“Sial! Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa aku begitu bodoh tidak menyelidiki perusahaan ini terlebih dahulu sebelum melamar pekerjaan di sini.”
Zia menggerutu dalam hati, menyesali kecerobohannya. Saat ini ia sedang mengikuti langkah sang atasan menuju ke sebuah ruangan, yaitu ruangan manajer Rafli yang akan menjadi atasannya selama kurang lebih dua tahun. Harusnya ia bekerja mulai besok, tapi laki-laki b******n ini tiba-tiba memintanya bekerja hari ini juga.
Terpaksa, Zia harus menurutinya karena ia tidak punya kekuatan sama sekali untuk membantah laki-laki itu.
“Sebaiknya aku turuti kata-katanya daripada aku bertambah hancur dibuatnya. Semoga saja dia tidak menggangguku dan menganggapku tidak ada. Aku juga tidak akan memprovokasinya lagi. Semoga Rey juga tidak akan pernah menemukanku di sini,” batin Zia.
Akhirnya, Zia dan Rein tiba di sebuah ruangan di mana seorang laki-laki gagah sudah menunggu di sana, tengah tersenyum sambil menunduk hormat.
“Manajer Rafli, saya bawakan Anda seorang asisten yang akan membantu Anda mengerjakan semua tugas untuk memajukan perusahaan ini. Didik dia dengan baik dan jangan segan untuk menghukumnya jika dia melakukan kesalahan. Aku tidak ingin satu orang pun mengganggu jalannya perusahaan,” ujar Rein tegas.
“Siap, Pak,” sahut Rafli sigap.
Laki-laki bertubuh tegap itu berbalik badan, langsung meninggalkan Zia begitu saja berdua dengan manajer Rafli.
Hati perempuan bertubuh langsing itu cukup lega karena tidak akan berdekatan dengan laki-laki itu lagi, mengingat ruangan sang CEO dengan ruangan manajer Rafli cukup jauh di mana Rein ada di lantai dua puluh, sedang manajer Rafli ada di lantai lima belas sehingga ia tidak akan bertemu dengan atasannya itu karena ia pasti akan berkutat di lantai lima belas ini saja bersama jajaran staf.
Sungguh, Zia berharap tidak akan berpapasan ataupun bertemu langsung lagi dengan laki-laki laknat itu.
“Selamat pagi, Pak. Saya Zia Magdalena, asisten baru Anda.” Zia menyapa manajer Rafli sambil menundukkan kepalanya tanda hormatnya pada atasan barunya tersebut.
“Selamat datang, Asisten Zia. Aku sudah mendengar dari sekretaris CEO kita, yaitu sekretaris Juna bahwa sebenarnya tugas kamu itu besok. Aku tidak menyangka kalau kamu diminta bekerja hari ini sama pak Rein. Apa kamu sudah siap bekerja hari ini, sedangkan kamu tidak tahu apa yang harus kamu kerjakan?”
Zia mengatur senyumnya agar tidak terlihat tegang pasca diintimidasi oleh Rein beberapa menit lalu lalu meyakinkan Rafli kalau ia bisa mulai bekerja kapan saja dibutuhkan.
“Saya siap, Pak. Saya juga pernah bekerja sebagai seorang sekretaris.”
Rafli tersenyum lalu mengonfirmasi sesuatu. “Kamu pernah bekerja di perusahaan Haditama, perusahaannya adiknya pak Rein, kan?”
“Saya baru mengetahuinya hari ini, Pak.”
“Astaga, serius?” Rafli tak percaya.
“Iya, Pak. Saya baru bahwa pemilik perusahaan ini juga pemilik perusahaan Haditama adalah dua beradik beda ayah,” sahut Zia jujur.
Rafli terlihat menahan tawanya. “Oh, ya, ampun! Kenapa kamu sampai nggak tahu, ya? Perusahaan sebesar ini, masa kamu tidak cari tahu dulu silsilahnya?”
“Saya enggak kepikiran sampai ke sana, Pak.”
Rafli mengibaskan tangannya pelan. “Ya, udah, no problem, kok. Tapi apa kamu yakin bisa mengerjakan semuanya? Oh, ya aku akan bicara semi formal begini saja padamu karena kamu bawahanku. Kamu boleh duduk di sana,” tunjuk Rafli pada meja di luar ruangannya. “Aku akan memberikan kamu beberapa tugas yang harus kamu kerjakan. Siang nanti akan ada meeting di luar. Pelajari dulu materinya dan bantu aku melobi seorang klien penting, ya!”
Zia buru-buru menunduk hormat, kemudian menjawab. “Baik, Pak.”
Wanita berparas cantik itu sungguh senang mendapatkan seorang atasan yang sungguh pengertian. Pancaran matanya menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki baik-baik. Semoga saja pria itu tidak mempersulitnya bekerja di perusahaan.
Zia meyakinkan diri kalau dua tahun akan terlalui dengan cepat. Wanita itu yakin kalau semua kesulitan ini akan segera berlalu.
***
Kurang lebih empat jam Zia bekerja di lantai lima belas bersama manajer Rafli dan semuanya bisa ia kerjakan dengan baik sampai-sampai sang atasan tak henti-henti memuji kemahirannya dalam mengerjakan semua tugas yang diberikan.
Kini, ia dan sang manajer harus menemui seorang klien di sebuah restoran sehingga mereka berdua bergegas turun dari lift, segera berangkat agar tidak terlambat. Namun sialnya, siang itu lift begitu penuh karena Zia dan manajernya meninggalkan ruangan saat waktu istirahat. Sudah terbayang betapa penuhnya lift di semua orang dari lantai dua puluh, yaitu lantai paling atas, berlomba-lomba ingin turun ke bawah.
Meskipun tersedia lima lift di sana, tetap saja berdesakan karena semua staf keluarnya bersamaan. Tubuh Zia pun mulai terdorong-dorong hingga tiba-tiba tangannya dipegang oleh Rafli lalu didorong pelan ke dinding.
“Jangan kaget, ya! Memang gini kalo jam istirahat. Kamu tenang saja, aku akan melindungimu agar tidak disenggol atau pun didorong oleh para staf,” ucap Rafli mengunci Zia dengan dua lengannya, melindunginya dengan punggungnya.
“Kenapa Anda jadi repot begini, Pak? Biarkan saja saya. Hal ini sudah biasa saya alami di perusahaan lama, Pak.” Zia tak enak hati diperhatikan oleh manajernya.
Rafli menggeleng pelan. “Kamu itu wanita, sedangkan isi lift ini rata-rata pria. Aku tidak akan membiarkan kamu bersentuhan dengan laki-laki. Harusnya kita keluar sebelum jam istirahat sehingga tidak padat seperti ini.”
“Tapi sungguh saya sudah biasa seperti ini, Pak,” ucap Zia lagi, merasa tak enak, juga merasa malu pada pengguna lift yang lain.
Dirinya persis seorang wanita yang dilindungi kekasihnya. Ini sweet sebenarnya, tapi tetap saja ia merasa malu karena diperlakukan istimewa seperti ini.
“Sssttt! Kamu diam aja. Nggak lama lagi kita sampai ke lantai dasar, kok. Kita sudah tiba di lantai 10 sekarang,” ucap Rafli lagi tersenyum lembut pada asisten cantiknya.
Jujur, hati Zia sungguh bahagia melihat sikap sang atasan padanya. Benar dugaannya kalau manajer Rafli adalah laki-laki baik yang menjaga harkat martabat wanita. Buktinya laki-laki itu meletakkan tas di depan dadanya untuk melindungi supaya ketika terjadi dorongan, Rafli tidak langsung menyentuh tubuhnya tapi akan terganjal oleh tas yang ia letakkan di bagian depan.
Dari sana saja ia tahu kalau laki-laki yang bernama Raffi itu adalah laki-laki yang bersahaja yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita.
“Kenapa Anda begitu baik, Pak,” ucap Zia pelan.
Lelaki tampan itu menyunggingkan senyuman. “Biasa saja, Zia. Aku hanya melindungi seorang asisten, yaitu kamu. Aku hanya ingat adik perempuanku. Itu membuatku tidak tega ketika melihat seorang wanita teraniaya, menderita, atau pun juga terancam bahaya. Jadi jangan heran melihat caraku, ya! Bukan hanya kamu, kok, orang-orang di sekitarku juga sudah tahu betapa perhatiannya aku pada wanita.”
Mendengar kata-kata Rafli, sungguh membuat hati Zia menghangat. Dengan senyum lembutnya, Zia menggeleng pelan.
“Saya tidak pernah berpikir begitu, Pak.”
“Syukurlah! Aku memberitahu supaya kamu tidak salah paham.”
Zia menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Setidaknya ia merasa memiliki seorang manajer yang bisa membuat batinnya tenang. Semoga saja ia bisa bertahan di perusahaan ini selama dua tahun. Namun, melihat pribadi laki-laki ini, Zia yakin bisa bertahan di sini
Sibuk dengan pikirannya sendiri atas kelegaan yang ia rasakan karena mendapatkan seorang atasan yang baik, tiba-tiba pintu lift terbuka.
“Lagi? Masa ada orang yang mau naik lagi?” ucap Zia tak habis pikir.
Lift itu sudah penuh, mungkin hanya menyisakan tempat untuk satu hingga dua orang lagi, tapi itu pun akan semakin berdesakan. Tak lama, mata Zia dibuat terbelalak saat manajernya berseru sambil menunjuk ke arah pintu lift.
“Itu CEO kita, Zia. Kemungkinan lift khusus CEO rusak di tengah jalan, makanya beliau ikut naik ke lift ini.”
Hati Zia geram. “Bisa-bisanya aku bertemu lagi dengan laki-laki jahat itu? Kenapa juga lift khusus untuk CEO harus rusak, sih?” rutuk Zia dalam hati.
Tiba-tiba, suara yang ditujukan untuk manajer Rafli terdengar begitu lantang dan itu membuat Zia semakin kesal.
“Manajer Rafli, kamu turun di sini saja dan naik lift berikutnya. Lift ini kepenuhan. Saya sangat terburu-buru sekarang.”
Zia mengomel dalam hati. “Kenapa dia mengusir manajer Rafli, sih? Dasar sialan!”
Bersambung ...