Senin Kelabu

1862 Kata
"Astaghfirullah!" Benar saja, rekaman itu berisi rekaman perundungan Amanda, Athalla dan Amayra kepada Roshni di UKS, kantin, sampai di kelasnya. Adegan tersebut menimbulkan teriakan para siswi dan guru yang shock, dan kaget melihat tingkah laku tak bermoral yang dilakukan oleh geng kalajengking merah kepada Roshni sedemikian rupa. Bu Evi yang melihat kejadian ini merasa bersalah besar kepada Roshni, karena dirinya telah tak sengaja memaki-maki Roshni moncontek, padahal Roshni tidak mencontek sama sekali, ini semua karena geng kalajengking merah. Kejadian di UKS sangat parah, para guru melotot kepada geng kalajengking merah. Terlihat Amayra yang mengigil karena ketakutan, ia pipis di celananya sendiri. Athalla menutupi mukanya, ia malu sekali, nama baiknya seakan-akan tercoreng, tetapi itu karena perbuatannya sendiri. Kelakuan para pendosa ini sangat di luar akal pikiran, selama ini para guru SMA 1 Nusa tak pernah mengurus tindakan perundungan, tetapi setelah melihat ini semua ... mereka harus mengurusnya sesegera mungkin. Video yang sudah dipertontonkan Abhizar telah selesai, Pak Gohan selaku kesiswaan langsung beteriak supaya geng kalajengking merah berdiri di depan lapangan upacara. Sanksi besar akan diberikan kesiswaan kepada geng kalajengking merah. "Semuanya! Lempari mereka bertiga dengan batu!!" jerit Pak Gohan, murka. Kemurkaan Pak Gohan melebihi Bu Nani, Pak Gohan tak segan-segan menghukum siswa dan siswi yang melakukan kesalahan besar dengan bukti yang nyata. Dalam kasus ini, Pak Gohan sangat kasihan kepada Roshni, selama ini Roshni sudah terlalu banyak mendapatkan tidakan bullying secara verbal dan fisik, Pak Gohan takut jika sampai Roshni depresi, frustasi, dan gila dengan perundungan yang dilakukan oleh geng b***t, kalajengking merah. Di sana, para siswa-siswi SMAN 1 Nusa melempari Amanda, Athalla dan Amayra dengan batu. Ditambah lagi dengan kedatangan siswa-siswi SDN 1 Nusa dan SMPN 1 Nusa yang sekolahnya menyatu, mereka juga melempari Amanda, Athalla dan Amayra, namun menggunakan kertas yang sudah diremas-remas. Rencana ini dibuat oleh Abhizar dengan sangat matang. Aisyah dan Sulis berlindung di dalam ruangan UKS gawat darurat yang ada di pojok lapangan, mereka takut jika batu yang dilempari anak-anak SMAN 1 Nusa mengenai kepala. Mereka berdua tetap melihat kejadian tersebut, meskipun lewat jendela. Di sana juga ada Levina Zahira, Helen Fransiskanov, Nurul Fauziah dan Selisa Aulia Shidqia, teman sekelas mereka yang sudah duluan masuk ke UKS untuk berlindug. "Syah, gue bener-bener enggak nyangka dah, geng kalajengking merah bisa sejahat ini sama Roshni. Dan lo kok malah enggak ngomong-ngomong ke kita sih tentang kejadian ini?" Levina. "Emang, mereka memang kaya gini sejak kita masuk ke semester dua. Mereka enggak segan-segan jadiin Roshni b***k mereka," "Huh, mana mau Roshni. Soalnya Roshni malah mementingkan kebahagiaan mereka, sekaligus dia takut, aku pengen laporin ini ke guru BK tapi dia selalu mohon-mohon jangan dilaporin. Aku aja sampai bingung harus ngapain. Roshni terlalu baik, makannya selalu dimanfaatkan. Jaman sekarang ya, orang-orang selalu memanfatkan kebaikan orang lain dengan semena-mena, pantas aja orang di luar sana pada jahat. Alasannya yaa itu, karena mau balas dendam atas kesengsaraannya yang pernah ia alami di masa lalu. Semoga Roshni enggak ya," "Aamiin ..." "Duh, menurut gue Roshni terlalu lemah sih," ujar Levina, menyakinkan. "Bener kata lo, Levina. Gue ngerasa Roshni itu terlalu lemah juga," Helen, mendukung perkataan Levina. "Tapi dia kasihan lho, udah digituin sama geng kalajengking merah. Mereka bener-bener enggak punya hati!" Selisa. "Iya, udah enggak punya hati terus otak enggak punya!" Levina, geram. Di tengah perbincangan mereka tentang geng kalajengking merah, tiba-tiba suara mengangetkan datang dari lapangan upacara. Itu adalah suara Pak Gohan yang sangat penuh kemurkaan kepada geng kalajengking merah. "Kalian!! Kalian ini, di sekolah niatnya apa? Niatnya menyiksa anak orang? Atau belajar??" sentaknya dengan ada tinggi, melalui mikrofon. Suara Pak Gohan membuat jantung siapa saja berdetak dengan sangat amat kencang, amarahnya membuat siapa saja siswa-siswi di sana menciut dan tak berdaya. Amayra sampai menangis tersenggal-senggal dengan teriakan Pak Gohan. "Kalau kalian sekolah hanya ingin menyiksa anak orang lain, dan membuatnya terkena penyakit mental serta fisik, mending kalian tidak usah sekolah di sini! Jangan kalian buat murid saya yang berprestasi menjadi jatuh, down, dan sakit karena ulah kalian!!" "Roshni hanya ingin belajar dengan giat dan mengangkat nama sekolah ini secara nasional dan internasional! Tapi kalian malah menjatuhkan mentalnya!! Kalian benar-benar kejam sekali!" "Coba saja jika kalian yang berada di posisi Roshni, pasti kalian sudah tidak ingin sekolah lagi!" Amanda dan Athalla menunduk dengan ekspresi tak bersalah sama sekali, mereka tidak meminta maaf ataupun berkata-kata. "Sekarang akan saya panggil orang tua kalian, dan kalian akan langsung dikeluarkan dari SMAN 1 Nusa hari ini juga! Saya tidak sudi melihat siswi saya yang tidak mempunyai akhlak apalagi moral seperti kalian!! Akhlak yang dipakai kalian malah akhlak tidak terpuji!" "Kalian bertiga cepat masuk ke ruangan bimbingan konseling sekarang juga!!" perintahnya. Mereka bertiga masuk ke ruangan bimbingan konseling, sementara itu para siswa-siswi dan guru yang masih tak menyangka dengan perbuatan b***t Amanda, Amayra dan Athalla itu bubar dari barisannya. Di kelas 10 IPA 6, Aisyah dan Sulis duduk bersama karena Roshni tidak masuk karena sakit. "Huh, untung aja Roshni sakit ya, Syah. Kalau kagak bisa brabe nih urusannya, aku mah nebak kalau Roshni bakalan mohon-mohon juga ke Pak Gohan supaya melepaskan Amanda dan kawan-kawannya," ucap Sulis, kepada Aisyah. "Iya, Lis. Tapi kita doakan aja ya supaya Roshni cepat pulih," "Aamiin ..." "Syah, nanti siang habis pulang sekolah, kita jenguk Roshni yuk," ajak Sulis. "Yuk, Lis. Kita iuran beli buah-buahan ya," "Oke, eh bukannya hari ini juga kita mau kerja kelompok PKWU ya?" Aisyah, mengingatkan. "Iya, Syah, lupa aku," "Anggotanya siapa aja, Syah?" "Aku, kamu, Roshni, sama Aldi," "Oh, kita buat apa aja nih, Syah?" "Kripik tempe aja kali ya? Soalnya cuman kripik tempe satu-satunya makanan dari bahan nabati, yang gampang dibuat, sehari juga