"Lho, kok kamu bilang gitu sih, Rosh? Kan ini hasil karya kamu sendiri." Aisyah, yang tak menyangka bahwa sahabatnya berkata bahwa karyanya adalah milik Amanda.
"Enggak, Syah. Karya aku yang kemarin rusak, dan aku maksa Amanda untuk menyerahkan karyanya ke aku." Cakap Roshni, ia mengalah.
"Roshni!" Aisyah.
Roshni mengedipkan satu matanya, seakan-akan Roshni menandakan sesuatu kepada Aisyah. Aisyah mengerti bahwa Roshni mengalah demi Amanda, hingga akhirnya Aisyah berhenti bicara kepada khalayak umum tentang kebenaran yang tak ada siapapun mempercayainya.
"Pak, percayalah, Pak! Ini milik saya, hiks-hiks-hiks." Tangisnya.
Pak Mamat hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat, ia tak percaya kalau siswi seperti Amanda bisa mengerjakan proyek seperti ini, karena tugas-tugas biologinya pun tak pernah ada yang masuk.
"Sekarang kalian pulang saja dulu ya, nanti Bapak akan mencari tahu sendiri tentang kebenarannya." Pak Mamat pergi dari kelas, siswa-siswi pun merapihkan kelas, bersiap untuk pulang.
Amanda geram, jika Pak Mamat mengetahui segalanya pasti Roshni yang akan dipuji-puji, sementara dirinya akan terkena masalah besar, akhirnya Amanda membabi buta, Amanda melempar miniatur ekosistem buatan Roshni ke lantai lalu ia injak-injak sampai hancur, sekarang miniatur ekosistem Roshni berantakan.
"Ya Allah, Amanda! Dasar orang kagak punya hati lo!!" Bentak Aisyah.
"Udah, Syah! Udah!" Ucap Roshni.
"Hahaha, mau apa lo hah? Mau nantangin gue lo? Mau manas-manasin gue lo?" Murka Amanda ke Roshni.
"E-Enggak, Kak! Enggak, hiks-hiks-hiks."
"Tadi Pak Mamat puji-puji lo, bikin gue geram aja lo!" Amanda mendorong Roshni, sampai Roshni tersungkur ke bangkunya, para siswa-siswi dan pejabat kelas hanya bisa menonton sambil menyoraki Amanda dengan penuh dukungan dan semangat, adapula yang menyoraki Roshni sebagai perempuan culun.
Aisyah membantu Roshni bangkit dari sana, "Rosh, kamu enggak apa-apakan?"
"I-Iya, Syah. Aku enggak apa-apa."
"Lo ya anak pembawa sial! Sampah kelas! Pembawa masalah!"
"Udah mah culun, cepu, bodoh, terus hidup! Aneh, mending lo mati aja bocil!" Cerca Amanda.
"Ampun, Kak! Udah cukup, hiks-hiks-hiks."
"Sini! Miniatur lo, gue bakar!"
Sebuah korek api ia nyalakan, membakar miniatur ekosistem milik Roshni.
"Jangan, Kak! Jangannnn!" Roshni jatuh, ia mengambil miniatur ekosistem yang telah Amanda bakar di sana, sampai-sampai tangan Roshni juga ikut terbakar karena ingin menyelamatkan miniaturnya.
"Aneh nih orang, malah bakar tangannya sendiri cuman gara-gara miniatur sampah, hahahaha!" Tawa puas Amanda, yang diiringi gelagat tawa satu kelas yang menyaksikannya.
"Amanda, udah!!!"
"Sampe kapan lo hah bully Roshni terus! Ingat ya, Amanda, suatu saat perbuatan lo ke Roshni akan dipertanggung jawabkan! Azab dan karma bakalan datang sebentar lagi, perbuatan lo akan dibales, bahkan lebih parah dari apa yang lo perbuat ke Roshni!! Camkan itu, Amanda!!" Jerit Aisyah, jari telunjuknya sampai mengarah ke Amanda karena sangking murkanya.
Seketika kelas-kelas yang berdekatan dengan kelas sepuluh IPA enam berdatang ke kelas IPA enam untuk menyaksikan kejadian besar ini, dimulai dari kelas sepuluh IPA tiga, empat sampai lima.
"Emang gue takut? Kagak, hahahaha."
"Dasar, orang tanpa akal!!" Emosi Aisyah.
"Emang!!" Amanda menginjak tangan Roshni sampai tangannya masuk seutuhnya ke kobaran api.
"Hahhh!!!" teriak Roshni, kepanasan.
"Inalilahiwainalilahirojiun!! Amanda!!" Aisyah mendorong Amanda, sampai Amanda tersungkur ke lantai. Amanda cepat-cepat bangkit untuk melawan Aisyah.
"Berani lo hah? Berani??" Amanda kembali mendorong aisyah.
"Dasar, kalo lo berani macem-macem, gue bisa keluarin ilmu gue, Da!!"
"Ilmu apaan hah? Ilmu jaran goyang? Hahahaha."
"Ngehina lu ya! Liat nih!!"
Aisyah membaca ayat-ayat suci amalan dari ayahnya yang merupakan kyai, Aisyah meniup Amanda dari kejauhan seketika Amanda terpental jauh sampai ke papan tulis, papan tulis itu pun sampai roboh.
DAAAG!
Semua orang tercengang melihat Aisyah mempunyai ilmu seperti ini, ini berkat Aisyah selalu mengamalkan bacaan Ratib Al-Hadad di setiap sepertiga malam.
"Sekarang lo berani macem-macem hah?"
"Di sini ketua kelas pada kaya siput! Semuanya sembunyi dan enggak mau nolong Roshni?? Apa karena si Amanda ini geng berbahaya di sekolah? Dasar, apa gunanya jabatan kalian wahai lelaki jantan sebagai ketua kelas? Apa gunanya hah? Kalau sifat pun seperti siput! Memalukan!"
Roshni di sana terus menyelamatkan miniaturnya, terlihat telapak tangannya gosong, dan mengelupas. Aisyah mengguyur miniatur ekosistem milik Roshni agar tangan Roshni tidak semakin terbakar.
Byuuur!
"Rosh, udah, Rosh. Kita laporkan aja mereka ke guru BK atau ke Bu Nani! Ayo, Rosh!" Ujar Aisyah.
Amanda bangkit, "hah? Lo berdua mau ngelaporin gue ke Bu Nani hah? Siap-siap nih si Roshni bakalan gue habisin!!!" Hardik Amanda.
"A-Aku takut, Syah! Aku takut!!" Roshni, bergemetar ketakutan.
"Udah, jangan takut sama orang gila kaya mereka, Rosh! Orang kaya mereka itu harus dilawan bukan ditakutin!"
"Ayo, Rosh! Kita laporin aja!"
"Wahh, berani nih orang ya!" Athalla.
"Iya, dasar! Kalo ditonjok sama Amanda, nangis, hahaha." Amayra.
"Oke, kalo kalian berdua mau laporin gue, laporin aja, hari senin nanti awas lo berdua!!"
Kekuatan Aisyah yang sudah ia keluarkan belum membuat Amanda dan kawan-kawannya jera, malah semakin jadi. Aisyah berdiri, dirinya menuntun Roshni pergi dari kelas yang penuh dengan orang menertawai kebodohan Roshni dan Aisyah.
"Ini semua siap, untuk dijadikan bukti!"
Diam-diam Abhizar merekam semua kejadian yang terjadi di kelas sepuluh IPA enam, entah apa yang akan dilakukan oleh Abhizar dengan merekam kejadian ini. Abhizar bagaikan seorang detektif, ia keluar dari kelas lewat pintu kelas dekat papa tulis yang terhubung ke kelas sebelah, yaitu kelas sepuluh IPS satu. Tak hanya Abhizar, tetapi juga Arsal, teman sekelasnya, mengikuti Abhizar.
Arsal Putra Ramadhan, anggota OSIS di SMA 1 Nusa. Semasa di SMP, Arsal menjadi ketua osisnya, karena pandai memecahkan dan menyelesaikan kasus-kasus bullying serta perundungan di sekolahnya. Sekarang kemampuannya akan ia gunakan untuk membantu Roshni.
Arsal dan Abhizar berlari menuju ke kelas lain yang sedang kosong. Mereka berdua menutup kelas tersebut, agar tak ada siapapun yang melihat atau mengetahui keberadaan mereka berdua.
"Gimana? Beres?" Tanya Arsal, berbisik.
"Beres, Sal! Semua kelakukan b***t Amanda dan teman-temannya ada di ponsel gue!" Jawab Abhizar.
"Sip, sekarang kita harus ngerekam kejadian di UKS, lewat CCTV di ruangan informatika."
"Ayo, Sal!"
"Eh, jangan sekarang! Sekarang kita tunggu mereka pulang, setelah itu baru kita menuju ke ruangan informatika!"
Roshni mencuci tangannya di kamar mandi sekolah bersama dengan Aisyah, terlihat telapak tangan Roshni mengelupas dan gosong.
"Rosh, ini udah keterlaluan banget, masa iya kamu enggak mau melawan mereka."
"Udah aku keluarin ilmu aku tadi, sampe lemes semua badanku, Rosh. Tapi mereka sama sekali enggak jera, malah makin brutal."
Roshni hanya terdiam, sebari mencuci tangannya.
"Huft ... Rosh, entah sampai kapan kamu terus diam. Aku prediksi, kamu bakalan melawan, dan bakalan enggak tahan lagi atas semua ini, aku jamin itu, Rosh. Karena kesabaran ada batasannya, enggak mungkin kamu gini terus."
Di tengah itu semua, di cermin, Aisyah melihat mata Roshni berubah menjadi putih tanpa pupil mata yang hitam.
"Astaghfirullah, mata kamu kenapa, Rosh??"
Kemudian dari matanya keluar kabut asap yang tebal, lalu kabut tersebut menyentuh ke cermin kamar mandi, seketika cermin itu pecah di hadapannya.
BRANG!