"M-mungkin, Syah. Syah, suara yang aku dengar di kobong itu lembut, tapi yang aku denger tadi suaranya menakutkan, Syah. Suaranya kaya nenek-nenek!" ungkap Roshni.
"Tenang, Rosh. Itu bagian sisi jahat mereka, biasanya kalau ke orang baru, mereka pasti menunjukan wujud jahatnya, tujuannya enggak tau untuk apa. Wajah sisi jahat mereka berduapun seram. Eh tapi aneh ya, biasanya mereka selalu muncul saat sholat tahajud, tapi dzuhur mereka udah datang. Terus biasanya mereka enggak terlihat di siang hari," jelas Aisyah pada Roshni.
Roshni melamun, ia memalingkan wajahnya ke depan, di depannya ada lampu yang sangat besar yang besarnya dari lantai tiga sampai dua, lampu pencahayaan utama masjid pesantren ar-rahman. Samar-samar, dirinya melihat seorang perempuan dengan bola mata besar berwarna hitam, dan wajah yang sangat amat putih pucat, mengenakan mukena warna putih dengan kaki asap sedang duduk di atas lampu, perlahan-lahan lampu yang besar itu kesana-kemari.
"Hihihihihi!" tawanya membuat Roshni berteriak ketakutan.
"Aaaa!"
"Rosh, kamu kenapa?" heran Aisyah, dengan perilaku Roshni yang tiba-tiba berteriak ketakutan.
"Ada j-jin, Syah! Ituuu!" Roshni menunjuk ke arah lampu besar masjid.
"Mana, Rosh? Enggak ada tuh, Rosh," Aisyah, seraya melihat lampu gantung besar tersebut.
"Itu, Syah! Dia lagi duduk, d-dia pakai mukena juga, Syah!" Roshni menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
Aisyah melihat lampu gantung itu lagi.
"Rosh, enggak ada tuh!"
"Rosh, buka mata kamu, lihat sekali lagi!"
Roshni membuka kedua matanya, dan melepaskan genggaman telapak tangannya pada kedua matanya. Setelah membuka mata, Roshni kembali melihat jin itu, yang kini duduk berdua di lampu gantung tersebut, wajahnya pun sama, tak beda jauh dari jin yang ia lihat pertama. Seketika Roshni pingsan karena tak sanggup melihat jin itu lagi.
Di sekolah SMAN 1 Nusa, Amanda, Athalla dan Amayra masih ada di sekolah untuk mengikuti ekstrakulikuler paskibra, terlihat mereka sangat antusias sekali. Di sela-sela latihan paskibra, tibalah istirahat selama satu jam lamanya karena para kakak-kakak pembina ada sedikit keperluan bersama kepala sekolah. Di waktu itu, geng kalajengking merah duduk bersantai di bawa pohon rindang dengan make up yang tidak luntur sama sekali. Di sana, tiba-tiba Abhizar yang masih mengenakan seragam pramuka yang dikeluarkan datang menemui Amanda, dengan tatapan meringis.
"Kenapa lo?"
"Amanda, gue kan anggota OSIS, gue kesini mau bicara baik-baik ke lo," ujar Abhizar, sangat serius.
"Mau bicara apa lo?" tanyanya, santai.
"Kedatangan gue kesini, gue pengen lo hari ini juga minta maaf ke Roshni atas perbuatan lo kemarin."
"What? Tau apa lo? Si Roshni ngadu, hah? Iye? Halah, jangan didengerin dia! Dia mah tukang provokator!" elak Amanda.
"Cih! Sok-sok'an lo, Amanda! Gue udah tau perbuatan lo kemarin di ruangan UKS, gue udah liat CCTV kalau lo kemarin udah lempar air comberan sama kue balok ke Roshni! Selain itu, lo Amayra, lo udah bikin wajah dan mata Roshni kena air baksonya sendiri!"
"Lo mau fitnah gue ya? Dasar, mana buktinya hah? Omong doang kagak cukup, dasar laki-laki mulut lemes!"
"Elak terus sampe mampus lo, Da! Gue berani ngomong kaya gini mana enggak ada bukti, nih liat!" Abhizar menunjukan flashdisk yang berisi rekaman perundungan Amanda kepada Roshni di ruangan UKS.
"Kurang ngajar!" Amanda dan kawan-kawannya kaget setengah mati, bahaya jika Abhizar melakukan hal yang bisa mencoreng nama baik geng kalajengking merah.
"Kalau lo kagak mau minta maaf ke Roshni, siap-siap nanti hari senin, sesuatu yang buruk bakalan terjadi!" ancam Abhizar.
"Heh, lo ini siapa sih, berani ikut campur masalah kita. Urus tuh hidup lo sendiri, jangan hidup orang lo urusin mulu, kagak ada kerjaan apa?" Amayra, yang mulai ketakutan.
"Jangan-jangan dia ini suka sama si cupu Roshni, makannya selalu ikut campur, hahaha," Athalla, berusaha tenang.
"Minta maaf, atau gue lakuin sesuatu yang kagak pernag kalian bertiga lihat!!" bentak Abhuzar.
"Dasar, gue kagak sudi minta maaf sama orang kaya dia! Dia cupu, harusnya cupu ya pantes digituin!"
"Woy, walau dia cupu juga, dia berhak untuk dihargai dan dihormati, bukan diperlakukan sebagai layaknya binatang. Coba kalau lo ada di posisi Roshni, apa yang lo rasain? Pasti hancur!"
"Cepet lo minta maaf!"
"Amit-amit dah, ogah!"
"Oh, yaudah, liat aja nanti! Siap-siap nama baik kalian bakalan hancur di depan adik-adik kelas satu sampe ke kakak kelas dua belas,"
"Pst! Pst! Da, lakuin sesuatu!" bisik Amayra, penuh ketengangan.
"Tenang, yang beginian mah kecil!"
"Abhizar! Awas lo!" Amanda merebut flashdisk milik Abhizar, dia memukuli Abhizar layaknya anak kecil yang ingin merebut mainannya. Geng kalajengking merah memang sangat anarkis, sehingga mereka semua ditakuti satu sekolah.
Sayang sekali ... flasdisk itu sudah berada di tangan Amanda, karena Amanda merebutnya bagaikan orang yang kehilangan akal. Benar-benar Amanda gangguan mental!
"Hahaha, flasdisk ini, ada di tangan gue!"
"Ayo rusakin aja noh flashdisknya!" teriak Athalla.
Amanda langsung menjatuhkan flashdisk itu, lalu ia injak dengan sepatunya, sampai-sampai flashdisk tersebut hancur berkeping-keping. Melihat Amanda yang sedemikian rupa, Abhizar hanya bisa tersenyum licik bagaikan tak kehilangan apapun.
"Hahaha, sekarang mau ngapain lo? Mau ngancam lagi? Hah, tidak bisa, tidak bisa! Bukti yang lo pegang udah hancur, hahaha."
"Betul, Amanda memang hebat! Dia bisa ngelakuin apa aja," gelak tawa Athalla.
"Iya, Thal. Ini laki-laki udah mulutnya lemes, terus berani nantang kita, sekarang pas buktinya udah kagak ada malah nyengir kaya orang enggak waras, hahahaha," Amayra, tertawa lepas.
"Oke, kalau itu mau kalian," Abhizar pergi dengan tenang, meninggalkan mereka bertiga, sementara mereka menyoraki Abhizar dengan keras dengan sebutan orang tak waras dan tak mempunyai akal sehat.
"Hahaha, ngakak-ngakak, culun amat dia ya, datang-datang nantang, eh pas buktinya hancur, dia malah pulang sambil senyum, kayanya dia nahan rasa malu enggak bisa ngelawan kita, hahaha," Athalla.
"Iya, bener, haha ..." Amayra.
"Eh, Girls. Tapi kita jangan anggap omongan dia main-main lho, siapa tau dia beneran, karena setau gue, si Abhizar itu orangnya enggak omong kosong," Amanda, curiga.
"Aduh, g-gue jadi takut sekolah besok, Da!" Athalla, yang mulai takut.
"Dahlah sekolah aja, besok kan latihan paskibra lagi. Lagian bukti yang dia punya, udah gue hancurin tadi,"
Waktu begitu cepat berlalu, sesudah bangun dari pingsannya Roshni melihat waktu sudah menunjukan pukul lima sore, ia pula lihat di kobong banyak santriwati yang sedang bersiap-siap sholat magrib di masjid.
"Astaghfirullah! Aku belum sholat ashar!" batinnya.
"Eh, temennya Aisyah sudah bangun ya. Gimana, Kak, apa Kakak sudah mendingan?" tanya Khairunnisa, teman satu kobong Aisyah, yang umurnya hampir sebaya dengannya.
"Alhamdulilah, udah, Kak. Oh iya, Kak ... saya pamit dulu ya, saya buru-buru, sampaikan ke ucapan terimakasih saya ke Aisyah, Kak."
"Lho, mau kemana, Kak?"
"Saya mau pulang, Kak. Ini udah terlalu sore, hehe ..."
"Ohh, yaudah, nanti akan saya sampaikan. Hati-hati ya, Kak,"
"Iya, Kak. Terimakasih banyak, Kak,"
Ternyata benar kata Aisyah, santriwati-santriwati di kamarnya sangat ramah dan sopan. Roshni keluar dari pondok pesantren, tampak ia masih mengenakan seragam pramuka. Saat keluar, cepat-cepat dia melakukan sholat ashar di mushola terdekat, sebelum waktu magrib masuk.
Syukurlah, Roshni sudah melaksanakan sholat ashar meskipun sangat terlambat. Hari saat itu sudah mulai gelap, tetapi mau tak mau ia harus pulang sendirian ke perumahannya karena di rumah ia harus memasak nasi dan beberapa lauk untuk dirinya dan ayahnya nanti.
Roshni berjalan dengan begitu cepat, di perjalanannya terdengar suara anak-anak kecil yang sedang membaca sholawat nabi, dan ada juga yang membaca puji-pujian dalam bahasa sunda di mushola masing-masing seraya menunggu waktu sholat magrib tiba. Roshni sangat ingin, namun di usianya yang sekarang ini tak ada waktu lagi untuknya, kerja sekolah sangat menumpuk, membuat waktu dan pikiran terkuras habis. Kadang anak muda tidak bisa mengatur waktu, sampai-sampai jarak ketaatan antara dunia dan akhirat malah berat sebelah.
"Allahuakbar, Allahuakbar!"
Suara adzan magrib berkumandang, Roshni panik karena ia belum juga sampai ke rumahnya. Jaraknya masih sangat jauh, andai tadi dirinya memakai ojek online atau angkutan umum, pasti sekarang ia sudah sampai di rumah.
Setelah adzan magrib dan ikamah berkumandang, tiba-tiba suasana jalanan menjadi mencekam. Jalanan sudah sangat sepi, angin berhembus dengan kencang bagaikan ada sesuatu yang akan terjadi.
Samar-samar, Roshni melihat seorang perempuan muda dengan rambut panjang dan mengenakan gamis hitam, berdiri di tiang listrik. Perempuan itu sangat tinggi, hampir tingginya setengah tiang listrik. Perempuan tersebut mengayun-ayunkan telapak tangannya kepada Roshni, nampaknya ia menyuruh Roshni mendekatinya.
"Itu manusia apa bukan ya?" batin Roshni, yang kurang yakin dengan sosok yang berdiri di dekat tiang listrik tersebut.
Roshni perhatikan lagi, sosok tadi menggerakan mulutnya bagaikan meminta tolong. Karena rasa empati serta simpati Roshni yang tinggi, Roshni mendekati sosok tersebut. Ini memang begitu menyeramkan, tetapi siapa tau dia memerlukam bantuan.
"Ada apa ya, Bu?"
"Nak, apa bisa kamu antarkan Ibu ke kuil siluman ular yang ada di dalam hutan Argapura?" ujarnya, tak bertenaga.
"Hah? Itu kan sangat jauh, Bu. Mau apa Ibu kesana?"
"Ibu mau mengambil batu permata naag, Nak, u-untuk mengobati luka peluru yang menembus perut anak Ibu, hiks-hiks-hiks."
"Tapi, B-Bu, di sana sangat berbahaya,"
"Tak apa-apa, Nak. Anak Ibu sedang dalam masa kritis dan harus segera diobati dengan batu permata naag itu, Ibu sudah terlalu lemah jadi Ibu tidak bisa mengambilnya, hanya remaja sepertimu yang mempunyai kekuatan lebih, Nak,"
Rasa kemanusiaan Roshni sangat besar, dengan sigap Roshni mengiyakan perkataan Ibu yang malang itu.
"Kalau begitu, baik, Bu. Saya akan membantu Ibu untuk ke kuil siluman ular,"
"Waah, terimakasih, Nak," dengan penuh haru, Ibu itu memeluk Roshni
"Iya, Bu. Hehe, Ibu tenang ya, santai aja, Bu. Anak Ibu pasti akan selamat," Roshni yang berusaha menenangkan Ibu itu.
"Hiks-hiks-hiks, sekali lagi, terimakasih ya, Nak!"
Pelukan sang Ibu itu begitu lama, watak Roshni yang terlalu baik, seakan-akan merasakan apa yang dirasakan Ibu tersebut. Tetapi siapa sangka, masih dalam keadaan memeluk Roshni, perempuan itu melotot, matanya tiba-tiba mengeluarkan sinar berwarna merah. Tak hanya itu, dari keningnya keluar tanduk kerbau yang melengkung berwarna hitam. Kakinya pula berubah menjadi kaki seekor kuda, entah makhluk sejenis apa ini? Sangat mengerikan!