jadi," "Oke, fix di rumah Roshni," "Iya, Lis. Hmmm, tapi aku takut lho, kalau Roshni diapa-apain sama Amanda dan gengnya, karena pasti geng kalajengking merah balas dendamnya ke Roshni bukan ke Abhizar apalagi Arsal. Secara kan mereka itu takut sama mereka berdua," "Bener sih, Amanda itu kan suka buat aneh-aneh yang enggak pernah terpikirkan sebelumnya," "Tapi semoga aja enggak terjadi apapun, Syah," "Aamiin ..." Di ruang bimbingan konseling, para guru BK, kesiswaan dan guru-guru yang lain ada di sana, melihat wajah pelaku yang telah membuat Roshni menderita di sekolah. Bu Evi juga ada di sana, ia hanya bisa menatap mereka bertiga dengan tatapan yang sinis. Mau bagaimana lagi, mereka bertiga tidak bisa diajak bicara. Hanya satu solusi supaya mereka menyadari perbuatannya, yaitu dengan memanggil orang tua mereka masing-masing. Di sela-sela menunggu orang tua mereka, semua guru pergi mengajar di kelas masing-masing. Kebetulan di sana guru BK mendadak harus bertemu dengan tamu yang merupakan orang tua siswa baru. Di ruang BK hanya ada mereka bertiga saja, kesempatan ini tidak boleh mereka sia-siakan! "Girls, kita cabut!" bisik Amanda. "Hah? Gila lo, Da! Kalau kita ketauan gimana? Mampus-mampus!" Athalla, tak setuju. "Hust! Mau ikut kagak? Kalau kagak udah diem, biar lo dimarahin di sini sama orang tua! Mau lo?" "Eh, enggak! G-Gue ikut deh, Da," Athalla, terpaksa. "Nah, gitu dong!" Amayra masih menangis, dia bergidik ketakutan. "Ra, udah jangan kaya bocah! Ayo ikut gue, kabur!" Amayra bangkit dan ikut bersama Amanda. Diam-diam mereka menengok ke kanan dan ke kiri, melihat bahwa kondisinya aman, serta tak ada guru ataupun siswa yang melihatnya. Ternyata aman, para guru sedang mengajar di kelasnya masing-masing bersama murid-muridnya. Ini adalah kesempatan emas! Amanda, Athalla dan Amayra keluar dari ruangan bimbingan konseling. "Girls, pegang kepala kalian kek! Kalian pura-pura sakit kepala, perut atau kaki gitu, biar enggak ada yang ngira kalau kita mau kabur," bisik Amanda, lagi. "I-Iya, Da!" Mereka masuk ke area belakang kamar mandi, di sana terdapat sebuah area di mana mereka semua bisa keluar-masuk dengan bebas, karena gerbang sekolah mereka sedang direnovasi. Di sana mereka menemui beberapa kuli bangunan yang sedang memasang gerbang. "Punten, kalian silahkan keluar dari gerbang utama aja ya, ini kami mau memasangkan gerbang dulu," katanya, dengan logat khas sunda. "Ayo, lari!" Mereka bertiga lari, melewati pembatas gerbang yang sedang disemen. "Weh, borokokok!" ledek kuli itu, kesal. Mereka bertiga pergi meninggalkan sekolah dengan sangat cepat, mereka melihat angkutan umum yang sedang melaju, lalu mereka memberhentikannya dengan terburu-buru. Mereka masuk ke dalam angkutan umum tersebut. Di dalam angkutan umum terdapat seorang remaja laki-laki tampan, berpakaian seragam putih abu-abu tanpa atribut sekolah. Remaja tersebut duduk di pojok sendirian, dengan ekspresi datar, seperti tidak semangat untuk hidup. "Lega! Finally! Kita bisa keluar juga dari sekolah itu!" Amanda, gembira. "Iya! Huh, badan gue sakit semua! Gara-gara dilempar batu!" ungkap Athalla. "Sama, g-g-gue juga," Amayra, gugup. "Ini semua gara-gara si Abhizar! Kalau kagak gara-gara dia, pasti sekarang kita aman!" Amanda, penuh emosi yang meluap-luap. "Iya, kurang ngajar emang dia!" Athalla. "Hiks-hiks-hiks. Gue malu, Da! Masa iya harga diri kalajengking merah diinjek-injek sama satu sekolah, mana ribuan lagi orangnya, hiks-hiks-hiks!" tangisan Amayra pecah di dalam angkutan umum. "Tenang, woy! Kita bisa pindah sekolah!" ujar Amanda "Aduh, kemana lagi, Da. Hiks-hiks-hiks ..." "SMAN 1 Elang kan ada." "Ettdah, jauh bener itu, Da! Orang tua gue mana izinin. Di rumah palingan nanti mereka m-marah besar ke gue! Mana malam coba!" keluh Athalla. "Malam-malam orang tua gue pulang dari rumah sakit, auto kena ulti gue!" Athalla, lagi. Orang tua Athalla adalah seorang dokter di rumah sakit kota di Majalengka. "Astoge, mending kita jangan pulangg!" Amayra, semakin takut. "Hmmm, gue ada ide!" "Apaan tuh?" Athalla, penasaran. "Gimana kalau kita nginap di rumah Roshni aja selama beberapa waktu? Kan orang tuanya juga jarang pulang," "Kalau pulang tiba-tiba gimana? Bu Tara itu galak lho, Da. Dia pernah banting-banting piring waktu debat sama Ibu gue di acara nikahan. Bu Tara sama Ibu gue itu musuh bubuyutan sejak lama," Amayra. "Tenang, gue yang handle semuanya!" Amanda. "Oke, tapi janji ya kalau ada apa-apa lo yang tanggung jawab!" "Iya deh, iya," Di dalam bus tersebut, remaja laki-laki tadi menatap sinis ke arah Amanda, seakan-akan ia memusuhi Amanda dan kawan-kawannya. Amanda menatap ke arahnya juga, ia memandang mata remaja tampan itu, namun ada sesuatu yang tak beres, mata remaja tersebut tiba-tiba menjadi merah sekejap. Amanda langsung memalingkan wajahnya, karena ketakutan. "Kenapa lo, Da?" "Noh!" Athalla melihat pemuda tersebut, pemuda tersebut kembali menatap ke arah depan. "Hmm, kayanya dia bukan anak SMAN 1 Nusa," pikir. Athalla. "Bukan itu! Lihat matanya!" Athalla melihat mata lelaki berseragam putih abu-abu lagi. "Enggak ada yang aneh tuh, Da. Emangnya kenapa sih?" "Nanti gue kasih tau!" katanya. Angkutan tersebut berhenti di perumahan Majalengka Asri, mereka bertiga keluar dari angkutan umum. Mereka bergegas ke rumah Roshni, tampak perumahan tersebut sangat sepi. Memang, perumahan seperti ini biasanya tidak ada sosialisasi sedikitpun antar warganya, rata-rata pemilik perumahan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Amanda, Athalla dan Amayra sekarang sudah berada di depan rumah Amanda. "Woyy, Roshni! Keluar lo!" jeritnya, lantang. Tetapi Roshni tidak keluar. "Wah, nantang dia ya," "Keluar lo!" Amayra. "Dasar Roshni! Awas lo!! Gue bersumpah, gue kagak akan ngelepasin lo, Roshni! Gue bakalan balas dendam!! Arghhh!" teriak Amanda di depan rumahnya. "Lo udah bikin nama geng kalajengking merah tercoreng di hadapan ribuan siswa-siswi SMAN 1 Nusa! Kalau lo pengen balas dendam, jangan begini caranya, woy!" Amanda, lagi. "Roshni, lo jahat banget! Diem-diem lo ngadu ke Abhizar, memang kagak punya hati lo!" bentak Amayra, diiringi dengan isak tangis. "Keluar lo, Roshni! Keluar!!" "Kalo lo kagak keluar, gue bakalan dobrak pintu ini!" Bagaikan rumah mati, tak ada respon sama sekali. "Oh, oke! Fine!! Gue bakalan dobrak rumah lo!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN