Malam bulan purnama tiba, Roshni berjalan sendirian di sebuah tebing tinggi. Roshni mengenakan jubah putih, dia berjalan dengan tatapan kosong, tak ada senyuman, apalagi ekspresi, seakan-akan membuatnya tidak menyayangi kehidupannya. Melihat keadaannya yang demikian, apakah Roshni akan melakukan tindakan di luar nalar? Apakah karena perundungan dan penindasan dari teman-temannya, ia menjadi hilang arah?
"Ini mungkin yang terbaik untukku." Perkataan Roshni menjadi pertanda bahwa apa yang telah diduga ternyata menjadi nyata.
Roshni terjun dari atas tebing, ia menangis seiring ia terjatuh ke sebuah dimensi yang gelap, namun tubuhnya tak apa-apa. Tubuhnya tidak remuk, apalagi rusak karena tindakannya ini. Ia seakan-akan terjatuh dari ranjang tempat tidurnya.
Roshni begitu kebingungan, apa mungkin dia sudah sampai ke tempat yang akan ia tuju? Tetapi, mengapa secepat ini? Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan Roshni di dalam batinnya. Samar-samar Roshni melihat sebuah cermin besar, ia mendekati cermin itu. Langkah demi langkah, semakin Roshni merasakan hal yang tak beres, harusnya ia langsung mati.
Sekarang Roshni berada tepat di depan cermin, di cermin itu ia tidak melihat dirinya sendiri, malah ia sekarang melihat dirinya yang tua dan begitu menyeramkan. Sebelah wajah Roshni bersimbah darah, dan mata kirinya bolong karena terdapat nanah merah di matanya itu. Seketika Roshni kaget, sekaligus shock, padahal ia masih muda dan tidak menyeramkan seperti yang ia lihat di cermin.
"Aku sisimu yang lain, aku akan segera datang di kehidupanmu, Roshni!" ucap perempuan tua di dalam cermin, yang berbicara kepada Roshni.
"Aku akan membalas semua penderitaan yang kau jalankan di duniamu, aku akan membuat semua orang yang menjadikanmu sebagai seorang b***k, menanggung akibatnya. Kisah kelammu, akan digantikan kisah pembalasan dendam yang tiada habisnya."
"Aku berada di dalam hati kecilmu, aku yang bisa merasakan segala penderitaanmu."
"T-Tidak! Aku tidak mau balas dendam! Aku tidak mau!"
"Hahaha, kau boleh berbohong, tetapi aku tau segalanya yang ada di pikiran dan di hatimu. Kau memang orang baik, namun kebaikanmu selalu dimanfaatkan oleh orang-orang durjanah."
"Jika kau baik, maka aku sisi gelapmu. Kau tau sendiri bagaimana dendam dan perasaan orang yang disakiti bertahun-tahun atas tindakan penindasan, jadi nantikan diriku, aku Ratu Kabut akan hadir dalam kehidupanmu."
"T-Tidak! Tidakkkk!!"
Roshni terbangun dari mimpinya, di saat matahari mulai terik menyinari wajahnya lewat kaca jendela. Roshni ternyata bermimpi, namun entah mengapa mimpi itu begitu nyata dan sangat di luar pikiran Roshni, bisa-bisanya ia nertemu dengan sosok dirinya yang menyeramkan dan tua dalam mimpi.
Oh, tidak! Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi! Dia terlambat ke sekolah! Ia pula lupa mengerjakan tugas-tugas milik para geng kalajengking merah. Cepat-cepat Roshni bersiap-siap, ia langsung mencuci muka dan memakai seragam sekolah tanpa mandi serta sarapan. Roshni berlari dari rumahnya dengan begitu cepat, tak terbayang lagi bagaimana para geng kalajengking merah akan menyiksanya lagi karena Roshni tidak mengerjakan tugas milik mereka. Roshni hanya bisa pasrah, sebari berdoa.
Di sekolah SMA 1 Nusa, kelas sepuluh IPA enam sedang ada pelajaran fisika. Tampak kelas IPA enam sepi, bagaikan tak ada kehidupan. Tetapi di dalamnya, ada Ibu Guru Nani, seorang guru fisika yang paling galak di antara guru yang lain. Jika tidak ada murid yang mengerjakan tugas sedikitpun, Bu Nani senantiasa memberikan kata-kata nasihat yang bisa terbilang cukup pedas didengar telinga.
"Amanda, Athalla, dan Amayra. Huh, lagi-lagi kalian tidak mengerjakan tugas rumah yang Ibu berikan! Kalian ini mau sekolah atau mau pamer kekuasaan saja di sekolah? Ingat ya, jabatan kalian di sini tidak ada gunanya. Kalau mau pamer kekuasaan mending di jalanan saja sana, malakin orang-orang!" kata Bu Nani, sebari berdiri di depan meja Amanda, Athalla dan Amayra, mereka bertiga berada di meja yang sama.
"Lebih baik kalian menjadi preman, daripada terus membuat rusuh di sekolah kami. Kalian bertiga hanya sampah sekolah, tidak ada gunanya!"
Brak!
Keheningan karena ucapan Bu Nani pecah, di saat Roshni datang dengan tergesah-gesah sambil membuka pintu dengan cukup keras. Seketika satu kelas langsung tertuju kepada Roshni.
"Assalamu'alaikum, Bu. Maaf s-saya telat ... saya kesiangan, Bu." Roshni mencium tangan Bu Nani, dan menundukan kepalanya sambil meminta maaf.
"Wa'alaikumsalam, Rosh. Iya, tidak apa-apa kok, Rosh. Silahkan duduk, tetapi kerja rumah kamu selesai kan?"
"Terimakasih, B-Bu. Iya, sudah selesai, Bu. Ini dia tugasnya." Roshni membuka tas ranselnya, dan memberikan buku tugas fisika kepada Bu Nani.
Bu Nani tersenyum, "bagus, Rosh. Kamu anak yang rajin! Ibu salut! Pasti kamu kesiangan, gara-gara begadang mengerjakan tugas rumah ini kan, bagus sekali." Bu Nani, bangga.
Roshni lega, ia duduk di bangkunya. Ia duduk bersama Aisyah.
"Lho, Bu. Kan si Roshni telat, kenapa dia malah dipuji-puji? Sedangkan kita bertiga yang datang lebih pagi di jam setengan enam, malah dimarahin habis-habisan!" Protes Amanda, kepada Bu Nani.
"Iya, Bu! Enggak adil nih! Sama aja nepotisme!" Tambah Athalla.
"Kalau Ibu enggak suka sama kita bertiga, enggak usah mempermalukan kami kaya gini!" keluh Amanda lagi, ia sangat mebentang Bu Nani.
Bu Nani melotot kepada Amanda.
"Sekarang kalian berdua berdiri di depan tiang bendera sampai jam terakhir!!"
Sangking murkanya dengan ucapan tanpa etika dari Amanda dan Athalla, Bu Nani menghukum mereka berdua berdiri di depan tiang bendera sampai jam terakhir.
"Memang ya, jaman sekarang anak-anak remaja dibilangin malah marah-marah! Heh, saya ini menasehati bukan mempermalukan kalian! Ini juga demi nilai kalian! Kalau tugas-tugas tidak ada yang masuk, bagaimana kalian mau naik kelas, hah!"
Amanda dan Athalla menunduk dengan penuh ketakutan. Akhirnya mereka berdua berdiri di depan tiang bendera, dan dijaga oleh penjaga sekolah dari gerbang. Mereka berdua hormat kepada tiang bendera.
Kring! Kring!
Suara bel istirahat di jam pertama telah berbunyi, banyak para siswa-siswi berhamburan dari kelas mereka untuk jajan di kantin, termasuk Roshni dan Aisyah. Mereka berdua selalu jajan di kantin bersama. Kadang mereka membeli bakso, kadang juga gorengan dengan harga bersahabat di dompet. Aisyah adalah anak dari kyai pondok pesantren Ar-Rahman, tetapi Aisyah hidup dalam kesederhanaan yang sangat apik.
Mereka berdua masuk ke kantin Bu Nunung, Roshni memesan bakso, dan Aisyah memesan mie goreng dengan telur mata sapi bersama minumannya. Mereka berdua senantiasa jajan di kantin Bu Nunung, kantin Bu Nunung selalu jadi pelarian siswa-siswi jika kantin Bu Mirna padat. Kebetulan saat itu, kantin Bu Nunung sedang sepi, di saat mereka berdua sampai, hanya ada Amayra yang sedang duduk memakan nasi goreng buatan Bu Nunung.
Tak beberapa lama kemudian bakso Roshni siap, Roshni mengambil bakso tersebut bersama dengan nampan yang terdapat botol saus, kecap, es teh dan juga secawan sambal cabai hijau.
"Nak, hati-hati ya."
"Iya, Bu "
Amayra melihat Roshni, menurutnya ini kesempatan yang bagus untuk membalaskan dendam Amanda dan Athalla. Langsung saja, Amayra mendorong Roshni, sampai-sampai bakso, sambal dan es teh mengguyur muka dan seragam Roshni. Tak hanya itu, mangkuk dan gelasnya pun pecah berkeping-keping, mengenai telapak tangan Roshni hingga berdarah.
"Aaaaaa!!" teriaknya.