Terlalu Baik

1111 Kata
Selama jam pertama hingga jam keempat(istirahat), Roshni duduk di dekat kelasnya, ia melamun dengan kesedihan. Saat jam istirahat, Roshni duduk di kelas, di sana pula hanya ada Bu Evi yang sedang membereskan berkas-berkas ulangan para siswa dan siswi. Bu Evi menyeringai kepada Roshni. Saat Bu Evi akan menuju ke kantor ia kembali memberikan satu sindiran pedas kepada Roshni, "tidak menyangka, ternyata selama satu semester saya sudah dibohongi. Untung saya tidak jadi mendaftarkanmu ke olimpiade matematika nasional!" Ia pun pergi. Wajar kalau Bu Evi berkata seperti itu, karena nilai ulangan Roshni dari dulu selalu bagus, Bu Evi pun bangga dan akan mendaftarkan Roshni ke olimpiade nasional yang akan diadakan akhir bulan ini. Namun, Bu Evi mengetahui bahwa nilai Roshni bisa bagus, itu hanya berkat buku catatan, ia benar-benar merasa dibohongi. Roshni menerimanya, tetapi batinnya terluka, perkataan Bu Evi begitu menyakitkan baginya. Sementara itu di istana kabut, seorang perempuan memakai jubah hitam, dan memakai topeng jawa tengah sedang berjalan di lorong istana yang dipenuhi kabut asap berwarna putih. Ia masuk ke sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa pasukan jin yang berpenampilan orang botak bertelanjang d**a, dan berkaki asap. "Mau apa kau kesini?" Saat ditanya, orang berjubah hitam itu mengeluarkan sebuah cahaya dari tangannya, seketika para prajurit jin pingsan di tempat. Entah dia siapa, namun sepertinya ia adalah mata-mata dari luar kerajaan. Ia masuk ke dalam ruangan itu, di dalamnya tampak semuanya tak serba putih seperti ruangan lainnya, di sana gelap, hanya ada obor saja sebagai penerangannya, dindingnya berwarna hitam dan rapuh, di sana pula ada sebuah pintu kecil bagaikan pintu rumah sederhana di dunia manusia, ia masuk dan membuka pintu itu, ternyata di sana terdapat sebuah tangga yang menjulur ke bawah, ternyata itu adalah ruangan bawah tanah, tempat para roh-roh jahat dikurung selama beratus-ratus tahun lamanya. Sesampainya di sana, dirinya melihat ratusan peti mati kaca yang berisi roh-roh jahat mengerikan, tersimpan dan terkunci rapih di seluruh penjuru. Ada bermacam-macam makhluk mengerikan di sana, ada seorang pocong, ada perempuan dengan tanduk kerbau, kuntilanak, sundel bolong, siluman ular, siluman buaya, bahkan sampai kuyang. Mereka semua berteriak-teriak meminta dikeluarkan dari peti itu. Tetapi ada sebuah peti yang sangat besar, yang sangat tertutup, tak ada kaca, ataupun celah sedikitpun. Wanita berjubah hitam itu mendekati pemakaman besar tersebut, "Nenek ..." panggilnya, pelan. "Cucuku? Kau sudah datang rupanya." "Iya, Nek. Aku sudah datang, karena aku mempunyai kabar besar untuk Nenek." "Hmm, kabar apa, Cucuku? Apakah dia sudah meninggalkan tahtanya?" "Iya, Nek! Sebentar lagi, dia akan meninggalkan tahtanya! Dan aku sudah menjalankan rencana yang diberikan oleh Nenek untuk mengeluarkan Nenek dari pemakaman kuno ini setelah beratus-ratus tahun Nenek terkurung di sini!" Katanya. "Hah? Kau diberkati, Cucuku. Hahahaha ..." "Setelah aku bebas, aku akan membalas dendam kepada keturunan-keturunan Shalaka! Dan aku akan membuat istana kabut ini menjadi istana darah! Aku akan merebut segala kekuasaan para leluhur dan keturinan Shalaka! Camkan itu, Cucuku! Hahahahaha." "Sekarang, apa kau sudah mendapatkan ketujuh berlian yang aku minta?" "Belum, Nenek. Aku baru saja akan melakukan pencarian." "Argh! Bodoh! Seharusnya kau telah memberikan semuanya kepadaku supaya segitiga setan terbuka lebar di atas pemakamanku! Dasar!" "Sekarang cepat kau cari berlian-berlian itu, jangan lupa, kau harus sudah mendapatkannya sebelum anak dari ratu kabut generasi ke delapan puluh dinasti alam kabut diangkat sebagai ratu." "Baiklah, Nek." "Aku tunggu, Cucuku. Setelah aku bebas nanti, kau akan menerima apa yang menjadi hakmu sejak ratusan tahun silam." Entah apa yang mereka bicarakan, semuanya masih menjadi teka-teki, hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan atas pernyataan mereka satu sama lain, tetapi yang pasti mereka berdua berniat untuk memberikan kehancuran bagi istana sekligus alam kabut dengan cara meminta tolong kekuatan luar dari agama dan tuhannya. Sangat tidak patut dicontoh sama sekali. Di dunia manusia hari sudah siang, begitu cepat ternyata waktu berjalan di dunia manusia, pantas saja para manusia cepat sekali menua dan lalai akan segala kewajibannya. Di kelas sepuluh IPA enam, diisi dengan mata pelajaran biologi oleh Pak Guru Mamat, seorang pria paruh baya, berkacamata. Pak Mamat sangat humoris, tak jarang beberapa kelas sangat betah digurui olehnya. Minggu lalu, Pak Mamat menugaskan ke kelas sepuluh IPA enam untuk membuat suatu proyek biologi berupa miniatur ekosistem, yang dikerjakan secara individu. Di jam terakhir ini, para siswa-siswi kelas sepuluh IPA enam sangat antusias untuk mengumpulkan tugas mereka, terutama Roshni. Roshni membuat miniatur yang sangat amat indah dan ribuan pujian ditujukan kepada Roshni, karena ia sangat pandai dalam membuatnya. Pak Mamat pun sampai terpukau akan miniatur ekosistem yang dibuat oleh Roshni. "Wah, ini bagus sekali, Rosh. Ini kamu buat sendiri kah?" Tanya Pak Mamat, penuh apresiasi terhadap karya Roshni. "Hehe, iya, Pak. Ini saya yang buat." Jawabnya. tersenyum. "Wow, ini bagus sekali, kamu berhak mendapatkan nilai paling tinggi!" Ujar Pak Mamat, seraya jarinya mengangkat dua jempolnya. "Terimakasih banyak, Pak. Bapak sangat baik sekali, hehe." "Sama-sama, Rosh." Amanda yang melihatnya sangat penuh kemurkaan, dia iri dengan Roshni yang dipuji-puji, padahal kemarin Roshni telah membuatnya dijemur di lapangan sampai jam terakhir. "Amanda, mendingan lo akuin miniatur Roshni sebagai punya lo deh. Daripada lo makin panas kagak karuan di sini." Athalla. "Iya, Da. Si Roshni tuh enggak pantes dipuji-puji kaya gitu, lo harus banting setir, Da!" Tambah Amayra. "Heh, gue juga berpikiran kaya gitu. Nanti kalian berdua bantuin gue ya!" Ucap Amanda. "Siaplah, Da!" Athalla. Amanda berpura-pura menangis dengan meneteskan air minum di matanya, lalu Amanda mendekati Pak Mamat yang masih berdiri di depan meja Roshni. "Bohong!!!" Teriak Amanda, yang memecahkan suasana kebahagiaan Roshni. "Itu ka-karya saya, Pak!!" Seketika semua orang kaget dengan pernyataan Amanda yang secara tiba-tibaz terutama Pak Mamat. Aisyah dan Roshni juga kaget setengah mati, bisa-bisanya Amanda membuat kekacauan seperti ini lagi. "Pak, saya tidak bohong! Roshni mencuri proyek itu dari saya, sekaligus memberikan ancaman kepada saya, hiks-hiks-hiks." "Heh, Manda! Jangan asal ngomong lo! Gue tau kok kalo Rosh yang buat ini semua di pendopo pesantren gue! Ini semua cuman rencana lo doang!" Aisyah, tak terima. Saat Aisyah berkata seperti itu, tangisan Amanda semakin keras, dirinya kembali menangis bagaikan anak kecil di sana. "Apa kamu yakin kalau ini proyek kamu, Amanda?" Tanya Pak Mamat. "Iya, benar, Pak. Hiks-hiks, tega-teganya Roshni mengaku-ngaku itu proyeknya, tolong keadilannya, Pak! Hiks-hiks-hiks." Tangis Amanda di depan proyek biologinya. "Bukan, Pak! Itu projeknya Roshni! Buat Amanda!" Aisyah, geram. "Hmmmm, ini siapa yang benar?" Pak Mamat kebingungan, ia tak tahu sebenarnya siapa yang salah dan yang benar, karena Pak Mamat baru menjadi guru biologi mereka di semester ini, sehingga ia tak tahu watak anak muridnya. "Roshni, Pak! Hari senin, Roshni datang ke pesantren saya untuk membantu saya membuat proyek ekosistem! Di sana pula Roshni membuat proyeknya bersama-sama." Aisyah, menyakinkan Pak Mamat. "Itu memang projeknya Amanda, Pak!" Kata Roshni. Seketika semuanya terkejut mendengar pernyataan Roshni. Roshni memang terlalu baik, sampai-sampai dirinya merelakan haknya demi orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN