Dua Jin Perempuan

1332 Kata
Setelah itu semua terjadi, Roshni seketika pingsan, syukurnya tubuh Roshni bisa ditompang oleh Aisyah. Cepat-cepat Aisyah membopong Roshni ke ruangan UKS untuk perawatan lebih lanjut. Masih dalam ruang lingkup SMA Negeri 1 Nusa, Abhizar dan Arsal datang ke ruangan informatika untuk melihat rekaman CCTV di laboratorium informatika. Mereka berdua sekarang sudah melihat bagaimana kekejamam Amanda dan kawan-kawannya kepada Roshni, sang gadis malang. Mereka berdua pun sampai mengeluarkan air mata, di saat Roshni dipukul dengan kue balok, dan juga disiram dengan air comberan. "Astaga, kelakuan Amanda dan kawan-kawannya sangat keterlaluan! Tega amat mereka!" Abhizar, yang melihat rekaman CCTV itu lewat komputer di laboratorium informatika. "Astaga! Kita laporkan aja ke guru BK sekarang!" Ajak Arsal. "Jangan!" "Ngapa?" "Kita kasih ancaman dulu untuk Amanda dan kawan-kawan! Kalau mereka tidak mau meminta maaf, baru kita laporkan ke guru BK!" "Hmm, emangnya lo yakin apa? Geng mereka itu pada enggak perasaan." Tegas Arsal, kesal. "Apa salahnya mencoba, gue pengen banget ngeliat geng kalajengking merah itu enggak berdaya, bagaikan ikan tanpa air." "Hahahaha, mau aja lo. Amanda itu licik, kalau dia hapus hasil kerja keras kita gimana?" "Tenang aja, Sal! Gue selalu ada cadangan, kalo mereka berbuat aneh-aneh, gue ngeluarin kartu AS yang bakalan langsung buat kejahatan mereka semua terbongkar di depan anak-anak sekolah Nusa!" Siang tiba, jalanan nampak sepi karena banyak kaum adam yang menjalankan sholat jum'at di masjid kota. Aisyah menuntun Roshni untuk berjalan pulang ke rumah. Entah mengapa sesudah pingsan tadi, Roshni sangat lemah, tubuhnya juga meriang. "Rosh, tadi kamu kenapa toh, kaya orang kerasukan." "Enggak tau, Syah. Itu tiba-tiba aja, dan aku enggak sadar, tubuh aku rasanya seperti dikendalikan orang lain." "Aduh, Rosh. Kamu mungkin melamun, kan di kamar mandi kita enggak boleh melamun, nanti bisa kesambet." "Iya, Syah. Tapi ada yang aneh, Syah, tadi aku enggak melamun sama sekali kok. Tadi kan aku ngobrol sama kamu, sambil cuci tangan." "Hmm, yaudahdeh, jangan dipikirin dulu. Sekarang mau enggak nih main sebentar ke kobong?" "M-Mau, Syah. Di rumah, aku sendirian, palingan Ayah pulang tengah malam lagi." "Oalah, ayo, Rosh." Mereka berdua bergegas ke pondok pesantren Ar-Rahman, pondok pesantren itu sangat luas dan megah, banyak santriwati yang sedang beraktivitas di luat kobong, oh iya terdapat sekolah juga di sana. Meskipun di pesantrennya mempunyai sekolah, Aisyah ingin belajar mandiri dengan bersekolah di luar pesantren, supaya dirinya kuat menghadapi dunia luar. Roshni dan Aisyah masuk ke kobong santriwati, Aisyah sering tidur di kobong itu. Sekarang kobong tersebut tampak sepi, karena para santriwati menghabiskan waktu luangnya di luar kobong, ada yang jajan, makan siang, membaca buku, dan ada pula yang membaca al-qur'an di mushola yang ada di dalam pesantren. Roshni dibaringkan di kasur empuk yang digelarkan oleh Aisyah di depan lemari. "Nah, kamu baring di sini ya, aku mau ambilkan makanan dulu di bawah." "Eh, jangan, Syah! Jangan repot-repot, aku m-masih bawa roti kok di tasku." "Ah, jangan gitu, santai aja dong, Rosh. Lagian kan masakan yang dibuat Bi Ijah itu banyak banget." "Aku tinggal dulu ya." "Eh, yaudah deh, Syah. Makasih banyak ya, Syah." Aisyah pergi mengambil makan siang yang dimasak Bi Ijah di dapur pesantren yang cukup megah, di sana juga banyak beberapa santriwati pesantren yang membantu Bi Ijah membuat makanan yang akan disajikan kepada santri dan santriwati. Tampak di depan dapur sudah ada prasmanan dengan lauk-pauk yang sangat banyak. Ada sambal goreng kentang, ayam goreng, tempe goreng, dan ada juga sayuran kangkung yang ditumis dengan aroma harum. Tak hanya ada laukpauk, di sana juga ada buah-buahan pencuci mulut, seperti anggur, jeruk, apel, buah pir, dan juga semangka yang telah dikupas. Di dalam kobong, Roshni membaringkan dirinya di lemari yang sudah dilapisi bantal, badan Roshni masih tak enak, mungkin dia akan sakit demam. Tetapi entah mengapa, perasaannya tak enak sama sekali. Ditambah ia kebingungan dengan kejadian kerasukan yang menimpanya selepas sekolah tadi. Pelan-pelan Roshni memejamkan matanya karena kantuk yang berat, saat dirinya memejamkan mata, beberapa lama setelahnya ia mendengar suara beberapa santriwati yang datang ke kobong. "Sin, ayo dong cepat kita pergi dari sini." Ujar santriwati itu yang bernama Fanny kepada temannya, Sindy. "Yeee, di sini kan enak, banyak tulang ayam, masa kamu enggak mau, Fan." "Iya, enak. Tapi aku enggak nyaman, rasanya enggak bebas." "Huft, kamu belum tau ya kalau di sini ada tempat lain?" "Apa tuh?" "Ada tempat di lantai atas masjid pesantren." "Hah?" "Masa kamu enggak inget." "Ehh, iya! Asik! Ayo kita kesana." Roshni merasa sedikit aneh, kata Aisyah dulu, katanya santriwati satu kamarnya sangat ramah dan baik hati, kepeduliannya juga sangat tinggi, namun mengapa mereka berdua tidak menyapa ataupun berbicara tentangnya? Setidaknya mereka berdua menjadikan Roshni topik untuk berbincang, namun kenyataannya mereka seakan-akan tak melihat Roshni di sana. Roshni kembali membuka kedua matanya, ingin melihat mereka berdua. Akan tetapi, di saat dia membuka matanya, ia melihat ada dua perempuan pucat, memakai gamis dan hijab serba putih dengan kaki asap sedang keluar dari kobong, mereka terbang. "Ya Allah, bukannya mereka yang mengobrol di sini tadi?" Jika benar, maka yang tadi masuk ke kobongnya adalah dua jin perempuan! Sontak Roshni langsung bergemetar hebat, ia ketakutan setengah mati. Seumur-umur dia baru melihat sesosok jin yang nyata. "A-Aisyah! Aisyah!" Teriak Roshni, penuh ketakutan. Aisyah yang sedang membawa makanan, mendengar teriakan Roshni dari luar. Aisyah cepat-cepat masuk ke kobong, memeriksa keadaan sahabatnya, sebari membawa makanan. "Ada apa, Rosh?" Tanya Aisyah, panik. "Tadi a-ada jin, Syah!" "Hah? Jin? Dimana?" "Di sini, Syah! Jinnya ada dua, dua-duanya perempuan! Mereka pake pakaian serba putih, dan kaki mereka itu asap! Mereka berdua terbang, Syah!" "Ya Allah, emang benar, Rosh? Kamu enggak mimpikan? Soalnya jin kaya gitu, di sini enggak ada, Rosh. Aku kan udah lama tinggal di sini, mungkin kamu kecapean ya, Rosh." "Enggak, Syah! Aku bener-bener sadar kalau mereka berdua itu ada di sini tadi!" Roshni. "Tenang, Rosh. Jangan dipikirkan, ini kamu makan dulu aja. Mungkin setelah makan, kamu bakal baikan, Rosh." Roshni menenangkan dirinya, ia mengiyakan perkataan Aisyah yang mengharuskannya makan. "Makasih ya, Syah." Roshni memakan makanan yang dibawakan oleh Aisyah, dengan lahap Roshni menghabiskan satu piring yang berisi laukpauk dan nasi, tak lupa dirinya memakan buah apel dan s**u segar yang dibawakan sahabatnya itu. Roshni sangat berterimakasih kepada Aisyah. Rasanya ia tak perlu memiliki ribuan sahabat tetapi semuanya palsu. "Iya, sama-sama, Rosh, hehe. Kamu udah mendingan kan?" "Belum, Syah. Aku masih kepikiran sama jin tadi." Roshni terdiam sejenak. "Syah, kamu pernah mikir enggak kalau pengelihatanku tadi, ada hubungannya sama kerasukan di sekolah?" "Hah? Menurut aku pribadi sih enggak mungkin, menurutku kamu cuman halu aja deh, Rosh." "Ayo kita sholat dzuhur dulu, Rosh." Roshni dan Aisyah bergegas ke tempat wudhu, dan melakukan sholat dzuhur di masjid secara sendiri-sendiri. Mereka berdua sholat di lantai kedua masjid pesantren, sekilas Roshni mengingat perkataan salah satu jin tadi, jikalau mereka akan datang ke lantai kedua masjid ini. Perlahan, bulu kuduk Roshni berdiri.m di saat dirinya mengingat itu lagi. Saat sedang membaca al-fatihah, tiba-tiba saja ... Puk! Pundak Roshni ditepuk oleh seseorang. Puk! Lagi! Tepukan itu dua kali! Mungkin ada dua orang yang ingin berjamaah. Roshni berusaha tenang, dan berpikiran positif, ia memikirkan bahwa yang menepuk kedua pundaknya adalah santriwati pesantren ar-rahman. Roshni mulai mengeraskan bacaan al-fatihahnya, di saat dia akan mengakhirinya, tiba-tiba ... "Aamiin." Dua suara perempuan yang sangat mengerikan berdengung di kedua kupingnya, suara ini sangat tak asing untuknya. "Allahuakbar." Roshni rukuk. Beberapa lama kemudian, Roshni selesai sholat dan sedang duduk di tahiyat akhir, Roshni harus menyelesaikan sholatnya penuh ketakutan dengan dua sosok yang ada di belakangnya, mereka berdua tampak masih sholat di belakang Roshni karena tertinggal. Aisyah yang saat itu sudah menyelesaikan dzikir dan doanya, mengajak Roshni untuk ke kobong. "Rosh, ke kobong yuk." "Nanti dulu, Syah, kita tunggu mereka dulu." Roshni membalikan badannya dan menunjuk ke saf kedua. "Mereka siapa, Rosh?" Bingung Aisyah. "Eh! Tadi ada dua santriwati di sini, Rosh!" "Oh, maaf ya, memang sering mereka jadi makmum saat kita sholat, hehe. Kadang pas tahajud, mereka datang. Setiap pagi, mereka berdua nampakin wujudnya ke aku, Rosh. Mereka berdua jin." "Jin? J-Jadi tadi ..." "Iya, tadi makmum kamu jin, Rosh." "Apa jangan-jangan, yang kamu lihat di kobong itu, mereka berdua, Rosh?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN