Kejadian di Upacara Bendera

2425 Kata
Dahulu kala, Nenek Ajeng adalah seorang ratu di alam kabut, namun karena keserakahannya ia malah bersekutu dengan jin jahat, hingga membuatnya dikutuk menjadi Bhaisasuri oleh leluhurnya, Bhaisasuri adalah campuran siluman kambing dan kuda wanita. Setelah mendapatkan kutukan itu, Ajeng diusir lalu malah membuat kekacauan di alam kabut. Jabatan Ajeng sebagai ratu dilengserkan oleh rakyatnya sendiri, hingga Ajeng melakukam penjajahan besar-besaran di alam kabut sampai bertahun-tahun, ia melawan para leluhur dan menyerang para jin marga kabut. Namun itu tak berlangsung lama, ia akhirnya ditangkap oleh anaknya sendiri lalu disekap di dalam peti mati di lorong bawah tanah hingga sekarang, sudah tujuh generasi demi keamanan. Seratus tahun kedepan anak dari Bhaisasuri yang bernama Ratu Ratih tak mau mengangkat sang anak menjadi penerusnya, karena gen Bhaisasuri akan melekat di dalam nadi generasinya kedua, sama saja jika Ratu Ratih mengangkat sang anak yang bernama Saloni, ia sendiri mengangkat jin jahat sebagai penerusnya. Dengan berat hati, di akhir masa jabatannya, Ratu Ratih memberikan tahtanya kepada anak dari sang adik yang bernama Melinda. Iri dan dengki menyelimuti Saloni, dirinya tak terima. Dirinya kesal, dan marah. Lama-kelamaan dia dikucilkan oleh kaum bangsa jin kabut, lebih parahnya Melinda mengangkat Saloni menjadi pelayan dan dayang istana kabut. Setiap hari, Saloni berkunjung ke pemakaman Neneknya yang berada di lorong bawah tanah. Pemakaman sang Nenek sangat besar, batu nisannya raksasa, peti matinya sampai ada di bawah nisan, dulu Ratih mengubur Ajeng di tanah paling ujung, sampai-sampai jika dibongkar, liang lahat itu bagaikan jurang yang sangat curam dan dalam. Namun, dengan kekuatan yang dimiliki Ajeng, Ajeng masih bisa hidup sampai sekarang, begitu juga Saloni. Entah kekuatan apa yang mereka punya. Setiap Saloni berkunjung, Nenek Ajeng memberikan solusi kepada Saloni, Saloni harus menunggu selama tujuh generasi alam kabut, setelah itu Saloni harus membawa 7 batu permata sakti yang akan diciptakan 700 tahun kedepan untuk dibawa kepadanya, nantinya 7 batu permata itu akan membentuk segitiga api dan membuka peti besar yang mengurungnga, setelah dirinya bisa keluar, Ajeng bisa mengangkat Saloni sebagai ratu dan memberikan haknya, meski 7 generasi sama dengan 700 tahun, mau tak mau mereka harus menunggu. Ajeng selalu bersedih, karena Saloni malah diangkat menjadi dayang-pelayan istana. Penantian ini tak sia-sia, sekarang tibalah waktunya, Saloni bisa mencari 7 batu permata. Di masa sekarang 7 batu permata itu telah diciptakan kembali. Jika 7 batu permata itu terkumpul, maka akan ada segitiga api jin jahat yang bisa membuka peti dan pemakaman Nenek Ajeng di lorong bawah tanah. Tak lama lagi, Nenek Ajeng bisa bebas. Kembali ke masa sekarang, Roshni tertidur pulas di kamarnya, ia masih mengenakan seragam pramuka lengkap beserta atributnya. Pelan-pelan Roshni membuka matanya, matanya sangat kantuk, kepalanya sangat pusing serta panas, dan badannya dingin, mungkin ia demam sekarang. "Ini dimana?" bagaikan orang linglung, Roshni tak mengingat kejadian apapun setelah magrib tadi. Ia melihat jam, ia sontak kaget! Tak disangka Roshni tertidur dan pingsan sampai tengah malam seperti ini. "Hah? Astaghfirullah, aku lupa belum sholat isya!" "Eh, kalau sholat