"Mataku! Ma-mataku Perih!!" jerit Roshni, mata Roshni perih bukan kepalang karena siraman kuah panas nan pedas membasahi seluruh wajah Roshni.
"Astaghfirullah! Apa-apaan kamu, Amayra!" bentak Aisyah, tak terima jika Amayra membuat Roshni seperti ini.
"Haha, mampus tuh orang. Gue cuman melakukan apa yang gue harus lakukan doang, hahaha."
Aisyah melotot kepada Amayra, Aisyah pula membantu Roshni terbangun, ia mengelap mata Roshni dengan tisu yang ada di meja makan dan berteriak-teriak memanggil para petugas PMR supaya bisa menolong Roshni dengan sigap dan cepat.
Tak disangka hidung Roshni menghirup air kuah bakso yang pedas itu juga sampai Roshni merintih perih dan kepanasan, siswi petugas PMR masuk ke kantin dan menolong Roshni. Mereka membawa Roshni ke ruangan UKS, hidung Roshni dimasukan sebuah selang dari mesin kesehatan dan syukurlah kuah tadi bisa keluar dari hidung Roshni, namun masih membekas, menyebabkan kepala Roshni pusing tak karuan. Ia terbaring lemah di ranjang UKS. Aisyah menemani Roshni di sana, meski jam pelajaran sudah dimulai.
"Rosh, mau sampai kapan kamu disiksa sama anggota-anggota geng itu? Dari semester satu, kamu selalu aja disiksa, bahkan semakin hari, semakin parah aja mereka menyiksa dan merundungi kamu, Rosh."
"Kalau kamu diam aja, mereka makin menjadi-jadi sama kamu. Apa kamu mau kalau kamu terus dijadiin b***k sama mereka, Rosh? Sekarang ayo kita laporkan semua perbuatan b***t mereka ke guru BK!"
"Jangan! Aku enggak mau masalahnya tambah panjang, dan buat reputasi mereka hancur."
"Mereka aja ya udah berani buat reputasi kamu hancur! Bahkan gara-gara mereka, kamu juga ikut dikerjain sama adik-adik kelas sembilan."
"Aku takut, Syah. Kalau mereka tambah parah gimana?"
"Udah, tenang aja. Ada aku, sahabatmu. Kalau mereka macam-macam, siap-siap pasukan santri dan santriwati Ayah aku bakalan hadapin mereka."
"Aku pikir-pikir dulu boleh?"
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya, Rosh."
Sore telah tiba, fajar mulai akan terbenam di sebelah barat, namun masih terik membakar jiwa dan raga para pelajar SMA 1 Nusa yang saat itu baru saja pulang. Di UKS, Aisyah meninggalkan Roshni sejenak untuk mengambil tasnya dan Roshni. Roshni sudah agak mendingan, ia nampaknya bisa kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa. Roshni berdiri, menunggu Aisyah datang di depan pintu. Ia lihat SMA 1 Nusa sudah sepi, orang-orang yang piket membersihkan kelas pun sudah pada pulang. Mungkin geng kalajengking merah juga sudah pulang, akan tetapi dugaannya salah.
DAAAG!
Kue balok cokelat dipenuhi mentega dihentakan ke muka Roshni lagi, sampai Roshni tersungkur ke lantai karena sangking kerasnya hentakan itu. Ternyata yang melakukan ini adalah Amanda, kue balok itu merupakam tugas PKWU Amanda yang akan diserahkan hari ini, namun karena Bu Nani menghukumnya, tugas PKWU itu ditolak mentah-mentah oleh gurunya. Menurut pikiran Amanda semua ini terjadi karena ulah Roshni.
"Dasar kagak guna lo, Roshni!!" Amanda membentak Roshni dengan keras, sampai jantung Roshni berdegup dengan kencang.
Tampak sekarang wajah Roshni dipenuhi dengan kue balok, wajahnya sangat amat konyol. Parahnya lapisan kue balok yang dipenuhi mentega itu masuk ke mata, hidung bahkan mulut Roshni.
"M-Maaf, Kak!"
"Halah!! Minta maaf lagi, minta maaf lagi! Sampah! Gara-gara lo ya, gue dimarahin habis-habisan sama Bu Nani! Gara-gara lo juga gue dijemur di lapangan sampe jam terakhir!
Dan gara-gara lo, tugas gue ditolak mentah-mentah sama Bu Endah! Dasar anak ingusan!" Jerit Amanda, lagi. Roshni benar-benar ketakutan, badannya bergemetar hebat karena jeritan Amanda.
"A-Ampun, Kak! J-Jangan teriak lagi ..." gumamnya, pelan.
"b******k! Lo harus dikasih pelajaran lagi, Roshni!! Gue harus nanggung malu gara-gara lo! Arghhh!"
Amayra datang, ia membawa seember air comberan yang dipenuhi kotoran. Amanda mengambilnya dari tangan Amayra, lalu ia mengguyur Roshni sampai Roshni basah kuyup dan dipenuhi kotoran berwarna cokelat. Roshni terbaring di lantai, dia hanya bisa menangis sebari mengigil hebat.
"Hahaha, rasain lo! Mampus! Besok-besok kalo lo berani macem-macem, gue bakalan lakuin hal yang lebih parah dari ini! Camkan itu!"
Amanda dan Amayra pergi dengan perasaan puas, Roshni di sana tetap menangis tersenggal-senggal, betapa jahatnya mereka kepadanya, padahal Roshni tidak melakukan apapun yang merugikan mereka, Roshni hanya lelah, mengantuk dan telat sehingga tak sempat mengerjakan tugas milik Amanda, dan tak sepatutnya Roshni diperlakukan seperti ini.
"Ya Allah, tolonglah Roshni, hiks-hiks-hiks. Roshni sudah tidak kuas menerima siksaan ini, hiks-hiks-hiks." Batinnya, tak karuan.
Tak beberapa lama kemudian, Aisyah datang ke sana, ia membawa ransel miliknya dan juga Roshni. Saat sampai di ruangan UKS, Aisyah terkejut setengah mati melihat kondisi Roshni yang begitu memilukan untuknya.
"Roshni!" teriak Aisyah, Aisyah berlari dan memeluk Roshni dengan erat.
"Ya Allah, Rosh. Kenapa kamu kaya gini?"
Roshni terdiam.
Aisyah pergi keluar untuk melihat siapa yang berada di sekitar sana, samar-samar ia melihat Amanda, Athalla dan Amayra di area parkir sedang menaiki motor bertiga, mereka pulang dengan tertawa puas. Di area parkir juga terdapat sebuah ember yang dipenuhi kotoran yang begitu melekat. Aisyah mulai tersadar, kalau ini pasti perbuatan mereka bertiga yang berniar untuk membalas dendam kepada Roshni.
"DASAR MANUSIA BERHATI IBLIS!!" Teriaknya, karena sangat amat kesal.
Nampaknya Roshni sangat shock sekaligus trauma karena kejadian tadi, Aisyah langsung menuntun Roshni untuk pulang ke rumahnya. Dengan penuh tangisan, Aisyah berjalan ke perumahan. Sesampainya di sana, Ibu dari Roshni yaitu Bu Tara dengan penampilan menggunakan gamis biru muda dan rambut terurai, ada di depan rumah, menunggu kedatangan Roshni dari sekolah. Saat melihat kondisi yang sedemikian rupa, ia kaget dan shock.
"Anakku!" Tara memeluk anaknya dengan erat, ia tak tahu bagaimana jadinya sang anak bisa sampai seburuk ini, sebenarnya manusia berhati iblis apa yang setega ini memberikan tindakan bullying kepada anaknya.
"Nak, kamu kenapa? Hiks-hiks-hiks, Ibu enggak kuat melihat kamu begini, Nak!"
Roshni hanya bisa menangis di pelukan sang Ibu, tanpa berkata dan menjelaskan apapun kepadanya. Roshni masih ketakutan akan tindakan yang geng kalajengking merah berikan kepadanya.
"Aisyah, ini Roshni kenapa bisa begini? Ada apa?" tanya Tara, kepada Aisyah.
"Ceritanya sangat panjang, Bu, hiks-hiks-hiks."
"Yasudah ayo kita masuk dulu ke dalam, Nak Aisyah." Ajak Tara kepada Aisyah.
Aisyah pun masuk ke dalam rumah, sebenarnya hari sudah mulai gelap, namun ia tidak enak meninggalkan Roshni dalam keadaan yang sangat buruk seperti ini. Roshni sangat membutuhkan dukungan satu-satunya sahabatnya.
Di dalam rumah, ada seorang pria memakai kemeja putih yang sangat tampan meskipun umurnya terbilang sudah kepala empat, dia adalah Dimas, ayah dari Roshni dan istri dari Tara. Dimas juga kaget melihat kedatangan Roshni yang dipenuhi dengan air comberan, basah kuyup dan mukanya dipenuhi mentega beserta kue.
"Lho, Roshni! Dia kenapa?" herannya.
Roshni didudukan di sofa putih rumahnya, Aisyah, Tara dan Dimas jug ikut duduk di sana.
"Nak Ais, coba ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya. Ibu khawatir dan tidak habis pikir melihat kondisi anak Ibu, karena sibuk dengan pekerjaan, I-Ibu lupa dengan anak sendiri, hiks-hiks-hiks." Tangis Tara, penuh air mata.
Aisyah mulai menceritakan segalanya kepada Tara tentang kebenaran Roshni, Aisyah ceritakan dari Roshni yang terlambat ke sekolah, sampai Roshni diguyur dengan kotoran seperti ini. Seketika Dimas dan Tara shock bukan kepalang.
Dari dulu Tara dan Dimas memang tahu bahwa Roshni selalu terkena tindakan bullying di sekolahnya, namun mereka tidak menyangka bahwa bullying yang menimpa Roshni begitu kejam dan membuat kehidupan Roshni hancur berkeping-keping.
Dimas merasa emosi dan naik darah, ia tak terima anakmya diperlakukan seperti ini. Besok ia rasanya ingin membawa kasus ini ke ranah hukum, supaya Amanda, Athalla dan Amayra dimasukan ke penjara.
"J-Jangan, Yah. Aku enggak mau kalau masalahnya tambah panjang, aku enggak mau, Yah!"
"Rosh, kan udah aku bilang, enggak baik kalau begini terus. Sekali-kali mereka harus diberikan pelajaran yang setimpal, Rosh." Aisyah, menyakinkan Roshni.
"Iya, Nak! Benar kata Aisyah, mereka ini harus dikasih pelajaran, supaya jera." Tara.
"Enggak! Jangan! Rosh mohon, anggap aja masalah hari ini enggak terjadi. Rosh mohon!" Pinta Roshni kepada Aisyah, Tara dan Dimas.
"Hmm, baiklah, Rosh. Kalau kamu memaksa, tetapi kalau hal ini terjadi lagi, Ayah gak bakalan tinggal diam!"
"Ya, Ibu juga! Seorang Ibu tidak akan bisa menerima kehidupan anaknya dihancurkan oleh bocah-bocah ingusan seperti mereka, mereka b***t! Berani-beraninya dia bermacam-macam dengan seorang anak dari ratu--" omongan Tara terputus tiba-tiba, saat Dimas memegang pundaknya.
"Rosh memang terpukul sama kejadian tadi, t-tapi Rosh enggak mau sampe kehidupan mereka hancur juga kaya Rosh, hiks-hiks-hiks."
Roshni terlalu baik, sangking baiknya ia tidak mau membalas perilaku b***t musuhnya, padahal musuhnya yang melakukan upaya untuk menghancurkan kehidupan Roshni sendiri.
Perundungan marak terjadi di pendidikan jenjang manapun, banyak anak-anak bodoh yang tidak pernah dewasa. Mereka menghina, mencaci, memaki-maki, menindas, merundungi bahkan menyiksa anak lain di sekolahnya, hanya untuk kepuasan tersendiri.
Mungkin itu adalah hal sepele bagi mereka, tetapi bagi yang dirundungi hal itu adalah masalah besar. Di hatinya penuh dengan tangisan, di jiwanya penuh kehampaan, dan rasa sakit yang teramat dalam. Karena perundungan, orang yang menjadi korban akan merasakan kehidupannya seakan-akan hancur, namun kehancurannya itu ia pendam di dalam senyuman, hingga terbentuklah ketabahan serta ketegaran.