Mereka berdua menuju ke Argapura setelah Roshni melaksanakan sholat magrib di salah satu mushola dekat terminal kota Majalengka. Di dalam bus, banyak sekali orang yang menatap Roshni dengan tatapan yang sangat aneh.
"Bu, ini kok orang-orang menatap saya begitu ya? Apa ada yang aneh pada diri saya, Bu?" tanya Roshni.
"Mungkin mereka bukan menatap kamu, tetapi mereka menatap Ibu. Wajarlah, Nak ... lihatlah pakaian Ibu, hanya gamis polos berwarna hitam. Ibu tak punya pakaian selain ini, ini juga bekas," ujarnya, murung.
"Aduh, maaf ya, Bu," Roshni, merasa bersalah.
"Hehe, iya tidak apa-apa, Nak,"
"Oh iya, nama Ibu siapa ya? Saya lupa belum berkenalan," Roshni.
"Nama Ibu, Saloni, Nak. Kalau kamu siapa?"
"Nama saya, Roshni, Bu,"
"Senang bertemu denganmu, Rosh. Kamu ini baik banget, padahal sebelumnya kamu belum pernah ketemu dengan Ibu,"
"Hehe, biasa aja kok, Bu. Kan memang itu kewajiban remaja, Bu,"
"Aduh, sangat jarang ada remaja seperti kamu, Nak. Biasanya remaja jaman sekarang dimintain tolong enggak mau sama sekali, malahan banyak beberapa yang pura-pura enggak tahu,"
"Mereka sepertinya hanya perlu kesadaran, Bu. Saya lihat juga seperti itu, banyak remaja jaman sekarang yang enggak punya nilai apalagi norma,"
"Nak, kamu anak siapa ya? Siapa tahu Ibu kenal,"
"Saya anaknya Bu Tara, apa Ibu kenal?"
Sesaat Ibu itu tersenyum licik.
"Ada apa, Bu?"
"Eh, tidak, Nak. Ibu tidak kenal ..."
Tak terasa, mereka sudah sampai di hutan Argapura, hutan itu sangat amat gelap. Handphone Roshni yang selalu ia bawa malah mati, karena kehabisan baterai. Entah darimana, Bu Saloni mendapatkan sebuah obor sebagai sumber penerangan di sana.
"Ibu dapat ini darimana?"
"Itu tidak penting, Nak. Ayo kita cepat masuk ke dalam hutan!"
"Tapi apa Ibu tahu letaknya dimana? Setau saya kuil siluman ular itu sangat jauh dan bersifat ghaib,"
"Ibu tahu semuanya, ayo kita langsung masuk!" ujarnya, terburu-buru.
Roshni memaklumi perbuatan Bu Saloni, karena mau bagaimana juga, dia adalah seorang Ibu. Seorang Ibu akan bersifat anarkis jika anaknya sedang dalam masalah, apalagi anaknya sedang di ambang kematian. Mereka berdua berjalan dengan sangat amat cepat, Bu Saloni menarik Roshni secara terburu-buru. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah kuil terbuka, yang atasnya terdapat patung ular yang sangat besar.
"Apa ini kuilnya, Bu?"
"Ya, ini kuilnya. Nak, terimakasih banyak karena kamu telah mau mengantar Ibu sampai kesini, sekarang bisa kamu ambilkan batu permatanya? Batu permatanya ada di sana!" Bu Saloni menunjuk ke dalam kuil terbuka tersebut.
Di sana terdapat obor api yang di dalamnya terdapat sebuah batu permata yang sangat berkilau, cahayanya sampai menerangi kuil tersebut dengan cukup terang sekali. Namun, ada ribuan ular yang berputar mengelilingi obor tersebut bagaikan seorang penjaga.
"Itu, Nak! Tolong ambilkan!"
"Tapi, Bu ... bagaimana saya mengambilnya? Saya ta-takut, Bu! Saya takut!" kata Roshni, penuh ketakutan.
"Kamu berjalan saja di atas ular tersebut bagaikan berjalan di daratan. Tenang saja, Nak, ular-ularnya tidak akan mengigitmu,"
"Setelah itu cepat-cepat kamu ambil berlian naag itu dari obor api. Tapi ingat, berlian naag jangan sampai terjatuh, jika terjatuh maka ribuan ular ini akan menyerang kita berdua sampai kita tewas. Dan batu permata naag tersebut akan hancur, lalu terbentuk kembali setelah tujuh ratus tahun,"
"Tolong ya, Nak, ini demi anak Ibu, hiks-hiks-hiks. Kalau kamu berhasil, Ibu bakalan sangat berterimakasih ke kamu, Nak," Bu Saloni, penuh kesedihan.
Melihat wajah Bu Saloni yang sangat memelas, akhirnya lagi-lagi hati Roshni takluk di depannya.
"Baiklah, saya akan memberanikan diri saya, Bu!"
Mau tak mau, hati Roshni mengiyakan perkataan Ibu itu. Roshni harus berjalan melewati ribuan ular yang menggeliat membentuk lingkaran untuk melindungi batu permata naag, yang ada di api obor tersebut.
Dengan bacaan basmalah, pelan-pelan Roshni berjalan di atas ribuan ular itu. Ternyata benar, ular-ular yang menjaga batu permata tidak mengigit ataupun menyerang Roshni. Roshni sedikit lega, batu permata pun sudah tampak di depan mata.
"Ayo, Nak, sedikit lagi!" jerit Bu Saloni, penuh keyakinan.
Roshni telah mengambilnya, ajaibnya obor api di sana tidak panas, sayup-sayup dirinya mendengar suara kilatan petir di keningnya yang membuat Roshni kaget dan refleks menjatuhkan batu permata naag yang sudah ia bawa.
"Nak!!"
"Aaaaa!! Jangan!!"
Beberapa lama kemudian, tiba-tiba batu permata itu berhenti di atas sepatu Roshni.
"Ambil itu, Nak!"
Ini sangat aneh, "iya, Bu!"
Roshni mengambil batu permata naag tersebut, lalu berhasil diserahkan kepada Bu Saloni.
"Nak, terimakasih banyak kamu sudah mengambil batu permata ini, Ibu sangat berterimakasih kepadamu, Nak! Roshni-Roshni," Bu Saloni, penuh kebahagiaan.
"Sama-sama, Bu. Ayo, Bu, kita langsung mengobati anak Ibu menggunakan batu permata ini,"
"Kemana?" ekspresi Bu Saloni tiba-tiba berubah, ekspresi keibuannya menjadi ekspresi licik dan angkuh.
"Maksudnya, Bu?"
"Aku belum punya anak,"
"Hah?"
"Dasar remaja polos!"
"Aku bukan seorang Ibu! Aku Saloni Ajeng Lestari Nageshwari, seorang titisan Bhaisasuri, siluman kuda! Cucu Ratu Ajeng!"
Bu Saloni melotot lagi seperti tadi sore, matanya tiba-tiba mengeluarkan sinar berwarna merah, dari keningnya keluar tanduk kerbau yang melengkung berwarna hitam, kakinya berubah menjadi kaki seekor kuda, dia adalah titisan Bhaisasuri dari alam jin jahat!
Saat melihatnya, Roshni menjerit ketakutan, ia tak menyangka menemui sesosok yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mengapa dirinya bisa bertemu dengannya? Mengapa dia harus bertemu dengannya?
"Hahahahahaha! Ibu dan anak memang sama-sama polos dan bodoh, mau saja aku tipu seperti ini!"
"Maksud kamu apa hah?" Roshni, berteriak.
"Cepat atau lambat, kamu akan mengetahuinya! Lalu kamu akan bertemu lagi denganku, hahahaha. Sampai berjumpa!"
Kaki kuda Saloni menendang perut Roshni sampai Roshni terjatuh dan tersungkur.
Daag!
"Tolong! Tolong!" Roshni mencoba meminta tolong, ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi kepada dirinya.
"Karena kamu masih berguna untuk kebebasan Nenekku, aku akan membuatmu lupa akan semua yang terjadi!"
Dari tanduk Saloni keluar cahaya merah, cahaya itu memancar ke kepala Roshni, seketika Roshni pingsan dan lupa akan kejadian dari magrib tadi sampai malam ini. Roshni pun dibawanya hilang, namun tidak ke alam lain, tetapi ke rumah Roshni sendiri.
Di sisi yang lain, seseorang berjubah hitam kembali masuk ke dalam lorong bawah tanah, dimana itu tempat penjara bagi roh jahat, jin jahat, siluman sampai hantu penganggu. Seperti kemarin-kemarin, dirinya ingin berkunjung ke pemakaman sang Nenek yang terkurung di dalam peti mati besar. Sebenarnya siapakah dirinya? Mengapa dengan gampangnya, ia bisa masuk kesana?
"Nek, aku sudah mendapatkan satu batu permata, batu permata itu adalah batu permata naag yang tersimpan di kuil siluman ular. Aku mendapatkannya dari anak sang Ratu Kabut, dia memang polos dan baik, sampai-sampai kebaikannya itu bisa dimanfaatkan siapa saja, termasuk dimanfaatkanku, Nek!"
"Oh, dia. Dia memang baik, tetapi dia tetap keturunan Melinda yang tidak patut kita beri belaskasihan,"
"Cucuku, cepat tembuskan batu permata itu ke pemakamanku ini, cepat!!"
"Baik, Nek," orang berjubah hitam tersebut menaruh batu permata naag di atas pemakaman Neneknya, dan perlahan-lahan batu permata naag tersebut menembus ke liang lahat Sang Nenek.
"Hahaha, bagus, Saloni! Bagus! Sekarang kau tingga mengambil dan mencari enam sisa batu permata di alam manusia dan alam ghaib! Secepatnya kau harus mendapatkan batu permata cheentee daanav! Itu adalah batu permata siluman semut, kau harus merebutnya dari ratu semut siluman yang berada di lubang paling kecil di goa mahakumbh!"
"Hah? Apa itu goa mahakumbh? Dan dimana itu, Nek?"
"Goa mahakumbh adalah sebuah goa tempat penyimpanan senjata-senjata alam jin dan siluman. Goa mahakumbh terletak dalam di danau nagasari, kau harus menyelam untuk mendapatkannya,"
"Ini sangat sulit, bagaimana caranya, Nek? Seorang titisan Bhaisasuri tidak mungkin menyelam apalagi dalam jangka waktu yang lama,"
"Minta bantuan anak itu lagi! Dia calon ratu di alam kabut, dia bisa menyelam kesana dengan mengubah dirinya sebagai kabut, hal itu sangat mudah baginya. Pasti dia meminta dengan baik-baik, ini sangat menguntungkan, apalagi siluman semut sangat suka dengan kebaikan, meskipun dia sangat jahat,"
"Tapi apa aku harus menyamar sebagai Ibu-Ibu lagi?"
"Tidak, Nak. Cari cara yang lain, jangan sampai dia curiga kepadamu!"
"Baik, Nek,"
Orang yang berjubah hitam itu mulai membuka penutup wajahnya yang berasal dari jubah.
Srek!
Saat terbuka, tampak wajahnya sangat tak asing, tetapi ada yang mengerikan! Keningnya bertanduk! Dia adalah Saloni Ajeng Lestari Nageshwari, cucu dari Nenek Ajeng yang terkurung dalam pemakaman peti besar yang ada di dalam lorong bawah tanah istana kabut.
"Nenek, aku akan segera kembali!"
Dag!
Dag!
Dag!
Itulah suara langkah kaki kuda Saloni yang sedang keluar menuju lorong bawah tanah. Ternyata selama ini orang berjubah hitam itu adalah Saloni, cucu Nenek Ajeng. Di dalam istana kabut, dirinya menjadi seorang dayang dan pelayan istana karena kejadian di masa lalu yang begitu tak mengenakan dan sangat tragis.