magrib, udah belum ya? Kenapa aku bisa lupa!" Roshni menggaruk-garuk kepalanya, rambutnya sampai acak-acakan. Tubuh Roshni tak karuan rasanya, dia memutuskan mandi dan wudhu untuk bersuci, setelah itu ia menunaikan sholat isya di kamarnya. Tubuhnya sangat meriang, ia sepertinya akan pingsan lagi, di tengah sholatnya. Di Pondok Pesantren Ar-Rahman sedang diadakan acara pawai obor, pawai obor ini adalah salah satu pawai menyambut bulan suci ramadhan, biasanya dilakukan sebulan sebelum ramadhan. Pawai ini diikuti santri dan santriwati, mereka semua berkeliling kota, dipimpin ustadz dan ustadzah pembimbing mereka masing-masing. Aisyah dan teman-temannya ikut, entah mengapa Aisyah ingin mampir ke rumah Roshni sambil membawa nasi bungkus yang dimasak Bi Ijah, Aisyah khawatir kalau Roshni belum memakan apapun. Aisyah bersama adiknya yang bernama Nena, yang biasa dipanggil Neng Nena. Mereka berdua pergi sejenak mengunjungi rumah Roshni yang berada di perumahan Majalengka Asri. Mereka mengetuk pintu rumah Roshni, seraya memberikan salam. "Assalamualaikum!" Tok! Tok! Tok! "Assalamualaikum, Roshni!" Namun tak ada jawaban apapun dari Roshni. "Hmm, apa Roshni keluar ya, Teh?" "Kayanya enggak deh, Neng. Soalnya Roshni jarang dan hampir enggak pernah keluar malam-malam kaya begini," jawab Aisyah, yakin. "Mungkin udah tidur kali, Teh," "Oh, iya ya, Neng. Teteh baru inget, Neng, hehe. Yaudah ayo kita lanjut pawai," "Ayo, Teh," "Uhuk! Uhuk!" Sangat mereka akan melangkah, tiba-tiba ada suara seseorang yang batuk di dalam rumah, lalu disertai dengan suara seseorang yang tak asing, ia mengigil bagaikan sedang sakit. "Neng, sebentar! Itu kayanya Roshni! Roshni sakit, Neng!" "Hah? Yaudah atuh, Teh, kita masuk aja!" Aisyah dan Nena masuk ke dalam rumah Roshni karena sangat cemas dengan kondisi Roshni. Setelah masuk, terlihat Roshni yang terbaring di ranjangnya, dirinya masih mengenakan mukena. "Inalilahiwainalilahirojiun! Roshni!" seketika Aisyah langsung panik, ia duduk di ranjang Roshni, sebari memegang tangan Roshni yang sangat dingin. Saat Aisyah masuk, sepertinya Roshni sudah kehabisan tenaga, dia tidak bisa bergerak. "Teh, ini Kak Roshni harus dibawa ke rumah sakit!" "Jangan!" Roshni, lirih. "Aduh, Rosh. Yaudah, aku kompres aja ya!" "Neng, jagain Kak Roshni, Teteh mau ambil kompresan dulu di dapurnya!" "Iya, Teh, iya!" jawab Nena, panik. Kening Roshni dikompres Aisyah. Karena belum makan dari tadi sore, Roshni menjadi pingsan seperti ini, ditambah lagi dengan badannya yang sangat lelah, seakan-akan sudah melakukan perjalanan jarak jauh. Beberapa lama kemudian Roshni bisa bangkit untuk makan, nasi bungkus yang dibawakan Aisyah dan Nena, meskipun sangat sulit. Roshni memakan makanan itu dengan lahap, perutnya yang keroncongan menjadi terobati dengan masakan Bi Ijah. Setelah makan selesai, Roshni mengeluh kalau dirinya sudah agak mendingan, namun masih meriang. "Aduh, Rosh, emangnya kamu habis kemana? Kok sampai sakit gini? Bukannya kamu cuman singgah di pesantren aku aja? Dan itu kan cuman sebentar, Rosh," Aisyah, bingung. "Aku enggak tau, Syah. Tadi sore, aku bangun, aku seger banget, dan enggak meriang kaya gini. Aku jalan cepat untuk sampai ke rumah sebelum magrib, walaupun udah adzan magrib duluan. Habis adzan dan ikamah, aku tetap jalan, tapi ... setelah itu aku enggak ingat apa-apa, Syah, aku bangun dan tiba-tiba aku ada di ranjang kamar," jelas Roshni. "Aduh, habis magrib? Ini kayanya kamu diganggu sama makhluk ghaib deh, Rosh," pikir Aisyah. "Ada benernya kata Teh Aisyah, biasanya kalau keluar sesudah adzan dan ikamah magrib, pintu setan dan jin akan terbuka lebar, mereka bisa berkeliaran sesuka hati mereka dengan kekuatan yang sangat maksimal. Mungkin Kakak tadi diganggu sama setan gitu, sampai-sampai Kakak enggak inget apapun," Nena, berpikiran sama dengan Aisyah. "Rosh, sekarang kamu tenang dulu, santai ..." "Sekarang coba kamu ingat-ingat," Aisyah. Roshni terdiam, ia berpikir, dirinya kembali mencoba mengingat segalanya, tetapi hasilnya sangat nihil, ia benar-benar sama sekali tidak ingat apapun. "Enggak, Syah. Tetap! Aku enggak ingat apapun!" ujarnya, sangat kebingungan. "Rosh, lain kali kamu kalau mau pulang temuin aku dulu, supaya aku bisa nyuruh ustadz Malik untuk nganterin kamu sampai ke rumah. Bukannya apa-apa ini lho, Rosh, kalau siang sih enggak apa-apa, kalau magrib itu rawan, Rosh. Pertama rawan ada makhluk ghaib, terus kedua rawan ada tindakan kejahatan seperti penculikan, Rosh," "Iya, Syah, maaf ya, tadi karena buru-buru belum masak nasi dan laukpauk untuk Ayah, hehe," Roshni. "Syah, mungkin hari senin aku enggak bisa masuk ke sekolah. Bisa kamu antarkan surat sakit aku, Syah?" "Oh, boleh kok, Rosh," Aisyah dengan senang hati mengiyakan permintaan Roshni. "Sebentar aku buat dulu, Syah," Roshni menulis surat sakitnya, lalu ia berikan kepada Aisyah, Aisyah menerimanya dan nantinya ia akan memberikan surat tersebut ke sekolah. Roshni benar-benar sakit, ini karena Saloni, dan para geng kalajengking merah. Sekarang jika ia berdiri, kepalanya pusing tak karuan, bagaikan akan jatuh. Jika diam, kepalanya berdenyut-denyut, disertai dengan meriang. "Rosh, kita bawa kamu ke rumah sakit aja gimana? Kondisi kamu makin parah, Rosh," usul Aisyah. "Hmm, jangan, Syah, aku enggak mau. Aku pengen di rumah aja, biasanya juga begitu," "Oh, yaudah, Rosh. Aku sama Nena pulang dulu ya, Rosh, soalnya kami harus melakukan kegiatan pesantren selanjutnya. Ini aja kami curi waktu, hehe ..." "Eh, iya enggak apa-apa kok, Syah, maaf udah ngerepotin kamu," Roshni selalu tak enak terhadap semua orang, ia selalu meminta maaf dan berterimakasih terhadap hal-hal yang sepele. Aisyah sangat senang bisa berjumpa dengan Roshni. Setelah sekian banyak teman yang ia jumpai di sekolah, hanya Roshni yang mempunyai karakter baik hati. Hari senin sudah tiba, senin adalah hari yang paling tidak disukai oleh beberapa pelajar karena hari setelah berlibur yang sangat membuat hati dipenuhi rasa malas. Tetapi tidak dengan Aisyah, senin pagi, sebelum teman-temannya datang, Aisyah menyapu lantai kelas sampai bersih. Ia juga menghapus papan tulis yang terdapat tulisan guru di minggu lalu, Aisyah sangat rajin. Tepat jam setengah tujuh, temannya yang bernama Sulis datang ke kelas. Ia memakai seragam putih abu-abu, dan kerudung berplat SMA 1 Nusa. Dia nampaknya sangat tidak niat bersekolah, dirinya tak bersemangat sama sekali. "Eh, kamu kenapa, Lis? Kok enggak semangat?" tanya Aisyah, yang sudah duduk di kursinya. "Duduk dulu sini!" ajak Aisyah. Sulis duduk di samping Aisyah. "Hmm, ini kan senin, aku males banget sekolah. Andaikan aja liburannya lebih lama, huft ..." "Lho, jangan begitu dong, Lis! Seharusnya di hari senin ini kamu semangat, Lis! Karena di hari senin tuh, Nabi Muhammad SAW lahir, selain itu ya di hari senin dosa orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang mukmin yang sedang bermusuhan, tapi ada banyak lagi sih keutamaannya, hehe. Jadi ayo dong semangat, Lis, jangan males-malesan begini ..." "Eh, aku baru tau, Syah, hehe. Astaghfirullah, dari dulu aku benci hari senin, Syah, tapi aku bener-bener enggak tau keutamaannya banyak banget!" "Thanks, Syah! Karena kamu sekarang aku tau tentang hari senin, enggak tau kenapa nih semenjak SMA aku jarang banget mendalami agama karena tugas selalu numpuk, hehe," "Sama-sama, Lis. Kalau kamu mau lebih mendalami agama, mending kamu sekali-kali nginap di pesantrenku, hehe. Masalah tugas sekolah, mending liat aja gih punyaku," "Wihh! Serius, Syah! Ya ampun, baik banget. Yaudahdeh, sore ini aku nyoba ya, Syah. Tapi k-kalau enggak betah enggak apa-apa kan?" "Enggak apa-apa atuh," Brak! Di tengah ketentraman yang ada di kelas 10 IPA 6, tiba-tiba Amanda, Athalla dan Amayra datang. Amanda memukul pintu kelas sampai Aisyah dan Sulis terkejut mendengarnya. "Cieee, temennya si culun udah dateng, si culun mana nih?" tanya Amanda, meremehkan Roshni di depan Aisyah. "Dia sakit," "Hah, sakit? Syukur deh, hahaha ..." kekeh Amayra. Mereka bertiga menyimpan tas ransel mereka di kursi mereka masing-masing. "Coba aja si Roshni kagak sekolah di sini, pasti sekolah ini udah damai sama tentram dah, bener enggak nih, Da?" Athalla. "Benerlah! Tapi enggak deng, nanti siapa coba yang bakalan jadi bahan bully kita? Hahaha!" Amanda, terkekeh, puas. "Oh, iya ya. Dahlah, kita langsung aja ke lapangan," ajak Amayra. Mereka bertiga pergi begitu saja. "Aneh bener ya mereka," bisik Sulis pada Aisyah. "Memang aneh, kasihan Roshni terus dijadikan bulan-bulanan sama mereka," balas Aisyah. Treet! Treet! "Saatnya upacara dimulai," Treet! Treet! Bel sekolah berbunyi, pertanda upacara akan segera dimulai. Tepat jam tujuh pagi nanti, para PKS akan berjaga di gerbang, menghukum para siswa-siswi yang terlambat masuk ke sekolah. Aisyah bersama Sulis berada di barisan yang paling depan. Hari ini adalah hari upacara bagian kelas sepuluh IPS empat, yang diwalikelasi oleh Bu Istiana Dewi, guru yang terkenal dengan keramahannya dan kebaikannya selama mengajar di kelas. Bu Istiana Dewi atau yang kerap dipanggil Bu Dewi menjadi idola guru dalam bidang pelajaran bahasa Inggris, oleh para siswa-siswi SMA 1 Nusa, cara belajarnya yang asik dan santai membuat murid-muridnya tak mau berhenti belajar. Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi tepat, upacara sudah akan dimulai. Tampak di lapangan upacara tersebut, para siswa-siswi kelas IPS empat sudah berada di tempatnya masing-masing. Bu Dewi juga sudah berada di ujung lapangan, ia menunggu pembukaan dan intruksi dari sang moderator dalam upacara bendera tersebut. "Upacara pengibaran bendera merah putih hari senin tanggal 1 februari, tahun 2016 segera dimulai!" di ujung kiri lapangan, seorang remaja perempuan dengan rambut terurai membuka upacara tersebut. "Masing-masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya ..." Upacara dilakukan dengan cepat dan hidmat di SMA 1 Nusa. Amanda sedari tadi menengak-nengok ke sekelilingnya, memastikan bahwa Abhizar tidak masuk hari ini. Beberapa menit kemudian, amanat yang disampaikan pembina upacara yaitu Bu Dewi selesai, Amanda tenang. Ini adalah pertanda baik, karena Abhizar tak akan mungkin berangkat sesiang ini. "Penghormatan kepada pemimpin upacara dipimpin oleh pemimpin barisan yang paling kanan," Semuanya menghormat, Bu Dewi meninggalkan lapangan upacara. "Pengumuman-pengumuman," Moderator menunggu beberapa menit. "Baik, karena pengumuman tidak ada, acara ini kami lanjutkan ke penutupan," "Upacara selesai, barisan dibubarkan oleh pemimpin upacara," Di saat semuanya akan meninggalkan lapangan upacara, tiba-tiba saja, "tunggu!" Abhizar datang, dan berbicara dengan lantangnya, seketika semua siswa-siswi, guru dan beberapa petugas upacara tetap berada di lapangan upacara. "Dasar! Si Borokokok datang! Arghh! Mau ngapain dia!" batin Amanda, napasnya mulai tak karuan karena ia sangat terkejut melihat kedatangan Abhizar secara mendadak. "Da! Gimana ini, Da! Gue takut kalau si Abhizar bongkar rahasia kita!" bisik Athalla, kepada Amanda. "Hust! Tenang aja, Thal!" Amanda. "M-Manda! Bisa-bisa g-gue pipis di celana gara-gara ini semua!" kaki Amayra bergemetar hebat, ia sangat amat ketakutan. "Ada pengumuman penting yang perlu saya sampaikan!" jerit Abhizar. "Abhizar, ada apa ini?" tanya Bu Dewi, yang masih berada di ujung lapangan, ia keheranan melihat Abhizar. "Saya mau menyampaikan suatu kebenaran, Bu." "Kebenaran apa, Zar?" "Arsal, Rafli!" panggil Abhizar, wajahnya berpaling ke arah ruangan multimedia. Dari ruangan multimedia, Arsal dan Rafli membawa proyektor dan plang spanduk, sebenarnya ada apa ini? Tak beres! Abhizar akan membongkar rahasia geng kalajengking merah di depan sekolah 1 Nusa! Jika begini, bisa-bisa harga diri geng kalajengking merah hancur di mata warga sekolah! "Da!!" jerit Athalla. "Tenang!" Amanda, panik. Arsal dan Rafli membuka panduk yang polos tersebut, ia menaruhnya di lapangan upacara, lalu mereka berdua mengatur proyektor melalui komputer sedemikian rupa, agar gambar dari komputer terlihat jelas. Abhizar membawa mikrofon dari moderator. "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh ... selamat pagi teman-teman, selamat pagi juga kepada Bapak-Ibu Guru yang saya hormati. Mohon maaf jika saya menganggu waktu kalian, saya sebagai anggota OSIS harus memberitahukan suatu kebenaran kepada kalian semua tentang salah satu kejahatan yang dilakukan oleh ketiga siswi SMA 1 Nusa," "Saya mempertontonkan hal ini hanya sebagai sebuah tindakan supaya mereka yang bersalah bisa jera, dan tidak akan melakukan kejahatan ini lagi, karena kejahatan ini sangat merugikan, bisa membuat orang terkena sebuah gangguan psikis dan mental. Saya harap dengan terbongkar kejahatan mereka, kalian bisa memetik sebuah pelajaran yang berharga!" "Apa-apaan nih! Lo mau cari sensasi ya?" Amanda, mengalihkan pembicaraan. "Tidak, saya hanya mau membongkar kejahatan ..." "Pak, Bu! Lihat Abhizar! Dia mau buat sensasi! Jam pelajaran pertama sudah akan dimulai, jangan sia-siakan waktu ini hanya karena orang pansos kaya dia!" Amayra. "Amayra! Dengarkan dulu perkataan Abhi!" tegur Bu Dewi. "Lanjutkan, Nak Abhi!" Bu Nani. "Terimakasih, Bu, atas kesempatannya," "Baiklah, saya akan mempertontonkan video yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber ..." "Arsal, putar videonya!" Tak! Tombol spasi ia tekan, video itu akan diputar sebentar lagi. "Amanda! Gimana ini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN