Pagi yang sangat cerah menyambut Kota Bandung, jum'at itu Roshni kembali ke sekolah dengan keceriaan yang baru. Seperti biasa Roshni tersenyum kepada teman-temannya, tak lupa ia juga menyapa teman-temannya di kelas. Jika diperhatikan, Roshni adalah perempuan yang kuat nan hebat, ia bisa tersenyum walaupun ia selalu terkena ribuan cacian dan hinaan. Seakan-akan senyumannya itu sebagai topeng baginya, untuk tidak bersedih, dan mengingat kejadian yang memilukan kepada dirinya kemarin.
Roshni yang memakai seragam pramuka itu, duduk di samping Aisyah, dan ia menyiapkan buku pelajaran yang ada di jam pertama. Aisyah melamun sebari Roshni, ia masih mengingat kejadian kemarin yang menimpa Roshni.
"Syah ... kenapa melamun?"
"Eh," lamunan Aisyah terpecah.
"Ini, aku masih keinget kejadian kemarin, Rosh. Kamu beneran sekarang enggak apa-apa?"
"Ohh, enggak apa-apa kok, kejadian kemarin anggap aja enggak pernah ada, Syah." Roshni tersenyum.
"Hmmm, tapi kalau mereka macem-macem lagi, aku enggak akan tinggal diam ya, Rosh. Aku bener-bener enggak mau ngeliat kamu dijadikan seperti layaknya binatang sama mereka!"
"iya, Syah, hehe."
"Roshni!" suara lelaki yang merdu dan gagah memanggil Roshni dari bangku paling belakang.
Roshni dan Aisyah menengok.
"Eh, Abhizar?"
Abhizar Said Bareeq, siswa cerdas yang satu kelas dengan Roshni dan Aisyah, ia keturunan Turki dan Indonesia. Seperti pada umumnya, rata-rata para siswa di sana seragamnya dikeluarkan untuk terlihat lebih keren.
Abhizar mendekat ke meja Roshni dan Aisyah, "Rosh, kamu kemarin di UKS kan?" tanya Abhizar, karena ia baru saja membersihkan ruangan UKS di sekolahnya, Abhizar seorang anggota PMR juga, sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, Abhizar selalu mendapatkan predikat sebagai seorang perwakilan sekolah, dan dicap sebagai seorang pemenang di lomba-lomba PMR.
"Iya, Zar. Emang ada apa ya?"
"Ini, aku tadi lihat banyak banget air comberan dan kotoran yang kering di dalam UKS. Dan ada bekas kue balok cokelat juga, kalau dicium dari baunya, itu tugas PKWU punya Amanda dan kawan-kawannya."
"Oh, emang--" Aisyah ingin memberitahukan segalanya kepada Abhizar, tetapi Roshni menggelengkan kepalanya ke Aisyah, pertanda bahwa ia tak harus menceritakan segalanya kepada Abhizar.
"Lho, kok berhenti?"
"Eh, enggak kok. Kami enggak tau apapun soal itu, mungkin ada siswa atau siswi lain yang enggak sengaja jatuh di sana. Dan untuk kue balok itu, kayanya enggak sengaja jatuh di sana."
"Hmmm, jatuh? Perasaan enggak mungkin kue itu jatuh, jelas-jelas aku lihat kue balok itu tercecer kemana-mana." Abhizar, tak yakin.
"Intinya kami enggak tau, Zar." Aisyah.
"Tapi kenapa tadi kamu kaya semangat banget pengen ngomong sesuatu, pasti ada apa-apa nih." Abhizar selalu berpikiran kritis, ia peka terhadap semua perkataan teman-temannya.
"Yaelah, enggak, Zar. Kami enggak tau, huh."
"Hmm, pulang sekolah nanti aku cek CCTV aja ya." Abhizar pergi, dan duduk di bangkunya.
"Astaghfirullah! Syah, gimana ini?" Roshni, mulai panik.
"Ah, bagus kalau si Abhizar tau, Amanda bisa kena hukuman atas perbuatannya ke kamu, Rosh!" Aisyah, sangat tenang.
"T-Tapi ..."
"Udah, Rosh. Kalau kamu enggak mau, mendingan Allah dan waktu aja yang menghukum mereka."
Meninggalkan dunia manusia yang penuh dengan fana dan tipuan, kita beralih ke sebuah kawah gunung berapi ghaib yang berada di puncak gunung yang tak pernah terpijak oleh manusia manapun. Di dalam kawah panas itu ada sebuah portal putih, sebagai gerbang istana kabut yang berada di dasar kawah panas. Sesudah memasuki portal, tampak istana berwarna putih dan megah yang dipenuhi kabut berada di dasar kawah, istana itu bernama istana kabut. Istana kabut adalah tempat tinggal para jin marga Kohra(kabut), yang rata-rata beragama islam. Istana itu tampak bagaikan istana di bawah air.
Di dalam istana kabut, seorang remaja perempuan dengan rambut terurai, mengenakan kain sari putih bermotif batik datang ke ruangan kebesaran maharatu kabut. Ruangan tersebut dihiasi dengan tempat tidur berwarna putih, lantai putih, gorden putih sampai tanaman-tanaman tak masuk akal yang berwarna putih. Ada juga penompa istana yang besar, dihiasi batik emas.
Ia masuk ke sana, tampak ia ingin menemui ratu kabut. "Ratu memanggil saya?"
"Iya, Syera. Kemarilah!" Jawab wanita di balik kabut asap yang menutupi seluruh wajah dan tubuhnya.
Syera Sundari, putri dari perdana mentri istana kabut yang setia.
"Syera, saya mau menitip pesan ke kamu. Beberapa hari lagi, saya akan meninggalkan kedua alam ini, karena umur saya sudah akan habis, sekarang umur saya sembilan puluh sembilan tahun dan beberapa hari kemudian umur saya sudah genap seratus tahun. Syera, di umur seratus tahun, setiap ratu kabut harus memberikan tahtanya kepada setiap keturunannya yang baik dan bijaksana. Beberapa hari lagi, anakku akan aku bawa kemari untuk dijadikan ratu kabut, menggantikan diriku."
"Setelah aku pergi, dan anakku yang akan menggantikan posisi juga jabatanku, kamu bimbinglah dia, jangan sampai dia salah arah."
"Baik, Ratu. Saya akan melakukannya."
"Syera, jadikanlah putriku sebagai sahabat karibmu jangan sebagai seorang ratu. Perlakukan dia sebagai sahabat."
"Apa kamu tahu? Dia sangat baik, tetapi tak mempunyai teman di dunia manusia."
"Iya, Ratu. Perkataan Ratu akan saya laksanakan."
"Oh iya, jangan perbolehkan anak saya untuk ke ruangan bawah tanah istana kabut, karena kamu tau sendirikan kalau ada roh jahat yang bernama Bhaisasuri terkurung di pemakaman yang ada di sana?"
"I-Iya, Ratu. Saya akan memberi tahukan perihal ini semua kepada putri kabut saat dia telah datang kesini."
"Bagus, Nak."
"Bahaya sekali kalau roh jahat seperti Bhaisasuri keluar dari dalam pemakaman, karena Bhaisasuri ialah roh jahat sisi kegelapan. Jika lepas, roh jahat ini akan merasuk ke dalam tubuh manusia ataupun para jin di sini. Roh jahat ini bisa membangkitkan sisi jahat manusia atau pula jin, ia mengubah manusia ataupun jin yang dirasukinya menjadi jahat bukan kepalang, kalau ada orang yang hatinya baik sekali ... dan roh jahat itu merasuk, maka orang itu akan jahat sejahat jahatnya, jahatnya pun sesuai dengan kadar kebaikannya yang pernah ia lakukan."
"Apalagi anakku itu sangat baik sekali di dunia manusia, saat dia ditindas dirinya masih memikirkan kondisi kehidupan musuhnya. Bahaya sekali kalau sisi jahatnya bangkit, entah apa kehancuran yang akan terjadi di kedua alam ini."
"Dulu para leluhur kita dengan susah payah berperang dengan Bhaisasuri, yang menyebabkan gunung ini meletus dengan dahsyat, dan menghancurkan lima puluh desa sekaligus! Jadi harap jangan membukanya kapanpun."
Di sekolah SMA 1 Nusa, Bu Evi selaku guru mata peajaran matematika peminatan masuk ke dalam kelas. Ia tampak membawa buku paket dan lembaran soal yang sangat banyak. Sepertinya akan diadakan ulangan di kelas sepuluh IPA enam.
"Hari ini ada ulangan matematika peminatan, ayo siapkan kertas satu lembar, dan simpan buku tulis ke depan." Benar saja, hari ini ada ulangan harian.
Para siswa-siswi mengumpulkan buku catatan matematikanya ke depan meja guru. Setelah selesai semua, mereka duduk dengan rapih.
"Sekarang ulangan bagian jajaran kanan dulu ya, jadi ayo jajaran kiri keluar kelas secepatnya." Perintah Bu Evi.
Aisyah harus keluar, dan Roshni tetap singgah di dalam kelas untuk melakukan ulangan harian matematika peminatan lebih dulu, karena ia bagian jajaran kanan.
"Oh iya, Ibu ingatkan jangan ada yang mencontek ya. Kalau sampai ketahuan sama Ibu, kalian bisa dikeluarkan langsung. Dan akan langsung Ibu serahkan namanya ke BK, agar nama kalian tercantum di daftar merah."
Bu Evi membagikan soal-soal ulangan matematika peminatan ke kelas, Roshni harus berada dalam ketegangan karena ia berdekatan dengan Amanda, ia ketakutan jika Amanda menjebak dirinya dalam ulangan harian ini.
"Ayo, jangan lupa berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, semoga nilai kalian memuaskan."
"Baik, Bu."
Roshni melihat soal ulangan itu, ternyata soal-soal yang ia lihat sangat mudah dan juga gampang, soal ini berasa di luar pemikirannya, padahal orang lain yang satu kelas dengannya sedang kebingungan karena soalnya sangat sulit dicerna otak, Roshni memang sangat pintar dan cerdas.
Di tengah ulangan harian, Amanda yang sedang pusing, berbisik kepada Roshni.
"Psst! Psst! Nomor satu apaan?" bisik Amanda, kepada Roshni di bangku sebelahnya.
Roshni yang mendengarnya, tetap fokus ke soal ulangan saja, ia tidak menggubris Amanda. Karena jika ulangan seperti ini, Roshni tak berani memberikan jawabannya kepada siapapun.
"Kurang ngajar!" Geram Amanda terhadap Roshni yang tak menggubrisnya sama sekali.
"Awas lo ya!"
Amanda mengeluarkan buku catatan Roshni yang ia bawa tadi di meja guru, ia berniat mencari sendiri rumus di buku catatan milik Roshni, namun dirinya tak bisa menemukan apapun, yang ada hanya kepeningan di otak kepalanya.
Brak!
Buku catatan Roshni, Amanda lemparkan ke bawah meja Roshni.
Roshni yang akan menyelesaikan ulangannya itu kaget setengah mati.
"Bu, Roshni mencontek!!" Amanda memfitnah Roshni sedemikian rupa, sebagai pembalasan dendamnya.
"Astaga, Roshni!" Bu Evi berdiri, dan langsung melotot kepada Roshni yang tak tahu apa-apa itu.
Bu Evi mendekati Roshni, dan membawa buku yang ada di lantai bawah meja Roshni, "cepat keluar dari kelas saya!!" Teriaknya.
Semua orang yang ada di kelas itu kaget, dan tak percaya jika Roshni berbuat seperti ini.
Roshni ketakutan, "Bu, saya tidak mencontek." Ujarnya, menunduk.
"Jelas-jelas buktinya ada! Cepat keluar sana! Dan jangan ikuti pelajaran Ibu sampai satu minggu!!" jeritnya, lagi.
"Iya tuh, Bu. Dari tadi saya perhatikan Roshni mencontek lewat buku, mungkin dia lagi liat rumus-rumusnya sama contoh soal yang sama kaya yang di soal." Amanda, memanasi Bu Evi.
"Saya benar-benar enggak nyangka, dari awal saya sudah tidak suka dengan gerak-gerik kamu. Cepat keluar!" Usir Bu Evi.
"Saya akan memasukan kamu ke daftar merah bimbingan konseling! Jika begitu, kamu tak mendapatkan surat keterangan baik dari kami!"
Hati Roshni terpukul, padahal dia tidak berbuat apa-apa. Roshni akhirnya keluar dari kelas, Roshni tidak bisa mengikuti mata pelajaran matematika peminatan lagi sekarang. Diam-diam saat Bu Evi lengah, Amanda membawa kunci jawaban milik Roshni, Amanda menulis semua hasil jerih payah belajar Roshni.
Di luar Roshni memperhatikan Amanda, sebari menangis tersenggal-senggal, beberapa siswa lelaki yang ada di luar menertawai Roshni terpingkal-pingkal, sungguh manusia berhati batu.
Amanda selesai ulangan, ia selesai paling pertama dibandingkan anak lain. Bu Evi bahagia, melihat kunci jawaban Amanda yang jawabannya benar semua. Bu Evi langsung menilai ulangan Amanda, ulangan Amanda dinilai sebanyak seratus poin, itu poin total ulangan terbaik.
"Hebat kamu, Nak!"
Amanda tersenyum, Bu Evi tidak tahu bahwa ini semua didapatkan Amanda dari Roshni yang melakukannya dengan jujur, Roshni semakin hancur, Amanda telah mencuri kerja kerasnya.