekat padanya? Begitu juga pada adikku. Kenapa mereka begitu mudah tergila-gila pada perempuan itu?” Lagi-lagi, semua perasaan geram dan kesal itu hanya bisa diungkapkan di dalam hati karena ia tidak mungkin mengeluarkan semua emosinya di dalam lift ini. Itu juga berpotensi akan diketahui oleh sekretarisnya. Dirinya adalah tipikal laki-laki yang dingin, tegas, dan tidak pernah mau berurusan dengan hal-hal sentimentil seperti percintaan. Sekuat tenaga, Rein mencoba mengusir bayangan Zia ketika dikungkung oleh Rafli tadi lalu mulai fokus kembali pada agendanya. Pintu lift pun terbuka. Bersamaan dengan itu, suara ponselnya pun berdering dan itu dari sang mama tercinta. Tanpa menunggu lama, Rein segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya. “Kamu di mana, Rein?” “Di lobi perusahaan, Ma,” sahut Rein sambil terus melangkah bersama Juna ke parkiran. “Kamu mau ke mana? Bisa nggak ke sini sebentar?” “Nggak bisa, Ma,” jawab Rein singkat. “Ini ‘kan jam istirahat, Rein? Masa kamu nggak bisa pulang sebentar menemui Mama?” Rein mendengus kesal. Walaupun ia cinta dan sayang pada sang mama, tapi tetap saja di matanya sang mama adalah sosok yang menyebalkan dan pemaksa. “Ini memang jam istirahat, tapi aku harus pergi ke restoran. Aku ada meeting, Ma.” “Kamu beneran nggak bisa pulang?” Rein kembali menegaskan. “Nggak.” “Masa kamu nggak bisa pulang? Kasihan adik kamu, Rein.” Wajah Rein seketika ditekuk. Yang dicemaskan oleh mamanya selalu saja Rey. Hatinya kesal kalau sang mama sudah membahas soal adik tirinya itu. “Ya, terus mau diapain, Ma? Dia sedang mabuk, kan? Biarkan saja dia tidur terlebih dahulu. Kalau dia mengamuk ‘kan ada security di sana?” “Rein, masa kamu nggak mau nolongin adik kamu?” Rein menghela napas panjang. Sepertinya sang mama benar-benar menguji kesabarannya. “Aku nggak bisa datang saat ini. Aku akan datang sore nanti,” tegas Rein menekan rasa kesalnya. “Rein, kamu sayang nggak, sih, sama adik kamu?” “Ya ampun, Ma! Siapa yang tidak sayang, sih? Aku bahkan sudah melakukan hal-hal gila untuk mewujudkan keinginan Mama juga untuk melindungi adikku itu,” geram Rein meluapkan kekesalannya, tapi tetap berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar sopan. “Iya, Mama senang adik kamu telah putus dengan w************n itu. Akhirnya, adik kamu tahu kalau wanita itu sering tidur dengan aneka laki-laki. Tapi Mama juga sedih melihat adik kamu frustrasi seperti ini, Rein.” Rasa geram di hati Rein semakin menggunung, terutama saat sang mama melabeli Zia sebagai w************n, sedang ia tahu persis betapa mahalnya Zia. Namun, Rein tak mau berdebat dengan sanga mama. Ia juga harus melobi pak Jung Won dari Korea. Baginya, urusan bisnis adalah nomor satu, sedangkan keluarga nomor dua. Ia memang akan membela sang mama mati-matian, tapi untuk mengorbankan pekerjaan, ia tidak sudi. “Aku benar-benar sibuk, Ma. Aku tutup sekarang, ya! Aku akan aku akan datang ke rumah Mama setelah aku selesai meeting. Sampai jumpa nanti.” “Ada masalah apa, Pak? Apa ada masalah pada mama Anda?” tanya Juna ingin tahu. Rein menyimpan ponsel di saku jasnya. Pria itu lalu melirik kesal pada sekretarisnya. “Tidak usah pusing memikirkan masalahku. Fokus saja pada urusan kita melobi klien dari Korea itu!” tegas Rein lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke mobil setibanya di parkiran. Rein akan melupakan semua masalah yang ia hadapi dan akan fokus pada meeting-nya terlebih dahulu. Namun, lagi-lagi bayangan serta kilasan wajah Zia berenang-renang di pikirannya, terutama saat wanita itu dikungkung oleh manajer Rafli tadi. “Sial! Kenapa aku kesal dibuatnya? Apa aku ultimatum saja dia besok agar berhenti menggoda pria di sekitarnya?” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN